
Dokter mengatakan kepada marsya agar ia sering sering melakukan check up sebab luka yang ada dikepalanya walaupun sudah sembuh tetapi efeknya masih ada. Panjang lebar dokter arkan menjelaskan, sepanjang itu pula marsya tak mendengarkan, wanita ini lebih memilih memikirkan siapa orang yang sangat mirip sekali seperti lian.
"dok, siapa yang ngantar saya ke sini?" tanyanya untuk memastikan kebenaran, ini benar benar tidak seperti mimpi melainkan kenyataan, ia yakin dengan hal itu.
"tidak tau, yang saya tau kamu sudah ada disini saja"
Dokter arkan bagaimana, apa dia tidak melihat siapapun? tidak ada yang mengantarnya ataupun menunggunya? pikir marsya.
Tidak peduli lagi dengan hal itu, mungkin itu semua hanyalah ilusinya, sejak kepergian lian ia selalu berhalusinasi didatangi sesosok lian yang selalu memberinya dukungan saat ia sedang dalam masa terpuruk. Bahkan saat sudah tiadapun ia selalu senantiasa membantu dan menolong marsya.
ketika sampai dirumahpun, marsya masih memikirkannya. Ia jelas mengingat, angin yang berhembus menyentuh kulit putih miliknya, bahkan suaranya sangat jelas terdengar ditelinga. Itu tak seperti mimpi atau hanya ilusi semata, ada yang aneh dengan semua ini pikirnya.
Mungkin akibat kecelakaan tiga tahun yang lalu membuatnya semakin menjadi aneh, bahkan penyakit lupanya bertambah. Untuk sekian kalinya, marsya selalu melupakan kunci rumahnya, jelas ia sudah memegangnya tapi mengapa masih tertinggal di dalam mobil.
Cukup lama membuka pintunya sebab begitu banyak kunci yang ada, " besok aku buang ini semua kunci, heran mau masuk rumah sendiri kayak mau naik pesawat lupa bawa paspor" gerutu marsya.
Ruangan yang gelap serta sunyi membuat marsya bergidik ngeri, "kapan rumah gue jadi angker gini yaa? perasaan gak pernah mati lampu ini rumah, selalu terang benderang kayak sinar mentari" marsya yang bingung mencoba mencari saklar lampu, ia mulai meraba dinding layaknya spiderman.
Marsya tak sengaja menendang sesuatu yang ringan, dan ia tak tau apa itu. Jelas sekali, ini seperti bukan rumahnya, tapi kalau bukan rumahnya rumah siapa lagi? rumah tetangga kan bukan, lagi-lagi memikirkan hal aneh.
Akhirnya ia menemukan saklar lampu, susah emang kalau gak pernah mematikan lampu dirumah sampai saklar lampu lupa ada dimana. Marsya dibuat kaget seperempat mati oleh keadaan rumahnya yang bak taman bermain anak-anak.
Ruang tamunya berubah 215 derajat dari aslinya, balon yang memenuhi ruangan, meja sofa udah seperti kasur mini dengan boneka boneka yang seharusnya ada dikamarnya, dinding kayak berada di negeri disney lampunya juga dah seperti lampu disco, masih banyak lagi keanehan disana.
__ADS_1
Perlahan tampak beberapa manusia datang dari arah dapur membawa sesuatu, berani sekali mereka memasuki rumah orang tanpa izin. Setelah cukup lama mengamati ternyata itu kedua orang tuanya dan andre juga ada disana.
Bersama-sama seperti panduan suara mereka berriga menyanyikan lagu Happy brithday yang ditujukan padanya, marsya hanya diam diberi kejutan seperti itu tak tampak raut wajah terkejut haru ataupun yang lain, ia hanya dia seribu bahasa dengan wajah datar.
Sampai tiba lagu yang dinyanyikan memintanya meniup lilin, marsya melakukannya. Ketika disuruh memotong kue pun ia lakukan dengan tak ada gairah hidup. Selesai ritual itu dilakukan semua tanpa pamit ia pun meninggalkan ketiga orang terkasihnya ke kamar.
"lagi-lagi seperti ini" papa menghela napas panjang melihat anaknya yang masih tak bersemangat seperti ini.
"coba saya bujuk dulu marsyanya ya om tante" andre berlari menaiki tangga sampai lantai tiga yang disanalah kamar marsya berada. Tanpa perlu mengetuk pintu, andre langsung saja masuk dan melihat tengah marsya memandangi kalungnya atau bisa disebut aksesoris hape yang berubah menjadi kalung.
Andre suduk tepat disamping marsya, menatap lembut sahabatnya yang sangat menyedihkan. "Sya sekarang elu umur berapa?" tanya andre.
Wanita tersebut tampak bingung denagn pertanyaan andre, dan mulai menghitung dengan jemarinya, ok dia lupa sekarang sudah umur berapa. "24, elo udah umur 24 tahun sya, elu itu bukan anak kecil lagi" ucapnya sambil menghentikan marsya yang masih mencoba menghitung.
Tanpa ada persiapan dari andre sehingga ia bisa terkena tempelengan dari marsya, " sejak kapan lu jadi sok bijak gini" marsya tertawa tipis mendengar semua itu keluar dari mulut barbar andre.
Pria tersebut mengelus elus kepalanya, memanyunkan bibirnya kedepan, jelas ia mencoba menghibur tapi dia malah mendapat balasan yang tak mengenakkan dari sahabatnya.
Marsya mencoba meminta maaf tetapi ia masih tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi dari andre yang begitu menggemaskan, sedangkan andre masih ngambek diperlakukan begitu oleh marsya sampai matanya tertuju pada sesuatu.
"sya itu kan bukan kalung, kenapa lu gak gunain sebagaimana fungsinya?" tanyanya bingung, tangan andre meraih bandul kalung milik marsya.
"gak mau keilangan aja" marsya melepaskan tangan andre dari barang miliknya.
__ADS_1
"ok ok" andre mengangkat kedua tangan menyerah, ia juga mengambil sebuah kotak kado berwarna hijau tua untuk marsya, perlahan memberikannya kepada wanita disampingnya.
Melepas paksa kalung yang dibuat sendiri oleh marsya 3 tahun yang lalu, belum sempat mengambil kembali kalungnya andre terlebih dahulu membuka kotaknya yang berisi kalung tanpa bandul. Ia mulai memasangkan kedua bandul aksesoris hape tersebut sehingga akhirnya benar-benar menjadi sebuah kalung yang sangat elegan dan begitu indah.
Andre memasangkan kalung tersebut ke leher jenjang milik marsya, "kan bagus, gak buluk kayak punyamu" bangga andre dengan pemberiannya.
Marsya hanya menghela napas panjang, "dah ayuk turun, bokap ma nyokap pasti masih nungguin kita" mereka menuruni anak tangga perlahan seperti pasangan saja.
Pesta yang hanya dihadiri empat orang, tapi tidak menghalangi mereka untuk bersenang senang, mulai dari melakukan beberapa permainan anak muda dan tentunya kedua orang tua marsya lupa umur dengan mengikuti permainan permainan tersebut.
Pintu rumah tiba tiba ada yang mengetuk, merusak suasana yang ada. Andre membuka pintu dan memperlihatkan sesosok pria tinggi, dia adalah dokter arkan, setelah dipersilakan masuk ia memberi sebuah kado kepada marsya dan wanita tersebut menerimanya dengan senang hati.
Pesta berlangsung sampai tengah malam, andre dan dokter arkan berpamitan untuk pergi. Ortunya juga sudah masuk salah satu kamar tamu dirumahnya.
Marsya ingat dengan permintaan paman alex tadi pagi yang memintanya untuk mencari model yang sesuai untuk kerja sama antara mereka, sehingga semalaman ia pakai untuk mencari model yang sesuai permintaan paman alex yang sekarang menjadi mitra bisnisnya.
Keesokan harinya dikantornya, marsya akhirnya mendapatkan model yang sesuai sayangnya model yang ia pilih adalah model yang baru saja bergabung dengan perusahaannya hari ini.
Hervi model yang telah dipilih sebagai presenter untuk promosi di perusahaannya kemudian, setelah rapat yang panjang akhirnya telah disepakati hal tersebut diantara keduanya.
Sebenarnya yang rapat bukanlah marsya secara langsung, ia hanya melakukan rapat by telfon dan yang hadir adalah asisten pribadinya.
Marsya keluar buat makan siang, ia tak sengaja melihat modelnya memeluk seorang pria sebelum bersama masuk mobil hitamnya. Mobil yang sama, wanita yang sama, bahkan pria yang sama seperti yang ia temui kemarin.
__ADS_1