
Marsya merebahkan dirinya ke kasur queen size miliknya, terlintas pikirannya tentang kejadian yang ia lalui bersama dengan lian siang ini walaupun sempat tidak tahu jalan sihh. Entah nyasar kemana!
Pintu terbuka dengan kasarnya seperti dibanting sampai pintu tersebut menabrak dinding dengan keras mengagetkan gadis yang sedang tersenyum mengingat kejadian siang tadi.
"MARSYA!!!" teriak seorang wanita paruh baya yang di panggil mama oleh marsya tersebut.
Cepat-cepat marsya bangkit dari tidurnya, tampak sekali dari wajahnya amat teramat bingung dengan teriakan dari mamanya tersebut. Apa yang ia lakukan sampai mamanya yang belum lama ini pulang marah padanya?
Ayolah ma... katakan mengapa tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, kenapa hanya diam mematung. Karena lama menjawab marsya mulai membuka mulutnya bertanya mengapa mamanya masuk kekamarnya sambil marah seperti itu.
Barulah mama marsya membuka bicara, ia amat sangat kecewa dengannya karena ia dengan berani naik bis, jelas marsya seharusnya minimal naik taksi saja. Hal yang dilakukan marsya seperti mendorong mereka sekeluarga seperti tak mampu memberi anaknya kehidupan yang layak saja.
Apa naik sebuah bis disebut kehidupan yang tak layak? bingung marsya.
Ahh ternyata bukan itu saja yang membuat mama marsya marah tetapi ada lagi yakni tingkah laku marsya belakangan ini yang membuatnya merasa malu memiliki anak seperti marsya.
Mengapa ia tak bisa berlagak anggun seperti anak gadis pada umumnya? Tetapi yang dilakukan marsya bertolak belakang, ia sama sekali tak peduli apa itu menjadi seorang putri ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Ia ingin hidup dengan menunjukkan diri secara jujur pada semua orang bukan hidup dibalik topeng yang dianggapnya menipu semua orang.
Semua sudah ia utarakan agar mamanya mengerti tentangnya, sayang beribu sayang lagi-lagi mama marsya tak sependapat dengannya.
__ADS_1
"mama dan papa membesarkan kamu agar menjadi seorang putri yang dapat dibanggakan bukan seperti ini marsya, mengerti tidak" emosi mama bergejolak begitu saja mendengar penuturan dari sang anak.
Marsya berdesis sinis, "membesarkanku? papa baru iya kalo mama kan hanya fokus menjadi seorang ratu yang baik dan benar tanpa mempedulikan anaknya, lagian kita hanya bisa ketemu 6 bulan sekali" desis marsya.
Mendengarnya mama bertambah emosi dan diluar kendalinya menampar keras wajah mulus milik marsya hingga tertinggal bercak merah disana, marsya yang kala itu menahan air matanya agar tidak jatuh berlari pergi keluar kamar menjauhi rumahnya sambil terus memegangi pipinya yang terasa panas dan perih tersebut.
Sore itu sambil menikmati cahaya matahari yang mulai meredup tenggelam, bukan karena benar-benar menikmatinya ia hanya menangis tak bersuara menelusuri jalan trotoar tanpa arah tujuan yang jelas. Matanya yang mulai membengkak tak menghalanginya untuk terus menangis.
Lian yang baru pulang dari kampusnya, mengendarai mobil hitamnya pelan melintas jalan. Terlihat dari kejauhan punggung mungil milik marsya, walau sedikit bertanya-tanya apakah benar gadis tersebut adalah gadis yang ia maksudkan, setelah semakin dekat semakin ia yakin bahwa benar adanya.
Secepatnya lian menghentikan laju mobilnya dan berhenti tepat di samping marsya, gadis tersebut terheran melihat sebuah mobil yang menepi di sampingnya tersebut. Keheranannya terbayarkan karena lian lah yang keluar dari mobil hitam tersebut dan berjalan pelan menghampirinya.
Marsya berlari memeluk erat lian, menangis tersendu-sendu, tentunya pria tersebut tampak sangat bingung tetapi ia tak mau bertanya dan hanya membalas memeluk gadis yang tengah bersedih tersebut. Pria itu juga menepuk pelan punggung marsya agar dapat menenangkan hati gadis yang berada dipelukannya kala itu.
Lian menarik tangan marsya dan menyuruhnya masuk kedalam mobil, lian mengendarai mobil sepertinya akan menuju kesesuatu tempat tetapi marsya tak tahu kemana mobil tersebut akan berhenti.
Matahari sekarang benar-benar sudah tak menampakkan diri lagi sudah bergantikan bulan yang bersinar dikegelapan malam, dan lian masih mengemudikan mobilnya tanpa sepatah katapun yang ia keluarkan.
Menelusuri jalanan yang padat akan kendaraan yang berlalu lalan sampai tidak telihat ada lagi satupun kendaraan selain mobil mereka disana, mereka melewati jalanan yang begitu sepi.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, hujan turun dengan derasnya, air yang bertumpah dari cawan di langit membuat marsya kembali menitikkan air matanya.
Melihat kejadian tersebut dari kaca spion tengah, lian menghentikan laju mobilnya mendadak. "turun! kalo mau nangis diluar jangan disini!" perintah lian, ia sangat tak ingin gadis dihadapannya menangis apalagi didepannya.
Lian melepas sabuk pengamannya dan keluar begitu saja dari mobil, berjalan ke arah pintu tempat marsya duduk. "keluar!" pintanya, kali ini dengan suara pelan hampir tak terdengar terbilaskan oleh suara hujan disertai dengan suara guntur yang mengelegar.
Didalam marsya Menangis tersendu-sendu tak mendengarkan lian dan memang ia tak mendengar perkataan lian, ia hanya menatap sendu mata lian yang perfokus padanya saat itu.
Yang dilakukan marsya hanya menenggelamkan wajahnya dibawah lipatan tangannya menangis sejadi-jadinya tanpa didengar lian yang sedang menyaksikannya tersebut.
Lagi-lagi lian merasakan perasaannya yang tercabik-cabik melihat gadis yang sedang berada didalam mobilnya menangis. Ia membelai halus kepala marsya secara tak langsung melalui pelantara kaca jendela mobil.
Tak lama, lian mengetuk kaca jendela mobil pelan tapi paling tidak bisa terdengar oleh telinga gadis itu. Marsya yang wajahnya masih sembab tersebut menoleh melihat lian yang tampak sudah kedinginan diluar sana.
Lian mengadahkan kedua tangannya membentang sejajar dengan bahunya, menutup matanya sebelum akhirnya mengangkat kepalanya ke arah langit-langit, menghembuskan napasnya pelan. Ia melakukan itu sekitar 5 menit lamanya sebelum membuka pintu mobil dan melepaskan sabuk pengaman milik marsya.
Menarik marsya untuk keluar mobil, lian mengelap wajahnya kasar, "menangislah! tak ada yang tau, air mata akan terbilas habis oleh air hujan dan teriakanmu akan tak terdengar seiring suara guntur menggelegar" ucapnya mengatup wajah marsya yang penuh air mata begitupun dengan hujan yang derasnya.
Bintang yang tak terlihat dan bulan yang tetutupi oleh awan tebal, suara guntur yang menggelegar serta air hujan yang bertumpah malam itu menjadi saksi bisu mereka yang sepanjang malam dihabiskan dibawah guyuran air yang jatuh kala itu.
__ADS_1
Mereka kembali masuk mobil setelah marsya tenang, dan menggigil kedinginan tentunya diluar sana. Mobil yang semula kering kini sudah bergantikan menjadi basah bagian jok dan tempat merekan berpijak saat itu.
Mobil tersebut kembali melintasi jalanan yang sudah sangat basah tersebut ditengah hujan dan dinginnya malam.