Life In The Sky

Life In The Sky
13


__ADS_3

Lian memang telah berbohong akan aksesoris tersebut, ia tak mau marsya mengetahui dari mana ia mendapatkan benda itu yang sebenarnya kepada gadis dihadapannya.


Walau sempat ditanya bagaimana ia pulang semalam, lian yang hanya menjawab ia segera pulang ketika marsya pulang dan kebenarannya adalah ia harus berjalan kaki sangat lama hingga andre menjemputnya.


Lian segera pergi ketika sudah berpamitan untuk pergi kekelas karena ia ada kelas saat itu, “jalan-jalan yuk” ajak marsya kepada seseorang ditelefon.


Selesai kelasnya lian ia kembali diperpustakaan membaca buku, dini yang sudah sedari tadi sengaja menunggu mulai berjalan mendekatinya.


“hai.... dari dulu kerjaannya baca buku mulu” serunya yang tiba-tiba duduk dihadapannya membuat lian ingin pindah dari sana.


“tunggu mending duduk dulu, kalo gak aku bakal kasih tau kak marsya antara kita dia pasti marah deh kalo aku tunjukin juga foto ini” ucap dini menunjukkan foto-foto di hapenya.


“raf kamu gak usah khawatir... andre gak pernah liat juga kok soalnya kan aku ganti hape, tapi kalo dia tau gimana ya reaksinya” lanjutnya seraya mengecek isi dari hape tersebut.


Terpaksa lian harus duduk lagi ia tak mau menyakiti perasaan kedua orang yang ia sayang hanya karena seorang berhati busuk dihadapannya saat ini.


“apa sebenarnya mau kamu hah” tanya lian padanya.


“gak ada sih...... Cuma mau nostalgia aja sama kamu kak” jawabnya.


“kalo gak ada aku pergi” ucap lian dingin ia benar-benar tak mau dengan wanita berhati busuk berlama-lama.

__ADS_1


“emang kenapa sih, sebusuk itu kah aku dimatamu?” tanya dini penasaran.


“1000km bisa tercium aroma busukmu” ketus lian.


“hufth... wow... tapi sayangnya cuman kamu doang yang mencium yang lain gak ada dan gak akan pernah” ujar dini.


Lian menghela nafas panjangnya, ya memang saat ini hanya dia yang bisa mencium betapa busuknya seorang dini tapi ia akan membuat aroma busuknya tercium oleh semua orang, lihat saja nanti.


Marsya sudah berada di cafe tempat ia janjian dengan seseorang, marsya juga memesan banyak sekali makanan yang ada disana.


Seorang wanita separuh baya menghampiri marsya bersama papanya ya itu adalah mama marsya yang selama beberapa bulan terakhir ini berada di london.


Marsya memeluk erat wanita paruh baya yang masih terlihat muda tersebut dengan bahagia “kirain mama gak bakal pulang lo..” ucapnya ketika melepas pelukan mamanya.


Hari itu marsya menghabiskan harinya bersama kedua orang yang paling ia cintai didunia ini bersama. Semua mereka lakukan di hari itu kebahagiaan meliputi mereka hari itu.


Mereka adalah keluarga utuh yang berbahagia dimata mereka maupun orang yang melihatnya, tingkah mereka seperti halnya anak muda yang masih berada dibangku sekolah mempermainkan semua yang ada di taman hiburan tak lupa dengan makan semua yang ada disana dengan senyum cerah dari setiap orang.


Tidak seperti lian yang harus terjebak ditempat favoritnya bersama dengan wanita yang paling ia benci didunia ini. Entah sampai kapan ia harus terjebak dengan situasi ini, “kapan kau pergi?” tanyanya.


“tak akan pergi, walau kamu menyakitiku sekalipun” jawab dini pasti, ia memangku dagunya menggunakan kedua tangannya, tersenyum tipis tapi terlihat seperti seringai iblis menurut lian.

__ADS_1


“hah aku menyakiti mu? Tidak kah kau sadar apa yang kau lakukan dulu” sergah lian bangkit dari duduk dan melangkah pergi begitu saja.


"kenapa kamu dipanggil lian sama si marsya manja itu?" sorot mata dini berubah seketika tatapannya sangat tajam menatap kearah depan. Pertanyaan yang dilontarkan gadis tersebut membuat langkah lian terhenti "bukan urusanmu" dua kata singkat cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut, lian benar-benar pergi dari sana meninggalkan dini yang sangat kesal sampai meremas hape yang saat itu masih ia pegang dengan kuat.


Dini menggepalkan tangannya yang lain, memang ia tak akan menghapus kesalahan yang ia perbuat dulu andai saja ia bisa mengulang waktu untuk memperbaikinya ini tak akan seperti yang sekarang terjadi.


“sayang jemput aku ya...” ucapnya ditelefon sebelum menutupnya kembali.


Andre segera datang setelah menutup telefon dari kekasihnya tercinta, menunggu dini keluar dari perpustakaan.


“jalan yuk” ajak dini dengan antusias, ia memberitahukan akan membawa andre ke tempat yang sangat indah nantinya karena itu ia yang membawa mobil andre tersebut.


Tempat yang indah yang dijanjikan oleh dini tak lain dan tak bukan adalah atap tempat biasa lian dan marsya bertemu dan andre tahu itu. Meskipun merasa aneh mengapa dini tahu tempat ini andre lebih memilih dia dan mengikuti setiap langkah dini dari belakang.


Apa ini? Mereka tepat disebuah pintu yang berada diatap tersebut, “jika aku bilang aku akan menyakiti mu apa yang akan kau lakukan?” tanya nya pada kekasihnya tersebut.


“jika menyakitiku adalah kebahagiaan untuk kamu aku rela kok” jawaban yang tak disangka-sangka oleh dini membuatnya hampir saja meneteskan air matanya.


Andre cepat-cepat menyekanya ia sama sekali tak ingin wanitanya menangis karenanya, “ayo kita pergi”dini menarik lengan kekasihnya untuk pergi menjauh dari sana. Lagi-lagi membuat andre kebingungan dengan kelakuannya hari ini.


Lian yang sangat kesal akibat pertemuan tak terduga tersebut lagi-lagi hanya terdiam tak berkata sepatah kata pun, yang ia lakukan hampir 15 menit hanya duduk di pinggir jalan raya jika pakaiannya sangat lusuh mungkin ia bisa dianggap pengimis atau semacamnya.

__ADS_1


Tak jauh dari sana, tampak tengah berdiri seorang gadis yang sepertinya seumuran dengannya terus menatap kearahnya. Ia sama sekali tidak menghampiri lian dan hanya terdiam melihat pria tersebut dari kejauhan.


Merasa lebih baik, lian kembali bangkit dan berjalan meninggalkan tempat tersebut. Tak disangka seiring langkah kaki lian diikuti oleh gadis tersebut.


__ADS_2