Life In The Sky

Life In The Sky
16


__ADS_3

Mobil tersebut melintasi jalanan yang sepi di malam yang dingin, menyapu genangan air di aspal akibat saking derasnya hujan malam itu. Tibalah mobil tersebut menepi disebuah hotel, dan hanya hotel tersebut bangunan yang ada disana tidak ada yang lain.


Mungkin karena hujan yang begitu deras dan lebatnya, pengunjung di hotel tersebut sangatlah banyak, hanya tersisa satu kamar saja.


“kalian berdua suami istrikan?” tanya resepsionis disana, marsya yang sudah amat teramat menggigil kedinginan hanya mengeratkan jaket milik lian ditubuhnya.


Tanpa pikir panjang lian menjawab bahwa mereka benar sepasang suami istri dan ini adalah perjalanan bulan madu mereka, supaya lebih meyakinkan ia juga mengatakan mereka basah kuyup karena mobil yang mereka naiki memiliki masalah dan harus di perbaiki ditengah hujan.


Resepsionis tersebut percaya, melihat tak ada tanggapan maupun sanggahan dari marsya. Setelah mendapatkan kunci kamar dan sebelum pergi dari sana lian meminta agar membawakan mereka pakaian bersih, tak lupa ia membelikan sejumlah uang tunai untuk membeli pakaian di mall hotel tersebut kepada salah satu pelayan disekitar situ.


“yang satu benerin mobil sambil ditemenin sampe basah-basahan, ihh romantis! Gitu sambil nari-nari gak jelas" gumam resepsionis tersebut menganggap pasangan palsu itu sangatlah romantis, tidak tahu dimana bagian romantisnya juga.


Lian meminta marsya agar membersihkan dirinya terlebih dahulu, gadis yang sudah menggigil tersebut hanya mengikuti saran dari dia. Sebenarnya jika dikatakan kedinginan lian jauh lebih dingin ketimbang marsya tapi ia menahannya, ia tak mau jika gadis yang sudah berada diruangan lain tersebut sakit nantinya.


Lian duduk disofa panjang, menonton televisi. Ia membiarkan begitu saja lantai hotel dan sofa yang ia duduki becek karena air yang menetes dari pakaian yang ia pakai saat ini.


Seseorang mengetuk pintu, membuat lian bangkit dari duduknya menghampiri pintu kamarnya. Seorang pelayan yang diminta membelikan pakaian tersebut memberikan pesanan lian kepada pria tersebut, ia pergi setelah mendapatkan uang tip.


Lian segera masuk untuk memberikan pakaian hangat pada marsya, ia mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan, “marsya ini pakaiannya" marsya hanya mengeluarkan tangannya yang basah. Lian memberikannya dengan memalingkan wajah dari pintu kamar mandi sampai masya mengambil pakaian tersebut dan menutup kembali pintunya.


Marsya keluar dari sana sekitar 15 menit lamanya, sampai lian sendiri sudah tertidur disofa dan televisi masih menyala. Sedangkan pakaian lian hampir sudah kering dibadannya.

__ADS_1


Gadis tersebut menepuk-nepuk pelan bahu lian bertujuan membangunkan pria tersebur sanbil terus memanggil namanya, “lian" sampai lian terbangun dari tidur singkatnya tersebut.


“mandi gihh sana! Gue gak mau elu sakit ntar malah nyusahin lagi" ucapnya sambil memberikan handuk dan pakaian bersih nan hangat kepada lian, setelah mengambilnya pria tersebut bergegas masuk kamar mandi.


Tidak lebih dari 5 menit lian kembali keluar, ia sudah menyelesaikan ritualnya didalam sana. Ini orang mandi apa cuma ganti baju doang? Cepet amat.


Dirumah papa tampak sangat marah kepada mama karena menurutnya mama lah dalang kepergian marsya, dari tadi sore sampai sekarang belum juga pulang kerumah.


Mama hanya meminta maaf, ia tak bermaksud menampar putri satu-satunya tersebut, emosi mengalahkan segala hal yang ada membuatnya tanpa tersadar melakukannya.


Papa juga sudah meminta tolong pada andre supaya ikut membantu mencari marsya, hapenya sama sekali tidak dapat dihubungi sampai sekarang. Marsya benar-benar membuat orang rumah khawatir kepadanya.


Malam itu, papa rasanya ingin melapor ke polisi dengan catatan anak hilang jikalau tidak marsya menghubungi papanya melalui pesan singkatnya.


“pa... marsya sekarang ada di sebuah hotel di dekat gunung, gak tau dimana, tapi marsya sama lian kok jadi papa jangan khawatir ya. Tenang pa... kami gak ngapa-ngapain kok!” papa menghela napas panjang lega sebab tidak terjadi apa-apa pada putrinya tersebut sehingga proses pencariannya ia hentikan saat itu juga.


Setelah mengirim pesan singkatnya, marsya meletakkan hapenya dan ikuti tidur karena lian sudah dari tadi tertidur mungkin saking lelahnya diperjalanan tadi. Mereka bersama-sama memasuki alam mimpi mereka masing-masing.


Keesokan harinya, marsya yang sudah bangun terlebih dahulu tersebut membuka tirai jendela, betapa takjubnya ia melihat kearah luar sana. Pemandangan laut biru yang sangat menyejukkan dengan cahaya sunrise yang sangat indah menjadikan pemandangan tersebut berkali-kali lipat indahnya, belum lagi posisi kamar mereka sangat pas untuk itu.


Setelah mengambil beberapa foto pemandangan dan juga dirinya, ia kembali masuk karena angin pagi sangat menusuk kulitnya.

__ADS_1


Lian masih tertidur disofa semalam tampak sangat damai melihatnya, marsya ingin memberikan selimut walau sebenarnya sudah telat sihh, orang udah pagi juga tetapi ia tetap saja memberikannya.


Tapi kok saat dilihat dari jarak dekat wajah lian sangat pucat seperti demam, marsya cepat mengecek suhu tubuhnya dan benar saja suhu tubuh lian sangat panas mungkin karena semalam ia harus hujan-hujanan untuk waktu yang lama dan harus kembali menunggu marsya yang lama di kamar mandi semalam.


Marsya keluar membeli bubur hangat dan beberapa obat penurun panas, ia juga mengompres lian yang masih tertidur. Ketika bangun marsya dengan cepat memintanya untuk makan dan setelah itu minum obat. Serasa seperti pasien dirumah sakit saja si lian saat ini, tetapi ia hanya mengikuti mau marsya agar gadis dihadapannya yang tengah menyuapinya bubur hangat yang dibeli marsya tadi.


Ia juga harus minum obat yang diberikan, saat itu sebenarnya lian sangat malas minum obat tapi mau bagaimana lagi ia tak bisa menolak permintaan dan pemberian dari marsya kala itu.


Ok makan sudah, minum obat sudah, kini marsya lagi-lagi ingin melakukan sesuatu. “apa lagi yaa?”tanyanya pelan serta panik dapa dirinya sendiri, cukup terdengar oleh telinga lian “enggak ada" sahut lian.


“enggak ada dari mana pasti ada, tapi apa?” ucapannya lagi sambil mondar-mandir kayak setrika gosokan, “kepala gue pusing" ucap lian membuat marsya panik.


“elu ngapa mondar mandir hah? Buat pusing aja lagian gue Cuma demam enggak sakit parah ampe mati" ucap lian lagi.


“elu kayak gini gara gara gue, yang sebagai manusia yang berhati malaikat gue sadar diru dong" puji marsya pada dirinya sendiri.


“apalah malah muji diri sendiri" ujar lian sedangkan marsya hanya terkekeh mendengarnya.


Lian bangun dari sofa, membuat marsya langsung membantu memapah pria tersebut, “mau kemana?” tanyanya, lian mengatakan mau pindah tempat tidur ke kasur disitu sempit gak bisa ngapa-ngapain.


Marsya mengerti dan membantu lian ke tempat tidur “gue bisa sendiri" pria tersebut berusaha melepasnya tapi marsya masih kekeh mau bantu, yaudah dibiarin saja.

__ADS_1


__ADS_2