M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)

M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)
Chapter 25


__ADS_3

Andi yang  tetap penasaran berusaha untuk mengajak bicara Rani, dia bisa berharap Rani bisa bersikap biasa lagi tidak mendiamkannya.


“Ran, kok diem kamu ada apa ?” tanya Andi.


Rani masih diam tidak bersuara sambil terus berjalan, Andi tidak bisa diam melihat Rani yang mencuekinya, dengan cepat ditarik lengan Rani dengan cepat dan akhirnya Rani menghentikan langkahnya.


“Ran…” panggil Andi lagi.


Rani langsung melihat kearah lengannya yang dipegang oleh Andi, otomatis Andi melepaskan tangannya setelah sadar apa yang dilakukan.


“Kamu ada apa Ran ? cerita dong sama aku..” pinta Andi.


Rani tampak berfikir dan Andi tetap menunggu Rani membuka suara, tak lama Rani akhirnya menceritakan perasaannya sekarang,


“Aku mau cerita tapi kamu janji nggak akan marah ?”


“Iya deh, tapi kamu harus cerita sama aku..”


Mereka akhirnya mencari tempat duduk dekat sana dan untungnya sudah ada dilingkungan kompleks rumah. Akhirnya mereka duduk di bangku yang ada di taman. Rani mulai buka suara tentang ketidaksukaannya dengan Sisil sang manajer tim basket. Andi heran sendiri kenapa Rani bisa tidak suka dengan Sisil dan apa hubungannya


dengan dirinya.


“Kok senyum sih ?” tanya Rani.


“Lucu aja Ran, dia kan adik kelas aku trus manajer tim basket juga..” jelas Andi.


 “Iya sih, aku juga nggak punya hak buat ngelarang kamu buat deket sama siapapun..”


“Sekarang gantian deh aku juga mau jujur..”


“Tentang apa ?” tanya Rani yang penasaran.


“Dari yang aku liat keliatannya mas Randi suka sama kamu..” kata Andi dengan wajah serius.


Rani tampak terkejut, dia tidak menyangka aja Andi berfikir seperti itu dan dia juga tidak ada fikiran jika mas Randi suka dengannya.


“Ah cuma perasaan kamu aja Di.. mas Randi kan baik saama semua orang..” terang Rani.


“Hmm.. itu cuman perasaan kamu aja Ran..” jawab Andi gantian.


Mereka saling diam lagi, masih sama-sama mengedepankan pendapat masing-masing. Andi dan Rani sama-sama tau jika mereka tidak bisa mencampuri pendapat masing-masing meskipun mereka sudah berkomitmen. Secara mereka tidak ada ikatan apa-apa jadi mereka masih bebas dan belum bisa mengutamakan komitmen mereka.


“Yaudah yuk pulang udah sore..” ajak Andi.


Rani menurut dan mengikuti Andi pulang. Berpisah di depan rumah masing-masing dan langsung masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun. Keduanya masih sama memikirkan maksud dari yang sudah dibicarakan tadi, Andi yang secara tidak langsung tidak menyukai Randi yang dekat dengan Rani dan Rani yang tidak suka melihat Sisil dekat dengan Andi.


Malam harinya ketika Andi keluar rumah bermaksud pergi ke minimarket melihat motor Randi yang ada didepan rumah. ‘Dia kesini lagi..’ dengan ekspresi datar dia segera pergi ke supermarket, mungkin rasa cemburunya bertambah lagi.


Beberapa hari berlalu, Andi dan Rani masih seperti biasa tapi terlihat mereka saling menyembunyikan sesuatu, Rani juga sudah jarang melihat pertandingan Andi dan memilih langsung pulang dengan Irma. Andi juga sudah jarang ke rumah Rani, Rian sampai menanyakan kenapa Andi sudah jarang ke rumah mereka, bisanya dua hari


sekali dia akan kesana.


“Ran Andi ada apa kok udah jarang kesini..” tanya Rian.


“Nggak tau mas..” jawab Rani dengan acuh.


Rian mulai curiga dan mencoba mengintrograsi Rani.


“Kalian lagi marahan ?” tanya Rian.


Rani diam, kakaknya menebak dengan sangat tepat, dia tau jika dia tidak bisa berbohong dengan kakaknya, tapi untuk kali ini tentang hubungan dia dengan Andi, dia tidak ingin menceritakannya dan memilih diam. Rian yang sudah merasa jika Rani tidak akan cerita memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi pada adiknya.

__ADS_1


Tidak disangka sudah mulai pertengahan semester, satu minggu lagi Andi ada pertandingan basket sehingga dia banyak berinteraksi dengan timnya juga manajer tim yaitu Sisil. Sepulang sekolah Andi dan Sisil sibuk berdiskusi di kantin membahas untuk pertandingan selanjutnya. Sisil duduk dekat dengan Andi dan tidak bisa dihindari banyak yang bergosip tentang mereka, ada yang berpendapat jika mereka berdua kelihatan cocok.


Tidak disangka Rani yang sedang bersama Irma ke kantin dan melihat kedekatan Andi dan Sisil. Rani yang melihatnya sedikit kecewa dan memilih untuk melihat mereka, Irma melihat kearah Andi yang bersama Sisil,


“Mereka ada hubungan Ran ?” tanya Irma dengan polos.


“Nggak tau Ma.. tiba-tiba nggak nafsu makan nih.. ke koperasi aja yuk..” ajak Rani pergi.


“Kenapa ? kamu cemburu yaa…” kata Irma mencoba menggoda Rani.


“Enggak lah.. ngapain coba..” kata Rani berkilah


Irma akhirnya menurut dan mengikuti Rani pergi dari kantin, sekilas Andi melihat Rani yang pergi bersama Irma, dia langsung kaget dan mencoba ingin mengejar tapi ditahan oleh Sisil karena mereka belum selesai berdiskusi. Akhirnya dia mengalah dan mencoba nanti untuk berbicara dengan Rani.


Rani masih terlihat kesal karena tadi, dia memutuskan untuk diam dan bersikap cuek dengan Andi. Entah kenapa sifat egoisnya sangat tinggi saat itu. Irma masih berusaha mengorek informasi pada Rani apa yang sebenarnya terjadi tapi Rani tetap tidak ingin buka suara.


Pulang sekolah Andi menunggu Rani di gerbang sekolah. Tidak lama Rani datang sendirian karena Irma ke parkiran. Rani yang melihat Andi mencoba bersikap biasa dan cuek.


“Ran aku pengen ngomong bentar..” kata Andi.


“Ngomong apa Di ?” tanya Rani balik.


“Kamu lihat aku sama sisil tadi kan, itu cuman diskusi tentang pertandingan terakhir minggu depan Ran nggak ada apa-apa..” terang Andi.


Rani diam, dia tau apa yang dilakukan Andi dengan Sisil, tapi entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan rasa kesalnya itu.


“Iya terus Di ?”


“Kamu faham kan Ran yang aku jelaskan.. aku nggak ada apa-apa sama dia..” terang Andi lagi.


“Iya Di.. aku faham kok..” jawab Rani dengan sedikit cuek.


Andi masih kurang puas, dia tau jika Rani masih terlihat kesal tapi dia biarkan. Akhirnya mereka pulang bersama dengan seperti biasa sambil mengobrol tapi tidak seperti biasanya mereka terlihat banyak diamnya.


“Kamu mau kesitu Ran ?” tanya Rian.


“Masih bingung Mas..nggak tau tempatnya kayak apa..” jawab Rani.


Rian tampak berfikir, dia menemukan solusi supaya Rani bisa mempunyai gambaran tentang universitas yang ingin dimasukinya.


“Aku punya ide, kamu mau liat kampusnya ?” tanya Rian.


“Aku nggak pernah kesana Mas.. nanti nyasar lagi..”


“Mau minta tolong Randi ? dia tau seluk beluk disana..” usul Rian.


“Mas Randi emang mau ?” tanya Rani balik.


“Pasti maulah.. dia sangat hafal daerah sana..”


“Boleh deh.. kapan ?” tanya Rani.


Rian terlihat membuka HP dan langsung menelfon Randi, beberapa saat setelah dia telfon Rian memberitahu jika Randi mau mengantar Rani melihat-lihat daerah kampus itu besok. Rani setuju dan mereka janjian didepan kampus sana. Rani masih bingung kenapa Randi akrab dengan kampus itu sementara Randi tidak kuliah disana. Rian tidak menjawab dan menyarankan bertanya langsung pada Randi saja.


Hari minggu Rani pergi untuk melihat kampus yang ingin dia daftar, sementara Andi sibuk dengan pertandingan terakhirnya sebelum fokus untuk belajar, hari itu dia ada pertandingan di sekolah. Baik Rani maupun Andi tidak saling memberitahu tentang kegiatan mereka hari itu jadi mereka tidak saling tahu.


Seperti yang sudah dijanjikan Rani bersama Randi berkeliling di kampus dan Randi menjelaskan secara lengkap setiap bangunan dan akademik disana, Rani mendengarkan dengan serius karena itu bisa jadi pertimbangannya untuk memilih kampus itu. Randi sendiri senang karena bisa menghabiskan waktu dengan Rani.


“Mas Randi kok tau banget daerah sini gimana ceritanya ?” tanya Rani,


Mereka sekarang sedang duduk-duduk di bangku taman yang ada di kampus setelah lelah mengelilingi kampus.

__ADS_1


“Iya soalnya aku sering kesini..” jawab Randi singkat.


“Kok bisa ?” tanya Rani lagi yang masih penasaran.


“Karena orang tuaku dosen disini Ran..” jawab Randi.


Rani sekarang jadi tau kenapa Randi bisa sangat hafal daerah sana, ternyata orang tuanya dosen disana. Dia jadi semakin kagum dengan Randi, sudah pintar, tampan, orang tuanya juga seorang dosen.


“Udah siang nih yuk makan siang bareng, aku traktir Ran..” ajak Randi.


“Wah boleh nih Mas ?” tanya Rani.


“Boleh dong..”


Mereka kemudian pergi dari kampus menuju restoran fastfood dekat sana, saat itu tidak terlalu ramai sehingga bisa memilih tempat duduk dengan leluasa, hal yang tidak terduga terjadi, saat Randi dan Rani masuk kedalam restoran, mata Rani menangkap sosok Andi ada disana dengan rekan satu timnya dan Sisil disebelah Andi. Andi juga melihat kearah Rani, keduanya sama-sama kaget dan langsung memalingkan muka. ‘ ternyata begitu…’ batin mereka berdua.


Setelah memesan makanan ketika mencari tempat duduk Randi melihat Andi dan timnya ada disana. Dengan Ramah Randi menghampiri mereka dan menyapa Andi. Rani tetap ada dibelakangnya.


“Lho ada Andi, kebetulan banget ketemu disini..” sapa Randi.


“Oh mas Randi, kebetulan banget ya.. darimana Mas ?” tanya Andi.


“Habis ke kampus U nganter Rani katanya pengen liat-liat..” jawab Randi.


Andi terdiam, dia langsung melirik kearah Rani yang ada di belakang dan Rani hanya diam menunduk.


“Eh ada Rani ternyata.. mau masuk kesana Ran ?” tanya Andi dengan masih menyembunyikan rasa marahnya.


“Iya Di..” jawab Rani seperti tidak ada apa-apa.


Randi dan Rani kemudian mencari tempat duduk dan Andi masih mengamati mereka dengan tidak terasa tangannya mengepal. Sisil yang memperhatikan Andi penasaran ada apa dengan Andi lalu dia mencoba bertanya,


 “Ada apa Mas Andi kok mukanya serius gitu ?” tanya Sisil.


“Oh nggak ada apa-apa kok Sil..” jawab Andi setelah sadar.


“Mas Andi nanti malem kita mau kumpul-kumpul, kamu ikut juga kan ?” tanya Sisil.


“Hm, nggak kayaknya ada sesuatu yang harus aku urus..”


Sisil sedikit kecewa padahal dia nanti ingin mengungkapkan perasaannya pada Andi. Andi merasa dia harus berbicara dengan Rani nanti. Dilain pihak Rani yang sering mencuri pandang kearah Andi melihat kedekatannya dengan Sisil membuatnya marah juga, dia akhirnya tidak memandang kearah Andi dan bersikap cuek sampai


Andi dan timnya pulang duluan.


Tidak lama setelah Andi dan timnya pulang, Hp Rani berbunyi dan segera dibuka ternyata ada pesan dari Andi,


‘Ran aku pengen ngomong sama kamu, nanti malam aku tunggu di taman kecil kompleks..’


Rani setelah membaca pesan langsung tau maksud Andi mengajak bertemu, dia lalu membalas pesan Andi dan


menyetujuinya. Taman kecil di kompleks jika malam masih ramai oleh anak-anak dan warga kompleks jadi tidak perlu takut ada omongan jika mereka berduaan disana.


 


***---***


Halo readers Noveltoon yang sudah menyempatkan membaca novel aku, jangan lupa tinggalkan jejak ya disetiap chapter, semoga novel author bisa menghibur Readers semua..


di situasi seperti ini berharap Author bisa semakin sering buat ceritanya, nyatanya di tempat kerja Author belum menerapkan WFH, tetap jaga kesehatan semua ^^


Oh iya sedikit bocoran habis novel M.A.A.P ini bakalan ada karya Author lagi lanjutan dari novel Author yang satunya 'Fira & Rian', pantengin terus yaa.. terimakasih ^^

__ADS_1


***---***


__ADS_2