
Andre terdiam seribu bahasa, ia tak sanggup untuk mengatakannya kelanjutan dari kejadian tersebut. Papa rafli menghela nafas panjang, menutup mata sebentar untuk menenangkan dirinya.
Pria paruh baya tersebut akhirnya angkat bicara, "rafli selesai operasi 2 jam setelah kamu, operasinya berjalan dengan lancar.... sayangnya" lagi-lagi terhenti, kali ini ia menghela napas sampai tiga kali sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.
"sayangnya, dokter yang menangani rafli tidak bisa yakin akan kesembuhan dirinya. Meskipun operasi berjalan dengan lancar kemungkinan terbesar adalah ia akan koma dan tidak diketahui kapan akan sadar" mama dari rafli sudah mulai menitikkan air matanya, luka lama harus di gores kembali.
"saat itu pikiran kita semua kacau, kami bingung harus bagaimana.... jauh dari itu kamu masih dalam keadaan yang tidak baik juga" sahut mama padanya.
Yang bisa dilakukan marsya hanyalah menggeleng kepalanya tak percaya, ia benar-benar tidak habis pikir mengapa semua merahasiakan ini padanya.
papa rafli mulai melanjutkan ceritanya yang sempat terhenti, "beberapa jam setelah itu, keluarga kami dari london menelfon dan mengatakan agar membawa rafli kesana untuk perawatan. Disana selain peralatan medis yang lengkap juga dokter berbakat, sehingga kita semua sepakat akan membawa rafli kesana hari itu juga"
Marsya kembali menggeleng kepalanya tak percaya, itu semua bukanlah alasan untuk menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Semua pengakuan yang diterimanya saat ini, tidak bisa dipercaya. Jika hanya itu yang terjadi, mengapa harus merahasiakan sampai tiga tahun lebih.
Papa mendekati anak semata wayangnya, membelai sayang rambut marsya "kami tidak ingin menyakitimu nak" ujarnya.
"tapi yang kalian lakukan malah membuat aku sakit.... hikss.... aku ingin mempercayai tapi tidak ada uang bisa dipercaya hiksss....." marsya menutup kedua matanya menyembunyikan air mata yang terus menetes dengan kedua tangannya.
Kelimanya menggelengkan kepala serentak, sebenarnya mereka bertujuan akan memberitahukan semuanya jika marsya sudah merasa baikan dan rafli sudah dalam keadaan stabil. Sayang, itu semua tidak bisa terjadi karena marsya bukannya membaik malah tampak tidak ada perubahan begitu pula dengan rafli yang masih terbaring koma.
"gue selama dua tahun ninggalin lo, gue ngerawat lian... jujur.... gue aja gak yakin dia bakal bangun apa enggak... tapi akhirnya ia sadar tapi ingatannya masih belum bisa dibawa bareng sama dia alias dia amnesia" andre tak sanggup lagi-lagi ia menutup mata untuk menenangkan diri.
Papa mengatakan bahwasannya mereka semua sudah mencoba membuat rafli mengingat semuanya, sayangnya setiap kali jika diingatkan mengenai marsya pria tersebut akan merasakan sakit kepala yang begitu dahsyat, itulah mengapa mereka menghentikan ingatan rafli.
__ADS_1
Marsya mulai memahami keadaannya sekarang, ia tak lagi mengungkit penjelasan dari semuanya. Wanita tersebut meminta ke-4 orang tua untuk membiarkannya beristirahat karena ia terlalu lelah mendengar pengakuan yang begitu panjang.
Setelah mengantar para orang tua ke depan pintu, andre menghampiri marsya lagi, "apa yang perlu gue jelasin lagi?" tanyanya dengan nada serius, pria tersebut tau, apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
Marsya tersenyum tipis, meminta andre mengambilkannya air minum sebelum pria itu diperbolehkan duduk. Suasana kamar tersebut seketika menjadi mencengangkan, marsya tampak serius begitu pula denga andre.
Dengan lemahnya, ia meminta penjelasan yang belum diungkapkan pada dirinya dari para orangtua yang barusan saja pergi.
"bukan polisi tapi hervi adalah orang yang menangkap dini" satu kalimat yang membuat marsya sangat terkejut mendengarnya. Hervi telah menemukan bukti yang mengejutkan dari seorang dini.
Setelah memberikan semua bukti pada polisi, entah darimana ia mengetahui rumah sakit tempat lian dirawat. Wanita tersebut membantu menjaga lian selama dua tahun pria tersebut koma, sejujurnya andre merasa aneh dan bingung mengapa wanita tersebut bisa ada dalam kehidupan mereka tanpa permisi terlebih dahulu.
"bukannya om alex gak suka yaa ada orang gak dikenal gitu?" itulah nya membuat andre selama ini dilanda kebingungan, anehnya papa dari lian merasa biasa saja dengan kehadiran hervi yang masuk kedalam kehidupan mereka tanpa curiga atau apapun itu.
"apa yang terjadi?" tanya nya penasaran saking bingungnya kepada semuanya.
"tidak ada"
papa marsya malah berbalik bertanya mengapa ia berada di rumah sakit ini, apa ada sesuatu yang terjadi? alih-alih mebjawab rafli hanya tersenyum tipis padanya.
"lu ngapa disini?" terdengar suara andre dari balik dinding dekat sana, dan pertanyaan itu ditujukan pada rafli.
"mau ketemu sama temen yang baru aja gue anter kesini" jawabnya enteng.
__ADS_1
"temen? kenal aja kagak lu... namanya aja emang lu tau?" tentu saja rafli mengetahui jika hanya sekadar nama, ia melihat jelas diranjang marsya tertulis jelas namanya.
"jadi papa mama sama om dan tante jenguk marsya yaa?" semua mengangguk dan tampak terkejut.
"jadi om sama tante orangtua dari tu cewek aneh ya" tak terima dengan sebutan aneh yang ditujukan pada anaknya, mama marsya memukul pelan bahu pria tersebut dan dihujani beberapa omelan.
Setelah cukup berbincang, mereka yang tadi ingin pulang akhirnya melangkah keluar dari rumah sakit meninggalkan andre dan rafli yang masih disana.
Disaat keduanya masuk kekamar rawat marsya, wanita tersebut sudah membereskan semua barangnya dan ingin segera pergi dari sana, ia sudah tidak betah berlama-lama berada dirumah sakit.
"tenang gue sakitnya bentaran kok, paling beberapa jam dah baikan" jawabnya ketika ditanya mengapa ia harus pulang secepat ini.
Andre mengajukan diri untuk mengurusi izin kepulangan marsya sedangkan rafli harus kembali ke parkiran menyiapkan mobil untuk mereka bertiga. Marsya tidak diizinkan pergi sampai semuanya sudah dilakukan oleh mereka berdua.
Andre langsung pergi memanggil taksi setelah sesampainya dirumah marsya, ia hanya ingin melihat sahabatnya selamat sampai tujuan dan pergi karena masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan selain menjaga marsya.
Raja siang sudah semakin menghilang, berganti kekuasaan dengan sang putri malam yang cantik. Malam semakin larut tetapi rafli alih-alih beranjak pulang, pria tersebut asyik mengawasi marsya yang berjalan bolak-balik didapur sedang memasak sesuatu.
Perhatian rafli teralihkan ketika marsya tak sengaja menyentuh panci yang panas, dengan cepat ia loncat dari tempat duduknya. Rafli mengambil tangan marsya yang terluka, meniupnya lembut.
Marsya mengingat perkataan andre padanya saat dirumah sakit sore ini. "kami semua pengen dia inget ama lu.... tapi gimana?, rasa sakitnya bisa membuatnya berulang kali pingsan... sya gue sayang sama sepupu gue... dan gue tau lu bakal sakit tapi gue mohon sama lu jangan sampe buat dia sakit lagi.... lebih baik dia tidak mengingat dari pada harus merasakan sakit seperti dineraka"
Marsya menitikkan air mata mengingat itu, meskipun lian tidak akan pernah kembali setidaknya ia masih izinkan bersama pria yang telah mengubah hidupnya tersebut. Air mata marsya jatuh tepat dipipi rafli, setelah menyekanya pria tersebut hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya membatu marsya membawa semua makanan yang telah dimasak wanita tersebut ke atap.
__ADS_1