Life In The Sky

Life In The Sky
19


__ADS_3

Beberapa orang yang tak sengaja lewat dan melihat sebuah mobil hitam telah menabrak sebuah pohon besar tersebut segera berteriak meminta pertolongan, mereka juga cepat-cepat memeriksa keadaan lian didalam mobil tersebut.


Lian dibawa kerumah sakit dalam keadaan kritis, ia kehabisan banyak darah karena kepalanya terhantuk stir mobil. Bahkan didalam ambulance saja para tim medis sudah mengerahkan banyak tenaga untuk menyelamatkan pria tersebut.


Setiba dirumah sakit begitupun dengan keluarga dari lian sampai disana juga. Lian yang sedang ditangani oleh dokter membuat semua yang datang terasa sangat khawatir terlebih marsya dan andre yang baru saja bertengkar dengannya, bahkan dini pun ada disana menyembunyikan senyum iblisnya dibalik air mata yang menetes.


Sebenarnya dini lah yang telah membuat hal buruk ini terjadi, bagaimana tidak? ia menyuruh seseorang untuk mengsabotase mobil lian, itulah mengapa ia amat sangat senang walau gadis tersebut menutupinya dengan wajah polos yang khawatir.


"i...ini salah a...ku kak" isak dini memeluk kekasihnya yang berusaha menenangkannya. "seharusnya aku gak bilang itu tadi" dini terisak sejadi-jadinya dipelukan andre.


"kamu gak salah ok... ini kecelakaan" andre memeluk erat kekasihnya tersebut, sambil terus menatap pintu ruang UGD tempat lian dirawat saat ini.


Sedangkan marsya, gadis tersebut berjongkok lemas, ia merasa adalah penyebab ini semua terjadi. Jika saja ia tak bertengkar dengan lian saat diperpustakaan tadi, ini semua tidak akan pernah terjadi.


Takut, tentu saja marsya takut jika terjadi sesuatu pada lian. Gadis tersebut sangatlah khawatir, merasa bersalah, semua campur aduk saat ini dikepalanya. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada lian didalam sana, marsya hanya menutup wajahnya yang sudah dibanjiri air mata.


Melihat hancurnya marsya tersebut membuat dini yang sedang berada dipelukan andre tersenyum sinis.


masa masa kritis lian sudah lewat, dan dokter mempersilahkan jika ada yang menjenguknya tapi harus bergilir agar tak mengganggu lian.


Semua masuk kecuali marsya, gadis tersebut tidak ingin melihat lian yang pasti akan membencinya karena dianggap sebagai penyebab ini semua terjadi pada pria itu.


Setelah tiga hari tak sadarkan diri dan marsya selama tiga hari tersebut hanya mengawasinya dari luar ruangan merasa senang mengetahui lian sudah sadar, setelah seminggu pemulihan ia diizinkan untuk pulang.


Sebenarnya lian mengkhawatirkan marsya, karena gadis tersebut tidak menunjukkan batang hidungnya selama ia berada dirumah sakit. 'dia sakit? atau kenapa yaa kok gak keliatan sama sekali' pikir lian.


Pria tersebut tak pernah tahu jika marsya setiap hari berkunjung kerumah sakit hanya untuk sekedar melihat perkembangan lian saja tanpa menghampiri pria yang merindukannya.

__ADS_1


Dirumah andre tidak seberani biasanya masuk kamar lian mengingat semarah apa lian padanya dan dia juga kecewa mengapa lian tak memberitahunya masalah apa yang terjadi antara dia dan dini yang ternyata sudah lama saling mengenal.


Andre mengetuk pelan pintu kamar lian sebelum ia masuk kedalam kamar tersebut untuk memberikan makanan padanya.


"marsya baik-baik aja kan?" tanya lian seraya menyendokkan makanan kedalam mulutnya.


"aman kok itu anak" jawabnya singkat.


Keesokan harinya, karena pinta andre kepadanya, marsya akhirnya datang menjenguk kerumah lian “halo tante.... maaf lian eh... maksud saya raflinya ada?”


“duh rafli dari kemaren siang gak keluar kamar, makan aja gak mau” jawab mama lian berbohong. Ia ingin gadis ini bertambah khawatir dengan keadaan lian.


“maaf tan boleh saya temuin raflinya?” tanya marsya lagi.


“boleh, kalo bisa suruh dia makan ya, tuh kamarnya diatas kamar kedua disebelah kanan” jelas mama rafli padanya.


Lian mulai makan karena tak ingin dengar celotehan yang di lanturkan marsya padanya melebihkan guru bk yang nyeramahin anak bandel, meski dihatinya bingung sejak kapan ia mogok makan yaa?


"maaf karena gue.... lu jadi gini" wajah sendu itu terlihat jelas sekali, marsya sangat bersalah.


"kalo salah, rawat gue" lian menaruh sendoknya dan langsung menatap lekat gadis dihadapannya.


Mengerti, marsya langung mengambil sendok dipring dan mulai menyendokkan makanan untuk disuapi kepada lian yang katanya lagi sakit atau benar-benar lagi sakit yaa.


“kenapa sih elu gak bilang kalo elu sama dini pernah kenal?” tanya marsya.


“jangan katakan dia lagi, gue muak”

__ADS_1


Marsya sangat tak suka jika lian seperti ini “elu kenapa sih, kalo ada masalah cerita elu selalu bilang dia berbahaya, busuk elo pikir elu siapa hah bisa ngomong gitu” marah marsya “gue gak suka ya lu kayak gini, mana lian gue yang selalu tenang?” lanjutnya.


Pertengkaran kembali lagi setelah seminggu tidak ketemu, dan lagi-lagi pembahasannya adalah gadis yang bernama dini tersebut. Menurut marsya dini adalah gadis yang polos dan baik hati lain dengan pendapat lian yang sudah mengetahui kebusukan seorang dini tersebut.


"gue gak suka ya elu kayak gini... dimana lian gue apa dia udah mati" kata kasar keluar dari mulut marsya yang tentu saja membuat lian begitu amat tersinggung dengan kata-katanya.


“ya udah kalo gak suka” lian mengeluarkan aksesoris hape yang pernah diberikan marsya padanya ia kembalikan pada marsya lagi.


“ok”


“dan gue gak mau lagi liat elu... bye”


Marsya megenggam erat benda tersebut dan pergi dari kamar lian. Marsya menangis sepanjang perjalanannya keluar rumah lian. Pria tersebut yang merasa bersalah hanya mengikuti marsya dari belakang menatap punggung marsya yang sedih.


Sampai keluar kompleks marsya masih saja menangis tanpa bersuara menyeka air matanya sendiri menatap benda yang ada ditangannya.


Hati marsya benar-benar hancur niatnya datang untuk berdamai malah mendapat perlakuan seperti itu.


Marya berjalan gontai ia benar-benar tak fokus pada jalan, hingga sebuah mobil putih melesat dengan cepat kearahnya iapun tak tau, hanya menangis dalam diam tanpa suara.


Lian dengan cepat menyelamatkan marsya, sayangnya dia belum sempat menghindari keduanya tertabrak dan terhempas sangat jauh, lian memeluk marsya sehingga kepalanya duluan lah yang mengenai trotoar.


Kepala marsya tidak terlalu parah terhantuk trotoar karena terlindung tangan lian, tapi tetap saja mereka berdua tertabrak dan mengakibatkan banyak dari dari keduanya.


Banyak sekali darah yang tercecer disana, tabrakan yang cukup membuat keduanya bisa mati disaat itu juga, mobil tersebut kembali melesat hilang dari pandangan karena tak ada satupun orang disana yang melihat kejadian tersebut.


Tanpa disadari seorang wanita misterius dengan fokus memotret siapa yang mengemudi dan nomor plat mobil tersebut.

__ADS_1


__ADS_2