
Sudah seminggu marsya terjebak didalam rumahnya bersama rafli yang terus datang setiap harinya datang dan pergi diwaktu yang sama hingga marsya sudah menghafal diluar kepala, ia juga bahkan sudah mulai bosan dengan kehadiran pria tersebut dirumahnya.
Begitu pula dengan hari ini rafli menyudahi belajar pukul 12.00 WIB dan seperti ingin cepat-cepat pergi sayangnya ditahan oleh marsya, gadis tersebut mencekal tangannya menghentikan langkah rafli saat itu juga.
“tunggu-tunggu, emang lo selalu ada jam kuliah tah setiap hari dan selalu di jam yang sama?” tanya marsya yang heran mengapa pria dihadapannya tersebut selalu ingin cepat-cepat pergi dari rumahnya apa karena membencinya? Iya juga tidak tahu.
“enggak”
“terus ngapain pulang mendingan kita main apaan gitu, emang gue ngebosenin? Yang ada elo kali” celetuk marsya bagaimana tidak, yang ada diotak pria tersebut hanyalah belajar dikira gak bosen apa belajar mulu...kadang rebahan yang paling enak saja masih bisa merasa bosan apa lagi ini kan.
“oh iya lagian kita dari awal belum kenalan kan, gue marsya audy anatasyani... elo?” hah belum kenalan gimana yang waktu itu namanya apa? Mengingat kejadian itu membuat rafli memutar bola matanya jengah berharap gadis dihadapannya sama mengingat kejadian tersebut.
Melihat ekspresi rafli yang begitu amat tak menyenangkan membuatnya mengingat akan sesuatu yang telah ua lupakan “yang itu lupain” sahut marsya yang akhirnya juga mengingat kejadian dipesta seminggu yang lalu.
Ditaman, dini yang dihampiri oleh tiga orang berpakaian rapi layaknya orang kantoran, membungkuk hormat padanya, “selesaikan dengan cepat saya tidak ingin ada celah sedikitpun" kata-kata yang keluar dari mulut gadis ini hanya mendapatkan anggukan dari tiga orang yang tengah berpakaian rapi dengan balutan jas hitam begitu pula dengan kemeja yang dipakai mereka.
Sebelum ketiga orang tersebut pergi tampak sekali aura dari dini berubah, tidak ada yang tahu apa isi hatinya.
__ADS_1
Dini kembali seperti dini yang dikenal ketika andre menghampirinya setelah mereka semua pergi entah kemana. “ngapain orang-orang itu?” tanya andre yang begitu amat penasaran lagipula mengapa mereka tampak sangat membicarakan hal yang serius.
Menatap langit biru keorange, dini hanya tersenyum manis tidak menjawab pertanyaan dari kekasih tercintanya membuat prianya tambah penasaran yahh... tapi memang seperti itulah pacarnya yang tak pernah ingin bercerita tentang apapun.
Marsya mengulurkan tangannya bertujuan berjabat tangan dengan rafli “rafli ardlian sanjaya” ucap pria di hadapannya tanpa menyambut uluran tangan dari marsya.
“rafli ....” ulang marsya, gadis ini menyentuh bibir ranumnya seperti memikirkan sesuatu.
Merasa tak cocok jika ia juga ikut memanggil rafli, wanita ini mulai memikirkan nama yang cocok untuk rafli “hemmm... kayaknya rafli gak deh cocok buat lo, itu nama orang baik. Nah kalo elo mah bermuka dua, dingin jadi apa ya..... hemm.. lian kayaknya itu nama yang cocok deh gimana?” tanya marsya pada rafli memastikan apa rafli suka jika dia panggil dengan sebutan lian.
Lah bagaimana bukankah itu namanya sendiri ardlian marsya hanya menghilangkan ard sehingga muncullah nama lian.
“nama itu bagus buat lo... ok elo harus terima gue mikirnya pake otak lo gak pake dengkul susah tau" marsya memanyunkan bibirnya kedepan merajuk pada rafli yang dianggapnya tidak menghargai pemberian namanya.
“terserah” jawab rafli singkat.
Rafli berlalu pergi meninggalkan marsya yang sekitika cengar-cengir karena nama buatannya diterima oleh manusia kutub utara tersebut.
__ADS_1
“ok gue bakal panggil lo lian ok... inget lian hehehe” sedikit teriak marsya di ambang pintu kamarnya, sedangkan rafli terus berjalan menuruni anak tangga dan tanpa marsya sadari rafli mengulang nama yang dibuat marsya padanya ‘lian' sambil tersenyum tipis dan hampir tak tampak bahwa itu sebuah senyuman dari pria ini.
Marsya berkali kali mengulang kata lian sembari merebahkan tubuhnya dikasur, ia tersenyum sangat lebar dihiasi tawa yang begitu indah. “oh iya, ngapa sampe lupa gue... nanya nomor hp simanusia es itu ya” menepuk pelan keningnya karena lupa marsya menanyakan nomor rafli yang sekarang akan ia panggil lian tersebut.
Hari itu dirumah marsya menjadi lebih tenang dari hari-hari sebelumnya, sampai rasanya pelayan merindukan tingkah kekanakan dari marsya yang sekarang hanya tersenyum sendiri seperti sedang kerasukan jin senyum jika itu ada.
Kepala pelayan rima yang sekarang masih berusia 35 tahun ia memang sudah bekerja disana selama 30 tahun sehingga mengenal betul watak marsya seperti apa, membuka sedikit pintu kamar marsya mengintip apa yang sebenarnya dilakukan oleh nona mudanya saat ini yang membuat rumah amat begitu sepi dan menutupnya kembali ketika sudah melihat dan ikut tersenyum sebelum pergi kebawah memeriksa kinerja para pelayan.
Seperti biasa rafli tengah membaca buku di perpustakaan dikagetkan oleh dini pacar andre “hai....” seru dini yang sekarang sudah duduk dihadapan rafli.
"gimana kabar kam..." belum sempat dini menyelesaikan kata-katanya.
Tanpa babibubebo lagi, lebih tepatnya ia sama sekali tak menyapa gadis kecil ini dan langsung berdiri bergegas pergi mengembalikan buku dan benar-benar pergi dari sana. Tampak dini sangat kesal diperlakukan seperti itu, ia mengepalkan tangannya kuat.
"kau kira bisa giniin aku apa raf? sayangnya jika kamu berpikir ya maka itu tidak" pandangan dini berubah dari secerah malaikat sekarang menghitam bagaikan iblis.
Tatapan yang selama ini tidak pernah ia tunjukan bahkan saat ini juga, tatapan iblis itu terpancar dari wajah lugu seorang dini menatap kearah pintu tempat yang dilewati rafli untuk pergi dari sana.
__ADS_1