Life In The Sky

Life In The Sky
8


__ADS_3

Gadis tersebut mendongkakkan kepalanya ingin melihat siapa yang memberinya sebuah sapu tangan dan ternyata lian lah yang memberi sapu tangan tersebut.


Marsya mengambil sapu tangan tersebut dari lian dan mulai menghapus air matanya.


Marsya mulai bercerita bahwa ia sama sekali tidak seperti yang dikatakan semua orang tentangnya ia juga tak mau.


“bukan gue yang gak mau kuliah, gue itu udah mau kuliah yan... tapi gue itu disuruh papa...” ucap marsya masih sendu akibat menangis tadi.


“tapi... hiks..tapi...hiks... mereka bilang...”tangis marsya mulai lepas lagi.


lian hanya membelai rambut marsya pelan, bertujuan agar gadis tersebut tenang dan akhirnya marsya bisa menenangkan dirinya lagi.


“hapus air mata lu, jangan buang air mata lu sia-sia karena....” ucap lian belum selesai “akan ada dimana harus mengeluarkan air mata itu”ucap lian dan marsya bersamaan.


“iya gue tau kok” marsya menghapus kembali air matanya.


" yuk ikut gue" ajak lian menarik tangan marsya membawanya entah kemana.


" kemana? " tanya marsya


" udah ikut aja " balas lian, ia hanya terus menatap kedepan.


lian membawa marsya kesebuah taman kampus, memdudukkan marsya disalah satu bangku disana, pergi memetik bunga didekat mereka.


“liat cantikkan bunga ini” seru lian.


Marsya hanya mengangguk membenarkan, “tapi apa lu tau dia sebenarnya menangis?” ucap lian lagi.


Tentu saja marsya tidak tahu, ia kan tidak lihat kalau bunga cantik itu menangis. “ia terluka saat gue petik, tapi masih terlihat cantik” ucap lian lagi.


Oke, marsya tambah gak ngerti dengan apa yang dikatakan lian saat ini. “elu emang gak liat dia nangis, dan dia masih terlihat cantik nan indah” lian sekarang duduk di samping marsya.


“tau ahh, ngomong sama cowok dengan IQ tinggi kayak elu, pusing gue kalo mikirinnya” seru marsya. Gadis ini benar-benar tak tau apa maksud dari kata-kata pria disebelahnya tersebut.

__ADS_1


lian mengukir sebuah senyumannya pada gadis disampingnya tersebut tipis tapi sangat jelas membuat marsya menyadarinya.


“ihh elu senyum ya” sahutnya.


“enggak” elak lian, ia mengalihkan pandangannya dari marsya berusaha menutupi semuanya tapi sayangnya sudah diketahui gadis disampinnya tersebut.


“alah... itu tadi senyum” marsya menunjuk sudut-sudut bibir lian dengan senyum yang ikut melebar.


“enggak, udah. gue mau kekelas dulu, mau ikut? ” lian mengubah topik pembicaraan mereka.


“enggak males " tolak marsya "gak ada kelas gue lu aja sana” lanjutnya, dan lian pergi meninggalkan marsya ditaman sendirian.


Marsya membayangkan kejadian tadi membuatnya kembali bahagia, dan tak lagi memikirkan apa kata orang-orang diluar sana.


Sejak hari itu hubungan marsya dengan lian makin menjadi dekat, bahkan sampai mereka dikira pacaran sama orang - orang saking dekatnya, marsya sekarang sudah jarang bermain dengan andre seperti biasanya. Entah mengapa ia lebih merasa nyambung bahkan mulai paham dengan perilaku lian sekarang.


lian hanya akan terbuka pada seseorang yang benar-benar ia percaya, dan akan bersikap sangat dingin kepada seorang yang baru ia kenal, semua itu tidak diketahui marsya langsung dari lian melainkan lewat pelantara andre tentu saja.


Marsya memang tak bisa menghubungi lian lewat media sosial bahkan telepon yang memungkinkan ia susah dalam berhubungan dengan lian, tapi marsya sangat tau dimana ia bisa menemukan lian berada karena hanya ada beberapa tempat yang dikunjungi oleh lian memudahkan marsya mencarinya.


Disebuah perpustakaan lian seperti biasa sedang membaca sebuah buku tapi kali ini yang ia baca bukanlah buku pelajaran melaikan buku novel entah sejak kapan ia mulai membacanya. Mungkin sejak ia bergaul dengan marsya.


Marsya yang melihatnya diam-diam ingin mengagetkan lian , malah dikagetkan oleh lian sendiri “ngapain” satu kata yang membuat marsya kaget sebab pria tersebut mengetahui keberadaannya itu tidaklah asyik.


marsya yang sudah ketahuan oleh lian, ia mengaruk - garuk kepalanya yang tak gatal dan sambil menujukkan senyum sumeringahnya .


" lu lagi baca apa?" tanya marsya


" buku " singkat padat dan tidak jelas bagi marsya karena itu terlalu singkat menurutnya.


“ciee... bacaannya sekarang”senyum-senyum marsya melihat buku novelnya dipegang lian.


“penasaran aja”

__ADS_1


“penasaran apa penasaran hehmmm...” goda marsya.


“shutt.. diem ini perpus” lagi-lagi lian mencari alasan saat tidak bisa menjawab.


Marsya duduk didepan lian mulai membaca buku pelajaran yang diberikan pria tersebut padanya.


Sedangkan dia kembali membaca buku novel marsya ‘masih juga dibaca’ gumam marsya. lian yang Mendengarnya langsung menutup novelnya dan menatap layar laptop yang sedari tadi menyala dihadapannya, dan mulai mengetikkan sesuatu, dan marsya langsung tersenyum menahan tawa melihat itu semua.


Andre yang sedang bermain sendiri dikamarnya mendapat sebuah panggilan yang membuatnya berlari kencang menuruni tangga.


Ia menelusuri lorong rumah sakit dan berhenti disebuah kamar. Saat dibuka terlihat dini tengah berbaring lemas diranjang rumah sakit.


Seharian ini andre menemani kekasihnya dirumah sakit, menunggu dini siuman tetapi belum ada tanda-tanda bahwa wanita kecilnya akan siuman dengan cepat.


Seraya memegang lembut tangan kekasihnya ia sambil terus memajatkan doa untuk kesembuhan dini, hingga tak memikirkan kesehatannya karena sejak ia datang, andre sama sekali belum makan apapun.


Marsya yang baru saja mendapat kabar bahwa dini masuk rumah sakit ingin buru-buru pergi kerumah sakit menjenguknya, sayangnya ia dihalangi oleh lian.


“udah sore mending elu pulang, lagian dini masih belum siuman kan? Besok kan minggu kita jenguk bareng-bareng” ucap lian pada marsya.


“yaudah deh, tapi makan dulu ya...”seru marsya, lian mengiyakan.


“laper banget nih gue”


Marsya sampai rumah ketika matahari benar-benar sudah tenggelam dan tak terlihat lagi sekarang sudah digantikan oleh bulan yang menyinari gelapnya malam.


Setelah berpamitan dengan orang rumah, lian yang tadinya ingin pergi dihalang oleh papanya marsya.


“raf... mending kamu temenin om john nonton bola yuk” ajak papa marsya.


“iya om” tidak enak menolak lian hanya mengiyakan ajakan papa marsya.


Malam itu, malam yang panjang bagi lian dan om john, sampai sekitar pukul 02.00 WIB pagi mereka baru bisa pergi dari depan layar televisi.

__ADS_1


__ADS_2