Life In The Sky

Life In The Sky
14


__ADS_3

Sejak kejadian hari itu, lian berusaha untuk melupakannya. Ia pergi ke tempat Gym agar ia tidak lagi memikirkan hal-hal yang tak mengenakkan hatinya tersebut.


Suatu hari marsya mengajak lian, andre dan dini untuk jalan-jalan lagi bersama seperti kemarin. Orang yang pertama menolak tentu saja lian, ia tak mau jika harus bertemu dengan dini. Benar-benar tak ingin melihatnya.


Kesempatan ini digunakan marsya untuk mengajukan permintaan keduanya, hingga mau tak mau lian harus menepati janjinya. Sebenarnya marsya hanya ingin lian mengenal dengan baik dini agar tidak terjadi kesalahpahaman antara mereka.


“jujur lo ingin menyakiti gue kan?” tanya lian menatap lurus mata gadis dihadapannya tersebut.


“enggak lah, iya sih elu gak suka ama dini tapi entaran elu tau kok dini itu orangnya kek mana, dia itu sopan dan baik banget loh” jawab marsya.


“elu ama andre yang harusnya sadar” ucap lian sebelum meninggalkan marsya sendiri.


Hari yang sudah ditentukan telah tiba tapi andre dan dini tidak bisa datang sebab dini sedang ada ujian hari itu ia tak ingin ujiannya jelek hanya karena jalan dengan mereka begitu juga andre yang sudah dimarahi ayahnya karena ia harus segera menyelesaikan skripsinya juga.


Tahun ini andre dan lian adalah tahun terakhir mereka, lian hanya tinggal tunggu kelulusan sedangkan andre belum menyelesaikan skripsinya jika tahun ini ia tak lulus maka bisa ngulang tahun depan pikirnya sayangnya ayahnya tak berpikiran yang sama.


Marsya benar-benar sedih sebab ia bahkan menggunakan permintaan keduanya untuk hal yang sia-sia. “gue kan udah pernah bilang elu jangan pernah sedih, itu akan menyakiti gue juga kalo liat lu seperti ini” ucap lian membuat marsya tercengang mendengarnya.


“kalo gitu gue akan menyakiti elu dengan cara ini” ucap marsya marsya meneteskan air matanya dan memang benar dia ingin sekali rasanya menangis ia membuat keputusan yang salah bahkan harus kehilangan kesempatannya.

__ADS_1


“kalo bener menyakiti gue itu akan menjadi kebahagiaan buat elu gak papa tapi elu gak akan menyakiti gue kali ini” ucap lian “lu masih bisa gunain” lanjutnya.


Sebenarnya bukan hanya karena permintaan yang tak terkabul tapi karena sebentar lagi lian akan lulus sehinga itu akan mempersulit pertemuan mereka tersebut, itulah yang dipikirkan marsya saat ini.


Senyum lian mengembang begitu saja saat tau apa yang dipikirkan gadis dihadapannya tersebut, lian menarik pelan marsya dari atap gedung tempat biasa mereka berdua bersama selain di perpustakaan.


Menuruni setiap anak tangga yang ada, pelan tapi pasti sampai akhirnya mereka sampai di parkiran gedung tersebut. pria itu dengan elegan membukakan pintu mobil untuk sang putri, sayangnya malah yang dibukain menutup pintunya dengan kasar.


"gak! gue gak mau naik" raut wajah marsya amat tak enak dipandang saat itu, tak selang berapa lama ia kembali tersenyum dan gantian menarik pelan tangan lian agar ikut berlari dengannya.


tangan halus dan kecil tersebut yang menyentuh tangan kekar lian, jari-jari yang mungil itu memasuki sela jemarinya membuat sang empu menatap lurus kearah gadis yang tengah berlari sambil menariknya tersebut.


Tatapan marsya masih tertuju kedepan menatap jalan yang mereka lalui saat ini, rambut panjangnya berkibas tertepa angin seiring cepatnya ia berlari. Tanpa ia ketahui lian yang ikut berlari hanya bisa menatap sebelah samping wajahnya melihat senyum gadis tersebut yang ia pikir sangatlah indah.


"ok apapun mau lu marsya" lagi-lagi lian tersenyum tipis membuat senyum marsya mengembang begitu saja melihatnya.


"ehh tapi ini pertama kalinya gue naik bis... gimana nihh?" rasa percaya diri marsya yang tadi mendadak menghilang berubah menjadi takut, ia jadi tak berani.


Bagaimana jika didalamnya tak sesuai dengan ekspetasinya seperti yang ada di drama korea yang ia tonton? atau bisa jadi malah ia akan muntah karena tak kuat dengan bau yang bercampur menjadi satu didalam sana.

__ADS_1


Marsya yang terlalu banyak berpikir, gadis tersebut langsung terduduk lemas. "lu pernah naik bis sebelumnya?" tanya marsya pada pria dihadapannya dan ternyata jawabannya tidak.


Mereka sama-sama tidak pernah naik kendaraan umum selain taksi, jadi tidak bisa membayangkan apa jadinya nanti di bis. "sebenarnya bukan itu yang harusnya kamu khawatirkan" ucap lian membuat marsya teringat akan sesuatu.


"anah iya, ntar kalo kolega papa tau terus ngadu atau ada paparazi terus disebarin ke sosmed gimana? tapi kalo mau balik lagi males" ahh emang marsya anaknya mageran sihh.


"emang lu siapa? sampe paparazi ngintilin lu hah! terus kolega papamu mana sempet ngurusin anak kayak elu" ledek lian.


Tapi benar juga kata lian, akhirnya rasa percaya diri marsya kembali lagi. Mereka naik bis asal, tidak tau arah jalannya bis tersebut yang penting naik aja dulu.


Benar dugaan marsya, naik bis tak seindah ekspetasinya seperti didrama yang ia tonton tapi mau gimana lagi. Ahh setidaknya itu membuat keduanya rileks tidak perlu menyetir pulang.


Lian menatap kearah luar jendela diikuti marsya juga karena penasaran, pemandangan langit yang sangat indah langit yang biru dihiasi awan putih bersih terbiaskan sinar matahari siang itu.


"cantik banget ya" marsya menoleh kearah lian sambil tersenyum.


"iya langitnya emang cantik, tapi cantikkan cewek dihadapanku sekarang" lian menatap lekat kedua bola mata indah milik gadis tersebut, dengan senyum tipis terukir diwajah tampannya.


Tindakan lian barusan membuat marsya memalingkan wajahnya sesegera mungkin karena malu. Cukup lama mereka di bis, membuat marsya sangat mengantuk dan tidur.

__ADS_1


Melihat marsya yang tidur, dan sepertinya itu sangat tak nyaman sebab beberapa kali kepalanya terhantuk pinggiran jendela. Lian mengambil pelan kepala marsya dan menyandarkan dibahunya, cukup nyaman bukan?.


Tak lama kemudian rasa kantuk juga menyelimuti lian dan ia ikut tidur berbantalan kepala marsya yang saat itu memakai bahunya. Sangat nyaman keduanya tertidur didalam bis yang baru pertama kali mereka naiki tersebut.


__ADS_2