Life In The Sky

Life In The Sky
18


__ADS_3

Sepupu yang sangat kepo masih saja memutar kedua bola matanya ke segala arah, menyisir detail benda-benda yang ada diruangan tersebut, bahkan kesudut terkecil sekalipun.


Menatap lekat kearah lian yang tampak sedang mengetik sesuatu, tanpa melihat seperti memiliki indra keenam saja andre dengan cepat menyelutuk ditelinga lian, tidak keras tapi itu cukup membuat telinganya lian panas.


“ngapain lo jangan bilang elo buat diary karna punya benda begituan” sahut andre sambil menatap layar laptop yang langsung lian tutupi sebelum akhirnya benar-benar mengusir andre dari kamarnya.


“TANTE ANAK TANTE KENAPA...........KAYAK NYA DIA UDAH PUNYA CEWEK” teriak andre pada mamanya lian yang ada dibawah.


Lian yang ada dikamar hanya menutup telinga mendengar teriakan andre yang ngalahin toa masjid, mungkin kalo diadakan perlombaan antar toa masjid itu anak bakal jadi pemenangnya dehh, tapi perlombaan kayak gitu gak mungkin pernah ada.


Sudah seminggu sejak dari pantai hari itu, marsya yang saat ini berdua dengan lian di perpustakaan kenapa harus bertemu dengan dini. Ya walaupun ia datangnya bersama andre sihh tapi lian amat sangat tak menyukai kehadiran dini yang saat ini sedang berjalan menghampiri mereka.


“hai kak” ucap dini ketika tepat berdiri dihadapan keduanya seraya melambaikan kedua tangannya, bahkan terukir senyum tipis disudut bibirnya yang ranum.


“hai din..” jawab marsya ikut melambaikan kedua tangan kepada gadis SMA tersebut.


Lian mencoba tak mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pegang karena ia sebenarnya tidak ingin menghancurkan suasana sampai marsya merebut buku tersebut “kembalikan” pria tersebut mencoba meraih bukunya kembali tapi gak bisa karena dengan posisinya yang tak memungkinkan untuk dapat mengambil kembali buku tersebut dari tangan marsya.


“enggak”


“ elo harus tau ya, selamanya gue gak mau ngeliat apalagi harus ngobrol sama wanita busuk kayak dia” perkataannya yang sama sekali tak mencerminkan lian tersebut keluar dari mulutnya sendiri, membuat marsya menamparnya saking marahnya terlebih lagi kecewa terhadapnya.

__ADS_1


“langit diluar bersinar terang tapi elo buat jadi tambah panas” entah kata itu ditunjukan pada siapa yang hanya ingin lian lakukan adalah pergi dari sana berusaha menenangkan dirinya dari semua kejadian yang baru saja terjadi padanya.


“kamu kenapa sih, dulu kamu gak gitu kamu dulu menyenangkan” sahut dini baru angkat bicara menghentikan langkahnya.


“jangan asal ngomong, itu dulu sekarang beda setelah apa yang elo lakuin” sergah lian, tatapannya berubah 180 derajat dari biasanya lebih tepatnya seperti seseorang yang jadi korban dan ingin balas dendam.


“apa yang aku lakuin hah” ucap dini.


Marsya dan andre hanya bisa diam mengetahui bahwa mereka saling mengenal, walau sebenarnya ingin sekali bertanya kapan mereka saling mengenal? dimana? kok bisa? semua itu ingin dilontarkan oleh keduanya, tapi yang saat ini mereka lakukan hanyalah diam seribu bahasa hanya mendengar pertengkaran antara dini dan lian yang tak tahu entah kapan ujungnya.


Dini mengambil hapenya, hape yang selama ini ia sembunyikan dari andre dan tak ingin memperlihatkannya kepada siapapun sekarang ia perlihatkan pada mereka semua yang ada disana . “dulu kita itu kayak gini, kita udah kayak perangko raf yang lengket gak bisa dipisahin, tapi kenapa sekarang kamu ngeliat aku aja kamu gak mau hah?” ucapnya sedih, terlihan foto kebersamaan mereka berdua tampak sangat jelas disana bahkan lian tersenyum sangat indah, bahkan ada yang pada saat mereka berdua saling menukar pandangan.


Meskipun mereka berada di perpustakaan, tetapi ruangan tempat mereka saat ini amat sangatlah sepi bahkan tak ada seorangpun kecuali mereka berempat disana. Itulah mengapa kedua insan tersebut dapat berteriak tanpa diganggu seorangpun.


“menurut kamu kenapa masih majang semua kenangan kita disana hah?, bukannya kamu merindukan kebersamaan kita Rafli Ardlian Sanjaya?” tanya dini yang merubah raut wajahnya menjadi sedih, ia pun menekankan nama lian disitu.


“ untuk menjadi pengingat seberapa busuknya kamu SITA ALDINIKA PUTRI” ia juga menekan nama dini dikalimatnya supaya terdengar jelas oleh gadis serigala tersebut.


Lian benar-benar pergi dari sana meninnggalkan mereka. Untung saja disana tidak ada siapa-siapa yang mendengar pertikaian mereka, dan kedua insan yang tak tau apa-apa tersebut masih diam seribu bahasa bingung ingin bicara apa lagi.


Beberapa saat setelah lian pergi, Dini akhirnya berlari meninggalkan tempat tersebut sambil terus menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Lian mengemudi dengan amarahnya yang memuncak terus menginjak pedal gas melaju sangat kencang dengan sekejap hilang dari pandangan.


Andre mengambil hape yang tergeletak dimeja, membukanya membuat dia shock melihat wallpapernya adalah dini hampir mencium pipi lian yang tersenyum cerah, bahkan tampak sekali lian tersenyum bahagia disana.


Bukan hanya andre, marsya pun merasa shock melihat itu. Dia merasa bahwa lian belum benar-benar terbuka padanya, hari ini yang dilihat keduanya adalah sisi lain seorang lian yang biasanya terlihat tampak dingin dan tenang, bisa menjadi seorang yang sangat tak dikenal olehnya bahkan sepupunya.


Sedangkan dini dari balik rak buku tampak senang ditunjukan dengan senyum kemenangannya, dia benar-benar menang kali ini. Gadis tersebut menghapus air mata buayanya kasar tanpa menghilangkan senyum iblis diwajahnya.


Andre yang begitu tampak shock hanya terus melihat kumpulan foto bahkan memutarkan beberapa video yang ada disana, saat itu tampak lian masih SMA. Selain lian dan dini ada dua orang lagi yang tak dikenali oleh andre, ia saja bingung kapan sepupunya memiliki teman seperti kedua orang yang ada didalam video tersebut.


Saat ini, detik ini marsya dibuat bingung oleh benda kotak pipih tersebut. Rasanya ingin sekali menghancurkannya tapi dia siapa coba?


Ok bukan marsya yang menghancurkannya melainkan andre setelah melihat video yang disana tampak dini perlahan ingin mencium pipi kanan milik lian sedang lian sendiri hanya tersenyum menghadap ke kamera.


Melihat kejadian tersebut dari balik rak, dini yang penuh rasa kemenangan melangkah pergi dari tempat persembunyiannya dan berjalan tanpa beban keluar dari perpustakaan tersebut, bahkan terukir senyum iblis diwajahnya.


"kita lihat siapa yang bakal menang" lagi-lagi sesosok misterius muncul berambut panjang yang beberapa waktu lalu menatap lian dari kejahuan kini tampak lagi menatap kearah kepergian dini.


Entah kenapa, seiring melajunya mobil yang dikemudikan oleh lian tidak bisa menginjak remnya lebih tepatnya remnya blong.


berusaha untuk tidak panik, lian melepas kakinya yang awalnya menginjak gas mobil tersebut sehingga ia hanya menginjak bagian bawah jok tanpa menginjak kedua pedalnya.

__ADS_1


Dengan memantapkan hatinya, ia mencoba mengarahkan mobilnya ke pohon besar disekitarnya. Walaupun mobilnya hampir melaju dengan pelan, tapi tidak bisa dimungkinkan akan ada bahaya terjadi sehingga ia membantung stir dan menabrakkan mobilnya kepohon disana saat melihat seorang nenek melintas.


Asap keluar dari mobilnya, asap tersebut keluar sangat banyak dan lian tidak sadarkan diri didalamnya. Menunggu siapa saja yang akan menolongnya disana, siapa saja.


__ADS_2