Life In The Sky

Life In The Sky
26


__ADS_3

Melihat apa yang terjadi pada saat ini, tentu saja membuat pria yang masih berada diambang pintu tersebut terkejut sekaligus mengukir senyum manisnya kepada keduanya. Sedangkan rafli sendiri mengetahui siapa yang datang, kembali melanjutkan apa yang sedang ia perbuat saat itu.


Marsya yang sebenarnya masih marah dengan sahabatnya tersebut, memberikan izin kepada andre untuk bertamu dirumahnya. Meskipun ia tahu marsya tak ingin mendengar penjelasannya mengapa ia melakukan ini semua tapi andre sangat ingin wanita tersebut mengetahui kebenaran sebenarnya apa yang terjadi selama tiga tahun terakhir ini.


Setiap kali marsya memberinya kesempatan untuk berbicara ada saja yang mengganggu seperti halnya rafli terus bertanya-tanya dimana mangkuk bersih karena tadi ia hanya melihat satu bahkan telepon masuk antara keduanya masalah pekerjaan masing-masing, sehingga sulit untuk andre berbicara.


“sya gue...... sebenernya....” belum lagi menyelesaikan kata-katanya, ponsel andre berdering untuk ketiga kalinya dan dengan wajah yang sedikit kesal ia meminta sekertarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya hari tersebut dan jangan menelponnya lagi, kemudian mematikan telepon sepihak. Mendengar sekaligus marsya tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya.


Andre bahkan melempar ponselnya kearah sofa yang agak jauh dari tempat mereka saat ini, ia benar-benar tak peduli jika ponselnya rusak atau apapun itu, yang jelas ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya. Kejengkelan andre bertambah saat ia ingin berbicara lagi dan ingin menjelaskan, lagi-lagi diganggu oleh kedatangan rafli membawa semangkuk bubur yang sudah ia panaskan tadi kembali membuatnya emosi.


“sini lu raf..!” andre menarik tangan sepupunya kasar, membawanya keluar rumah diikuti dengan marsya yang hanya berdiri berdiam diri diambang pintu.


“pa’an sihh... gue Cuma mau kasih itu bubur buat cewek itu doang, lu ngapa marah? Lagian kan lu Cuma temennya doang bukan pacarnya seperti perkiraan gue kemaren” ucapnya.


“hah... ya bukanlah... Cuma gue mau ngomong ama temen gue, emang salah apa?” rafli menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, memang kenapa harus sampai mengusirnya jika hanya ingin berbicara saja.


Pada saat yang sama, marsya tiba-tiba kembali merasakan pusing yang amat teramat menyakitkan hingga ia jatuh pingsan. Tanpa pemberitahuan apapun, rafli menggendong wanita tersebut dengan sangat panik bahkan ia sendiri tidak tau mengapa bisa ia sampai sepanik ini pada orang lain bahkan dengan orang asing.


Dengan cepat ia berlari membawa marsya dalam dekapannya masuk kedalam mobilnya, ia segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa disadari rafli meninggalkan andre sendiri dirumah marsya. Sehingga, andre mau tak mau harus pergi kerumah sakit menggunakan taksi.

__ADS_1


khawatir dan kepanikan rafli tak dapat dibendung bahkan saat sampai dirumah sakit sekalipun, ia terus berjalan bolak-balik menunggu dokter keluar untuk memberitahu keadaan wanita yang ada didalam, sedang mendapat penanganan tersebut.


Sejenak ia sempat berpikir, mengapa dirinya begitu mengkhawatirkan orang asing yang sama seakli tak dikenalnya... jelas sekali ia tidak melakukan hal bodoh mengapa ia harus mengkhawatirkan wanita tersebut. Apa ada yang tidak ia ketahui atau ada yang ia lupakan sehingga rasa khawatir tersebut seperti saat ini?.


Kemudian dengan cepat rafli menghilangkan prasangkanya, tidak mungkin ia melupakan sesuatu tentang dirinya sendiri bukan.


Pria tersebut terduduk, saking lelahnya terus bejalan bolak-balik seperti setrika gosokan saja. Berdoa supaya marsya cepat ditangani dan tidak terjadi apa-apa.


Andre berlari kearah rafli yang sedang duduk menunggu kabar, bak wartawan saja, andre menanyakan beberapa pertanyaan mengenai marsya yang tidak akan bisa dijawab olehnya karena dirinya sendiri sedang menunggu kabar, dokter belum keluar dari ruangan jadi belum tahu menahu tentang keadaan terbaru dari marsya saat ini.


Dokter keluar tak lama kemudian, lagi-lagi bak artis yang diwawancarai oleh dua wartawan yang menanyakan beberapa pertanyaan bertubi-tubi membuat sang dokter bingung untuk menjawab yang mana terlebih dahulu.


"ehh raf... lu ngapain disini? dia temen gue dan lu buka siapa siapa.. mending gue aja yang disini.. lagian gak guna lu disini" usirnya pada sepupunya sendiri yang terlihat begitu khawatir pada keadaan wanita didalam tersebut.


Memang merasa tak berhak untuk mengetahui keadaan orang asing tersebut, meskipun ia begitu ingin mengetahui bagaimana keadaan marsya saat ini, tetapi ia memendamnya sendiri dan berlalu pergi meninggalkan keduanya untuk berbincang.


Ia memang tak tahu mengenai keadaan marsya, tapi bukan berarti ia tak boleh melihat wanita tersebut. Pria tersebut masuk, boleh atau tidaknya ia tak peduli.


Rafli benar-benar mengkhawatirkan wanita yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dihadapannya tersebut, ketika ingin mendekati marsya secara samar samar ia mendengar wanita tersebut bebicara sambil tidur dengan nada lemah.

__ADS_1


"lian... lian... lian... gue mohon jangan pergi... jangan tinggalin gue... gue pengen ikut lu aja... lian.. lian.." air mata wanita tersebut tak henti-hentinya menetes dihadapannya, dan entah kenapa membuat hati kecil rafli ikut sakit menyaksikannya menangis tersebut.


"siapa lian?" tanyanya bingung. Ia hanya mematung mendengar perkataan dari wanita yang terbaring dihadapannya saat ini dengan penuh tanda tanya.


Diluar sana, andre berusaha untuk menafsirkan perkataan dokter padanya tadi. "jadi maksud dokter itu marsya..."


"ya, selama tiga tahun ini marsya tidak mau menjalani pengobatannya, padahal kepala yang terbentur tiga tahun lalu harus mendapatkan penanganan yang lebih lanjut, sehingga tidak terjadi kontraksi seperti ini lagi" tutur dokter yang sama saat merawat marsya tiga tahun lalu.


Andre benar-benar tak habis pikir dengan apa yang marsya lakukan pada dirinya sendiri senhingga ini semua terjadi, sebegitu besarkah rasa bersalahnya pada lian.


"jadi saya sarankan untuk anda membujuk nona marsya agar ia mau berobat sehingga luka dikepalanya pulih total seperti sediakala, ini bukan kali pertama dia mengalami kontraksi dikepalanya" andre mengangguk dan berjanji akan meyakinkan marsya mau berobat sehingga luka dikepalanya pulih.


Andre masuk kedalam ruangan setelah berbincang dengan dokter, dan melihat rafli duduk disamping marsya memegangi tangan marsya dengan sangat khawatir, meski ia tak tahu siapa wanita yang terbaring dihadapannya saat ini tetapi rasa khawatir tersebut tak bisa terhindar begitu saja.


Andre benar-benar tak habis pikir dengan apa yang matanya lihat, jelas sekali sepupunya hilang ingatan tetapi seperti tidak terjadi apa-apa pada ingatannya, ia masih begitu khawatir pada keadaan wanita yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit tersebut.


"jelas banget ni orang amnesia, tapi kok dia masih bisa khawatir pada keadaan marsya yang tidak ada di ingatannya saat ini. memang hati dan pikiran itu berbeda yaa... ingatan boleh hilang tapi hati gak bakal lupa siapa yang ia sukai. Semoga mereka bisa bersama selamanya.... dalam keadaan ingat maupun tidak itu gak penting.. yang penting hati selalu menyatu" pikir andre dalam hati.


Pria tersebut tidak ingin mengganggu keduanya dan memilih keluar dari ruangan, dan membeli beberapa makanan dari kantin rumah sakit untuk mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2