Life In The Sky

Life In The Sky
30


__ADS_3

Setelah membuat marsya tenang, rafli pulang kerumahnya karena ini sudah sangat larut karena ia tidak mungkin menginap disana, apa kata orang nanti.


Matahari bersinar sangat terang menyilaukan mata andre yang tengah bermimpi sangat indah, cahayanya masuk melewati jendela yang tirainya sudah dengan sengaja mama rafli buka menyuruhnya untuk cepat bangun karena harus mengantar ia ke pasar untuk belanja.


"ihh tante suruh rafli aja... kan dia anak tante, andre masih ngantuk" sahutnya sambil kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Sebenarnya mama rafli ingin menyuruh anaknya sendiri, tetapi anak itu sudah menghilang sejak subuh tadi dan ia tak tahu kemana rafli pergi sepagi itu.


Setelah melaksanakan perintah dari tantenya, andre mampir ke sebuah tempat yang selama ini tidak pernah ingin ia datangi, tetapi lain hal dengan hari ini.


Pria tersebut memasuki kantor polisi dan bertujuan untuk menemui mantan kekasih tercintanya dulu, usut tak punya usut ia hanya menatap nanar wajah mantan kekasihnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sejujurnya wanita tersebut amat senang dengan kedatangan pria yang begitu ia cintai, tetapi setelah melihat tatapan yang tak suka dari andre akhirnya wanita tersebut hanya menunduk diam seribu bahasa, ia tak bisa memulai percakapan dengan andre yang memasang tatapan begitu menyeramkan.


Lima menit telah berlalu, tetapi keduanya belum mengucapkan sepatah kata apapun. Andre akhirnya mengerakkan tubuhnya, tangannya mengambil sesuatu disaku celananya dan menunjukkan selembar buah foto kepada dini. Seketika itu dini yang tadi hanya diam mematung, dibuat kaget dengan apa yang ditunjukkan padanya.


"ini....?!" sahutnya sambil mengambil foto tersebut.


Suasana ditempat itu seketika berubah menjadi lebih menegangkan dari sebelumnya, tampak sekali andre begitu bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan wanita dihadapannya tersebut.


Disebuah jalanan setapak, rafli terus mengikuti langkah kaki wanita didepannya. Meskipun merasa risih dengan tindakan yang ditunjukkan rafli padanya, wanita tersebut berusaha tidak menghiraukan dirinya dan terus berjalan menjauhi pria tersebut.


Sudah lumayan cukup lama berjalan, marsya berhenti disebuah toko kelontong untuk membeli minuman dingin dan beberapa makanan ringan. Habis sudah semuanya masuk kedalam tubuhnya, wanita tersebut melanjuti perjalanan dan masih saja diikuti oleh pria yang sepertinya sudah tak memiliki kerjaan itu.

__ADS_1


Karena hari sudah semakin siang, marsya memutuskan untuk pulang menggunakan bis. Rafli lagi-lagi mengikutinya memasuki bis tersebut, keadaan bis cukup penuh hari itu sehingga rafli yang tidak ingin mengganggu marsya yang sebenarnya sedang duduk sendiri tersebut memilih untuk berdiri di dekatnya saja.


Pada awalnya marsya tidak sama sekali menghiraukan pria yang didekatnya tersebut berdiri, lama kelamaan menimbulkan rasa khawatir kepada rafli karena sejak tadi ia berjalan mengikutinya sampai sini tanpa duduk, bahkan saat marsya berada di toko kelontong rafli hanya berdiri memperhatikannya dari jarak jauh.


Marsya mengisyaratkan kepada rafli untuk duduk disampingnya dan meminta pria itu untuk tidak menyiksa dirinya dengan terus mengikuti dirinya.


Mendengar perkataan marsya, dirinya dengan cepat mengambil kesempatan itu untuk mengistirahatkan kakinya yang sudah lelah sedari tadi.


Marsya yang tadinya akan dikira rafli akan kembali meceramahi dirinya tetapi hanya diam menatap kearah luar jendela bis, menatap langit biru berhiasi awan putih bersinar yang terpantul dengan cahaya matahari.


Rafli yang merasa terabaikan mengeluarkan headset dan hapenya dari saku celana bertujuan mendengarkan lagu favoritnya saja, muncul ide lain dibenak pria tersebut.


Melihat wanita dihadapannya masih saja melihat kearah luar seperti tidak menganggap keberadaannya, rafli menyematkan salah satu headsetnya ketelinga marsya, tentu saja membuat wanita tersebut kaget bukan main.


"dengarkan saja!" ucap rafli ketika marsya ingin melepas headsetnya.


'kapan kamu akan mengerti dan kembali mengingatnya? lagipula jika kamu tidak lagi bisa mengingatku... aku sudah tidak apa-apa karena hanya dengan dekat denganmu seperti saat ini sudah sangat cukup dan penuh arti meskipun tidak ada ingatan apapun' ucap marsya didalam hati disela mendengar alunan musik tersebut.


"apa yang lu pikirin? kenapa melamun?" tanya rafli yang bingung sebab ia melihat marsya hanya diam saja tanpa melakukan apapun.


Wajahnya perlahan mendekat kewajah marsya untuk memastikan bahwa wanita tersebut tidak terjadi apa-apa, marsya yang menyadari hal tersebut memalingkan wajahnya dan berusaha keras membuat wajah rafli menjauhinya.


Seketika pria tersebut menghela napas pendek dan memperbaiki cara duduknya dengan benar tanpa memalingkan wajahnya dari wanita disampingnya tersebut, sejujurnya bahkan dirinya sendiri tidak tahu mengapa ia bisa seperti saat ini.

__ADS_1


Marsya yang merasa seperti terus dilihat oleh rafli mulai merasakan risih yang teramat, pria tersebut tidak seperti ini sebelumnya, seperti memiliki kepribadian ganda saja.


Mencoba untuk mengalihkan perhatian, marsya mengatakan bahwa langit hari ini begitu indah dengan cahaya yang menurutnya menyejukkan matanya.


"ehmm... memang langitnya indah! tapi kalah indahnya dengan wanita disebelah gue saat ini, terlebih lagi kalo senyum". Tanggapan rafli mengenai pembicaraan ini memang membuatnya tercengang kaget, ia sedikit tak percaya dengan apa yang ia dengar kala itu. Bahkan rafli mengucapkannya dengan sedikit mengukirkan senyum tipis khas dari pria tersebut.


Alih-alih mendapatkan jawaban dari marsya, wanita tersebut malah hanya diam dan kembali mendengarkan lagu dari hape rafli.


Melihat wanita dihadapannya masih saja tidak memperhatikannya dan kembali mendengarkan musik, membuat rafli geram sehingga pria tersebut memperbesar volume lagu yang membuat marsya terkaget dan segera melepaskan headset dari telinganya.


"lu kalo gak niat berbagi... bilang! jangan gini" marah marsya sambil melempar kembali headset kearah tubuh rafli disampingnya, dan kembali menatap kearah luar jendela.


Alih-alih meminta maaf, rafli dengan enaknya memakai kembali kedua headsetnya ke telinga dirinya dan tidak peduli pada marsya yang sedang marah padanya.


Mendengar suara yang begitu keras seperti orang demo saja membuat rafli tergidik dan dengan cepat mengecilkan volumenya.


Waktu terus berjalan, rafli yang melihat marsya yang tidur, dan sepertinya itu sangat tak nyaman sebab beberapa kali kepalanya terhantuk pinggiran jendela. Rafli mengambil pelan kepala marsya dan menyandarkan dibahunya, cukup nyaman bukan?.


"siapa sebenarnya wanita ini? seperti tidak asing" rafli kembali menghela napas dan kali ini ia menghela napas cukup panjang


Tak lama kemudian rasa kantuk juga menyelimuti rafli dan ia ikut tidur berbantalan kepala marsya yang saat itu memakai bahunya.


Andre yang sudah berada lagi dikamarnya, menatap lekat foto yang tadi ia berikan pada mantan kekasihnya tersebut. Raut wajah pria ini begitu tampak seperti orang terkejut dan sekaligus bingung, ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan dini pagi tadi.

__ADS_1


"percayalah... dia kemungkinan berbahaya" andre kembali mengingat dengan perkataan dini.


"apa semua orang berbahaya? gue gak bisa percaya pada siapapun" pria tersebut hanya bisa mengacak-acak rambutnya penuh kebingungan.


__ADS_2