
...Happy reading ...
...Typo bertebaran ...
.......
.......
.......
.......
.......
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu tapi Ayna masih ada di kelas kerena dia di tahan agar tidak keluar kelas. Mereka di perintahkan Rafga agar Ayna menunggu mereka pulang bersamanya.
“Bisa biarin gue pulang?” ucap Ayna.
“Gak bisa” ucap mereka bersamaan.
“Iya, kita gak bisa biarin lo pergi. Bisa pulang gak selamat gue kalo biarin lo pergi” ucap Kinar.
“Bener banget. Si Rafga itu loh serem banget” ucap Jessy.
“Siapa yang serem?” tanya Ziel sambil berjalan ke arah kami.
“Itu film yang kemarin gue tonton serem banget” ucap Jessy tenang mereka pun hanya mengangguk.
“Ayo pulang Kent” ajak Rafga.
“Lain kali gue bisa pulang sendiri” ucap Ayna.
“Gak bisa” tolak Rafga.
“Mulai sekarang lo harus pulang bareng gue atau yang lain gak boleh sendiri” ucap Rafga lagi.
“Tapi...” ucap Ayna terpotong.
“Protes aja sama kakek” ucap Rafga, Ayna pun hanya menghela nafas.
Jika bukan perintah kakeknya Ayna pasti akan menolaknya. Ayna tidak pernah bisa melawan perintah kakeknya itu. Bukan karena takut tapi itu karena Ayna sangat menghormati kakek. Karena kakeknya lah dia bisa sampai disini.
Kekuasan yang dia miliki saat ini, semua itu dia dapat dengan bantuan kakeknya. Selain kakeknya Rafga lah yang paling dia segani. Meski usianya hanya berbeda satu tahun, tapi Rafga adalah sosok kakak yang tidak Ayna miliki. Ya karena itulah Ayna sangat menghormati Rafga.
Sifat Rafga sebenaranya sangat hangat, hanya saja sejak dia tahu Ayna menderita dia berhenti peduli dengan sekitarnya. Menjadi sosok yang dingin dan tak punya hati. Karena menurutnya, hati hanya akan memberikan luka yang mungkin tidak akan ada obatnya. Dia belajar dari kesalahan yang Ayna buat. Sakit yang Ayna miliki mungkin bisa sembuh tapi luka di hatinya akan terus membekas.
...****************...
__ADS_1
“Ayo turun Ay” ajak Ziel.
“Yuhuuu pangeran Ziel membawa pulang sang Putri dengan selamat” teriak Ziel dan mendapat jitakan dari Daren.
“Shittt kok gue di jitak sih” kesal Ziel.
“Ya lo ngapain teriak, di kira ni rumah hutan apa” omel Daren.
“Ehh udah-udah jangan berantem” ucap Dara menengahi.
Di ruangan lain seorang anak dan ayah sedang berdebat mengenai pewaris kerajaan bisnisnya.
“ Dad apa gak bisa yang lain aja?” ucap Valdo.
“ Gak bisa kak Ayna adalah yang paling kuat dibandingkan yang lainnya” ucap Sean.
“Tapi dia maasih remaja dan lagi pula kita harus tanya Ayna lebih dulu” ucap Valdo.
“Soal Ayna kamu tenang aja” ucap Zelian.
“Ayna pasti setujun kok” lanjutnya.
“Kakek, uncle” sapa Ayna.
“Halo sayang apa kabar” sapa Sean.
“Aku baik uncle” jawab Ayna.
“Ada masalah?” tanya Zelian, Ayna pun hanya mengangguk.
“Valdo papa pinjem ruang kerja kamu sebentar” ucap Zelian. Setelah mengatakan itu Zelian Ayna pergi.
“Hay Dad, hay uncle” sapa Rafga.lalu duduk di tempat yang kosong.
“Loh Ayna sama kakek mana?” tanya Dara.
“Paling juga lagi protes sol kita” ucap Ziel.
“Apa yang kalian lakuin di sekolah hah?” tanya Sean.
“Kita gak lakuin apa-apa kok, Cuma kasih Ayna seikit kejutan” ucap Ziel dengan santai.
“Sedikit kamu bilang?” ucap Sean kesal.
“Uncle tau banget sedikit kamu itu kaya gimana” ucapny lagi.
Di ruangan yang berbeda dua orang yang berbeda generasi itu sedang mendiskusikan sebuah hal yang sangat serius. Dan itu juga menyangkut keselamatan keluarganya. Dan kakenya.
__ADS_1
“Kakek sejak kapan aku setuju kalau acara itu akan di gelar secara meriah dan terbuka.bukannya kita sepakat acara itu bakalan di gelar sederhana dan megundang banyak orang” protes Ayna.
“Dan juga apa maksud kakek ngirim mereka ke sekolah aku?” tanya Ayna.
“Acaranya bakalan kita gabung sama ulang tahun perusahaan makanya meriah” ucap Zelian.
“Tapi kakek gimana nanti kalau disana ada penyerangan? Bukannya itu bakalan ngebahayain orang lain?” tanya Ayna.
“Makanya kita perketat lagi penjagaannya” jelas Zelian. Ayna hanya menghela nafas.
“Terus soal mereka gimana?” tanya Ayna.
“Kalau soal sepupu kamu itu, mereka lagi jalanin misi” ucapnya lagi santai.
“Misi mata-matain aku maksud kakek?” tanya Ayna kesal.
“Nahh itu kamu tau” ucap Zelian santai tanpa rasa bersalah.
“Kakek” rengek Ayna.
“Lili, mulai sekarang sekarang mereka di bawah kepemimpinan kamu makanya mereka harus ada di samping kamu terus” ucap Zelian.
“Tapi kek kan ada anggota yang lain gak perlu harus mereka. Bukannya disana lebih nngebutuhin mereka?” ucap Ayna.
“Sekarang semuanya udah baik-baik aja makanya kakeksuruh mereka kesini” jelas kakek.
“Tapi kenpa harus sekolah itu kan banyak sekolah lain” tanya Ayna.
“Kalau soal itu sebaiknya kamu tanya Rafga. Dia yang minta satu sekolah sama kamu” ucap Zelian.
Kedua orang bereda generasi itu melanjutkan diskusi engan lebih serius. Ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk memabahas masalah mereka.
Sedangkan keluarga yang lainnya sedang menunggu kedua orang itu. Makan malam sudah siap dan kedua orang berbea generasi itu masih belum selesai. Valdo merasa khawatir akan putrinya itu. Apalagi jika ia mengingat putrinya itu akan meneruskan tahta sang kakek.
“Om sama tanteb gak perlu khawatir sebentar lagi mreka pasti selesai kok” ucap Rafga.
“Iya om. Kent sama kakek kan udah lama gak ketemu jadi pasti ada banyak hal Kent obrolin sama kakek” ucap Daren.
“Emang kakek sama kakak kemana?” tanya Daniel.
“Mereka ada lagi di rauang kerja papa niel” ucap Valdo.
“Ohh kalau gitu biar Niel yang pangil” usul Daniel.
“Gak perlu” ucap Ayna sambil berjalan berama Zelian.
“Maaf kita buat kalian nunggu” ucap Zelian.
__ADS_1
Mereka semua menikmati makan malam dengan sunyi hanya terdengar suara sendok dan garpu. Setelah selesai makan malam mereka mengobrol bersama di ruang keluarga dan menghabiskan malam itu dengan canda dan tawa.
Meski di luar mereka sangatlah kejam dan tak berperasaan pada lawannya. Tapi ketika mereka sedang bersma keluarga merka akan menjadi pribadi yang hangat. Itu lah sisi lain dari mereka. Meski mereka tahu bahaya sedang mengancam keluarga mereka. Mereka tetap bersikap tenang.