Life In The Sky

Life In The Sky
10


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya sejak mereka tak bertemu dari hari pertengkaran sebelumnya dan sekarangpun dini sudah keluar dari rumah sakit. Gadis tersebut yang ia lakukan selama dirumah sakit hanya memandang kearah luar jendela menanti jikalau lian datang menjenguknya, tapi itu hanyalah khayalannya mana mungkin lian datang.


Marsya datang menjemput dini disana tapi tidak dengan lian yang sama sekali tak peduli. Jika dikatakan rindu tentu saja marsya rindu dengannya begitu pula lian. Bahkan alasan marsya datang kesana bertujuan bertemu dengan pria tersebut.


Setelah mengadakan pesta atas keluarnya dini dari rumah sakit. Marsya hanya berdiam diri dikamarnya tanpa melakukan apapun.


Hari ini marsya ingin melihat pria nya tersebut diperpustakaan sebab ia sama sekali tak bisa menghubungi lian sebab bukankah pria itu sendiri tak memiliki hape.


Sesaat setelah marsya tiba ia melihat lian, senyumnya berkembang sesaat ketika melihat seorang gadis lain bersama dengan lian. Walaupun mata mereka bertemu lian tampak seperti tak peduli apalagi menghampirinya dan terlihat asyik ngobrol dengan gadis tersebut entah siapa? Marsya sendiri tak tahu.


Merasa tak dipedulikan lagi setelah mengambil beberapa buku marsya akan pergi dari sana tapi dihadang dengan wanita yang bersama lian tadi. Ia memberikan secarik kertas yang sudah terlipat rapi padanya.


Marsya perlahan membuka kertas tersebut dengan hati-hati penasaran akan tulisan didalamnya.


“sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... sorry....... kalo lu mau maafin gue, temui gue disana sekarang!” itulah isi dari kertas yang diberikan wanita tersebut padanya.


Kata maaf memenuhi kertas dengan baris terakhir lian meminta marsya untuk menemuinya sekarang juga. Merasa tau akan tempat yang dikatakan dalam surat marsya berlari menuju kesana.


Marsya tiba di atap tempat biasa ia dengan lian ngobrol dengan nafas yang masih terengah-engah, dan benar saja lian sudah menunggunya disana.


“ngapain lu?” tanya marsya ketika sampai, gadis tersebut mengambil nafas dalam-dalam mengatur nafasnya saat ini.

__ADS_1


“maaf”


“gak bosen apa ngomong gitu mulu? Gue aja bosen bacanya elo malah ngomong gitu lagi” ujar marsya mengangkat surat yang diberikan wanita tersebut padanya.


“maaf” lagi-lagi kata yang sama yang keluar dari mulut pria dihadapannya.


“udah ah.. males gue kalo elu nyuruh gue kesini cuma mau ngomong itu doang gue balik” marsya balik badan meninggalkan lian disana sendiri.


“gue salah, gue mau nebus kesalahan gue” sahut lian menghentikan langkah marsya.


Marsya berbalik menatap mata bersalah lian padanya. “emang lu punya salah?” tanya marsya “tapi kalo lu mau nebus kesalahan apalah itu, gue mau” lanjutnya.


“iya gue punya salah, sampe gue gak mau nemuin lu selama seminggu terakhir ini, terus lo mau apa?”ucap lian pada wanita dihadapannya saat ini.


“ok apa?” tanyanya lagi.


“ehm.. gak tau, entar pas gue tau bakal gue kasih tau tenang aja” seru marsya yang sama sekali belum mengetahui apa permintaannya.


Gadis tersebut manarik tangan lian dan kembali berlari menuruni anak tangga satu persatu tanpa melepas genggamannya pada pria yang baru saja berbaikan dengannya tersebut.


Marsya membawa lian ketaman yang sama seperti lian membawanya dulu saat ia sedang sedih, “lu liat, langit dihiasi awan putih, kalo elu perhatiin awan itu berjalan kan tapi kalo enggak awan itu seperti diam aja” ucap marsya menunjuk awan-awan yang menghiasi langit biru.

__ADS_1


“tapi itu kalo di perhatiin, sama kayak elu yang harus diperhatiin kalo mau tau siapa elu yang sebenernya” marsya terus saja berbicara tanpa henti sambil memandang langit biru cerah tersebut.


“inget kalo ada masalah elu harus berbagi, jangan seperti langit yang hanya diam melihat awan berjalan pergi” marsya berbalik memandang lian yang tampak sangat tahu maksud perkataan marsya dan ia hanya diam saja.


Gadis tersebut duduk dihamparan rumput sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya diikuti dengan lian yang melakukan hal yang sama.


“jadi kita baikan?”tanya lian mengalihkan pembicaraan mereka. Marsya hanya tersenyum hangat sebelum akhirnya kepalanya disandarkan olehnya dibahu lian.


“gue suka banget sama langitnya cerah kayak elu" ucap lian membuat marsya menatap hangat kearahnya tanpa sepengetahuan pria yang baru saja berbicara.


Mulai dari hari itu kehidupan mereka kembali seperti semula, hari itu marsya baikan dengan lian yang membuatnya begitu amat senang begitu pula dengan pria tersebut.


Hari-hari mereka kembali menyenangkan seperti yang lalu, marsya dan lian menemui andre yang sedang bersama pacarnya dini tersebut.


Mereka seperti sedang double date saja saat ini, yang dilakukan keempatnya seperti seorang kekasih terlebih lagi dengan marsya dan lian, mereka seperti benar-benar akan dikatakan sepasang kekasih oleh orang-orang di sana.


Tampak jelas sekali dini tak menyukai kedekatan pasangan tersebut, seperti ada yang mengganjal diantara keduanya.


Bermain di taman hiburan, nonton film, makan malam dan berbagai hal yang dilakukan mereka dan sekarang saatnya lian mengantar anak orang kembali kerumahnya.


Dikamar marsya menutup matanya untuk segera tidur, tapi niatnya batal karena papa masuk dan mulai kepo menanyakan harinya. Cukup menjawab melelahkan marsya kembali menarik selimutnya dan tidur.

__ADS_1


Papa mengecup hangat kening anaknya sebelum keluar kamarnya.


Marsya kembali membayangkan kejadian tadi, ia masih bingung dengan tingkah lian sepanjang waktu hari ini tampak sekali ia sangat tak menyukai dini dari tatapan matanya. Tak mau ambil pusing marsya kembali menutup matanya untuk segera tidur.


__ADS_2