Life In The Sky

Life In The Sky
20


__ADS_3

Mereka berdua segera dilarikan kerumah sakit, mereka sama-sama dioperasi bahkan operasi dilakukan begitu sangat lama.


Pendarahan yang terjadi dikepala lian sangatlah parah dibandingkan dengan marsya karena kepalanya lah yang berhubungan langsung dengan trotoar tidak seperti marsya.


Keluarga marsya maupun lian hanya bisa berdoa atas kesembuahan bagi mereka berdua. Marsya di keluarkan terlebih dahulu dari lian, operasinya selesai dalam waktu sekitar 3 jam lamanya.


Marsya mengalami koma dan kritis sebelum akhirnya sadar tiga bulan kemudian, sedangkan lian, dokter mengatakan bahwa tidak memiliki harapan lagi bagi lian, ia juga tidak yakin dapat menyelamatkan pria muda tersebut.


Marsya yang sadar mengingat kejadian mengapa ia bisa ada di rumah sakit, “lian” kata pertama yanng diucapkan marsya selama seharian ia sadar. Bagaimana tidak jika lian tidak menyelamatkannya hari itu maka sudah dipastikan bahwa dialah yang sudah tiada didunia ini.


“ma... pa... mana lian?” tanya marsya ia ingin memastikan bahwa pria tersebut baik-baik saja. Jika saja ia bisa pergi melihat sayangnya kakinya masih mati rasa saat itu, “lian mana ma hiks....” marsya mulai meneteskan air matanya, gadis tersebut hanya bisa memegang lemah jemari mamanya, ia sama sekali tidak bisa beranjak dari ranjang rumah sakit.


“lian kamu sehat sehat selalu sayang” sahut papa dari ambang pintu, ia tak tega melihat anaknya begitu histeris.


“pa... lian baik-baik aja kan” tanya marsya, beralih menyentuh lengan papanya lemah.


Papa melepaskannya, pria paruh baya tersebut hanya mengelus pelan rambut anak semata wayangnya, “kamu harus sembuh ya” marsya mengangguk, ia tak sabar melihat liannya lagi dan meminta maaf karena lagi-lagi menjadi penyebab celakanya lian.


Butuh dua minggu untuknya bisa turun dari ranjang dan sebelum papa dan mama nya datang ia ke resepsionis menanyakan dimana keberadaan kamar lian saat ini.


“maaf gak ada yang namanya Rafli Ardlian Sanjaya disini” jawabnya.


“masa gak ada sih mbak... pasti ada, coba cari lagi” mata marsya mulai berkaca-kaca, ia sudah berpikir yang aneh tentang keselamatan lian, sehingga gadis tersebut yang saat ini masih duduk di kursi roda memintanya untuk mengecek berkali-kali.


“maaf... tapi ada yang namanya Rafli Ardlian Sanjaya tiga bulan yang lalu tapi sudah tidak dirawat disini lagi” ujarnya membuat air mata marsya kembali menetes dengan derasnya bagai air hujan yang tumpah dari cawan langit.


“iya itu, tapi kenapa mbak?” tanya marsya.

__ADS_1


“maaf sekali lagi, dia dikatakan tak ada harapan lagi untuk diselamatkan”


Perkataannya membuat hati marsya hancur berkeping-keping, air mata marsya lolos begitu saja kepipinya. Marsya yang tak percaya dengan perkataan mbak itu langsung mencari disetiap kamar yang ada di rumah sakit tersebut walaupun menggunakan sebuah kursi roda.


Mama yang diberitahu oleh pihak rumah sakit langsung mencari marsya yang tengah mencari keberadaan lian, yang sudah pasti tidak ada dimanapun disekitar rumah sakit ini.


“marsya kamu apa-apaan kayak gini ayo kembali kekamarmu” ajak mama yang langsung mendorong kursi rodanya, “ma lian mana kok gak jenguk aku apa dia belum boleh turun dari kasurnya ya” tanya marsya yang masih meneteskan air matanya.


Mama benar-benar tidak tahan mendengar penuturan dari anaknya, ia memilih diam. “ma kok diem, marsya nanya lo ma”


“lian baik hiks..baik aja hiks... kan ma” dreu air matanya benar-benar pecah.


“apa dia udah pulang terus masih marah sama aku ya”


“iya pasti dia hiks...marah sama aku kan”


“ma ayok kerumahnya hiks aku mau minta maaf ma” marsya meminta mamanya mengantarnya kerumah lian.


“kamu harus ngerti itu sayang, udah ya....” mama ikut menangis, ia tak tahu harus berbuat apa lagi kepada anaknya tersebut.


“enggak... enggak hiks... mama pasti bohongkan lian gak bakal meninggalkan ma” marsya terus menangis dan mama memeluk marsya untuk menenangkannya.


“enggak ma....enggak mungkin ma hiks...... enggak....”


Bibir marsya yang pucat bergetar hebat begitu pula gengan tubuhnya ia benar-benar tak menginginkan hal itu terjadi. Hingga akhirnya dia pingsan kembali.


Setelah perawatan yang cukup lama, marsya sudah diperbolehkan pulang. Sejak ia tahu bahwa lian sudah tiada kepribadian marsya berubah total, ia tak lagi tersenyum secerah dulu semua senyumnya palsu.

__ADS_1


Setelah mengetahui siapa dalang dari kecelakaan tersebut, marsya pergi kekantor polisi. Dikatakan seseorang mengantarkan bukti jelas tentang kecelakaan tersebut.


Dini dipenjara karena dia lah yang mengakibatkan semua ini, hari itu ia sengaja menunggu marsya keluar dan menabraknya sayangnya lian juga yang ternyata datang menyelamatkan marsya sehingga ikut tertabrak.


Yang tersisa hanya sepasang aksesoris hape yang sekarang selalu di bawa marsya yang bandulnya dijadikan kalung, ia pun tahu bukan kebetulan lian menemukannya melainkan melakukan banyak negosiasi dengan pasangan itu, dimalam ia menginginkan aksesoris hapenya.


Lagi-lagi jika mengingat lian, marsya tak kuasa manahan air matanya yang mengalir seperti air terjun dipipinya.


Marsya perpustakaan tempat mereka sering bertemu, mengambil buku yang selalu dibaca lian dan didalamnya terdapat banyak sekali tulisan lian mengenai dirinya, dari sebuah buku catatan yang sering lian pegang semasa hidupnya.


Marsya juga keatap mengingat semua tentang lian, menuju pintu yang tak pernah lian memperbolehkan ia masuk. Setidaknya sudah tak ada lagi yang melarangnya masuk, sehingga gadis tersebut masuk kedalamnya.


Didalamnya semua foto, ruangan itu seperti galeri kenangan lian dan setiap foto memiliki memori yang ditulis dibelakang foto tersebut . marsya berhenti di sebuah empat orang yang salah satunya ada lian dan dini bertuliskan “sahabat terbaikku”.


Foto dua orang tergeletak dengan mobil putih didepannya bertuliskan “dini menabrak aldi dan leni karena hal sepele hingga mereka tiada”


Foto terakhir yang digantung adalah dimana lian bersama marsya saat dipantai malam itu bertuliskan “kehidupan di langit”, keduanya tersenyum cerah dari arah samping menatap indahnya malam itu. Entah dari mana lian mendapat foto tersebut jelas ia tak pernah memiliki hape.


Marsya kembali menelusuri dan mendapatkan banyak sekali fotonya dengan pena disampingnya, itu bukan lah pena itu adalah camera yang ternyata selalu dibawa lian kemanapun.


Marsya yang sedari tadi tak hentinya meneteskan air matanya “lian ini waktu yang tepatkan untuk menangis air mata ini tidak terbuang sia-sia karena akan ada dimana gue harus mengeluarkan air mata ini dan inilah saatnya.” semuanya tumpah begitu saja saat ini seraya memeluk erat pena kamera milik pria itu.


“lian kalo menyakitiku bisa membuat kamu bahagia aku gak papa, tapi ini terlalu menyakitkan” marsya meremas pena tersebut dan keluar dari ruangan setelah tenang.


Seringnya berada digedung studio lama tersebut, membuat kedua orang tua marsya begitu mengkhawatirkannya. Mereka memutuskan untuk membelinya untuk marsya tinggali.


Andre juga sudah tidak kelihatan batang hidungnya dan dikabarkan keluar negeri entah kemana, sehingga memantapkan hati mereka mengizinkan marsya tinggal disana walaupun marsya tidak ingin ada seseorang menemaninya digedung tersebut.

__ADS_1


Malam itu, malam yang penuh akan bintang dilangit, langit begitu tampak sangat cerah bahkan derunya angin mengibas rambut marsya yang berada diatap rumahnya memandangi indahnya ciptaan tuhan.


Marsya membuka hapenya, melihat beberapa video yang saat itu masih trending. Seorang pengusaha muda kembali ke indonesia setelah tiga tahun ada di London. Tetapi buka itu yang menarik perhatian marsya, tampak sekali pria tersebut sangat mirip dengan lian.


__ADS_2