
Seoul Medical Center.
"Segera bawa ke ruang operasi,kita akan melakukan operasi darurat segera mungkin" Dokter mengintrupsi semua perawat dan beberapa dokter bedah lainnya untuk segera membawa pasien, yang baru saja di keluar dari mobil ambulan.
Pasien itu adalah Limario,akibat tusukan di perutnya yang cukup dalam,dia langsung dilarikan menuju ruang operasi agar dapat di tangani segera.
"Tolong selamatkan dia dokter,bisakah aku ikut,aku ingin menemaninya di dalam hiks...hiks" Jennie menahan lengan dokter yang hendak menuju ruang operasi.
"Tapi nona,maaf tidak ada yang boleh ikut masuk ke dalam selain dokter dan perawat,kalian bisa melihatnya setelah pasien di pindahkan diruang perawatan,untuk saat ini,biarkan kami melakukan yang terbaik untuk teman kalian,maaf saya permisi" Dokter dengan pelan melepas tangan Jennie yang menahan dokter itu,lalu kembali melangkah menuju ruang operasi.
"Tenanglah Jen,aku yakin Limario pasti baik-baik saja" Irene mencoba menenangkan Jennie,membawanya kedalam pelukannya.
"Irene eonni benar,kita hanya perlu mendoakan semoga operasinya berjalan lancar" Timpal Rose yang ikut memeluk Jennie sambil mengusap lembut bahu Jennie,yang masih menangis sesegukan.
"Dimana putraku!!! Limario,hiks..hiks.." Nyonya Tiffany yang baru saja datang bersama suaminya ayah Limario,dia langsung berteriak histeris dengan air mata yang sudah berderai sejak dia mendapatkan kabar dari Rose yang menghubungi mereka berdua.
Jennie yang melihat kedatangan orang tua Limario,terlebih lagi melihat betapa sedihnya ibu Limario,dia langsung menghampiri ibu Limario dengan wajah sembabnya.
Melihat Jennie yang tengah menghampirinya,nyonya Tiffany langsung menggenggam kedua tangan Jennie dengan erat.
"Katakan padaku,apa yang terjadi pada Limario Jen" Tanya nyonya Tiff,sembari menggoyangkan tangan Jennie yang menatap kosong kearah ibu Limario.
"Paman dan bibi,biar saya yang akan menjelaskan semuanya" Jisoo menghampiri mereka bersama Seulgi,semuanya melihat kearah Jisoo dan Seulgi.
"Kim Jisoo,apa kau tau apa yang terjadi pada putraku" Tuan Daniel bertanya seraya mendekat kearah Jisoo.
"Hyunsik yang sudah menusuk Limario dengan sengaja,bahkan dia mengakuinya sendiri saat polisi sudah menahan mereka semua" Mendengar nama Hyunsik,Jennie dibuat terkejut,bagaimana bisa Hyunsik melakukan itu semua kepada Limario,dia semakin membenci pria itu.
"Berani-berani nya dia ? Aku akan ke kantor polisi dan memanggil pengacaraku agar mereka mendapatkan hukuman yang sangat berat" Dengan nada marahnya tuan Daniel mengeram kesal,bagaimana bisa remaja seperti mereka dengan tega menghabisi nyawa seseorang.
"Yeobo,tenanglah yang terpenting sekarang putra kita" Tuan Daniel mengangguk dan memilih untuk mengurus semua administrasi perawatan Limario di rumah sakit.
4 jam berlalu.
Ceklek
Dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi,membuat semuanya berdiri dari kursi tunggu termasuk Jennie,dia segera menghampiri dokter itu dan ingin segera mengetahui tentang keadaan Limario.
__ADS_1
"Apa disini ada keluarga terdekatnya,atau mungkin orang tua dari tuan Limario" Nyonya Tiffany dan Tuan Daniel langsung mendekat kearah dokter.
"Kami orang tua pasien dokter,bagimana dengan keadaan putra kami,katakan" Tuan Daniel bersuara tegas,dia sangat khawatir dengan putra tunggalnya itu.
Dokter sedikit menghela nafas panjangnya dan mulai memberitahukan tentang keadaan Limario.
"Operasi berjalan lancar,kami sudah mengecek organ dalamnya,puji tuhan tidak ada yang tergores organ dalamnya,hanya saja kami membutuhkan pendonor darah untuk tuan Limario karna stok darah B sedang kosong di rumah sakit kami"
"Ambil saja darahku dokter,golongan darahku juga B" tanpa ragu,Jennie langsung menawarkan darahnya,baginya keselamatan Limario yang terpenting sekarang,dan dia tidak ingin kehilangan pria yang sudah sangat tulus menyukainya itu.
"Baiklah,kau bisa ikut bersama kami" Jennie mengangguk mengikuti perintah dokter. Nyonya Tiffany dan Tuan Daniel,menatap haru Jennie dan mengusap lembut rambut Jennie yang sudah suka rela mau mendonorkan darahnya,setelahnya,Jennie kembali mengikuti dokter dan perawat untuk melakukan persiapan pendonoran darah.
...♡♡♡...
Di dalam ruangan yang minim pencahayaan dan hanya terdengar suara Monitor detak jantung,yang terpasang di tubuh seorang pria muda yang masih terbaring lemah dengan berbagai macam alat lainnya yang menempel di tubuhnya.
Di dalam ruangan itu tidak hanya Limario sendiri melainkan ada dua brangkar ranjang rumah sakit yang di tempati Jennie yang saat ini tengah mendonorkan darahnya,setelah menjalani beberapa pemeriksaan,akhirnya Jennie bisa mendonorkan darahnya untuk Limario,sejak tadi dia terus menolehkan kepalanya melihat kearah Limario yang juga terbaring di sebelahnya walaupun terpisah ranjang,namun Jennie tetap bisa melihat Limario dengan jelas,dia begitu sedih melihat sosok yang selalu menguatkannya,sekarang terbaring lemah dengan kondisi yang cukup membuatnya terpukul atas apa yang menimpa Limario.
"Nini,aku menyayangimu,maafkan aku yang tidak bisa menjagamu"
Ucapan itu terus terngiang di telinga Jennie,dia kembali meneteskan air matanya lagi.
Alam bawah sadar.
Seorang pria tengah terbaring di hamparan padang rumput yang sangat indah,hijau hamparan rumput membuat dirinya sangat damai terbaring dengan senyuman menghiasi wajah tampannya.
Dia terlihat sehat tanpa luka sedikitpun,perlahan pria itu mulai bangun dari tidurnya dan meregangkan kedua tangannya.
"Dimana aku" Ucap pria berbaju serba putih itu yang menyadari dirinya berada di tempat yang sangat asing baginya. Limario mulai mengedarkan pandangannya,melihat ke segala arah,namun dia tidak menemukan seorang pun melainkan dirinya sendirian,dia mencoba mengerjapkan matanya,namun sama saja dan tidak ada yang berubah,dia tetap di tempat yang sama.
"Luka itu" Limario menyingkap bajunya dan melihat kearah perutnya,dia mengingat bahwa sebelumnya Hyunsik menusuknya,namun saat dia melihat perutnya,dia tidak menemukan luka itu,luka yang sangat menyakitkan saat Hyunsik menusuk dirinya.
Limario kembali merasa heran dan dia seperti orang kebingungan tanpa arah saat dirinya berusaha berlari kesana kemari,mencari jalan keluar untuk kembali.
"Apakah ada orang disini !!! Limario berteriak keras,namun hanya ada jawaban gema suaranya sendiri.
Limario terus berteriak dengan kalimat yang sama,tak hanya berteriak,dia juga berusaha mencari jalan keluar yang hanya membawanya kembali ke tempat yang sama,dia tidak menemukan siapapun.
__ADS_1
Limario merasa sangat sedih saat ini,dia sendirian bahkan di tempat yang sangat asing baginya.
"Oppa,apa kau kesepian" Limario mencari asal suara itu dan dia cukup bahagia saat melihat seorang anak kecil dengan wajah yang sangat bersinar sudah berada di belakangnya.
Limario menghampiri gadis kecil itu dengan sedikit membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
"Apa kau mau ikut denganku Oppa,aku akan membawamu ke tempat yang lebih indah dari pada tempat ini,dan aku pastikan kau tidak akan kesepian lagi,apa kau mau Oppa? Gadis kecil itu kembali berucap sambil mengulurkan tangannya,Limario hanya mengangguk karena dirinya merasa bahagia ada seseorang selain dirinya di tempat ini dan tanpa ragu dia menggenggam tangan mungil itu,yang mulai menariknya entah kemana gadis kecil itu akan membawanya.
"Limario aku menunggumu,kembalilah"
Limario menghentikan langkahnya saat tiba-tiba saja dia mendengar suara wanita yang sangat dia kenal mendengung di telinganya.
"Nini" Ucap Limario,menengok ke segala arah tapi dia tidak menemukan sosok pemilik suara itu.
"Kenapa berhenti Oppa" Limario menggeleng tak tau dengan apa yang saat ini tengah dia rasakan,panggilan tadi membuat langkahnya terasa berat untuk mengikuti gadis kecil itu.
"Maaf aku tidak bisa mengikutimu,seseorang tengah menungguku" Limario melepaskan genggaman tangan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu hanya tersenyum saat Limario melepaskan genggaman tangannya,perlahan dia mendekat kearah Limario dan tiba-tiba saja gadis kecil itu mendorong tubuh Limario,hingga Limario terjatuh terbaring diatas padang rumput itu kembali dengan mata yang sudah terpejam.
"Kembalilah,cintamu menunggumu"
Seoul Medical Center.
Terhitung 5 hari sudah Limario di rawat dan hingga saat ini pria itu belum menunjukkan kesadarannya.
"Good morning shunshine,lihatlah dia masih belum bangun juga,padahal aku selalu menunggunya" Jennie yang baru saja membuka tirai jendela ruangan Limario,dia bermonolog sendiri bahkan sedikit terkekeh dengan ucapannya sendiri yang hampir setiap hari dia selalu mengucapkan hal itu tanpa ada rasa bosan nya.
Setelah membuka tirai,Jennie mendudukkan dirinya di kursi sebelah brangkar Limario,melihat Limario yang masih terbaring, membuat tatapan matanya kembali berkaca-kaca.
"Aku menunggumu kembali,aku mohon segeralah bangun Limario hiks..." Jennie menggenggam tangan Limario sambil mengecupnya,membiarkan air matanya menetes di tangan Limario.
"Limario,meskipun kamu tidak mendengarku saat ini,aku hanya ingin mengatakan bahwa aku juga menyayangimu dan mencintaimu,aku sadar aku pernah menyakitimu,namun saat ini semuanya terjawab,bahwa perasaan yang aku miliki hanya tertuju padamu,aku benar-benar merasakan itu semua saat kau pergi dariku,kehilanganmu membuatku sangat sakit dan saat ini aku tidak ingin kau pergi dariku lagi,jadi aku mohon bangunlah" Jennie menunduk pilu menatap tangannya yang menggenggam tangan Limario tanpa balasan.
Di brangkarnya,Limario mulai mengerjapkan matanya bahkan dia berusaha menggerakkan tangannya.
"Nini" Suara lemah itu terdengar di telinga Jennie,Jennie yang mendengar itupun langsung mendongak dan betapa bahagianya saat dia melihat Limario yang tengah tersenyum kearahnya dengan mata yang terbuka.
__ADS_1
Aku kembali nini..
Bersambung....