Lavynds

Lavynds
Episode 1


__ADS_3

Hujan.


Aku sangat menyukainya. Bagiku hujan adalah penyembuh. Dia menumbuhkan


pohon-pohon, membasahi tanah, dan memberi kehidupan.


Saat hujan aku dapat berjalan di bawah payung bersama Nenek, kemudian tertawa bersama lalu pergi untuk membeli semangkuk mie pedas yang akan kami makan berdua ketika sampai dirumah setiap Nenek menjemputku pulang dari sekolah.


Dia selalu menyisakan seluruh daging yang ada pada mie pedas untukku. Kami hanya sanggup membeli satu porsi. Lagipula aku tidak dapat menghabiskan semuanya jika Nenek membeli dua porsi.


Saat hujan aku dapat memeluk tubuh Nenek yang hangat, sembari berlindung dibawah payung. Dia selalu memelukku dengan erat karena payung kami tidak cukup besar untuk berdua.


Tapi.


Sekarang aku tahu, bahwa hujan yang selalu kusukai tidak selalu menyembuhkan. Ada petir yang akan selalu bersamanya. Bagiku, petir membawa kematian.


°°°


"Ayo Kang Hae Su mendekat ke Nenek. Nanti kau bisa kena air hujan. Payung ini tidak cukup besar untuk kita berdua karena kamu sudah semakin besar. Nenek belum ada uang untuk membeli payung yang lebih besar lagi." ujar Neneknya dengan suara yang lembut.


Aku selalu suka suara Nenek yang lembut walaupun sudah terdengar sedikit serak. Kang Hae Su memeluk pinggang Neneknya dengan lembut. Terasa hangat.


"Nenek aku lapar..."


"Baiklah kita akan membeli mie pedas kesukaanmu ya."


"Iya Nek.”


Mereka berjalan menuju ke arah kedai mie pedas yang cukup besar. Kedai yang


selalu mereka datangi itu terletak di persimpangan jalan. Kedai itu milik seorang wanita bernama Song In Ra.

__ADS_1


"Hae Su. Aku tahu kau akan datang. Bibi sudah menunggumu. Lihatlah, tadi mie pedas itu hampir habis dibeli oleh beberapa keluarga. Tapi aku teringat padamu dan Nenekmu, jadi aku menyisakan satu porsi." ujar Bu Song dengan lembut sembari mengelus rambut Hae Su.


"Kau tidak perlu begitu Song. Bagaimana jika kami tidak datang. Kau akan rugi karena tidak menjual seporsi."


"Ah tenang saja, aku tidak pernah rugi. Tidak masalah bagiku. Aku membuka kedai ini hanya karena amal. Bibi tahu kan aku masih muda, umurku masih 37 tahun. Aku tidak punya suami dan anak lagi yang harus kupikirkan. Lagipula aku suka jika Hae Su selalu datang." ujar Bu Song sembari tersenyum pada Hae Su.


"Nah ini Hae Su. Mie pedas kesukaanmu." Hae Su menerima mie pedas itu dari tangan Bu Song.


"Terimakasih Bu Song." ujarnya sembari membungkukkan badan.


Nenek mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar mie pedas itu. Tapi Bu Song tidak menerima uang itu dan menolaknya.


"Sudahlah Bi, simpan untuk membeli buku Hae Su saja. Dia sudah semakin besar."


"Ah kau ini."


"Tidak apa-apa."


"Jika kau tidak datang, maka aku yang akan datang ke rumahmu untuk mengantarkannya pada Hae Su. Lagipula aku melakukannya untuk Hae Su."


"Baiklah Song kalau begitu kami pulang dulu..."


Hae Su kembali membungkukkan tubuhnya. "Selamat tinggal Bu Song.”


"Hati-hati di jalan! Makan yang banyak!" Bu Song melambaikan tangannya kepada Hae Su dan Neneknya. Hae Su mengengam tangan Neneknya dan tangan yang satu lagi menenteng mie pedas yang diberikan Bu Song.


"Hae Su."


"Ya Nek...?"


"Suatu hari, jika kau punya banyak uang dan bekerja di tempat yang baik. Jangan lupa membalas kebaikan Bu Song. Dia sangat baik pada kita. Nenek tidak selalu bisa bersamamu. Jika suatu hari Nenek tidak ada, pergilah mencari Bu Song. Dia pasti membantumu."

__ADS_1


"Nenek tidak mau bersamaku selamanya?"


"Bukannya Nenek tidak mau bersamamu selamanya. Tapi umur manusia seperti takdir. Takdir adalah seperti saat kita terjatuh karena tersandung batu. Kita tidak dapat menghindarinya. Tapi kita harus tetap berdiri dan bangun untuk menghadapinya, walau lutut kita masih terasa sakit."


Tiba-tiba seekor kucing kecil berlari dan mengagetkan mereka. Kucing itu berlari ke tengah jalan raya dimana banyak mobil berlalu lalang. Hae Su yang melihat kucing itu seketika refleks berlari mengikuti kucing itu dan ingin menyelamatkannya.


"Hae Su!!"


Dia tidak mendengar suara Neneknya karena suara hujan yang deras, dan tetap berlari kearah kucing tersebut. Neneknya mengikutinya dengan cemas dan gelisah. Suara klakson mobilmobil di jalan raya terus berbunyi sangat keras karena menghindari Hae Su.


Hae Su telah sampai di ujung seberang jalan dan mendapati kucing tersebut. "Disini kau rupanya kucing gendut".


Brrraaakkkkkkk


Hae Su menoleh ke arah jalan raya. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam menabrak tubuh Neneknya dengan keras hingga terpelanting ke atas dan kembali terjatuh di atas mobil sedan itu lalu berguling sampai ke aspal.


Hae Su menjerit.


Dengan kalut dia berlari kencang. Dia mencampakkan seluruh barang yang ada di tangannya, dan berlari menghampiri tubuh Neneknya yang telah berlumuran darah. Mobil yang menabrak Neneknya langsung pergi dengan cepat. Dia memeluk tubuh Neneknya dengan gemetar.


Seluruh darah dari kepala dan wajah Neneknya membasahi bajunya. Dia menangis dan meraung sejadinya. Hujan membasahi pipinya. Bibir dan seluruh tubuhnya gemetaran.


"Nenek.... Jangan tinggalkan Hae Su Kumohon Nenek bangun! Aku tidak ingin tinggal bersama Bu Song. Aku tidak ingin sendiri! Aku tidak ingin menghadapi takdir yang Nenek katakan! Aku tidak ingin sekarang! Nenek tolong bangunnn!!!!!"


Seluruh barang Hae Su dan Neneknya berserakan di jalan raya. Begitu juga mie pedas yang baru mereka beli. Hae Su menangis melihat mie itu, dan terus mendekap kepala Neneknya.


Tidak akan lagi orang yang akan makan mie pedas bersamanya. Tidak ada lagi yang akan


menyisakan daging untuknya, atau yang memegang tangannya saat hujan datang.


Di saat yang bersamaan, dia melihat seorang anak laki-laki sebayanya yang berada di tepat tidak jauh darinya. Anak itu juga terbaring kaku dengan kepala yang berlumuran darah.

__ADS_1


Dia pun mendengar suara mobil ambulans dan sirene polisi. Orang-orang berkerumun di sekitarnya dan dia pun pingsan.


__ADS_2