Life In The Sky

Life In The Sky
23


__ADS_3

Hati marsya saat ini berkecamuk, ia tak yakin dengan apa yang matanya lihat tadi. Bagaimana bisa semua yang awalnya ia pikir adalah halusinasi, kini hadir kembali. tidak ingin terus mengingat hal yang tak mungkin seperti yang ia pikir saat ini, marsya mencoba menyantap makan siangnya di cafe dekat kantornya.


Tampak empat langkah kaki mendekati meja milik marsya, tidak ambil pusing marsya tetap saja menyantap makanannya sampai akhirnya salah satu dari mereka berkata, "bukankah kamu yang kemarin pingsan dijalan yaa" suara yang marsya rasa cukup familiar ditelinganya membuat marsya mendongakkan kepalanya.


Alangkah terkejutnya marsya melihat dua sosok yang sedari tadi memenuhi pikirannya kini hadir tepat dihadapan wanita tersebut. Ia diam seribu bahasa, tidak tau harus mengatakan apa bahkan rasanya atmosfer dibumi berhenti begitu saja.


"apa kamu baik-baik saja? kamu terlihat pucat, apa sakitmu sangat parah? apa perlu kerumah sakit?" tanya hervi bertubi tubi membuat pria disampingnya menjitak kepalanya pelan, "dia diam karena kamu terus berbicara her" hervi memegang kepalanya mengadu sakit tertapi pria itu tak memperdulikannya, ia hanya acuh tak acuh mendengar ocehan hervi.


"tidakkah kalian bisa duduk, saya cukup susah melihat kalian berdua" marsya sungguh lelah jika harus mendongakkan kepalanya hanya agar melihat sesosok yang menyerupai lian, ia tak peduli dengan wanita disebelahnya.


Hervi mengulurkan tangannya mengajak marsya berkenalan, marsya dengan senang hati menyambut uluran tangan tersebut. Hervi juga memperkenalkan pria disampingnya yang bernama "rafli" cukup terkejut marsya mendengarnya, bagaimana tidak? nama yang begitu familiar dengan wajah yang sangat familiar sekarang tepat dihadapannya.


Marsya kembali mengulurkan tangannya kepada rafli, sayangnya pria tersebut tak menyambut baik uluran tangannya membuat marsya mengerti perasaan lian saat ia melakukan hal yang serupa dulu, marsya menarik kembali tangannya seraya tersenyum tipis dengan terpaksa.


Hervi meminta maaf atas ketidaksopanan dari rafli pada marsya, wanita tersebut memakluminya dengan alasan ia harus mengalah kepada anak kecil yang merengek meminta eskrim. Kata-katanya berhasil membuat rafli emosi sedangkan hervi tertawa kecil mendengarnya.


Sejujurnya marsya ingin berlama lama disana, tetapi pekerjaan masih banyak yang haru ia selesaikan, sehingga mau tak mau harus meninggalkan sesosok yang lama tak pernah ia jumpai.


"bye li.." ahh tidak mengapa ia harus mengatakannya, hampir saja kata lian keluar dari mulut marsya tersebut. Tetapi itu tetap membuat kedua insan dihadapannya menatapnya heran.

__ADS_1


Dengan cepat marsya melambaikan kedua tangannya "ahh maaf... bukankah nama kamu rafli? apa tidak masalah aku memanggil nama belakangnya" untungnya tidak ada kecurigaan disana dan tak menganggap hal itu swbagai masalah.


Ketiganya kembali berbincang sampai akhirnya hervi mengetahui bahwa marsya bekerja ditempat yang sama dengannya sehingga ia diajak kembali ke kantor bersama, meskipun sudah menolak secara halus tetapi itu tak berguna bagi hervi, ia kembali memaksa sampai marsya mau. Jurus terakhir pun marsya keluarkan tapi sayang itu juga tak ada gunanya sama sekali, sehingga mau tak mau ia balik barengan dehh.


Keesokan harinya, seperti biasa marsya melakukan rutinitasnya selayaknya ibu rumah tangga. Perlahan ia membersihkan seisi rumahnya yang sebenarnya tak begitu kotor dengan cermat, rasanya bahkan sampai tak mau ada sebutir debu menempel di rumahnya, berkali-kali ia membersihkan sampai mengkilap.


Dilanjutkan dengan ruang rahasia milik lian, walaupun sebenarnya sudah tak sama sejak ia tinggal disana. Semua barang ia rapihkan hingga lebih terlihat bagus... mungkin saja bisa jadi pameran foto dirinya sebab banyak sekali fotonya dengan pose tak sengaja dan itu sangatlah indah layaknya fotografer yang melakukannya.


Lampu yang redup menambah sensasi dari ruangan tersebut, dengan pencahayaan kurang dari lampu utamanya membuat beberapa lampu yang berada di meja seperti hal yang begitu menakjubkan sekali.


Dering ponsel terdengar dari dari meja riasnya, membuat marsya menghentikan segala aktivitas yang ia lakukan saat itu dan segera meraih ponselnya ingin tahu siapa yang mengganggunya pagi pagi seperti ini.


Andre masuk begitu saja dan langsung duduk di sofa ruang tamu marsya, lebih gak tahu dirinya ini si tamu menyuruh marsya membuatkannya kopi layaknya majikan menyuruh pembantunya saja.


Pukulan dahsyat tak terelakkan lagi dikepala milik andre itu, marsya yang marah karena seenaknya nyuruh dia dan lagi liat saja jejak sepatu andre yang kotor masuk kedalam rumahnya yang sudah ia bersihkan mati matian.


Seraya memegangi kepalanya yang sakit, andre berusaha membela diri dengan alasan ia begitu lelah berjalan kaki dari rumahnya belum lagi kemarin yang hujan membuat tanah becek. Bodo amat dah dia mau ngomong apaan yang jelas pria tersebut sudah membuat marsya mengusirnya begitu saja dari rumahnya.


"sya katanya mau jogging keliling kampus bareng" gila aja keliling kampus gempor itu kaki dibuatnya, puas memaki sahabatnya marsya kembali kekamarnya untuk siap siap sedangkan andre menyelonong ke dapur buat kopi manis.

__ADS_1


Pas mau jalan ehhh malah si andre kebelet, emang mau dikunyah itu anak. Marsya keluar rumah duluan, siap yang sangka bakal ketemu dengan rafli untuk kesekian kalinya.


"LIAN...LI... AN..." teriak marsya menghampiri pria tersebut, sibuk memaki sebab tak menyahut panggilannya.


" kamu ngomong sama saya" tunjuk rafli pada dirinya sendiri dengan raut wajah yang penuh dengan kebingungan dan tanda tanya.


"ya iya lahh sama siapa lagi li... kamu gila yaa mentang mentang dah gak ketemu lama kamu lupain aku" marsya memukul pelan bahu rafli dengan kedua tangannya sambil tersenyum.


"maaf nona, kita baru saja ketemu dua kali dan kita tak saling kenal... " rafli melepas kedua tangan marsya yang masih berada dibahunya pelan, "jadi jangan sok kenal" kata kata yang menusuk hati kecil marsya sampai rasanya hancur berkeping keping.


Rafli berjalan meninggalkan marsya, tangannya dengan cepat dicekal wanita tersebut. Sambil menitikkan air matanya, "apa karena wanita itu kamu lupain aku hahh?" jelas sekali bukan itu masalahnya, mereka sama sekali tak mengenal bagaimana marsya bisa mengatakan jikalau mereka saling kenal.


Mau dilaskan beberapa kali juga, masuk kuping kanan keluar kuping kiri, marsya sama sekali tak mau mendengarkan.


Suar dering telfon dan itu bukan milik marsya, alangkah terkejutnya ia saat mengetahui bahwa itu milik rafli. " iya her.. tunggua aja yaa disana"


"li.. sejak kapan kamu punya hape? bukannya kamu gak suka hape yaa? tapi kenapa sekarang...."


"kau gila? saya saja baru pulang dari luar negeri 1 minggu yang lalu dan kamu bilang kita saling mengenal? itu tidak mungkin" rafli melepas paksa genggaman wanita tersebut dengan susah payah dan meninggalkannya yang masih menangis, bahkan isak tangisnya masih terdengar oleh rafli dari kejauhan tapi ia berusaha tak memperdulikannya.

__ADS_1


Andre keluar dari rumah saat mendengar suara isak tangis marsya, ia memeluk wanita tersebut dan mulai bertanya mengapa marsya sampai menangis, ia hanya diam hanya suara isak tangis yang terdengar.


__ADS_2