
Airport. Zurich,Swiss
Menjauh dan sangat jauh,itulah yang Limario jalani saat ini,dia sudah sampai di tempat tujuannya yang juga merupakan tempat kelahirannya.
Setelah mendarat di bandara Zurich, Limario begitu bahagia saat melihat seseorang yang sangat dia rindukan pelukannya,dia melangkah cepat menghampiri wanita sepuh itu yang merupakan neneknya. Sementara wanita renta itu juga ikut memajukan langkahnya menghampiri cucu kesayangannya yang lama tak jumpa.
"Oma" ( bahasa jerman,nenek ) Limario yang begitu senang,dia langsung memeluk neneknya sambil sedikit mengangkatnya.
"Cucuku"
"Yeah Oma,ini aku" Balas Limario yang kembali menurunkan neneknya,Nyonya Lilia memperhatikan cucu nya itu yang menurutnya bertambah tinggi dan sangat tampan.
"Sangat tampan,Oma hampir tak mengenalmu Limario,dulu kau hanya setinggi lututku saat kau meninggalkan negara ini,dan sekarang kau kembali dengan tubuh yang tinggi melebihi diriku" Limario cukup terkekeh dengan ucapan neneknya yang membedakan dirinya saat dia masih kecil.
"Tentu berbeda Oma,aku sekarang sudah dewasa,lihatlah kumis tipisku mulai menumbuh" Sombong Limario sambil menunjuk kearah kumis tipisnya yang masih belum terlihat.
"Cucu Oma memang sudah dewasa,dan sekarang waktunya kau yang menjaga Oma disini" Limario mengangguk dan kembali memeluk neneknya itu dengan manja.
"Aku merindukan masakkan Oma" Manja Limario,sedikit memayunkan bibirnya dengan kepala yang bersandar di bahu neneknya.
Nyonya Lilia semakin gemas dengan cucu kesayangannya itu,sejak kecil Limario selalu menikmati masakkan buatannya dan Nyonya Lilia tidak pernah menolak keinginan cucunya itu.
"Rosti" Limario mengangguk mendengar makanan kesukaannya.
"Oma akan membuatkannya setelah kita sampai dirumah" Ucap Nyonya Lilia dengan senyuman teduhnya.
"Yeee,baik Oma,ayo kita segera pulang" Limario melerai pelukannya dan langsung menggandeng tangan neneknya menuju mobil yang sudah ada seorang supir pribadi menunggu mereka.
"Leo..." Supir yang dipanggil itu,langsung menoleh dan segera mengambil barang-barang yang Limario bawa,tanpa suruhan supir itu langsung mengerti.
Dughh...
__ADS_1
Limario menutup pintu mobil setelah lebih dulu menuntun neneknya untuk masuk kedalam mobil.
Tut...Tut....
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan.
Jennie terus mencoba menghubungi nomer Limario yang berkali-kali gagal. Dengan kedua tangan yang saling bertumpu menopang dagunya,Jennie belum juga beranjak dari kamarnya untuk sarapan bersama keluarganya,yang sejak tadi terus memanggilnya untuk turun dari kamarnya.
Entah perasaan apa yang saat ini dia rasakan,merasakan kehilangan,sudah pasti dia rasakan. Terasa hampa dan kosong dan juga perasaan merindu pada sosok pria yang selalu menemaninya sejak kecil.
"Apa kau benar-benar pergi dariku Lim,hiks...hiks... Mianhe karna aku tidak membalas perasaanmu" Jennie menenggelamkan wajahnya di bantalnya,dia kembali terisak,mengingat Limario yang sudah pergi darinya.
Jennie kembali mendongakkan kepalanya dan mencari benda yang selalu menemainya,dia membutuhkan itu,boneka beruang berukuran sedang yang pernah Limario berikan padanya.
Jennie memeluk erat boneka beruang itu dan kembali menumpahkan kesedihannya,memeluk boneka beruang itu,seperti dia merasakan pelukan seseorang yang telah memberikan boneka itu padanya.
"Lili...,aku merindukannya,bisakah kau memberitahuku,dimana dia sekarang" Kata Jennie yang mencoba mencurahkan isi hatinya terhadap boneka pemberian Limario.
●
●
●
●
"Bear,apa kau mengetahui keberadaan Limario" Seulgi bingung harus menjawab apa saat Irene menanyakan keberadaan Limario,dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap bungkam menutupi keberadaan Limario,karna dia yakin jika dirinya memberitahu irene,maka dia akan memberitahukan pada Jennie tentang keberadaan Limario.
"Andwe... Baechu,aku dan Kim Jisoo juga tak di beritahukan tentang kepindahannya" Seulgi menghela nafas kasarnya seolah bersikap kecewa terhadap Limario.
"Haah,mungkin dia tidak menganggap kami lagi" Keluh Seulgi yang mencoba bersikap tampak tak sama sekali mengetahui keberadaan Limario. Irene yang mendengar itupun hanya tersenyum lemah sembari menyandarkan kepalanya di bahu tegap Seulgi.
__ADS_1
"Aku hanya kasihan terhadap Jennie,dia seperti kehilangan semangatnya" Tukas Irene yang benar-benar merasa kasihan terhadap teman dekatnya itu.
Seulgi terdiam,dia hanya mendengarkan saja tanpa menanggapinya,dia hanya merasa cukup sebal dengan sikap Jennie yang menurutnya plin plan dan egois, yang belum menyadari perasaannya terhadap Limario.
Sementara di sisi lain,tuan Daniel dan istrinya Tiffany,mereka berdua merasa sangat kesepian setelah putra tunggal mereka memutuskan untuk pindah ke Swiss. Mereka berdua mau tidak mau melepaskan Limario pergi,dengan kemauannya sendiri,meskipun disana Limario tidak sendiri,namun sebagai orang tua,mereka merasakan kehampaan di dalam rumah yang biasanya mereka saling mengobrol hangat,ataupun Limario yang membangun suasana keramaian dengan mengundang kedua temannya,Jisoo dan Seulgi.
Tuan Daniel menghembuskan nafas panjangnya,dibalik wajah tenang nya,dia tidak bisa menyembunyikan rasa rindu bercampur sedih mengingat putranya,nyonya Tiff yang merasakan perasaan yang sama seperti suaminya.
"Yeobo..." Suara nan lembut itu membuat tuan Daniel melirik kearah istrinya,dia tersenyum kecil sambil menepuk spot kosong di sebelahnya.
Nyonya Tiff mendudukkan bokongnya disamping suaminya yang saat ini menatap kearahnya.
"Ibu bilang,Limario sudah tiba dengan selamat,kau tidak perlu khawatir lagi sayang" Tukas Tuan Daniel yang baru saja menelfon ibunya tadi. Nyonya Tiff yang mendengar itupun hanya mengangguk.
"Baru kemarin dia meninggalkan kita dan aku sudah merindukannya" Ucap nyonya Tiff sembari memainkan kancing kemeja suaminya karna saat ini dia tengah bersandar di dada bidang suaminya itu.
"Limario hanya pergi sementara sayang,dia akan kembali untuk kita" Tuan Daniel mengecup singkat kening sang istri yang tengah bersedih.
Hyunsik,Kai dan Mark serta ketiga teman yang lainnya,mereka sedang merayakan kepindahan Limario yang membuat Hyunsik begitu sangat bahagia saat pertama kali mendengar bahwa Limario pindah,dan itu berarti Jennie benar-benar berada didalam gengamannya.
"Penghalang sudah pergi,dan sekarang waktunya kau menjalankan aksimu Hyun" Kai menepuk singkat bahu Hyunsik yang bersmirk kearahnya.
"Secepatnya,dan aku juga sudah sulit menahan hasratku untuk menyentuhnya yang masih sok jual mahal terhadapku" Hyunsik sedikit meremas gelas wine yang ia genggam.
"Kami akan membantumu,dan tentunya itu tidak gratis" Kai menaik turunkan alisnya,Hyunsik yang mengerti itupun semakin tersenyum lebar kearahnya.
"Aku akan membaginya kepada kalian jika aku sudah lebih dulu menikmatinya" Mereka semua terkekeh dengan janji Hyunsik,yang mereka yakini bahwa Hyunsik selalu berhasil mendapatkan apa yang dia mau,karna dia sudah sering melakukannya sebelumnya bersama mantan-mantan Hyunsik yang berakhir depresi karena nya.
Tidak akan aku biarkan kau kembali menyakiti gadis lainnya,aku akan memberitahu gadis itu sebelum pria brengsek itu memulai aksinya.
Bersambung...
__ADS_1