Lavynds

Lavynds
Episode 18


__ADS_3

"Perawat Hae Su!"


"Ya Suster Kepala Seon."


"Tolong antarkan obat dalam daftar ini ke kamar 202 ya. Dan tolong sekalian ganti sarung bantal serta tirainya."


"Baik Suster Kepala Seon."


Hae Su meletakkan dokumennya dan pergi keruang obat untuk mengambil daftar obat yang akan dia ambil dan beberapa sarung bantal yang baru.


Nam Dae Ri menghampiri Hae Su sembari berbisik pelan.


"Hae Su!"


"Nam Dae Ri?"


"Aku dengar kau akan ke kamar 202 ya?"


"Iya. Aku harus mengantar obat ini dan mengganti sarung bantalnya."


"Ah kau baru kali ini ya ke kamar itu?"


"Iya memangnya kenapa?"


"Kamar itu kamar yang paling mewah di rumah sakit ini. Kau harus tahu itu."


"Benarkah? Apa keluarganya membayar mahal untuk itu?"


"Aku juga tidak tahu. Hanya Suster Kepala Seon yang tahu keluarga pasien itu."


"Nam Dae Ri."


Sebuah suara yang mereka kenali memanggil nama Nam Dae Ri. Suster Kepala Seon telah ada di hadapan mereka berdua.


"Apa kau lupa peraturan nomor satu perawat dirumah sakit ini?" tanya Suster Kepala Seon dengan tegas.


"Kita tidak boleh membicarakan informasi pasien. Maafkan aku Suster Kepala Seon."


Nam Dae Ri pun segera pergi meninggalkan Hae Su dan Suster Kepala Seon.


"Bukankah Ibu tadi menyuruhmu mengantar itu ke kamar 202? Kenapa masih disini?"


Hae Su yang melihat Suster Kepala Seon pun segera pergi dari tempat itu.


"Maaf. Saya pergi dulu Suster Kepala Seon."


Hae Su meninggalkan Suster Kepala Seon dan mempercepat langkahnya Sembari mendekap obat-obatan yang dibawanya.


Hae Su telah sampai di kamar 202. Pintu kamar itu berbeda dengan pintu kamar pasien lain dirumah sakit ini. Pintunya cantik dan juga berada di lantai yang berbeda dengan kamar pasien umum.


Ketika dia membuka pintu kamar itu. Terasa harum dan hangat. Dia terkejut ketika memasuki kamar itu. Kamar itu tidak seperti kamar pasien lain yang dipenuhi beberapa pasien dan alat-alat medis lainnya.


Kamar itu seperti sebuah kamar hotel cantik dan mungil yang didesain dengan gaya American Classic. Ada ruang tamu dapur dan meja makan serta sebuah kamar kecil yang terdapat tempat tidur, lemari dan sebuah meja.


Di atas setiap meja di kamar itu terdapat vas bunga yang berisi bunga mawar putih. Seluruh kamar ini dipenuhi dengan hiasan bunga mawar putih. Hae Su berjalan melewati ruang tamu tersebut dan menuju arah kamar tersebut.

__ADS_1


Di depan ruang tamu tersebut ada sebuah jendela kaca yang berukuran besar. Sehingga dapat melihat seluruh penampkan kota Seoul yang megah.


Hae Su melihat seorang wanita berambut hitam panjang bergelombang sedang berdiri membelakanginya.


Wanita itu tengah memandang pemandangan pagi kota ini. Dia memakai piyama panjang yang terbuat dari kain sutera. Piyama wanita tersebut kelihatan sangat mahal. Kulitnya putih dan bersih. Hae Su melihatnya seperti bukan wanita yang sedang sakit.


"Selamat pagi Ibu. Saya datang membawa obat dan juga ingin mengganti tirai jendela."


Wanita itu memalingkan wajahnya sedikit dan berjalan masuk ke kamarnya tanpa melihat


wajah Hae Su dan mengucapkan sepatah kata apapun.


Hae Su meletakkan obat itu di atas meja dan segera mengambil bangku agar dia dapat mengangganti tirai jendela itu.


"Hati-hati!"


Hae Su langsung berpegangan pada kaca jendela tersebut karena dirinya hampir jatuh


mendengar suara wanita yang tiba-tiba berbicara padanya.


"Aaa.. Iya terimakasih."


Wanita itu pun menghampiri Hae Su yang sedang sibuk meraih tirai jendela yang besar itu.


"Apa kau mau membantuku?"


"Eh?"


"Turunlah dulu."


"Tidak apa. Turunlah."


"Ba-baik."


Hae Su turun dari bangku itu dan meletakkan bangku itu di tempat asalnya.


"Apa Ibu mau minum obat? Saya akan segera mengambilnya."


Wanita itu menarik tangan Hae Su. "Aku sebenarnya tidak sakit."


Hae Su terdiam mendengar ucapan wanita itu. "Lalu kenapa Ibu ada disini? Kenapa tidak pulang?"


"Itu karena aku merasa lebih baik jika berada disini."


Hae Su sebenarnya tidak mengerti apa maksud wanita tersebut. Dia hanya melihat bahwa wanita itu sangat cantik.


"Pasti keluarga Ibu kaya sekali sehingga bisa membuat kamar ini seperti hotel."


Wanita itu tersenyum dan berjalan ke arah jendela kaca yang besar itu. Hae Su


mengikutinya.


"Apa yang membuatmu bekerja disini? Apa karena gaji disini besar?"


"Ah tentu saja Bu.”

__ADS_1


"Siapa namamu?"


"Saya Hae Su, Bu. Kang Hae Su."


"Namamu cantik. Dari dulu aku ingin sekali punya seorang putri cantik sepertimu. Mungkin kau tidak mempercayaiku karena kita baru pertama kali bertemu. Tapi satu hal yang perlu kuberitahu. Uang dan kekuasaaan tidak akan pernah memberi kebahagiaan. Karena uanglah aku menjadi seperti ini."


Hae Su menjadi tidak enak hati pada pasien wanita itu.


"Maaf Bu saya tidak bermaksud."


"Tidak apa. Aku hanya berbagi cerita saja. Aku sudah bersyukur karena masih hidup setelah koma. Jadi sudah berapa lama kau bekerja dirumah sakit ini? Aku baru melihatmu sekarang."


"Saya baru bekerja beberapa minggu saja Bu."


"Wah bagus sekali. Sekarang aku jadi punya teman dirumah sakit ini dan tidak kesepian.


Sepertinya kau gadis yang baik hati dan menyenangkan."


"Terimakasih atas pujiannya, Bu."


"Apa kau ada waktu luang sekarang? Aku berencana mau memasak mie pedas."


"Mie pedas! Aku suka sekali Bu!"


"Benarkah?"


"Ya. Bibiku membuka kedai mie pedas selama bertahun-tahun."


"Kebetulan sekali! Aku bisa meminta resepnya. Ayo kita masak bersama."


Tiba-tiba Hae Su mengingat bahwa dia masih dalam jam bekerja.


"Ada apa?"


"Maaf Bu..sepertinya tidak bisa. Saya masih dalam jam bekerja."


"Sayang sekali."


Suara ponsel Hae Su tiba-tiba berdering. Dia melihat layar ponselnya. Suster Kepala Seon. Dia pun mengangkat ponselnya.


"Halo Bu."


"Hae Su apa kau telah selesai?"


"Begini Bu." Hae Su pun menjelaskan permintaan pasien wanita tersebut.


"Yasudah tidak apa-apa. Temanilah dia untuk hari ini. Mungkin dapat membantunya cepat


pulih."


"Baik Bu." Hae Su mematikan ponselnya dan berjalan ke arah wanita tersebut sembari


tersenyum.


"Saya punya waktu untuk menemani Ibu memasak mie pedas."

__ADS_1


Wanita itu pun senang sekali dan mereka menuju ke dapur membuat mie pedas.


__ADS_2