
"Kamu dapat beristirahat sampai tanganmu sembuh. Ibu juga tidak mau kau bekerja dengan tangan seperti itu."
Hae Su menganggukkan kepalanya lesu.
"Tapi. Kenapa kau menangis?"
"Tidak Bu. Tiba-tiba hatiku juga terasa sakit." ujar Hae Su tambah menangis dengan keras.
Suster Kepala Seon menepuk-nepuk pundak Hae Su. "Sudah pulanglah. Istirahat."
Hae Su keluar dari ruangan itu dan menemui Bu Song. "Ayo Bi. Kita pulang."
"Kau sudah selesai berbicara dengan atasanmu?"
"Sudah, Bi."
"Baiklah."
"Tapi kenapa Bibi datang kerumah sakit? Apa Bibi tahu kalau aku sedang tanganku sakit dan ingin menjemputku?" ujar Hae Su bercanda.
"Ah begini. Bibi dimintai tolong pihak rumah sakit.”
"Dimintai tolong?"
"Iya. Jadi kedai kita akan membantu memasok beberapa menu makanan untuk pasien dirumah sakit ini. Tapi Bibi tidak akan bekerja disini kita hanya memasok saja."
"Oh begitu. Wah Bibi akan punya banyak uang sekarang!"
__ADS_1
"Ya Bibi sekarang memikirkan bagaimana cara merekrut pegawai tambahan."
"Aku akan bantu Bibi!"
"Tidak usah. Lihat tanganmu! Kau harus istirahat." Hae Su memeluk Bu Song.
"Kenapa kau memelukku. Bibi jadi susah berjalan."
"Terimakasih Bi. Karena telah jadi satu-satunya orang yang peduli padaku disaat orang-orang lain menghinaku."
Hae Su menangis sembari memeluk Bu Song. Bu Song pun berhenti dan memeluk Hae Su.
"Anakku sekarang telah besar. Bibi beruntung kamu mau jadi anak Bibi disaat Bibi juga tidak punya siapa-siapa."
Di lain tempat. tampak Jun Tae sedang memperhatikan Hae Su dan Bibinya.
°°°
Direktur Kim sedang membetulkan dasinya dan jasnya di depan cermin besar.
"Aku memberimu fasiltas apartemen mewah ini bukan semata agar kau dapat bermain-main. Ingat kau bukan anak kecil lagi. Aku tidak melarangmu bersama Ibumu setiap hari. Tapi sebagai laki-laki kau juga harus menepati janjimu."
Hae Jun tidak menjawab perkataan Ayahnya sama sekali dan hanya terdiam.
Seo Ji Hun masuk ke dalam ruangan. "Mereka telah datang Pak." Direktur Kim meninggalkan putranya di dalam ruangan. Hae Jun mencampakkan gelas yang
ada di hadapannya ke lantai.
__ADS_1
"Jangan seperti itu. Kau dapat merusak setelan jas mahal itu. Dengan wajah seperti itu kau dapat menghancurkan suasana makan malam keluarga calon istrimu jika bersikap seperti itu. Cepatlah. Pak Direktur Kim menunggu."
Malam itu mereka akan makan malam dengan keluarga Lee untuk membicarakan pernikahan anak mereka. Lee Bo Ra dan Kim Hae Jun.
Mereka memesan sebuah restoran mewah di sebuah restoran berkelas internasional. Berbagai hidangan mewah dan sampanye tersedia di atas meja.
"Lee Bo Ra cantik sekali malam ini dengan gaun hijau itu. Kalian pasti bangga memiliki putri seperti dia."
"Wah kau terlalu memuji anakku, Direktur Kim."
"Paman bisa saja. Aku hanya memakai gaun sederhana. Ibu bilang kecantikan seorang wanita terpancar dari hatinya bukan dari gaun mewah yang dipakainya."
"Itu yang Paman suka dari calon menantu sepertimu. Rendah hati dan bijaksana sekali."
"Kim Hae Jun juga tampan sekali malam ini. Bibi seperti melihat aktor Korea disini."
Hae Jun diam saja tanpa ekspresi dan terus meminum sampanyenya. Mereka semua melihat ke arah Hae Jun yang tidak ada ekspresi. Menyadari itu dia pun melihat wajah Ayahnya yang tidak senang dengan sikapnya.
"Terimakasih." ucap Hae Jun pada calon mertua perempuannya tersebut.
"Bagaimana kalau kita majukan saja tanggal pernikahan mereka? Benarkan suamiku?"
"Saya setuju. Bagaimana denganmu Direktur Kim?"
"Ide bagus. Kita akan mencari tanggal yang bagus. Lebih cepat lebih baik kita langsungkan pernikahan mereka."
Mendengar itu Hae Jun meletakkan garpu di tangannya.
__ADS_1
"Tolong sesuai persetujuan dari awal saja. Saya masih sibuk beberapa minggu ke depan."
"Ah begitukah? Baiklah jika Hae Jun masih sibuk. Bibi tidak memaksa. Kalau begitu kita lakukan seperti persetujuan di awal saja."