Life In The Sky

Life In The Sky
12


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana mereka berjanji akan pergi ketaman hiburan. Marsya pergi kesana menggunakan taksi, karena lian akan langsung bertemu dengannya ditempat sebab harus menghadiri kelas terlebih dahulu.


Sebenarnya cukup lama marsya menunggu tetapi saat ditanya gadis tersebut hanya menjawab baru sebentar menunggu dan lian tampak tak percaya, sudah terlihat jelas marsya sangat lelah dan seperti lama menunggunya.


Mereka bermain semua permainan dengan antusias, marsya juga mengabdikan acara mereka ini dengan memfotonya dan akan di posting dimedia sosialnya tentu saja. Walaupun beberapa kali lian menolak tapi apa daya dia tak bisa melawan wanitanya.


Benar-benar semua permainan yang ada disana mereka coba semua bahkan rumah hantu yang membuat marsya berkali-kali memeluk lian karena ketakutan tesebut, dan tangannya bahkan tak mau melepaskan tangan lian agar tak jauh darinya.


Saat ini mereka naik bianglala, “lian...” marsya memanggilnya.


“ehm” lian tampak fokus memperhatikan kebawah melihat pemandangan.


“boleh tanya?” ucapnya ragu.


“boleh”


“lu ada hubungan apa sih sama dini kok kek ada yang janggal gitu ya...” marsya buka mulut mempertanyakan hal yang selama ini membuatnya penasaran.


“yang jelas dia berbahaya” jawabnya singkat.


“maksud ly itu apa sih yang berbahaya... jangan setengah-setengah gitu dong jawabnya, jujur... gue sama andre penasaran banget soalnya elu terus ngehindar kalo ada dini eh ralat bahkan denger namanya aja elu ogah” ucap marsya panjang lebar, jika dijabarkan secara lurus bisa sampe keluar kota tuhh kata-katanya.


“cepat lambat elu bakal tau kok” seru lian menaikkan sudut bibirnya tersenyum tipis pada wanita yang ada dihadapannya saat ini.


Mendengarnya marsya hanya memanyunkan bibirnya kedepan, ia merasa kesal dengan jawaban dari lian yang menurutnya sama sekali tidak menjawab pertanyaannya tersebut.


Hari sudah larut tapi mereka sama sekali belum bergerak dari tempat hiburan tersebut, marsya yang ditemani lian mencari-cari aksesoris yang ada disana hingga ada yang menarik perhatian marsya sayangnya ketika ingin menghampiri benda tersebut ada sepasang kekasih yang mengambilnya terlebih dahulu.


Marsya tampak sedih, dan mulai mencari jikalau masih ada ternyata itu tidak ada lagi dan ingin segera pulang dengan alasan lelah pada lian.


“baiklah”

__ADS_1


“ehh.. entar dulu kita kesana dulu yok...” ajak marsya pada lian


Tempat dimana ada peramal yang meramal akan masa depan mereka nantinya, walaupun tak percaya lian tetap mengikuti marsya bertujuan agar wanitanya tak sedih lagi.


Sesampai disana, mereka diramai ditakdirkan akan selalu bersama dalam dua dari tiga kehidupan nantinya. Tapi hal itu tak benar-benar sang peramalnya menyatakan kepastiannya.


“tunggu maksudnya gimana? Kita berdua akan hidup bersama terus mati hidup lagi mati lagi dan baru gak bersama gitu dikehidupan selanjutnya” sahut marsya memastikan.


“saya juga tidak tau, jelas ini disebutkan dan ini kali pertama saya membaca seperti ini” jawabnya.


Jelas lian tak mempercayai apa yang dikatakan peramal tadi ketika mereka meninggalkan kawasan tersebut.


Lian menyuruh marsya untuk pulang sendiri setelah meminta maaf sebelumnya karena ia harus pergi kesuatu tempat. Marsya jelas bingung, mau kemana malam-malam begini lian?


Lian memberikan kunci mobilnya pada marsya karena ia tau marsya tak bawa mobil dan ia tak ini wanita dihadapannya ini naik taksi karena ini sudah sangat malam, dan sebagai gantinya ia yang akan naik taksi.


Setelah mobilnya yang dikemudikan marsya melaju hilang dari pandangannya ia kembali masuk kedalam kawasan taman hiburan itu lagi.


Keesokan harinya mereka kembali lagi bertemu di atap tempat biasa mereka jumpa selain di perpus.


Lian memberikannya sebuah aksesoris hape yang ternyata itulah yang diinginkan marsya malam yang lalu. Bingung bagaimana lian mendapatkannya ia pun langsung bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.


“pas kekampus gak sengaja liat, terus inget kamu jadi aku beliin” bohong lian.


“yang bener..” senyum marsya cerah, memperhatikan lian sebentar dan kembali lagi melihat sepasang aksesoris hape itu lagi.


Lian yang harus kembali kekelas pergi meninggalkan marsya yang masih kegirangan tersebut.


[FLASHBACK ON]


Lian kembali masuk kedalam seperti mencari sesuatu keluar masuk di pusat pembelanjaan taman hiburan tersebut bertanya-tanya dan alhasil tak menemukan apa yang tengah ia cari.

__ADS_1


Mengingat satu hal yang pasti, pria tersebut berlari sangat kencang mencari di sekitar tempat-tempat bermain kali ini dia tidak mencari benda tersebut melainkan orang yang tadi telah membelinya.


Lama sekali lian mencari hingga rasanya ingin menyerah saja, ini sudah larut sekali tak akan ada taksi selarut ini. lian kembali lagi untuk mencarinya.


Lian berjalan lemah ia sudah berlari menyusuri taman hiburan dan sia-sia, sekali lagi ia akan mencari jika tidak diketemukan maka ia akan benar-benar menyerah.


Rasanya percaya tidak percaya lian melihat pasangan yang tadi lebih dulu mendapatkan benda yang diinginkan marsya berada tak jauh dari pandangannya.


“maaf..” seru lian menghampiri mereka yang tengah bermain.


“ahh.. iya ada apa ya” jawab wanita tersebut.


“tunggu sepertinya saya ingat kamu, bukannya kamu tadi yang sama pacarmu di sana ya, pas kita beli itu lo sayang” sahut yang pria.


“ohiya terus dimana pacar kamu?” tanya wanita tersebut seraya celingak-celinguk mencari keberadaan marsya.


“dia saya suruh pulang duluan, ada yang harus saya cari buat dia” jawab lian.


“hah... emang udah malem sih, kamu gak kasian suruh dia pulang sendiri?” tanya yang wanita.


Sang pria mengangguk “gak kamu antar dia pulang?” sahutnya.


“dia bisa sendiri lagian pake mobilku kok”


Duh kok malah jadi ngobrol ya.... lian kembali lagi ketopik awal mengapa ia menghampiri pasangan ini sebab ia harus memberikan keinginan dari marsya yang benar-benar harus ia capai untuk kebahagiaan marsya itu sendiri.


Mereka memberikan apa yang diminta dengan bayaran lebih tentu saja. Ternyata yang diinginkan marsya sejak tadi ialah sepasang aksesoris hape yang indah.


Lian mendengar kata pujian yang dilontarkan untuknya dari pasangan tersebut walau samar-samar tentang berusaha mendapatkan segala keinginan marsya.


Lian memang tak menyangkal jika ia di panggil pacarnya marsya oleh mereka yang jelas-jelas hanya sebatas teman.

__ADS_1


[FLASHBACK OFF]


__ADS_2