Life In The Sky

Life In The Sky
25


__ADS_3

Marsya benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ia lihat barusan, semua terasa gelap tak ada cahaya yang menyinari hidupnya kini. Sahabat yang ia kira akan selalu mendukungnya kini berbohong padanya bahkan selama tiga tahun lamanya.


keluh kesas yang selama ini ia utarakan pada andre seperti hanya sebatas buih lautan yang tak ada artinya sama sekali, air mata marsya terus menerus menetes tanpa henti.


Sepanjang jalan yang dilewatinya sepanjang itu pula ia menangis dan kecewa kepada sahabatnya.


Andre mengejar marsya yang tak tau pergi kemana, ia juga bersama rafli yang tak tau apa-apa hanya mengikuti sepupunya yang begitu tampak sangat panik dan bersalah.


Sedekat apakah sepupunya dengan wanita yang bahkan ia sendiri tidak ketahui, padahal semua kenangannya sudah diceritakan oleh andre, apa itu tidak semua? apa yang sebenarnya terjadi?


Rafli menghentikan langkahnya, ia tak lagi mengikuti andre membuat sepupunya tersebut ikut menghentikan langkahnya.


"ada apa? kita harus mencari marsya" ujar andre pada rafli yang justru tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada wanita tersebut.


"jika tidak mencarinya sekarang, dan jika terjadi apa-apa padanya kau adalah orang yang pertama akan menyesal... kau dengar itu" andre meninggalkan rafli yang mematung tak mengerti apa maksud dari perkataan sepupunya tersebut.


"kenapa aku yang menyesal jika pacarnya salah paham?" tanya rafli pada dirinya sendiri yang bingung, pria tersebut berbalik arah pulang. Ia bahkan salah mengira hubungan antara keduanya.


Andre menelusuri jalan setapak yang biasa dilewati oleh marsya ketika wanita tersebut sedang sedih atau hanya ingin menenangkan diri.


Sepanjang barisan bunga yang berjejer sangat rapi dikanan kirinya, bahkan ada gubuk kecil yang amat sangat indah. Tetapi bukan itu yang sekarang ada dipikiran pria tersebut, pikirannya dipenuhi rasa khawatir pada marsya.


Ia melewati begitu saja pemandangan yang indah bahkan sampai di aliran air terjun yang menyejukkan ia barulah menghentikan langkahnya.


Meneriaki berulang ulang nama marsya, tetapi tidak ada yang menyahutnya. Hati andre begitu hancur, bagaimana ia tidak memberitahukan kebenaran kepada marsya, maka ini semua tidak akan pernah terjadi.


Andre mendudukkan dirinya disebuah batu besar didekat air terjun, menutup matanya perlahan mencoba berfikir keras dimana kiranya sahabatnya tersebut jika tidak berada disana.

__ADS_1


Kebenaran yang terjadi adalah marsya mengetahui andre mengejarnya sampai sana, wanita tersebut tidak sanggup menghampiri sahabatnya dan memilih bersembunyi di gua balik air terjun sehingga deru tangisnya tak terdengar keluar.


Meskipun harus sampai membasahi pakaian karena masuk melewati air terjun tersebut.


"maaf sya, bukan gue gak mau kasih tau..." ucapan andre terhenti, ia tak bisa melanjutkan lagi kata-katanya, menunduk sedih dengan penyesalan mendalam yang ia alami saat ini.


Hari yang begitu melelahkan dan sangat berat bagi keduanya, mereka berada disana sampai matahari terbenam bergantikan putri malam yang indah, bahkan sampai pakaian marsya sampai hampir kering di badannya.


Lelah rasanya menunggu dan ia juga telah mengira marsya tidak akan datang ketempat yang pasti mudah ditemukan, wanita tersebut memang membutuhkan waktu untuk berpikir. Amdre beranjak bangun dari tempat duduknya tadi dan berjalan pulang dengan hati penuh rasa bersalah pada sahabatnya.


Air mata marsya kering bersamaan dengan pakaiannya yang sudah mengering ditubuh miliknya. Malam itu, hanya keheningan malam dan suara jangkrik yang menemani marsya disana, ia sama sekali tak berpikir untuk pulang. wanita tersebut lebih nyaman dan tenang berada disana ketimbang dirumah.


Cahaya matahari pagi menyilaukan sepasang mata indah milik wanita tersebut, cahayanya terbiaskan oleh air terjun dengan cantiknya. Marsya pulang kerumahnya dalam keadaan tidak baik, ia menggigil kedinginan sepanjang jalan karena bermalam diluar.


Tepat di depan rumahnya, tampak dari kejauhan ada seseorang yang menunggu kepulangannya, awal menyangka pria tersebut adalah andre melainkan rafli lah yang ada disana.


Marsya berjalan mendahului rafli yang menunggunya, pria tersebut mencekal lengan kirinya menghentikan marsya berjalan menjauhinya.


Rafli membawa masuk marsya dengan menggendong tubuh wanita tersebut ala bride style. Menaruh pelan tubuh marsya ke sofa panjang diruang tamu, dengan bebasnya rafli memasuki ruangan yang ada disana tanpa izin, mengambil baskom berisi air hangat yang baru saja ia rebus didapur dan handuk kecil yang ada dikamar mandi yang tak jauh dari dapur.


Pria tersebut dengan telaten mengompres kening marsya, ia bahkan membuat bubur hangat untuk wanita itu makan saat nanti bangun.


"mengapa aku merasa tak asing dengan wajahnya, apa dulu kita pernah saling mengenal?" tanya rafli yang bingung pada dirinya sendiri.


Ia menatap lekat wajah pucat marsya yang tertidur, membelai pipi dengan sayang bahkan menyingkirkan beberapa helai rambut diwajah marsya ke belakang telinga wanita tersebut. Tanpa sadar rafli mengukir senyum tipisnya, dan pergi dari sana secepatnya.


sejam kemudian, marsya tersadar dan mendapati dirinya di sofa ruang tamu dengan handuk kecil berada dikeningnya, tidak hanya itu bahakan terdapat semangkuk bubur berada dimeja samping tempat marsya berada.

__ADS_1


Dilanda kebingungan marsya teringat bahwa ia tadi bertemu dengan rafli didepan rumahnya.


Merasa ada yang tak beres marsya beranjak dari tempatnya berjalan menaiki tangga menuju atap rumahnya, benar saja ia mendapati rafli tengah memainkan ponselnya tepat dimana pria tersebut sering duduk dulu.


Marsya berjalan menghampirinya, "sangat tidak sopan, masuk rumah orang tanpa izin bahkan dengan bebasnya bisa sampai disini" kata marsya yang langsung duduk disamping rafli.


"kenapa kamu bisa sampai sini?" jika itu pertanyaannya rafli sendiri juga bingung, ia hanya mengatakan kalau ia mengikuti langkah kakinya saja yang menuntunnya kemari, bahkan ia merasa kenal dengan tempat ini padahal jelas ini kali pertamanya.


"saya tidak tau mengapa anda dengan sepupu saya bertengkar, tapi bisakah anda memberinya kesempatan untuk berbicara" perkataan yang menurut marsya sangatlah tidak masuk akal.


"ahh iya, tadi kamu bilang aku sama andre pacaran?" rafli mengangguk.


"bukankah itu benar, jika tidak mengapa andre begitu khawatir dan panik saat anda meninggalkannya kemarin" marsya hanya tepuk jidat bagaimana mungkin mereka memiliki perasaan seperti itu jelas sekali tidak dan tak akan pernah, marsya menjelaskan.


"hah... mengapa saya merasa sangat familiar dengan tempat ini yaa?" bingung rafli.


Marsya tidak ingin mengatakan apa-apa ia lebih memilih untuk diam, ia juga sebenarnya masih bingung karena rafli tidak mengingat semua yang telah terjadi, apa ia amnesia?.


"sudahkah anda makan bubur yang saya buatkan?" marsya menggeleng, terlihat sekali rafli tampak kesal dan menyuruh marsya makan jika ia ingin sembuh dan meninggalkan marsya disana sendiri.


Marsya tersenyum tipis, "jika itu kamu, kamu sudah banyak ekspresi yaa... lian".


wanita tersebut melihat rafli yang sedang sibuk didapur entah melakukan apa. "apa yang kamu lakukan?"


"buburnya sudah dingin, saya akan menghangatkannya untuk kamu" katanya tanpa mengalihkan pandangan dari perkerjaannnya saat ini.


[DING DONG]

__ADS_1


Suara bel berbunyi, marsya membukanya dan mendapati pria tinggi dihadapannya saat ini, "andre".


"siapa yang datang?" sahut rafli melihat dari arah dapur dengan balutan celemeknya.


__ADS_2