Life In The Sky

Life In The Sky
17


__ADS_3

Sepanjang hari ini yang dilakukan lian hanyalah terbaring dikasur, ingin rasanya keluar dari tempat itu sayangnya ia selalu terhalang oleh gadis yang bernama marsya, yang benar-benar tak mau ia beranjak dari kasur yang membosankan tersebut.


Sudah sejam kepergian marsya, gadis itu tak kunjung kembali tidak tahu hilang entah kemana lagi itu anak. Lian yang sudah amat sangat kehausan memberanikan dirinya beranjak dari kasur sebab air yang disediakan marsya sebelum pergi sudah habis sampai ditetesan terakhir.


Setelah meneguk beberapa kali air minumnya, lian langsung masuk kekamar mandi, karena ia sudah sangat gerah , ia belum mandi sejak tadi pagi. Hari sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, tapi gadis itu belum terlihat batang hidungnya.


Siapa yang tidak akan khawatir?, sudah berjam-jam pergi lamanya tapi ia tidak kunjung kembali. Pria tersebut takut jika hari sudah semakin gelap dan marsya belum kembali mungkin saja gadis tersebut akan tersesat, itulah mengapa ia langsung dengan cepat mengambil jaketnya untuk mencari marsya yang belum kembali.


Cukup lama ia mencari, ehh ternyata yang dicari enak-enakan makan sama orang asing direstoran hotel tempat mereka menginap. Lupa apa gimana sama orang yang seharian gak boleh kemana-mana hanya tidur di kasur sepanjang hari?


Marsya tampak sangat senang bahkan sesekali ia tertawa bersama laki-laki tersebut, hati lian sangat hancur melihatnya entah perasaan apa yang merasukinya. Ini adalah kali pertamanya merasakan hal semacam ini dalam hidupnya, apa ia benar-benar sudah jatuh hati pada gadis manja itu? ia juga tidak tahu.


Berhubung jarak mereka hanya berkisar 200 meter, cukup terlihat oleh marsya saat ia menoleh ke arah tempat lian berdiri saat ini. seketika gadis tersebut memalingkan wajahnya dengan cepat, karena ia benar-benar lupa akan tawanannya hari ini. Ia mengatakan agar lian tidak boleh kemanapun karena sedang sakit, apa ia sudah pergi terlalu lama sehingga dicari yaa?


Karena marsya sudah melihatnya, lian memberanikan diri menghampiri mereka. "Siapa?" tanya pria yang tak diketahui namanya tersebut.


Tidak menjawab pertanyaan tersebut, lian menyuruh marsya untuk berdiri spontan marsya mengikuti arahan yang diberikan oleh lian padanya. Ia langsung mengambil tangan marsya dan ingin segera meninggalkan pria asing tersebut.


Na'asnya tangan marsya juga ditarik oleh pria asing tersebut , ia tak tahu kenapa marsya mendadak harus pergi bersama orang asing, orang asing? pikir lian, bukankah dia orang asingnya. "saya suaminya, kamu siapa?" ketus lian, marsya yang kaget hanya diam mematung ia tau bahwa ia salah meninggalkan lian sendirian dikamar yang sudah pasti kelaparan juga disana.


Melihat marsya yang tak menyangkal sama sekali, akhirnya pria itu melepaskan tangan marsya. "pantas saja suami kamu marah, kamu sudah pergi berjam-jam" ia mencoba tertawa kecil. Hah berjam-jam? marsya mengambil hapenya, dan ternyata itu sudah low bat bahkan sudah mati.


Lian langsung saja menarik marsya pergi menjauh dari tempat itu. "dia sudah punya suami toh" gumam pria tersebut.


"kau pasti belum makan, haruskah kita..." belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, lian yang masih menarik tangan marsya menghampiri meja kasir mengambil makanan pesanannya yang ia pikir nanti akan dimakan bersama marsya " ohh udah beli" gumam marsya.


Marsya sudah seperti hewan peliharaan saja ditarik yang ditarik tali pengikatnya oleh majikannya. "masuk" satu kata pasti yang diketahui marsya saat mendengar suara lian saat ini yaitu marah, yaa lian pasti marah padanya.

__ADS_1


lian melajukan mobilnya tanpa bicara sepatah kata apapun, marsya juga juga hanya bisa menunduk tak ingin memulai kata dengan lian karena ketakutan.


Hari sudah hampir gelap ketika mereka sampai, dipantai yang lumayan jauh dari tempat wisata pantai yang sebelumnya, tapi disini sangat lebih indah ketimbang disana “elo pernah bilang pengen liat sunset kan, bakal gue kabulin” ucap lian yang sekarang sudah menatap lekat wajah cantik marsya yang sedari tadi diam seribu patung.


"elo gak marah?" tanya marsya takut, lian menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia menangkap wajah marsya dengan kedua tangannya, membungkukkan badannya sampai sejajar wajahnya dengan wajah marsya. "jangan katakan, aku tak akan pernah marah pada kamu" hah kenapa tiba-tiba dia berkata aku kamu.


“ini akan menjadi liburan yang paling menyenangkan” senyum marsya.


Cahaya matahari yang perlahan menghilang membuat suasana indah bagi mereka yang sedang berada disana, indah sekali pemandangan disana bersama melihat keindahan ciptaan tuhan yang satu ini.


Lian mengajak marsya kepantai dekat sana, pantai yang begitu indah menyilaukan mata dengan pasir putih serta laut dan ombak yang begitu cantik dimata marsya walaupun sudah hampir gelap.


“jarang orang tau tempat ini, paling yang lokal yang dateng jadi gak akan berisik” seru lian, ia merentangkan kedua tangannya menghirup dalam-dalam udara yang segar tersebut diikuti dengan marsya.


“sebenarnya gue gak suka air karena gue gak bisa berenang” seru marsya.


“kalo gitu kita ganti tempat” lian menarik lengan marsya untuk meninggalkan tempat itu, tapi marsya melepasnya “bukan berarti gue gak suka laut suka banget malah” sahut marsya membuat keduanya tersenyum.


Mereka menatap jajaran bintang di malam hari, “menurut lo kenapa ada bintang dimana hari, jelas-jelas orang belum tentu akan ngeliat dia karena tidur?” tanya marsya.


“menurut gue langit itu menandakan sebuah kehidupan” jawab lian.


“maksudnya?” tanya marsya bingung


“coba aja kenapa bintang mau menghiasi malam yang gelap disaat orang jarang akan melihatnya, itu karena dia menginginkan sebuah harapan dari setiap kegelapan yang ada pada kehidupan dan tak peduli orang tersebut akan melihatnya atau tidak...” jawab lian panjang lebar.


“karena dia sudah senang dengan apa yang dia lakuin walau jika tidak di perhatikan orang tersebut” lanjutnya sambil menatap mata marsya sebelum beralih lagi kebintang.

__ADS_1


“jadi gimana kalo langit malam tanpa bintang?” tanya marsya.


“bukan karena dia putus asa untuk menghiasi malam hanya saja dia benar-benar tertutup hingga tak terlihat dan bukan berarti dia tidak ada” jawab liab sambil tersenyum kearah marsya.


“seru juga, seperti langit bisa menggambarkan kehidupan kita yang manusia” seru marsya lagi ia sangat senang.


“fajar menandakan kita untuk beraktivitas, untuk kita bisa menjalani kehidupan dihari itu senang maupun susah nantinya” ujar lian.


“saat matahari bersinar terang, menandakan kebahagiaan” lanjut marsya.


“langit senja menandakan ketenangan dan malam kesunyian” ucap lian.


“mendung sedih, hujan menangis,gimana sama pesawat yang meninggalkan jejak dilangit?” tanya marsya.


“jejak kehidupan..”jawab lian sambil memperhatikan marsya “kita pasti akan meninggalkan jejak itu pada seseorang entah itu baik ataupun buruk”


Malam itu adalah malam yang sangat panjang bagi mereka, dan paginya mereka kembali kerumah. Lian mengantar marsya pulang kerumah, dan seperti biasa selesai berpamitan kepada orang tua marsya ia pergi dari sana dan pulang.


Andre menghampiri lian yang tengah duduk memegang aksesoris hape yang diberikan marsya kepadanya semalam, lebih tepatnya ia yang memberikannya sebagai hadiah waktu itu berhubung itu ada dua marsya memberikannya satu.


“elo gak punya hape aja sok-sokan beli aksesoris hape” andre merebut benda itu dari tangan lian, pria tersebut langsung menatapnya tajam ia pun mengembalikannya.


“ee.. gak asyik lo..” ujar andre langsung duduk disamping lian yang masih memperhatikan benda kecil tersebut.


Lian memasukkan kembali benda kecil itu kedalam sakunya dan membuka laptop mengetik sesuatu.


“ngapain masuk kamar gue?” tanya lian.

__ADS_1


“gak papa lagian tante aja gak marah kok” jawabnya sambil cengengesan.


“hufth................”


__ADS_2