
Andre merebahkan dirinya ke sofa dekat kasurnya dengan memandangi sebuah foto yang ada ditangannya dengan intens, "siapa yang bisa gue percaya sekarang?" ini membuatnya sangat bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
Wajah hervi terpampang difoto tersebut, bahaya apa yang akan terjadi dari seorang wanita tak berdaya tersebut dan memang tidak bisa tertipu dengan sebuah penampilan luarnya saja.
Sudah cukup ia tertipu dengan wajah polos dari dini, kini ia tak mau tertipu lagi untuk kedua kalinya dari hervi sehingga ia harus lebih berwaspada.
Dihalte tempat pemberhentian marsya masih saja dikuti oleh rafli yang berjalan dibelakangnya, hingga marsya tepat berada di dekat rumahnya.
Wanita tersebut yang sudah geram membalikkan tubuhnya, menatap kearah rafli dengan penuh amarah. Bagaimana ia bisa melupakan pria tersebut jika rafli terus berada didekatnya seperti ini.
"lu bisa gak sih kagak ikutin gue terus?" geram marsya dengan tatapan tajam kearah rafli.
"sesampai elu masuk kedalam rumah" ucapnya singkat padat dan jelas sama halnya yang sering dilakukan oleh lian dulu, jawaban rafli memang membuat marsya mengingat kembali dimana dengannya dan lian dulu.
Berusaha untuk tidak mengingat, marsya langsung kemali mengajukan pertanyaan. "ehh kan lu pengusaha muda ya, bukannya kerja juga malah ngurusin urusan orang" katanya lagi.
"gue punya asisten yang bisa dimanfaatkan" mendengar itu, marsya berbalik tidak ingin berdebat lagi karena ia tahu ada 1001 cara untuk rafli menjawab dan memutar balikkan perkataan marsya tersebut.
Tampak seorang wanita tinggi berdiri tepat didepan rumah marsya, seperti seseorang yang tengah menunggu kepulangan dari keduanya. Hervi seketika berdiri dari duduknya ketika melihat keduanya berjalan mendekati rumah tersebut, berjalan cepat dan sedikit berlari menghampiri rafli.
"raf kamu ngapain disini? ayuk kita pulang" tangannya dengan cepat menarik tangan rafli untuk segera pergi dari sana.
Marsya yang melihat itu semua merasa aneh dan berpikir hervi sengaja menjauhkannya dengan rafli, jelas sekali raut wajah wanita tersebut seperti minta ajak perang saja bahkan sangat tampak di sorot matanya.
Berusaha untuk mengabaikannya, marsya langsung saja masuk kedalam rumah dan tak mempedulikan keduanya yang sudah mulai menjauh dari tempatnya.
Hervi menarik tangan rafli dengan sangat kuat dan erat seperti tidak akan melepaskan nya saja, merasa ada yang tidak beres dengan apa yang dilakukan oleh wanita didepannya tersebut dengan mudahnya rafli melepaskan diri dari hervi.
__ADS_1
"bukannya kamu harusnya ada di London ya sekarang kenapa ada disini? " rafli menatapnya tetapi hervi hanya mengalihkan pandangannya sebelum kembali menatap rafli dengan tatapan seperti akan memakan rafli saat itu juga.
Pandangan yang sangat sulit diartikan oleh seorang rafli, tampak sekali dari mimik wajahnya kebingungan.
"terus kalo aku ada di London sekarang kamu bakal sama cewek itu hah" ucap hervi dengan sedikit keras.
"iya"
Jawaban yang sama sekali tidak terduga dari rafli, tercengang dengan perkataan yang didengarnya hervi membalikkan badan dan pergi dari sana. Air mata wanita tersebut jatuh begitu saja, ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar dari rafli tersebut.
Masih saja ditempat yang sama, rafli yang bingung hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Apa ia melakukan suatu kesalahan? dan mengapa hervi harus begitu marah padanya seperti itu?.
Meskipun ia masih bingung, pria tersebut mengejar hervi yang sudah lumayan jauh dari dirinya. Alangkah terkejutnya rafli mendapati wanita dihadapannya menangis sehingga dengan cepat ia mengambil sapu tangan yang ada disaku celananya dan memberikannya kepada hervi yang menangis.
"apa aku melakukan kesalahan? mengapa kamu menangis?" tanyanya yang masih saja bingung dengan tindakan yang diberikan kepadanya.
terlukis sebuah senyum sinis darinya, perlahan tangan wanita tersebut membelai wajah tampan milik rafli. "apa yang kau lakukan?" tanya rafli yang sekali lagi bingung dengan tindakan yang hervi berikan padanya.
"sepertinya kamu tidak akan mengetahui apapun jika kamu selalu bertindak tak peka seperti ini" katanya sebelum mengembalikan sapu tangan milik rafli dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan rafli yang begitu tampak bingung dan hanya bisa berdiri mematung ditempat.
"What does it mean?"
John dan istrinya tak hanya itu alex dan istrinya pun turut serta dalam perbincang di teras rumah John papa marsya. "bagaimana apa perlu kita ungkapkan hal yang sebenarnya kepada anak-anak?" ucap mama rafli.
"untuk sekarang sepertinya tidak" ujar John.
Setelah lama berdiskusi, akhirnya keempatnya memutuskan untuk kembali merahasiakan kebenaran sekali lagi. Merekapun kembali berbicara tentang bisnis yang dijalankan oleh masing-masing.
__ADS_1
Disisi lain andre yang merasa jenuh dirumah hanya bisa bermain game di applikasi miliknya, kebosanan semakin melanda ketika ia sudah beberapa kali memenangkan permainan tersebut.
Dianya sendiri lah yang masih menganggur tak memiliki pekerjaan membuat jiwa andre penuh dengan waktu luang yang sangat banyak terkadang sangat melelahkan, sampai sebuah pesan mengejutkan masuk dan membuat andre beranjak dari tempatnya segera bergegas pergi.
Dicafe, andre tampak menunggu seseorang yang begitu lama datang sekitar satu jam. "dasar gak ontime banget ini orang"
langkah kaki berjalan mendekati meja andre, "gue punya kerjaan, gak kayak lu pengangguran yaa" ucap seseorang kepadanya.
Mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang berbicara padanya tersebut, "gue bentar lagi bakal melanjutkan bisnis orang tua jadi gak perlu bersusah payah kayak lu si miskin"
"beneran gak tau diri lu" ucap arkan dan langsung saja menduduki kursi dihadapan andre yang tak terima dengan perkataannya.
Setelah memanggil pelayan untuk memesan makanan dan dengan pintarnya andre ia berkata bahwa yang akan membayar semua pesanan adalah arkan karena ia kan masih menganggur dan tak memiliki uang sepeserpun.
Pria di hadapannya hanya memutarkan kedua bola matanya jengah melihat kelakuan musuhnya tersebut.
"lu sebenarnya ngapain sihh nyuruh gue kesini... gak guna banget"
"habis dulu itu makanan yang ada dimulut lu, bisa bermasalah kalo ntar tersedak kayak anak kecil aja" alih-alih menjawab arkan malah mengkritiknya.
"hehehe ia deh pak dokter yang paling bener sedunia" ucap andre sinis.
"lu itu niat muji atau kagak sih"
"kagak gue niatnya nyindir, pede banget lu mau gue puji... mungkin nunggu lu di pecat dari rumah sakit kali ya bakal gue puji" tawanya terpingkal-pingkal hingga ia akhirnya benar-benar tersedak dan hal itu membuat arkan menahan tawanya.
"arrggh kena karma gue" ucap andre ketika sudah merasa baikan, arkan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah andre yang seperti anak-anak tersebut.
__ADS_1
Setelah setelah makan terselesaikan, raut wajah keduanya berubah menjadi serius. "sekarang katakan apa yang elu ketahui! "