Lavynds

Lavynds
Episode 12


__ADS_3

Hae Su dan Geo Mi masuk ke sebuah cafe dan sedang mengantri.


"Wah kenapa AC di cafe ini tidak terasa, padahal sebentar lagi akan musim hujan. Kuharap setiap hari bisa hujan." ujar seorang Bapak yang ada disamping mereka. Hae Su yang mendengar hal itu terdiam.


[*Hae Su dan Geo Mi sedang berjalan bersama. Sebagai siswi Sekolah Menengah Atas mereka harus pulang sampai malam karena akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Langit sudah mulai mendung dan menghitam.


"Hae Su. Apa kau jadi mendaftar untuk menjadi seorang perawat?"


"Tentu. Itu cita-citaku sebelum Nenek meninggal."


"Itu bagus sekali. Sangat bagus. Kau akan merawat banyak orang."


"Ya kuharap begitu."


"Sepertinya akan turun hujan. Aku lupa membawa payung."


"Aku hanya bawa satu payung."


"Yaudah untukmu saja Hae Su. Aku suka hujan jadi tidak apa-apa jika terkena hujan sedikit."


"Hei nanti kau bisa sakit Geo Mi. Air hujan itu tidak baik."


"Eits..Tenang aja calon perawat Hae Su yang baik hati. Geo Mi punya tubuh yang kuat. Lagipula rumah kita sudah dekat kok."


Geo Mi tertawa kepada sahabatnya itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang bersama.


"Geo Mi. Apa kau suka musim hujan?"


"Tentu."


"Segitu sukanya?"


"Ya tentu saja. Kau tidak suka?"


"Kau tahu kan kematian Nenekku saat kapan?"


"Ah iya maafkan aku."


Rintik rintik hujan sudah mulai turun.


"Dulu aku sangat menyukainya. Bagiku hujan adalah penyembuh. Dia dapat menumbuhkan pohon-pohon, membasahi tanah dan memberi kehidupan. Tapi aku tahu bahwa hujan yang selalu kusukai tidak selalu menyembuhkan. Ada petir yang akan selalu bersamanya. Bagiku petir membawa kematian."


"Baiklah kalau begitu aku juga tidak suka hujan mulai sekarang."


"Hei kau kenapa?"


"Karena hujan membuat sahabatku sedih."


Mereka pun bertatapan dan tertawa bersama.


"Heiii kauuu hujannn!!! Awass sajaa kauu yaaa! Akuu tidakk sukaa padaaamuuu!!!!" Geo Mi berteriak sembari menengadah ke atas*.]


"Maaf. Bisa saya bantu. Mau pesan apa hari ini?" Hae Su tersadar dari lamunannya. Geo Mi yang melihat Hae Su yang terdiam, menjadi kesal dengan Bapak tadi yang berdiri di samping mereka.


Dasar Bapak sialan! serunya dalam hati.


"Ah kami pesan capuccino hangat dan juga tiramisu cake. Masing-masing dua."


"Adalagi yang mau ditambahkan ?"


"Tidak ada."

__ADS_1


"Maaf tolong sekotak macaron yang ukuran medium ya."


"Hae Su, Kamu mau makan sekotak macaron?"


"Bukan. Untuk Bibi. Dia suka macaron.”


"Oh begitu."


"Saya ulangi pesanannya. Dua capuccino hangat. Dua tiramisu cake. Sekotak medium macaron dibawa pulang. Ada lagi pesanan yang mau ditambahkan?"


"Tidak ada."


"Baik. Mohon duduk dan menunggu pesanannya."


Hae Su dan Geo Mi pun duduk di sudut cafe. Cafe itu punya interior design yang bagus dan


mewah. Mereka berdua cukup sering datang ke tempat itu untuk sekedar minum kopi dan


makan cake di hari libur.


Hae Su yang pertama kali menemukan cafe itu karena cafe itu menjual macaron yang sangat enak yang disukai oleh Bu Song. Kebetulan hari ini hari Minggu dan Hae Su sedang tidak bekerja.


Hae Su melihat wajah Geo Mi yang sedang memperhatikan bapak-bapak yang tadi disamping mereka.


"Tidak usah kesal begitu. Aku tidak apa-apa kok. Bukan salahnya. Cuacanya memang sedikit panas."


Hae Su mengeluarkan saputangan dari dalam tasnya dan mengelap keringat di wajahnya


perlahan.


"Kau masih menyimpan saputangan itu?"


"Ah saputangan ini sepertinya mahal jadi aku menyimpannya."


rumah sakit itu kan?"


"Sejujurnya aku masih penasaran. Tapi seperti yang kukatakan dulu. Anak itu pergi ke luar negeri bersama Ayahnya."


"Apa kau tidak ingat saat Ayahnya memanggil nama anak laki-laki itu."


"Begitulah. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak dapat mengingatnya. Aku hanya mengingat dia pergi keluar negeri saat itu."


Seorang pegawai cafe datang menghampiri meja mereka sembari membawa pesanan yang mereka pesan tadi.


"Selamat menikmati."


Hae Su dan Geo Mi pun melanjutkan pembicaraan mereka


"Kau belum bercerita padaku soal lelaki tampan yang kau ceritakan tadi pagi padaku. Siapa dia?"


"Ah dia."


"Apakah benar-benar tampan?"


"Dia seorang perawat yang juga bekerja di rumah sakit Pyeongchang."


"Wahh daebak! Apakah rumor itu benar?"


"Rumor apa?"


"Rumor yang mengatakan bahwa para dokter dan perawat yang bekerja di rumah sakit itu

__ADS_1


memiliki paras seperti malaikat. Cantik dan tampan!"


"Ada ada saja kau ini! Darimana rumor itu beredar?"


"Aishh seluruh Korea tahu itu!"


"Berarti seperti aku kan. Dulu Nenek bilang kalau aku seorang putri.Hahaha."


"Kau putri angkat Bibi Song!"


"Baiklah. Aku putri angkat yang baik hati."


"Nah, coba ceritakan bagaimana kau bertemu dengannya. Siapa namanya?"


"Namanya Moon Jun Tae."


"Wahhh namanya saja sudah ganteng. Aku harus bertemu dengannnya. Kau harus


mengenalkanku padanya. Kalau begini kenapa aku harus membuka toko bunga. Aku jadi ingin menjadi perawat sepertimu juga. Aku iri."


"Hahaha. Baiklah terserahmu. Kau menjadi perawat tanaman saja."


"Bagaimana rupanya?"


"Dia punya tubuh yang tinggi. Mungkin sekitar 187cm. Tubuhnya atletis dan mempunyai dada yang bidang. Punggungnya juga bagus. Kakinya sangat jenjang. Dia mempunyai rambut dan bola mata berwarna hitam. Kulitnya putih dan bersih. Dia mempunyai senyum yang manis. Saat dia tersenyum sederet gigi putihnya kelihatan dan matanya menjadi sipit."


"Hae Su!"


"Hm?"


"Tolong daftarkan aku sekolah perawat." katanya sembari mengenggam tangan Hae Su.


"Memangnya semudah itu kau dapat menjadi perawat dalam sekejap mata."


Geo Mi pun meletakkan wajahnya di meja cafe dengan murung.


"Aku bertemu dengannya di sebuah bis. Dia duduk tepat sejajar denganku. Saat itu aku


ketiduran di dalam bis dan tidak sadar bahwa botol minumanmu telah berguling ke bawah


kakinya. Aku melihat dia memakai seragam seorang perawat yang sama denganku. Tapi saat itu aku lupa menanyakan namanya. Begitulah perjumpaan kami."


"Wah Hae Su kau memang bukan seorang gadis yang romantis."


"Biar saja!" ujar Hae Su menyeruput capucino hangatnya.


"Jadi kenapa kau bisa tahu namanya?"


"Semalam. Saat aku menggantikan temanku untuk berjaga. Aku membentur kepalanya dengan pintu. Aku tidak melihatnya karena fokus pada ponselku untuk mengubungimu. Setelah itu kami mengobrol banyak dan aku lupa mengubungimu."


"Jadi kau melupakanku karena seorang lelaki yang baru kau kenal satu hari?!"


"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingat. Itu saja."


"Ah tapi kenapa kau membentur kepalanya dengan pintu?!"


"Karenamu juga!"


"Hae Su!"


Hae Su tertawa lebar kepada Geo Mi yang sedang kesal. Mereka melanjutkan

__ADS_1


pembicaraan mereka sembari menikmati siang yang cukup panas itu.


__ADS_2