
Rembulan memberikan penerangan pada malam yang gelap bersamaan itu pula ribuan bintang terlukis dilangit hitam dengan sangat indah meskipun beberapa awan hitam menutupi keindahannya.
Masrya duduk di kursi setelah menyajikan begitu banyak makanan yang pernah ia makan bersama lian dulu, wajahnya yang pilu tak memiliki gairah hidup memaksakan diri untuk tersenyum. Semua perilaku wanita tersebut terlihat jelas dimata rafli yang tampak bingung, ia memberanikan diri duduk dihadapan marsya, menatap lekat wajah pilu wanita tersebut.
"bintangnya indah yaa" ucap marsya tiba-tiba, menatap langit malam yang indah.
"iya tapi alangkah baiknya kamu tersenyum mungkin akan seindah bintang malam ini" rafli menatap mata marsya yang sedang menghadap kelangit dengan intens.
Untuk sekian kalinya, wanita tersebut menarik kedua sudut bibirnya melengkung dengan indah mengukirkan sebuah senyuman kepada pria tersebut tetapi masih saja dapat rafli sadari bahwa yang itu hanyalah sebuah senyum palsu yang dibuat marsya untuk menyembunyikan isi hatinya.
Marsya berbalik tidak lagi memandangi langit malam, mata mereka berdua bertemu tanpa sengaja. "izinkan saya melihat senyuman anda meski hanya sekali" seketika pikiran marsya kacau dibuatnya.
Dengan susah payah marsya memalingkan wajahnya melihat ke arah yang lain, ia tak ingin terus menatap wajah rafli yang begitu tampak serius. "bukankah gue sering tersenyum, lagian jangan terlalu formal.... padahal lu yang lebih tua".
"bisakah lu tulus? atau lu gak bisa karena kepergiannya?" perkataan yang mengiris cincang sampai halus hati marsya, benar adanya ia tak pernah lagi tersenyum bahagia, selama ini senyumannya hanya untuk menutupi kesedihan yang mendalam karena kepergian lian.
"gue gak mau berdebat" marsya langsung menyantap makanan dimeja sambil terus melihat bintang yang hampir tenggelam dalam setumpuk awan hitam gelap.
"seseorang pernah berkata padaku untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu menghargai waktu, karena setiap bertambahnya sepersekian detik saja akan menuju masa depan dan kematian" mata marsya mulai berkaca-kaca, begitu banyak kenangan yang tertinggal disini tidak dibawa ikut pergi bersama lian.
"siapa dia? apa lian?... sepertinya dia sangat berarti ya bagi elu" mendengar ucapan rafli tersebut membuat marsya tersedak dan tak melanjutkan santapannya.
__ADS_1
Malam yang semula tampak indah berubah tertutup awan tebal, tetapi marsya tak mau beranjak pergi dari tempat tersebut. Wanita itu terus melakukan hal-hal yang menurut rafli sangatlah aneh mulai dari menyiapkan makanan yang begitu lumaya banyak padahal hanya ada mereka berdua saja, menyalakan kembang api sendiri, bahkan yang lebih anehnya ia membuat sekitar 26 buah pesawat kertas untuk diterbangkan.
Tak habis pikir lagi dengan wanita aneh didepannya, rafli menghentikan marsya yang sedang melakukan sesuatu lainnya. Menarik tangan wanita tersebut kehadapannya hingga mereka saling menatap mata. "sudah hentikan!"
Marsya berusaha melepaskan diri dari rafli sekuat tenaganya, tapi ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri. Sampai pada akhirnya wanita tersebut mengeluh sakit hingga rafli secepatnya melepaskan dan meminta maaf.
Wanita tersebut menundukkan kepalanya sedih, ia tak tau harus berkata apa. Kaki yang selama ini menopang tubuhnya seketika tak sanggup lagi untuk menahan diri lagi hingga terjatuh tak berdaya. Kepercayaan dirinya hilang begitu saja, ia tak lagi memaksakan diri untuk melakukan sesuatu.
"dengar! jujur aku tidak tau siapa itu lian, tapi jika itu buat lu bisa sampe kayak begini itu artinya ia sangat berarti bagi lu..." marsya tak menanggapi apapun ia lebih memilih untuk diam seribu bahasa.
"siapapun itu, dia tak berhak membuat elu seperti mayat hidup begini... gue yakin lian bakal sedih kalo ngeliat elu yang sekarang... percaya sama gue" rafli melanjutkan kata-katanya lagi.
Kini marsya mulai mengangkatkan kepalanya, menatap lekat wajah pria dihadapannya. Rafli tersenyum tipis mengisyaratkan bahwa sudah tidak apa-apa badai akan segera berlalu, seperti hinoptis saja, marsya ikut tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
Setelah kepergian lian, hidup marsya memang sudah tidak lagi utuh seperti dahulu, kini hatinya terasa tenggelam ditengah sunyi malam bahkan kini sinar bulan menghilangkan bintang begitu pula dengan awan yang gelap yang membuat langit malam yang semula indah menitikkan air mata dari cawan langit.
Meskipun tidak begitu deras, tetapi berhasil menghilangkan jejak air mata marsya yang terbilas oleh air hujan tersebut. ia menangis tak bersuara dan hanya terdengar suara deru hujan saja disana.
"maaf... maaf, seharusnya ini semua tidak terjadi.... elu harusnya gak perlu mengalami hal seperti ini" ucapnya sedikit samar karena terbilas air hujan.
Ia menutup kedua matanya sehingga semua pandangannya begitu gelap seperti hatinya saat ini, jika saja ia bisa kembali memutar waktu dimana ia bisa bersama lian saat itu, marsya tak akan memaksakan keinginannya untuk melakukan itu semua.
__ADS_1
Marsya pasti akan mengantisipasi agar semua itu tidak terjadi pada mereka, semua yang terjadi dimasa lalu akan berubah menjadi lebih baik lagi. Ia akan tetap bersama dengan lian yang tak banyak bicara, tetapi membuatnya nyaman dengan segala tindakannya bukan perkataannya yang biasa dilancarkan oleh kebanyakan pria.
Rafli kembali ke dapur untuk mengambil kue yang sudah dibuat tadi didalam oven, karena kondisinya sama sekali belum dihias akhirnya sebelum membawa makanan tersebut ke atap ia terlebih dahulu menghiasnya agar terlihat lebih cantik.
Terdengar suara hujan, rafli mempercepat langkahnya dalam menaiki tangga. Sesampai ditempat tujuan, sama halnya yang ada dipikiran pria tersebut bahwa marsya pasti bermain-main dengan hujan. Wanita tersebut terduduk ditengah hujan malam tersebut.
Setelah melancarkan beberapa kali bernapas panjang, rafli menaruh kue yang ada dipandangannya dikursi dekat sana yang tidak terkena air hujan sebelum menghampiri wanita tersebut.
Ia mencoba membuat marsya bangkit hingga berdiri, "katakan padaku... mengapa elu kayak gini... udah gue bilang lian bakal sedihkan dan bukan tu orang aja" kini marsya tak lagi mencoba menahan air matanya, ia menangis sejadi-jadinya.
"lu kalo gak tau apa-apa mending diem dehh..." ucapnya disela tangisnya.
"sehebat apa sihh itu orang hah!... gue tanya ama lu" tanya rafli dengan bingung mengapa sampai wanita tersebut bisa seperti saat ini.
"elu tau... tapi elu gak tau" marsya tersenyum sinis membuat rafli bertambah bingung.
Kini rafli tidak lagi hanya berkata-kata, ia juga menguncangkan tubuh marsya, " lu bilang gue tau... apa yang gue tau? elu harusnya mikir dengan kondisi lu yang sekarang... emang lian itu sehebat apa? sepenting apa? kenapa dia ngerubah elu jadi gini hah?"
"ya... dia penting, hebat... dan gak akan ada yang bisa ngalahin dia... puas lu" marsya menatap lurus kearah mata rafli yang bertanya padanya.
"elu mungkin gak akan percaya... tapi dia adalah penyelamat dan malaikat menurut gue... kepergiannya juga adalah kesalahan terbesar gue... orang kayak lu gak bakal pernah ngerti!" kini pandangan wanita tersebut tidak lagi kearah rafli.
__ADS_1
Rafli terdiam sejenak sebelum akhirnya menarik marsya kedalam pelukannya "gue emang gak tau siapa itu lian, tapi sehebat apapun dia.. dia gak berhak membuat elu menutup diri seperti ini... elu harus memikirkan perasaan orang terdekat yang masih ada sama lu sekarang ini" Marsya menangis sejadi-jadinya dipelukan pria tersebut 'kapan kamu menyadarinya lian'.