M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)

M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)
Chapter 26


__ADS_3

Malam hari sesuai janji mereka bertemu di taman kecil kompleks, keduanya tampak diam dan duduk berhadapan. Rani diam, dia sengaja supaya Andi yang bertanya duluan. Sesungguhnya Rani sudah mulai ragu kesungguhan komitmen mereka. Andi sendiri sejak datang ke taman masih terlihat diam dan ekspresinya datar. Akhirnya dia buka


suara,


“Gimana tadi Ran liat kampusnya ?” tanya Andi bermaksud basa basi.


“Em, bagus..  akademiknya juga bagus..” jawab Rani singkat.


“Kamu mau kesana nanti habis lulus ?” tanya Andi lagi.


“Iya rencananya.. kamu Di ?” tanya Rani gantian.


Andi diam, dia seperti tidak berniat untuk menjawab dan mengalihkan pembicaraan.


“Tadi kamu sama mas Randi ?” tanya Andi langsung.


“Iya, mas Rian yang minta soalnya katanya mas Randi hafal kampus itu..” jawab Rani.


Dia sedikit takut jika Andi marah, tapi dia juga marah melihat Andi bersama Sisil tadi, bahkan tiap waktu bersama dengannya.


“Oh gitu.. kamu suka sama dia Ran ?” tanya Andi


Rani kaget dengan pertanyaan dari Andi, dia tidak menyangka jika Andi bertanya seperti itu. Dia diam, memang benar dia menyukai Randi tapi sebatas teman dan kakak.


“Kenapa kamu tanya gitu Di ?”

__ADS_1


“Dari yang aku liat mas Randi keliatan suka sama kamu dan kamu keliatan nyaman sama dia..” kata Andi secara langsung.


Rani jadi gregetan mendengar perkataan Andi, apa sebenarnya maksud dari dia mengatakan itu semua.


“Maksud kamu apa Di ?” tanya Rani meminta penjelasan.


“Kita lupakan komitmen kita ya.. mungkin lebih baik kalau kita tetep temenan aja..” kata Randi kemudian.


Rani tidak menyangka jika Andi mengatakan itu, bagaimana mungkin hanya karena dia pergi bersama Randi, Andi memutuskan komitmen mereka, apa ini karena salahnya, kenapa hanya dia yang keliatan bersalah, jelas-jelas Andi juga dekat dengan Sisil.


“Maksud kamu apa, apa karena aku dekat sama mas Randi ? jalan sama dia ? apa karena itu ? sedangkan kamu sendiri juga dekat dengan Sisil ?” Rani tidak bisa menyembunyikan perasaannya dan langsung mengungkapkan semua keluh kesahnya.


Andi tetap diam, dia seperti menyembunyikan suatu hal, tentu dia juga menyadari jika sikapnya yang dekat dengan Sisil juga membuat Rani marah padahal mereka sudah berkomitmen.


“Maaf Ran.. kita kembali seperti biasanya aja ya.. aku nggak mau bikin kamu sakit hati terus..” kata Andi.


“Baiklah Di kalau itu mau kamu.. mungkin kita tidak cocok ya dan lebih baik kembali seperti biasa..” kata Rani kemudian.


Rani terlihat sedih, dan tidak tau harus bagaimana, tapi melihat Andi yang bersikap seperti itu terlihat jika Andi memang ingin mengakhiri komitmen mereka dan Rani beranggapan jika Andi mulai suka dengan Sisil, sang manajer tim basket.


“Makasih Ran, mungkin kamu lebih cocok dengan mas Randi daripada aku..” tanpa sadar Andi mengatakan itu, mungkin karena dia masih merasa cemburu.


Rani yang kembali geram hanya tersenyum dan memutuskan untuk tidak membalas. Mereka lalu kembali ke rumah masing-masing, sebelum masuk rumah ganti Rani yang memberi pesan pada Andi.


“Semoga kamu cocok juga dengan Sisil…” kata Rani.

__ADS_1


Spontan Andi langsung menengok kearah Rani dengan tatapan kaget, Rani sendiri tidak menengok dan langsung masuk ke rumah. Andi memandang Rani dari belakang dengan tatapan sedih, mau tidak mau dia harus berbuat seperti itu. ‘Maaf Ran..’


Sampai di rumah Rani segera masuk ke kamarnya, ayah dan kakaknya heran melihat Rani langsung ke kamar tanpa menyapa terlebih dahulu. Rian bisa menebak jika adiknya sedang ada masalah. Di kamar tidak terasa Rani menangis dan menyembunyikan wajahnya dibalik bantal. Dia sedih sekaligus marah karena dari perkataan Andi tadi terlihat jika gara-gara dia dekat dengan Randi, Andi memutuskan komitmen mereka, padahal tidak hanya Rani yang melakukannya. Ditambah lagi Andi yang hanya diam tidak memberikan alasan lebih detail membuatnya sedih.


Sejah hari itu mereka jadi jarang ketemua karena sibuk masing-masing dan jarang mengobrol juga. Irma heran melihatnya biasanya mereka makan siang bersama di kantin kalau nggak gitu pulang bersama, tapi kali ini beda Andi jarang sekali bersama mereka, bahkan tidak jarang ketika bertemu di koridor, Andi memilih untuk menghindar dan berbicara seperlunya.


“Ran kamu lagi bertengkar sama Andi ?” tanya Irma


Rani yang tadinya sibuk membaca buku jadi menghentikan aktivitasnya dan memandang kearah Irma, dia ragu haruskah dia bercerita pada Irma tentang kejadian tempo hari itu.


“Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita ke aku Ran, aku akan dengerin semuanya kok..”


Ucapan Irma membuat Rani luluh, akhirnya dia menceritakan dari komitmen antara Andi dengan Rani sampai cerita mereka yang bertemu di restoran ketika Rani bersama Randi dan Andi dengan Sisil dan membuat mereka menyudahi komitmen yang sudah dibuat. Irma mendengarkan dengan seksama, dan dia bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi.


“Hm, jadi gitu ceritanya.. pantas aja sikap kalian beda sekarang.. kamu nggak nyoba ngomong lagi sama Andi ?” tanya Irma.


“Enggak deh, biarin aja.. aku nggak salah juga kok..” jawab Rani.


Irma hanya bisa menghela nafas, Rani memang cukup keras kepala dan untuk hal ini dia benar-benar kekeuh dengan keputusannya. Rian dirumah juga menanyakan hal yang sama pada Rani tentang hubungannya dengan Andi yang sudah tidak seperti dulu. Rani akhirnya juga bercerita pada kakaknya tentang semuanya, sekarang Rian jadi faham apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


Rian menyarankan Rani untuk baikan dan minta maaf pada Andi, mungkin dia juga salah akrena sudah tau punya komitmen tapi ketika bersama cowok lain tidak ngomong dan bisa juga Andi yang salah karena dia dekat dengan cewek lain.


“Apa susahnya sih minta maaf.. kita tetanggaan lho Ran..” kata Rian memberi nasihat.


“Nggak mau ah, dia yang membatalkan komitmennya duluan.. masak aku yang minta maaf duluan…” Rani terlihat tidak mau jika harus minta maaf.

__ADS_1


“Terserah deh, tapi aku saranin kalian segera baikan, nggak baik kalau tetangga saling musuhan atau diem-dieman gitu..” pinta Rian.


“Hmm..aku pikirin dulu aja deh..”


__ADS_2