
Andre yang sudah membeli berbagai makanan kesukaan mereka bertiga jika berada dirumah sakit seperti ini, membawa dengan susah payahnya.
"apa gue salah yaa.. udah rahasiain ini semua ke mereka? semoga ini akan berakhir bahagia.... andai aja gue bisa muter waktu... gue bakal buat rafli sakit kepala mulu biar inget sama marsya... ehh ntar kalo gak inget inget malah masuk liang lahat gimana yaa? astaga ngapa malah mikir aneh aneh sihh" lagi-lagi ia berpikir sambil berjalan gontai hingga tak senganya menabrak seseorang didepannya.
Kata maaf ia ulang berkali-kali untuk mengekspresikan bahwa dirinya benar-benar menyesal telah menabrak orang tersebut, andre memberanikan melihat pria yang ia tabrak.
Seketika ia menarik permintaan maafnya saat melihat siapa sebenarnya yang ia tabrak barusan, pria tersubut tersenyum miris melihat perilaku andre. "minta maaf lu gak ikhlas amat yaa" ujarnya meledek.
"emang lu gak berhak dapet ucapan maaf dari gue... dan lu mending pergi aja dehh dari sini" rasanya ingin cepat-cepat pergi dari atmosfer seperti ini.
"lahh kalo gue pergi... siapa dong yang bakal tanganin pasien gue entar? kan kagak mungkin lu kan" dokter arkan menyilangkan kedua tangannya didepan dada membuat andre bertambah satu point tidak menyukai dirinya yang memiliki paras sok seperti itu.
"hah! lu dokter dirumah sakit ini?" dokter arkan hanya mengangguk membenarkan. "kualifikasi ini rumah sakit mungkin turun kali yaa sampe orang macem lu diterima dan jadi dokter disini" sinis andre tentu saja membuat pria yang ada dihadapannya sangat geram.
"ehh lu ngapain disini? lu sehat sehat aja... apa jangan jangan marsya yaa? gimana keadaannya?" tentu saja andre tidak akan menjawab pertanyaan yang satu ini, ia sangat tak suka jika si dokter arkan tersebut dekat dengan marsya.
Pernah sekali ia berpikir mengapa marsya mau menjadikan pria seperti dokter arkan, menjadi dokter kepercayaannya sungguh hal yang aneh dari marsya.
Bodo amat dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya, andre terus berjalan menjauhi pria tersebut. Semakin ia berjalan menjauh semakin dokter arkan berjalan mendekat padanya, seperti tidak memiliki perkerjaan lain saja selain mengikuti orang.
__ADS_1
Andre menghentikan langkahnya terpaksa, membalikkan tubuhnya menghadap dokter arkan yang tersenyum senyum menatap dirinya yang sangat kesal. "lu kagak capek apa ngikutin gue? emang lu gak ada kerjaan apa? profesional dikit dong" celetuk andre kesal.
"ehh ehh... gue profesional yaa, pertama jam kerja gue dah abis.. gak ada kerjaan sebenarnya mau pulang, tapi gue tau pasien tersayang gue lagi sakit ya jadi mau gue obatin dong dan kenapa gue ikutin lu kayak anak ayam kan cuma lu yang tau dimana marsya... mager gue kalo harus tanya sama suster" terserah peduli amat dengan jawaban panjang kali lebar kali tinggi dari si arkan itu, andre langsung kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar dimana sahabatnya dirawat.
Setiba disana, mereka tak menemukan rafli yang beberapa waktu lalu ada disana hanya melihat marsya yang masih terbaring di tempat tidurnya.
"mana rafli?" tanya andre, marsya mejelaskan jika tadi hervi menelfon dan rafli langsung berpamitan dan pergi menemui wanita tersebut. Raut wajah andre seketika berubah, ia sudah sangat lelah memesankan makanan untuk mereka makan ehh malah ditinggal pergi.
Arkan merebut makanan yang seharusnya milik rafli, "gue ambil yaa... orangnya aja dah ilang ditelan bumi cinta, dari pada mubazir" ucapnya.
"ambil ambil terus lu juga pergi sana jangan balik balik" usir andre, bukan arkan jika tidak bisa membantah perkataan dari andre yang ditujukan padanya. "gue makan dulu dong, kan gak enak dapet makan langsung nyelonong pergi... ntar lu kangen" ujarnya.
"emang lu gak terpesona dengan ketampanan gue hah" jika saja andre wanita, ia tetap tidak akan menyukai pria seperti arkan yang jauh menyebalkan ketimbang rafli dijaman dahulu kala.
Disebuah cafe dimana rafli berjanji akan menemui hervi malah menemukan hal yang tak terduga, wanita yang akan ia temui saat ini membuatnya terperanjat melihat suasana cafe yang begitu sepi tak berpenghuni. Langkah demi langkah kaki rafli berjalan masuk kedalamnya hari sangat cerah diluar tetapi begitu gelap didalam tempat tersebut.
Ia terhenti ketika mendengar suara samar dari belakangnya, saat menoleh kearah sumber suara ia tak dapat menemukan sesuatu. Lampu cafe yang sebelumnya tidak menyala, menyala satu persatu hingga menyala semua.
Kini hervi berdiri tepat dihadapan rafli membawa sebuah kue ditangannya, meskipun disambut dengan tatapan bingung dari rafli. Wanita tersebut menyanyikan lagu Happy Brithday yang ditujukan padanya, rafli benar-benar lupa jika hari tersebut ia berulang tahun ke-26.
__ADS_1
"siapa bilang kalo kamu ultahnya hari ini hah!" ucapan hervi menambah rasa bingung dari rafli, pria tersebut tidak habis pikir, bagaimana bisa jika ia tidak ulang tahun mengapa wanita dihadapannya ini menyanyikan lagu khusus seperti itu bahkan lengkap dengan kue dan dekorasi yang sudah didesain sedemikian rupa.
Setelah menaruh kue diatas meja, hervi membalikkan tubuh rafli mengarah pada dinding sisi kirinya.
[HAPPY BIRTH DAY H-1]
"besok aku harus pergi balik ke london, ada kerjaan juga disana... jadi gak bisa rayain ultah kamu raf" ucapnya.
Rafli menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, sebenarnya ia tidak menginginkan ulang tahunnya dirayakan karena menurutnya semakin hari umurnya bertambah akan semakin dekat dengan kematiannya. Kata-kata yang sering kali ia ucapan jika hervi merayakan ulang tahunnya, wanita tersebut bukannya mengerti malah tetap saja melakukan tindakan seperti itu padanya.
Kedua orang tua marsya begitu pula dengan orang tua rafli datang menjenguk wanita yang tengah terbaring lemah dirumah sakit, andre dan ke-4 orang tua tersebut serempak meminta maaf pada marsya.
Mereka semua menyesal karena telah menyembunyikan kebenaran mengenai kematian rafli, marsya meneteskan air matanya dan hanya menggeleng tak habis pikir dengan mereka semua.
"bagaimana bisa kalian semua memperlakukan aku seperti ini, hidup aku hancur setelah kematian lian hiks.... hiks... aku berpikir aku lah yang telah membunuhnya hikss.... hikss.... jika bukan gara gara aku pasti...." belum sempat ia menyelesaikan perkataannya mama terlebih dulu memeluk marsya bertujuan menenangkan wanita tersebut.
Marsya melepas pelukan dari sang mama, yang ia butuhkan saat ini adalah sebuah penjelasan bukan pelukan yang tak berguna seperti itu.
"gini sya, sebenernya kita semua gak ada niatan buat bohongin lu apa lagi ngerahasian ini semua dari lu" sahut andre dengan menundukkan kepalanya, ia tak sanggup harus bertatapan dengan seorang wanita yang lemah dihadapannya tersebut.
__ADS_1
"hari saat kecelakaan itu terjadi, kalian berdua di operasi sangat lama, setelah tiga jam lamanya elu keluar sedangkan lian dia...." suara andre terhenti, ia tidak melanjutkan kata-katanya.