Lavynds

Lavynds
Episode 8


__ADS_3

"Hae Su! Kang Hae Su!!"


Seseorang meneriaki nama Hae Su dari jauh. Nam Dae Ri berlari-lari ke arah Hae Su sembari menenteng tas di lengannya.


"Kakimu bisa patah jika berlari seperti itu. Ada apa?"


"Aku mau minta tolong padamu Hae Su..." Nam Dae Ri melipat kedua tangannya di hadapan Hae Su seperti mau minta tolong.


"Apa itu?" Hae Su menaikkan sebelah alis matanya. Nam Dae Ri menggigit bibirnya lalu


tersenyum seakan enggan mengatakannya.


Hae Su sedang berada di kamar ganti perawat wanita untuk mengganti pakaiannya.


"Aishh Nam Dae Ri. Gadis itu suka sekali mengikuti hal semacam itu."


Ternyata hari ini Nam Dae Ri minta tolong pada Hae Su untuk menggantikannya jaga malam karena harus mengikuti kencan buta yang diikutinya lewat daring.


Tiba-tiba Hae Su memukul kepalanya karena mengingat sesuatu.


"Ahhh Hae Su bodoh..kenapa aku baru mengingatnya sekarang. Cha Geo Mi pasti akan membunuhku."


Dia mengambil ponsel dari saku seragam perawatnya. "Aku harus menghubunginya sekarang."


Hae Su mendorong pintu keluar di depannya sembari mencari kontak Geo Mi di ponselnya.


"Aww!"


"Oh oh maaf! Maaf! Kau tidak apa-ap-.."


Lelaki itu mendongakkan kepalanya pada Hae Su dan merapikan rambut hitamnya.


"Aku tidak apa-apa hanya terbentur pintu ini saat kau membukanya."


Hae Su membuka mulutnya dan melihat pria di depannya.

__ADS_1


"Ohh! Kau!"


Moon Jun Tae tertawa dan menaikkan kedua pundaknya. "Wah. Kita bertemu lagi. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi disini. Semua karena botol minuman itu."


"Aku minta maaf soal kepalamu."


"Tidak apa-apa..."


Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit.


"Jadi kau belum pulang selarut ini?"


"Ah itu. Sebenarnya jam kerjaku telah selesai tadi. Hanya saja perawat Nam Dae Ri memintaku tolong untuk menggantikannya karena dia urusan malam ini."


"Begitukah? Kebetulan aku juga punya jadwal jaga malam hari ini. Kau mau secangkir kopi?"


Hae Su melihat ke arah Moon Jun Tae dan menganggukkan kepalanya. Moon Jun Tae menekan sebuah tombol mesin minuman bertuliskan kopi.


Dia pun berjalan ke arah Hae Su yang sedang duduk di bangku taman. Dia sedang menikmati langit malam yang indah. Hae Su menerima secangkir kopi dari tangan Moon Jun Tae.


Jun Tae duduk di sebelah Hae Su.


"Wah Nam Dae Ri. Dia ahli sekali merepotkan orang lain.”


"Ah tidak apa. Aku tulus melakukannya. Mungkin suatu hari aku juga memerlukan bantuannya. Karena bagiku kita harus saling tolong menolong. Kita manusia seperti jungkat-jungkit disebuah taman bermain. Untuk membuatnya seimbang, kita harus saling menopang."


Jun Tae menggangguk perlahan.


"Benar sekali. Aku setuju padamu."


"Itu adalah perkataan yang sering dikatakan oleh Nenekku dulu."


"Sepertinya kau sangat dekat dengan Nenekmu.."


"Dia telah tiada."

__ADS_1


Jun Tae merasa menyesal. "Maaf aku tidak bermaksud-.."


"Tidak apa. Itu sudah berlalu 10 tahun yang lalu saat usiaku 14 tahun."


Jun Tae mengatupkan kedua bibirnya dan mencari bahan pembicaraan lain.


"Ahh aku baru ingat. Kita sudah dua kali bertemu dan bekerja di rumah sakit yang sama. Tapi aku belum tahu namamu."


Hae Su tertawa dan melihat wajah Jun Tae. "Benar. Kita seperti dua orang asing yang berbagi cerita tanpa tahu nama masing-masing."


"Moon Jun Tae. Namaku Moon Jun Tae. Kau dapat memanggilku Jun Tae."


Hae Su tiba-tiba terdiam karena teringat suatu peristiwa. Jun Tae menepuk pundak Hae Su dan mencoba menyadarkannya.


Hae Su sadar dan melihat Jun Tae berusaha menyadarkannya.


"Maaf maaf. Aku Hae Su. Kang Hae Su."


"Hmm namamu cantik seperti orangnya.”


Pipi Hae Su memerah karena pujian Jun Tae. Dia melipat kedua bibirnya takut jika Jun Tae melihat rona merah di pipinya.


"Kenapa tadi kau melamun?"


"Tidak. Tadi aku hanya merasa bersalah karena hari ini melupakan janji pada sahabatku." Hae Su mencoba berbohong pada lelaki di sampingnya.


"Ah Nam Dae Ri dia harus berhenti membuat orang lain merasa terbebani."


Hae Su diam-diam memperhatikan wajah Moon Jun Tae dari samping dan mencoba menghentikan pikirannya yang macam-macam.


"Ayo kita masuk. Udaranya semakin dingin. Mungkin musim hujan akan segera datang."


Hae Su berjalan dibelakang Jun Tae dan mengikutinya perlahan sembari memperhatikan tubuhnya yang tinggi dan punggung lelaki itu yang sangat bidang.


Moon Jun Tae.

__ADS_1


Tidak mungkin dia anak laki-laki itu. Anak itu kan sudah pergi ke luar negeri. Ya tidak mungkin dia.. ujarnya dalam hati.


__ADS_2