Life In The Sky

Life In The Sky
4


__ADS_3

Masrya sama sekali ingin tidak mempercayai andre bagaimana mau percaya, dia saja tidak pernah melihat batang hidung sepupu yang sangat asing tersebut. Bagaimana bisa mereka satu kampus?.


“iya tah, tapi kok gue gak pernah ngeliat dia dikampus ya? sedangkan lo tau gue kan” ucap marsya yang memang sangat terkenal dikampusnya walaupun ia tak pernah mau berteman dengan siapapun kecuali andre tetapi ia mengenal seluruh mahasiswa-mahasiswi dikampusnya kecuali rafli, yah paling tidak ia melihat pria tersebut berjalan disekitar kampus.


“tapi emang lo sering ke perpus?” tanya andre balik ke marsya. Marsya menjawab “enggak”.


“ sepupu gue itu cuma nongol di perpus paling pojok belakang, kalo gak ada diperpus ya dianya pasti di kelas lagi belajar” jelas andre mengenai sepupu misteriusnya.


“ohh” jawab marsya singkat toh sebenarnya ia lagi - lagi tidak paham akan maksud dari pria disampingnya tersebut.


Marsya saat ini sedang berada dikamarnya, menatap semua kado hadiah ulang tahunnya kemarin atau lebih tepatnya acara yang tak diinginkan ya?, membuka setiap kado yang ada. Hanya saja dari semua kado hadiah yang ia dapatkan tak ada yang ia menarik perhatiannya kecuali dua kado yang belum ia buka yaitu kado dari dini dan rafli yang ia masih tersimpan rapih di meja riasnya.


Disebuah perusahaan besar milik papanya marsya tersebut, papa yang sedang terang-terangan memuji anak semata wayangnya tersebut didepan kolega-kolega bisnisnya memuji-muji kecerdasan dari marsya. Mengatakan bahwa marsya sudah pintar berbisnis sejak kecil, ia sangat pandai karate yang dilakukan untuk menjaga dirinya jika saja ada orang jahat nantinya, walaupun begitu ia masih tetap sangat anggun, selain itu juga marsya sangat pandai bermain musik piano ataupun biola, dan kepintaran-kepintaran dari marsya lainnya.


Sedangkan yang jelas-jelas sedang dipuji dirumahnya apa yang ia lakukan, mengumpulkan semua pelayan-pelyannya termasuk para penjaga didepan. marsya menjual semua hadiah pestanya pada mereka dengan harga murah tentunya, sambil menduduki sebuah piano disana sambil memegang biola yang digunakannya sebagai tongkat untuk menunjuk barang sambil memberitahukan harga barang barang tersebut.

__ADS_1


Saat ini marsya mendapat uang yang sangat banyak dari hasil berjualan hadiah yang ditunjukkan untuknya, toh ya bakalan habis dalam waktu singkat sih uang tersebut.


Puas dengan hasil berjualan marsya kembali kekamarnya, ternyata ia masih sangat penasaran dengan yang namanya rafli si sepupu sahabatnya tersebut ini pun mulai mencari akun rafli dimedia sosialnya. Sekian jam yang ia butuhkan dan hasilnya nihil tidak ada satupun informasi mengenai pria satu ini di berbagai macam media sosial yang ia ketahui.


“mungkin gue kurang pinter kali ya?” tanya marsya pada diri sendiri dan mulai mencari lagi.


Lelah dengan pencariannya marsya mulai berpikir bahwa dia harus jadi hacker dulu biar pintar nemuin identitas dari pria bernama rafli tersebut, marsya harus giat nih buat belajar jadi hackernya. Marsya yang lelah merebahkan dirinya pada kasur empuknya ia sangat lelah akibat mencari informasi dari orang yang sia-sia.


Lagi asyik-asyiknya rebahan kok diganggu dengan adanya seorang yang mengetuk pintu kamarnya, membawakan makanan kecil untuk marsya sendiri. Dengan sigap marsya mengambil kembali hapenya sebelum mempersilahkan pelayannya masuk.


Gedebuck!!!


Setelah selesai membersihkan semua pelayannya pergi marsya yang kembali sendirian dikamar menatap layar hapenya, melihat kejadian awal tragedi tersebut dari dia memasang jebakan sampai pelayan itu mengenai jebakan yang ia buat.


Papa sudah kembali dari kantor, memanggil marsya saat sesampainya dirumah memang sudah menjadi kebiasaan papanya. Mendengar papanya memanggil marsya berlari dan “aarrgh” kaki marsya mengenai serpihan piring tadi sore yang ternyata masih tersisa di dekat ranjangnya.

__ADS_1


Marsya meringis kesakitan ia tak berani mengeluarkan serpihan piring yang masih menancap di telapak kakinya itu dan hanya berteriak meminta tolong. Papa masuk melihat darah bercucuran di kaki anak semata wayangnya.


Amarah papa memuncak melihat kesakitan yang dirasakan anaknya begitu saja, memanggil seluruh pelayan dirumahnya. Memarahi satu persatu pelayan dengan bengis. Marsya tiba-tiba saja teriak saat dokter mencabut serpihan kecil piringnya, membuat sang papa kembali fokus dengan marsya untuk menenangkan gadis kecilnya.


Alhasil ketiga pelayan yang tadi membersihkan pecahan piring tadi semuanya dipecat, sebelum papa kembali lagi fokus pada anaknya.


Setelah semuanya pergi dan hanya ada marsya dan papanya dikamar, kini marsya lah yang kena damprak oleh papanya, sebab semua ini adalah kejailan yang dibuat oleh marsya pada para pelayannya.


Marsya hanya menunduk takut, ini adalah kali pertama papa marah padanya. Dari tadi yang dilakukan papa hanya diam dan diam di ruang keluarga setelah puas memarahi anak semata wayangnya tersebut.


Keesokan paginya marsya yang ingin pergi kampus tak diizinkan oleh papanya dengan kakinya yang menjadi alasan oleh papanya.


Hah masa iya hanya luka sekecil ini ia tidak boleh kemana-mana, kenapa papa tiba-tiba menjadi sangat membosankan.


“pa masa gara-gara luka kecil kayak gini, marsya gak boleh masuk kuliah sih pah...” tentu saja marsya kesal dengan papa yang memutuskan hal tersebut dengan secara sepihak, hanya karena luka kecil ia ketinggalan materi kuliah. Apalagi hari ini ada pelajarannya rafli lagi dan ia sangat amat penasaran dengan pria aneh satu itu, tetapi apa yang terjadi sekarang ia harus berada dikamar yang kini berubah menjadi tempat yang sama membosankan dengan papanya.

__ADS_1


“semua pihak kampus sudah papa beritahukan jadi jangan bantah” seru papa yang menurut marsya tidak masuk akal jika ia tidak dipermasalahkan, mana ada yang karena luka kecil ditoleransi tidak masuk kuliah, hancur indonesia jika anak bangsa kalo semua orang tuanya kayak papa gini semua.


Tapi mau bagaimana lagi yang bisa dilakukan marsya hanya menurut apa yang diminta oleh papanya jika tidak, ia tak tau apa yang akan terjadi dikedepannya.


__ADS_2