
Mendengar jawaban dari Andi seketika wajah Selvi pucat, dia tau maksud Andi yang sebenarnya. Selvi berusaha menyembunyikan kekhawatirannya dan berusaha tenang.
“Oh iya.. makasih banyak yaa Di..” kata Selvi kemudian dengan senyum palsunya.
“Kok bisa jatuh disini bagaimana Sel ?” pancing Andi.
“Mungkin jatuh waktu olahraga kemarin Di..”
“Kemarin kan yang piket Rani, kamu ada urusan apa kesini ?”
“Aku hanya lewat aja Di..” jawab Selvi yang mulai was was.
“Masak sih ?” tanya Andi lagi.
Selvi hanya mengangguk dan tersenyum, Andi masih belum puas dengan jawaban dari Selvi.
“Emangnya kenapa Di ?” tanya selvi gantian.
“Kemarin habis Olahraga Rani kekunci disini, aku lagi nyari orang yang ngunci dia..” jelas Andi.
“Wah kok bisa sih.. Rani baik-baik aja kan ?” tanya Selvi yang pura-pura.
“Hmm.. baik, dia nggak apa-apa..” jawab Andi datar.
“Terus kamu curiga sama aku gitu Di ?”Selvi mencoba membela diri.
“Enggak, aku tanya aja.. kebetulan gantungan hp kamu ada disini.. kalau kamu nggak tau yaudah..”
“Kamu kenapa sih belain dia banget ? Kamu suka sama dia ?” tanya Selvi.
“Dia baik, aku udah anggap sahabatku sendiri.. kenapa ?” tanya Andi balik.
“Oh gitu.. kamu tau kan kalau aku suka sama kamu sejak dulu.. kapan kamu akan nerima perasaanku ?” tanya Selvi.
Andi menghela nafas, dia sangat menyayangkan tindakan Selvi yang terus seperti itu.
“Sel kamu tau kan aku nggak tertarik sama yang namanya pacaran dan aku udah bilang ke kamu kalau aku nggak punya perasaan apapun ke kamu.. jadi maaf..” terang Andi.
Selvi tau Andi akan menjawab seperti itu, dia tidak tau jika Andi sudah mengetahui sifat aslinya dengan Ari. Andi juga tidak mau membahasnya karena hanya membuang waktu.
“Yaudah aku balik dulu.. awas aja kalau sampai ketemu orangnya..” kata Andi sambil berjalan pergi. Dia sengaja menyindir Selvi.
Selvi merasa Andi sudah tau tentang kejadian kemarin, hal itu membuatnya semakin membenci Rani, dia semakin ingin berbuat sesuatu pada Rani. ‘awas aja kamu Ran!’
Beberapa hari kemudian saat hari minggu waktunya pertandingan basket sekolah Rani melawan sekolah lain. Seperti janjinya pada Andi, Rani akan datang menonton bersama Irma. Rian tidak bisa karena ada urusan.
Dari tribun penonton banyak yang memberi dukungan pada masing-masing tim, sedangkan Rani dan Irma duduk dengan tenang, mereka tidak pernah heboh dalam memberikan dukungan. Selain Rani dan Irma rupanya Selvi, Ira dan Dian juga menonton pertandingan basket disana.
DI tengah pertandingan terlihat Andi berhasil mencetak skor yang otomatis semua pendukung bersorak gembir, saat itu juga Andi mengedarkan pandangannya ke bangku penonton dari sekolahnya, dia melihat Rani dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Rani membalasnya singkat, takut teman-teman dari sekolahnya memperhatikannya.
“Eh liat tuh Andi barusan melambaikan tangan ke aku...” sahut salah satu siswi di dekat Rani.
__ADS_1
“Eh enak aja.. ke aku lah...” sahut siswi lainnya
“Andi.. semangat!!” sorak penonton lain.
Sementara Rani dan Irma geleng-geleng melihat tingkah teman-temannya. Rani juga tidak mau kepedean jika Andi bermaksud menyapanya tadi, bisa jadi ada kenalannya juga disini.
“Duh yang disapa sama Andi..” goda Irma.
“Apaan sih Ma.. belum tentu juga itu buat kita..” jawab Rani.
“Iya iya.. bisa aja sih..”
Dari kejauhan Selvi memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka. Ira juga merasakan hal yang sama, tetapi Dian sudah tidak terlalu tertarik mengusik Rani sejak kejadian salah faham dulu.
Seoranh cowok datang mencari seseorang dan dia menemukannya langsung menghampirinya.
“Hai Ran.. boleh aku duduk disini ?” tanya cowok itu yang tidak lain adalah Ari.
“Oh iya Mas.. silahkan..”
Irma nggak nyangka seorang Ari ada disini. Setelah mendapat persetujuan dari Rani, dia duduk di samping Rani yang kursinya masih kosong. Risih sebenarnya bagi Rani, tapi dia berusaha untuk tetap ramah dan sopan.
“Mas Ari juga suka nonton basket ?” tanya Rani basa basi.
“Iya, ini kan pertandingan tim basket sekolah kita..” jawab Ari dengan santai.
Rani mengangguk faham dan kembali hening. Banyak mata yang menatap ke arah Rani, mereka heran seorang Ari ada disana dan duduk di samping murid baru. Gosip milai beredar tentang kedekatan mereka. Rani sebenarnya ingin menjaga jarak, dia tidak mau menjadi pusat perhatian teman sekolahnya.
“Iya Mas.. aku biasanya main basket dirumah sama mas Rian..” jawab Rani.
“Oh gitu.. nggak nyangka aku..”
“Emangnya kenapa Mas ?” tanya Rani.
“Kirain kamu nggak suka olahraga, kamu keliatan pendiam gitu..”
Rani hanya tersenyum masam dan tetap fokus memperhatikan ke pertandingan. Dari lapangan Andi melihat ada Ari disamping Rani, hal tersebut sedikit membuatnya hilang fokus tapi hanya sebentar.
Pertandingan hari iitu berakhir dengan tim sekolah Andi menang. Rani dan Irma beranjak pergi, tak lupa dia berpamitan dengan Ari.
“Mari Mas.. kita pulang duluan..” pamit Rani
“Lho kalian naik apa ? Mau aku anterin ?” tawar Ari.
“Enggak Mas, makasih.. kita naik motor tadi kesini..” tolak Rani dengan halus.
“Oh ya udah kalau gitu, hati-hati kalian..”
Diajawab anggukan oleh Rani dan bergegas keluar dari hall. Selama perjalanan ke parkiran Irma terus bertanya bagaimana bisa Ari kenal dengan Rani, dan Irma beranggapan jika Ari suka sama Rani.
“Masak sih Ma..” sahut Rani nggak percaya.
__ADS_1
“Iya Ran menurutku sih gitu..”
“Ah aku nggak ambil pusing, yang penting aku nggak mikirin sampai situ..” jawab Rani santai. Dia memang tidak mau memikirkan tentang hal percintaan untuk sementara.
“Hmm.. Rani...kamu harus hati-hati pokoknya sama mas Ari, dia itu terkenal playboy..” kata Irma yang memberi saran.
“Siap Ma.. aku pasti hati-hati..”
Sampai di parkiran, Irma teringat kalau mereka belum makan siang, dia mengajak Rani membeli makan siang dulu sebelum pulang. Akhirnya mereka pergi ke tempat fast food yang berlogo huruf M untuk makan siang bersama.
Hal yang tidak tertuda Andi dan beberapa teman se timnya juga kesana untuk makan siang. Melihat Rani yang ada disana membuatnya terkejut.
“Lho kalian disini ternyata..” sapa Andi.
“Iya Di.. kamu mau makan siang juga ?” tanya Irma ganti.
“Iya.. pada lapar nih..”
Andi segera mengantri untuk memesan makanan dan bergabung dengan teman satu timnya. Salah satu teman Andi yang memperhatikan Rani dan Irma mencoba bertanya,
“Itu teman kamu Di ?” tanya Raka.
“Iya temen sekelas, kenapa Ka ?” tanya Andi ganti.
“Kenalin dong.. hehe...”
“Wah nggak mau aku.. kamu sendiri lah..” tolak Andi.
“Yah payah kamu Di..”
Andi tertawa melihat ekspresi temannya itu, sepertinya temannya tertarik dengan salah satu antara Rani dan Irma.
“Emang kamu pengen kenalan sama yang mana sih ?” tanya Andi penasaran.
“Tuh yang pakai jilbab..” tunjuk Raka.
Seketika ekspresi Andi berubah, dia terlihat fidak suka ketika tahu temannya tertarik sama Rani.
“Jangan deh kalau saranku..”
“Kenapa ? Kamu suka sama dia ?” tanya Raka balik, dia penasaran dengan ekspresi Andi tadi.
“Bukan gitu.. dia katanya pengen fokus sama pendidikannya dan nggak tertarik sama pacaran..” jawab Andi.
“Ooh gitu.. kamu kok tau Di ?”
“Iya dia tetangga aku juga, aku sering main ke rumahnya..” jawab Andi dengan santai.
“Wah nggak nyangka aku ternyata gitu...”
Raka tampak kaget mendengar penjelasa Andi, pantas aja jika Andi tau tentang Rani. Raka mengambil kesimpulan jika Andi mempunyai perasaan pada Rani, tapi dia tidak menyadarinya.
__ADS_1