Life In The Sky

Life In The Sky
32


__ADS_3

Setelah setelah makan terselesaikan, raut wajah keduanya berubah menjadi serius. "sekarang katakan apa yang elu ketahui! "


Arkan meletakkan sendoknya, menatap lekat wajah andre yang menatapnya dengan sangat serius. Tatapan mata yang seakan ingin membunuh arkan dengan sekali hantaman tajam. Seketika arkan tersenyum sebelum akhirnya ia tak dapat mengendalikan diri untuk tertawa.


Melihat itu membuat andre merasa aneh dan mencoba melihat apa yang salah dari dirinya, merasa tak ada yang salah dengan dirinya andre langsung memukul kepala arkan dengan keras dan mempertanyakan mengapa dia menertawakan dirinya.


"lu kalo makan kayak anak kecilnya... belepotan kemana-mana" kekehnya.


Dengan cepat andre mengelap sisa makanan yang menempel di wajahnya, dan kembali menatap tajam arkan yang seakan tak ingin memberitahukan sesuatu padanya.


"lu gak mau jelasin apa-apa kan? lu cuma mau buang-buang waktu gue kan? " ucapnya dan segera pergi meninggalkan arkan yang masih menatapnya.


"yang terlihat baik bukan berati selalu baik" ujar arkan dan segera pergi ke kasir untuk membayar tagihannya.


Andre mengejar arkan untuk mempertanyakan apa maksud dari pria tersebut, mengapa ia harus memberikan teka-teki seperti itu pada orang sebodoh andre yang pasti tidak akan mengetahui apa artinya. Andre yang sudah lelah mengejar malah tidak mendapatkan hasil apapun darinya.


Dokter pribadi masya ini pun tak menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh andre padanya, ia hanya ingin memberitahu hal itu saja pada pria yang sudah seperti juru bicara tersebut.


Marsya yang merasa lelah membaringkan tubuhnya disofa miliknya yang tak jauh dari dapur, menatap hangat foto di galeri hapenya. wajahnya bersama lian saat di atap gedung yang sudah menjadi rumah Marsya tersebut.


"kapan kamu akan kembali menjadi dirimu sendiri? aku lebih menyukai kau yang diam seribu bahasa ketimbang cerewet kayak sekarang" kekehnya... menggigit sudut bibirnya sendiri sembari membayangkan kejadian waktu itu.


[FLASHBACK ON]


Lian yang masih mengetik sesuatu di laptop miliknya harus mendapat gangguan dari Marsya yang sedang asyik memoyret dirinya, "bisakah kau diam?".

__ADS_1


" tidak aku tidak bisa diam... kalo aku diam itu artinya aku mati" jawabnya dengan masih memotret Lian dengan penuh semangat.


"dan lagi meskipun fisik ku diam... jantungku akan selalu berdetak, jika sampai diam maka kau tak akan melihat aku mengganggu kamu lagi" lanjut nya dengan terkekeh riang.


Lian menghela napas dan menutup laptopnya dengan keras, menatap tajam Marsya yang malah tersenyum tidak jelas dihadapannya, dia amat kesal dengan tingkah kekanakan dari Marsya tersebut. Bukannya merasa bersalah, wanita tersebut malah menunjukkan ekspresi wajah yang ia buat selucu dan seaneh mungkin di hadapan Lian sehingga membuat pria tersebut bertambah emosi dan ingin segera meninggalkan nya sendiri disana.


"ehh tunggu!... kenapa malah marah sihh kan aku cuma bercanda" ucapnya sambil ingin mencubit pipi Lian.


Tetapi sebelum berhasil melakukannya, Lian lebih dulu menghadang tangan Marsya dan langsung mencubit pipi Marsya dengan gemas. "kau tidak diizinkan, hanya aku!" ucapnya sambil mencubit.


Dengan cepat Marsya membalas pipi Lian dengan tangan kirinya "kau harus ingat tanganku bukan cuma satu" ia mencubit dengan sangat kuat membuat Lian merintih kesakitan.


Marsya menjulurkan lidahnya mengejek Lian dan segera mengeluarkan hapenya, "yukk foto buat mengenang pipi yang diblas-on alami ini" serunya sambil menekan tombol kamera disaat Lian tersenyum menatap Marsya yang begitu menggemaskan pikirnya.


[FLASBACK OFF]


dering hape Marsya berbunyi menandakan ada yang sedang menelfon nya, karena nomer tak dikenal ia tak ingin menjawabnya hanya membiarkannya saja berdering. Hingga si penelfon malah mengirimkan SMS padanya karena tidak dijawab sampai 3 kali tersebut.


'aku rafli... orang yang bersamamu hari ini' isi pesan darinya.


'bodoamat' jawab Marsya membalas pesan rafli dengan singkat padat dan jelas menurutnya dan langsung mematikan hapenya sebelum meletakkan di atas meja.


Beberapa hari telah berlalu, dengan selalu masuk pesan singkat dari rafli yang mengiriminya terus hampir setiap 3jam sekali tersebut.


'kau dimana? sepertinya aku melihatmu' kata rafli di pesan sinkatnya.

__ADS_1


'aku tidak ingin menjawab' ada apa dengan orang ini, mengapa ia sangat penasaran sekali dengan Marsya.


'mengapa?' tanyanya lagi... Marsya hampir dibuatnya kesal dengan pesan-pesan yang menurutnya sangat tidak mirip dengan sifat asli dari pria tersebut.


'mengapa kamu selalu melihatku didalam foto... ' membaca kalimat yang baru saja dikirimkan oleh rafli membuat Marsya tercengang saat membacanya.


'tapi sepertinya aku tidak pernah kesana... itu hanya dalam mimpiku' lagi-lagi Marsya sangat bingung ketika membacanya, apa maksud dari pria itu sebenarnya.


'aku melihat semuanya... aku dibelakangmu saat ini' setelah membaca pesan tersebut Marsya dengan cepat menoleh kebelakang tetapi tidak ada siapapun. Sesaat kembali menoleh kedepan, rafli yang sudah duduk manis dihadapannya tersebut tersenyum sangat manis dengan tatapan mata yang seakan tidak dapat lagi melihat hal lain selain wanita dihadapannya tersebut.


"kau tak harus melihat foto, kamu akan lebih bahagia jika melihat yang asli" ujarnya sambil mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan dan memmesan sesuatu untuk dimakan, tak lupa juga untuk menawarkan makanan apa yang akan dipesan oleh Marsya tersebut.


"andai saja yang asli bisa aku lihat... tak akan aku alihkan pandangan ini walau sedetik" jawab Marsya lesu, ia bahkan tak bisa membendung air matanya hingga menetes ke pipinya.


Rafli mengambil tisu yang ada dimeja, menghapus air mata Marsya dengan penuh kasih. "dia sangat mirip denganku... kau lihat aku saja".


Marsya menggeleng, meskipun ia tahu keduanya adalah orang yang sama tetapi orang yang ia rindukan bukanlah orang yang saat ini ada dihadapannya tersebut. " kau bukan dia".


Rafli mengeluarkan hapenya dari dalam saku, memotret dirinya sendiri dan mengambil hape yang masih berada di genggamana Marsya. Ia menunjukkan kedua foto tersebut dihadapan Marsya, sambil tersenyum ia mengatakan apapun yang diinginkan Marsya ia akan membantu nya... bukan karena wajah yang sama tetapi ia ingin melihat Marsya kembali tersenyum dengan alami tanpa buatan sama sekali.


Meskipun bisa dibilang tak sopan, tetapi rafli menggeser layar hape milik Marsya sampai dimana ada foto Marsya dengan Lian dan didalam foto tersebut Marsya tersenyum sangat indah.


"bisakah kau kembali seperti ini?" tanya rafli padanya, "kau tersenyum sangat cantik pada saat yang sama pria yang kau sukai tidak menunjukkan raut wajah apapun (datar)".


" kau tak perlu tahu apapun" Marsya mengambil paksa hape miliknya dan segera memasukkannya kedalam tas miliknya. Sedangkan rafli masih saja berbicara yang tidak tidak mengenai Lian.

__ADS_1


"bisakah kau diam?" seru Marsya karena sudah tak tahan lagi dengan semua perkataan rafli tersebut.


"apa yang kalian lakukan disini?" terdengar suara seseorang berbicara pada mereka.


__ADS_2