Life In The Sky

Life In The Sky
9


__ADS_3

Sudah merasa puas, papa marsya mematikan televisinya, menyuruh lian untuk segera tidur dan menempatkan pria muda tersebut di kamar tamu.


Om john pergi kekamarnya untuk tidur sedangkan lian tidur dikamar tamu yang tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.


Esoknya seperti janji mereka kemarin, marsya dan lian menjenguk dini dirumah sakit.


Sebelumnya mereka terlebih dahulu membeli buah-buahan serta bubur untuk dibawa kesana.


“dini itu pacarnya andre?” tanya lian pada gadis disampingnya, ia merasa tak asing dengan nama tersebut.


“ehm... lu gak tau” jawab marsya yang masih menatap hapenya intens.


“dia gak pernah kasih tau soal pacarnya itu” seru lian, yang sebenarnya bukan tidak diberitahu tapi dia lah yang tak ingin mendengar kisah cinta sepupunya yang tak berguna baginya.


Ohh...


Mereka membuka salah satu pintu kamar dirumah sakit, tempat dini dan andre berada. Mata lian seketika membulat sempurna betapa terkejutnya ia dengan apa yang ia lihat saat ini. Jadi, selama ini dini yang dikatakan pacar andre sepupunya sama dengan dini yang berada di perputakaan beberapa hari yang lalu. Mengapa harus dia?


Marsya menyuruh andre untuk segera makan bubur yang ia beli tadi, walau harus terus memaksa teman kecilnya tersebut hingga sampai mau makan buburnya.


“ndre dia berbahaya” seru lian tiba-tiba membuat semua yang ada disana menoleh kearahnya.


Apa yang sebenarnya dikatakan oleh lian? Apa maksudnya dengan berbahaya? Sungguh satu ruangan tersebut tercengkang oleh perkataan pria tersebut yang begitu sangat tiba-tiba seperti itu.

__ADS_1


Bagaimana bisa manusia bak malaikat seperti dini disebut berbahaya? hello ini bukan kisah di film-film yang mereka tonton selama ini ya.


Sebelum menanyakan lebih lanjut, mata dini mulai terkejap melihat itu tidak lagi menghiraukan perkataan lian dan fokus dengan dini lagi saat ini.


Dini mulai membuka matanya perlahan melihat sekitarnya dengan mata yang masih sayup-sayup tersebut. Andre yang senang memegang hangat tangan pacarnya dengan perlahan dan lembut.


Setelah puas dengan memandang sekitar dini angkat bicara, “rafli” kata pertama yang keluar dari kekasih andre tersebut dan bukannya nama andre yang ia sebut, sedangkan lian sama sekali tidak mau melihat wanita yang sedang berbaring lemah tersebut, pemandangan luar jendela lebih menarik baginya.


“kak, aku kenapa?” tanyanya kemudian pada andre.


Tak menjawab andre hanya menatap matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa. Andre terus mencium punggung tangan pacarnya lembut berharap akan kesembuhan atas kekasihnya.


Hari-hari yang dilalui andre hanyalah jika tidak berada dikampus ya berati ia menemani serta merawat pacarnya dirumah sakit.


Melihat hal tersebut membuat marsya merasa jika pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua sehingga seperti saat ini.


Jika dibilang kepo tentu saja gadis tersebut amat-teramat keponya, cuma ia sadar bahwasannya lian tidak akan begitu saja memberitahunya mereka belum cukup dekat untuk membicarakan hal pribadi seperti itu.


Setelah bertemu dengan dini hari itu yang dilakukan lian hanyalah berdiama diri entah apa yang ia pikirkan, bahkan jika marsya sedang bersamanya ia sama sekali tak menganggap bahwa ia sedang bersama marsya, pria tersebut seperti sedang didunia lain.


Berulang kali gadis tersebut memanggil namanya, lian tak mendengarnya.


Sama halnya dengan hari ini, saat mereka sedang belajar seperti biasanya dirumah marsya, lian jelas sekali tampak tak memperhatikan apa yang sedang ia lakukan. Duduk selama hampir 2 jam hanya termenung tak bersuara sama sekali melebih suara kuburan yang hening rasanya.

__ADS_1


Marsya terus mencoba mencairkan suasana bercerita apa saja yang bisa ia ceritakan, tetapi tetap saja lian tak mendengarkan. Sudah cukup rasanya memanggil pria dihadapannya yang hidup tapi seperti mati tersebut bayangkan saja berbicara dengan sebuah patung.


Geram marsya ingin menghancurkan sesuatu dihadapan lian yang sama sekali tak merespon tersebut. Berulang kali gadis tersebut memanggil namanya, lian tak mendengarnya, melambai-lambai tepat dihadapan wajah pria yang tengah melamun tersebut.


“lian.... lian.... LIIAANN................”teriak marsya membuat pria dihadapannya kaget setengah mati. Detak jantungnya berdegup sangat keras saking terkejutnya.


"ngapain ngagetin sihh? gue gak budek" dengan entengnya lian menjawab sambil mengusap-usap kedua daun telianganya yang berdengung, bukankah jelas sekali marsya sudah memanggilnya dengan pelan.


“elu kenapa sih? Emangnya elu mikirin apaan sampe segitunya? Kalo gak mau ngajarin gue ya udah lu bisa kok pergi! Emang elu ada masalah ato apa? Cerita makanya! Kalo elu ada masalah sampe gak mau ngajarin gue yaudah ely bisa pergi selesain dulu masalah lu” seru marsya kesal dibuatnya.


“maaf” satu kata yang dikeluarkan oleh lian sambil mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan gadis tersebut sendiri.


“Aaarrrgghh” kesal marsya dengan jawaban yang sama sekali tak menjawab pertanyaan yang dibutuhkan.


Hari itu marsya marah sekali dengan tindakan yang dilakukan lian padanya ia bisa menoleransi semua tindakan yang dilakukan pria tersebut padanya tapi tidak untuk yang kali ini.


Lian meninggalkan marsya yang tak tahu apa-apa itu sendiri diliputi dengan aura marah dan bingung akan tindakannya saat ini. Ia belum bisa menceritakan apapun karena lian masih belum sepenuhnya percaya dengan gadis tersebut.


Pria yang sudah berhasil membuat marsya frustasi ini berjalan tanpa tujuan, ia hanya mengikuti langkah kakinya yang menuntun ia kemana saja. Jelas ia sama sekali tak memperdulikan tubuhnya yang sudah sangat lelah berjalan.


Bahkan hujan turun pun dengan begitu derasnya tak dipedulikan olehnya, berjalan di bawah hujan dengan santainya sementara orang lain berlarian mencari tempat teduh.


Sampai di sebuah pohon besar lian berlindung, berjongkok dan mengkatup kepalanya disela-sela kedua kakinya. "akan aku selesaikan ini semua, tenang saja" ucapnya sendiri terbilas dengan suara rintikan hujan dan gemuruh.

__ADS_1


__ADS_2