Life In The Sky

Life In The Sky
24


__ADS_3

Andre memang tak mengerti mengapa marsya menangis seperti ini, ia tak ingin bertanya lebih lanjut. Menghapus air mata yang menetes deras dari pipi wanita dihadapannya dengan kasih, walaupun itu tak mengurangi tangisannya.


Pada akhirnya, mereka tidak melakukan apa yang ingin mereka ingin lakukan tadi. Pagi itu rasanya hancur, pertemuan sekian kalinya dengan orang yang amat dikasihi nerujung menyakitkan.


Awan mendung menandakan langit mungkin saja galau, dan meneteskan air dari cawan besarnya turun membasahi bumi.


Marsya berlari keluar, merentangkan kedua tangannya kelangit dengan memejamkan mata sama halnya yang pernah dilakukan lian untuknya waktu itu. Sahabatnya hanya memperhatikan dari teras tak berani mengganggunya, dengan tatapan sedih dan bingung tentunya melihat tingkahnya yang tiba-tiba saja berubah.


Sekitar 1 jam lamanya marsya melakukannya, tubuh wanita ini sudah sangat lemas, kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya lagi dan akhirnya terjatuh pingsan ketanah becek.


Segera andre mengangkat tubuh lemah marsya kembali kedalam rumahnya, menidurkan marsya dikasur empuk milik wanita tersebut. Andre juga menelfon seseorang meminta orang tersebut untuk segera datang kesana.


Marsya terbangun, melihat ke arah sekitar yang tampak sangat asing, bukan kamar rumah sakit apalagi kamarnya, dimana sebenarnya dia?


Tidak ada seorangpun yang bisa menjawab pertanyaannya karena tidak ada yang bisa ditanya juga.


Dengan susah payah marsya memberanikan diri untuk menjelajahi tempat tersebut, dan benar saja ia sama sekali tak mengenal tempat itu, segala interiornya berbeda dengan miliknya dirumah yang sama hanyalah tempat tersebut digunakan sebagai tempat tidur.


Sekeliling kamar tersebut penuh dengan segala obat-obatan yang tidak diketahuinya, maklum bukan ahlinya sihh jadi gak tau.


Seseorang membuka pintu, ia membawa nakas ditangannya. Dengan balutan celemek melekat ditubuh wanita tersebut, dengan wajah ramah dan senyum hangat hervi memberikan marsya semangkuk bubur nasi yang ia buat sendiri.


Marsya tidak segera menyentuh mangkuk pemberian wanita tersebut, ia jauh lebih memilih duduk kembali disudut ranjang dan mulai bertanya mengapa dirinya bisa berada ditempat hervi?.


"andre yang membawamu kemari, dia sangat khawatir padamu sampai wajahnya sama pucatnya denganmu" ucap hervi menjelaskan.


Marsya mengangguk mengerti, andre sudah pernah melihatnya dirinya tak sadarkan diri dirumah sakit cukup lama, sudah sewajarnya jika dia seperti ini.


hervi meninggalkan kamar tersebut digantikan dengan andre yang langsung memeluk sahabatnya, ia tak sanggup bila harus melihat marsya tak sadarkan diri lagi, untung marsya segera bangun jika tidak maka ia tak tau harus apa.


Marsya mulai menceritakan kepada andre mengenai seseorang yang sama persis dengan lian, tidak ada yang terlewat sama sekali walaupun hanya wajah saja yang sama tetapi perilaku dan tindakan yang mereka lakukan sangatlah berbeda.

__ADS_1


Bahkan kebersamaannya dengan hervi, tak tertinggal oleh marsya untuk diceritakan. Raut wajah andre sudah sangat bisa ditebak oleh marsya, ia sangat terkejut mendengarnya, tapi mengapa ada yang aneh yakni wajahnya berubah pucat mungkin efek takut tadi.


"mungkin kembarannya" ucap andre padanya.


"hah? emang lian punya saudara kembar?" tanya marsya terkejut, ia tidak tau bahwa lian memiliki saudara kembar selama ini.


"ya enggaklah, lian itu anak tunggal mana mungkin punya saudara kembar" ujar andre membangkitkan emosi marsya.


Ia audah sangat percaya dengan kata-kata yang dilontarkan andre, ehh taunya malah dibohongi. Marsya memukul keras tangan andre, malahan dibilang gak sakit dan minta diulang pukulannya, kan bikin tambah emosi, andre tertawa melihat raut wajah marsya yang kesal.


"bukannya hervi adalah modelku, kenapa dia memiliki klinik?" tanya marsya yang bingung kepada andre, sebenarnya tempat itu adalah klinik ayah hervi bukan milik hervi jelas andre.


Marsya mengangguk mengerti, yang tidak dimengerti marsya ialah sejak kapan andre mengenal wanita tersebut.


Keduanya meninggalkan tempat tersebut setelah berpamitan kepada keluarga hervi, dengan ramah ayah hervi memberi bungkusan obat kepada marsya untuk diminumnya. Bahkan ada obat anti depresi didalamnya, mengapa setiap dokter yang menanganinya pasti akan memberi obat anti depresi?.


Sudah tiga tahun, marsya harus meminum obat tersebut, mungkin dia memang betul sangat depresi.


Pria tersebut memutar kepalanya dan tersenyum, ia menghampiri andre dan memeluknya. "kenapa kamu tidak pernah mengunjungiku? aku hampir tak mengenalmu tau" ucapnya.


"sudah dua tahun aku sadar dan kau hanya melihatku saat aku masih terbaring dirumah sakit, setelah itu kau pergi ke indonesia sampai sekarang, sepupu macam apa kamu hah?" kesal rafli padanya.


"ayolah, bukankah kita selalu video call saat weekend... bagaimana kamu tak mengenaliku coba" andre membela dirinya.


Tentu saja berbedalah, itu hanya sebuah pantulan diri dari kamera. Ia hanya sekali melihat andre saat ia tersadar dari koma setelah setahun, dan baru kembali melihatnya sekarang.


Akhirnya andre dan rafli melakukan sesuatu hal untuk temu-kangen mereka.


Keduanya bertanding game, sampai akhirnya rafli yang memenangkannya.


"gue cuma kasian ama lu, kan lu baru balik ke indo setelah tiga tahun" elak andre yang membela dirinya dari kekalahan telak.

__ADS_1


"heleh.. masa ngalah sampe 2kali, ngeles aja lu kayak tukang bajay" ledek rafli.


Tak terima dengan perkataan sepupunya andre menghajarnya dengan bantal, dan terjadilah peristiwa perang bantal diantara keduanya.


Waktu terhabiskan begitu saja, keduanya tampak lelah sangat lelah sampai rebahan diatas kasur yang sudah seperti kapal tetanic tenggelam kedasar lautan terdalam.


Rafli menceritakan tentang marsya yang salah mengira dirinya sebagai orang lain, bagaimana mungkin ia bisa berganti nama? dan lagi dia sama sekali tidak mengetahui siapa perempuan tersebut, apa karena luka dikepalanya?.


Andre sudah tidak lagi terkejut, tetapi ia berpura pura memasang raut wajah kaget. Sejujurnya selama ini ia tak mau membohongi kedua manusia yang ia sayangi, tapi ini untuk kebaikan bersama.


Andre menghela napas pendek, ia kembali berbohong untuk sekian kalinya mengatakan bahwa mungkin saja wanita itu sangat kehilangan orang yang dikasihinya. Bersamaan dengan itu rafli muncul dihadapannya menggantikan prianya, tidak sepenuhnya andre berbohong kan.


Rafli hanya mengangguk, dan mulai menimpali dengan mengatakan pantas saja setiap melihat wanita tersebut ia dapat merasakan aura kesedihan dimatanya.


"ada hal aneh yang ingin aku katakan padamu" ucap rafli tiba-tiba.


"apa?" tanya andre sambil membenarkan posisi duduknya, menjadi lebih nyaman lagi.


"ehmmm...... gimana ya ngomongnya... ok gini ada yang buat gue terheran heran..." rafli menghentikan bicaranya, membuat andre sedikit emosi.


"iya iya.... gue heran kenapa setiap gue liat sorot matanya yang sedih itu.. kok gue rasanya ikut sedih kayak gimana ya? kayak pingin minta maaf gitu, terus pingin buat dia tersenyum tapi bukan senyuman palsu kayak yang dia lakuin saat ini" ucapnya.


"yaiyalah... kan yang ilang ingatan lu bukan hati lu" gumam andre.


hah? apa?


"enggak maksud gue senyum palsu gimana? kok lu bisa tau dia senyumnya palsu gitu"


"keliatan lah... dia itu senyumnya terpaksa gitu dan lagi yaa........" belum selesai bicara, suara teriakan terdengar.


"ANDRE..... kenapa?" isak tangis marsya tak dapat dibendung lagi, ia berlari keluar.

__ADS_1


__ADS_2