Life In The Sky

Life In The Sky
21


__ADS_3

Malam yang gelap, bahkan sinar rembulan tertutupi oleh awan yang sama gelapnya dengan malam itu. Tak akan ada yang mengetahui apa yang telah terjadi, entah itu berita baik ataupun buruk.


Semua telah tertutup, pandangan mulai kabur dan mulai menghilang tak terlihat lagi. Hanya terdengar suara malam dan jangkrik jangkrik yang berseru terdengar oleh telinga.


Perlahan berjalan menelusuri jejak jejak yang tertinggal di tanah basah, entah jejak itu akan mengarahkan dirinya kemana. Jejak yang mengarahkannya ke dua orang yang begitu samar hampir menghilang ditengah malam.


Salah seorang wanita menghampirinya, sedangkan yang lainnya menutup diri hanya terlihat bagian belakang tubuh wanita itu. Perlahan lahan mendekat, wanita yang sudah sangat tua mulai berkata padanya "akan kembali lagi kisahmu, kau akan tersakiti" setelah itu wanita paruh baya tersebut bersama dengan wanita yang lainnya menghilang dalam sekejap.


awan hitam yang semula menutupi langit mulai menghilang juga, kini sudah dapat melihat bintang bintang serta bulan dilangit malam yang indah. Kakinya berjalan lagi, ia hanya mengikuti langkah kakinya yang tak tau menuntunnya kemana.


Segerombolan anak-anak berlarian disekitarnya dengan riang, bahkan ada yang sedikit berteriak dan kembali mengejar temannya tersebut. Pria tersebut akhirnya sadar, ia sekarang sudah berada ditaman hiburan, menatap kearah yang mana mengatakan bahwa disitu tempat peramal tua renta yang menatapnya begitu intens.


Pria tersebut berjalan pelan menghampiri wanita tua yang sedang menatapnya dengan takut takut, angin malam yang dingin menyapu dedaunan yang berserakan di jalan tanah tempatnya berpijak.


Wanita tua tersebut menyuruh sang pria duduk dihadapannya ketika ia sampai, tanpa mengatakan apapun dari sang pria, ia yang seperti sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan langsung saja berkata.


"hidupmu akan segera berakhir, dan kehidupan selanjutnya sudah didepan matamu" ujarnya dengan kedua tangannya masih menyentuh bola kristal miliknya.


"hah???" satu kata yang cukup untuk mengutarakan kebingungan melanda hatinya saat itu.


"lihat dan tunggu saja" asap tebal seketika menyelimuti tubuh wanita tua tersebut sebelum menghilang dari pandangan.


Segera setelah menghilangnya wanita tua tersebut, kepala pria tersebut terasa sangatlah berat dan matanya yang mulai kabur sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur ditanah dan pingsan disana.


Disebuah kamar yang gelap, masih ada secercah cahaya yang masuk melewati celah jendela. Cahaya yang menyilaukan mata seorang pria yang tertidur.

__ADS_1


Ahh... ternyata itu semua hanyalah mimpinya, ia tak benar-benar berada di dua tempat asing seperti yang ada didalam mimpinya tersebut.


Seorang wanita masuk kedalam kamar tanpa permisi, melemparkan kain handuk kewajah pria tersebut membuyarkan semua lamunannya, ia memintanya untuk segera membersihkan diri karena akan segera pergi ke sesuatu tempat.


Marsya saat ini berada di perusahaan paman alex, ayah dari lian. Mereka membahas masalah kerja sama dari antara mereka, masrya saat ini sudah memiliki perusahaan permodelan.


Setelah mendapatkan ending yang baik, rapat dihentikan. Semua karyawan satu persatu meninggalkan ruangan tersebut sehingga hanya tersisa mereka berdua, ayah lian tersenyum kepadanya "gimana kabar kamu marsya?" tanyanya lembut.


"setelah ditinggal lian, saya mengerti apa itu sebuah kehidupan paman" tutur halus keluar dari mulutnya, "saya tidak ingin ia kecewa memberikan kehidupannya untuk saya, dengan hanya terus menangis didalam kamar yang terkunci" lanjutnya.


paman alex tersenyum mendengar penuturan dari anak sahabatnya tersebut, ia tak menyangka marsya yang dulu sangat kekanakan kini telah menjadi wanita dewasa yang begitu lembut dan ramah.


"sudah 3 tahun sejak terakhir kita bertemu, bagaimana perasaanmu?" lagi-lagi pertanyaan yang menggores hati kecil marsya, tetapi ia kembali menjawab dengan ramah.


"paman dan tante pergi membawanya tanpa memikirkan perasaan saya, jika dikatakan kecewa dan marah maka akan saya akui semua itu... tetapi setelah dipikir lagi itu tak berguna, saya tau paman dan tante menginginkan saya menjalani kehidupan sebagaimana mestinya walau tanpanya" lagi-lagi hanya senyum tipis yang terukir diwajah pria paruh baya tersebut.


Matanya perlahan menutup saat berada didalam mobil putihnya, mencoba menenangkan hati dan pikirannya supaya kembali relax sebelum akhirnya melaju melintas ke jalanan.


Pandangan marsya mulai kabur, ia tak bisa melihat dengan jelas, kepalanya amat terasa pusing. Sehingga ia salah mengambil jalur kendaraan saat dekat persimpangan jalan.


Sebuah mobil hitam melintas dengan kecepatan standar, membunyikan klakson dengan keras, takbrakan tidak bisa dihentikan walaupun kedua mobil sudah membanting stir mencoba menghindar.


Walaupun tidak ada yang terluka hanya tergores bagian bumper depan mobil keduanya, tak menghalangi kedua pengemudi keluar dari mobil masing-masing untuk memeriksa kerusakan kendaraan mereka.


Seorang pria melabrak marsya, mengatakannya bodoh dan tak bisa mengemudi dengan baik. Semua cercaan tersebut diterima baik olehnya, ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun baik membela diri ataupun meminta maaf pada pria dihadapannya.

__ADS_1


Hujatan demi hujatan, cercaan demi cercaan diterima oleh marsya. Ia tak bisa berpalingan dari wajah pria dihadapannya yang begitu amat sangat familiar menurutnya, bahkan mungkin ia tak mendengarkan semua perkataan yang diajukan padanya.


Ia mulai menghampiri pria tersebut, membuat pria itu berjalan mundur karena bingung, apa yang terjadi dengan wanita ini? apa dia sudah gila?.


Siang itu, cuacanya sangat mendung tapi tak hujan hanya gelap saja. Angin pun bertiup sangat ramah, pohon disekitar hanya bergoyang perlahan mengikuti lantunan angin.


Seseorang wanita keluar dari mobil yang sama dari pria tersebut, bertanya apa masalah mereka telah selesai sebelum menghampiri keduanya.


"bisa kau bicara? atau kau bisu? bisa ini diselesaikan?" tanya pria itu kembali padanya.


"apa kamu tidak mengenalku?" air mata marsya mulai menetes membasahi pipinya.


"sayang apa yang terjadi?" tanya wanita disana sambil merangkul tangan milik sang pria.


"entahlah mungkin kepalanya terbentur tadi" ucapan yang terlintas kasar ditunjukkan pada marsya.


"apa kamu sungguh tak mengenalku?" meraih tangan pria tersebut, ia memohon untuk segera mengingatnya, apa yang terjadi? mengapa ia tak mengingat marsya?.


Melepas dengan kasar bahkan mendorong marsya sampai jatuh tersungkur dijalan yang sepi tersebut. "mengapa kamu tak mengenalku lian?" kata tersebut diutarakan oleh marsya.


"kau gila? siapa lian? kau salah orang!" pria tersebut memanglah sangat mirip dengan lian yang marsya kenal selama ini, wajah, tinggi, bahkan perilakunya walaupun sekarang jauh lebih kasar ketimbang yang dulu.


Marsya berdiri dengan susah payahnya, kepalanya kembali terasa berat begitu pula dengan pandangannya yang mulai kabur sebelum akhirnya ia kembali terjatuh dan pingsan.


Pria yang mirip lian membawanya kerumah sakit dengan mobil pria tersebut, sedangkan kekasihnya membawa mobil marsya mengikuti jalan yang dilalui pria tersebut.

__ADS_1


keduanya tampak merasa khawatir dengan keadaan marsya yang begitu lemah saat ini, sehingga mempercepat jalan menuju rumah sakit.


__ADS_2