
Malam itu Rani mendengarkan penjelasan dari kakaknya dengan serius. Rian menjelaskan dari awal alasan Andi memutuskan komitmen mereka, alasan Andi menjauhi Rani sampai keputusannya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Sambil mendengarkan penjelasan kakaknya tidak terasa air mata Rani keluar, dia jadi tau semuanya rupanya selama ini Andi menyembunyikan fakta yang tidak pernah mau dia ceritakan padanya. ‘dasar Andi itu.. awas aja kalau ketemu nanti’
“Udah sekarang kamu tau kan alasannya, sekarang mas tanya gimana pendapat kamu ?” tanya Rian balik.
“Aku kayak orang bodoh mas, Andi nggak pernah mau cerita ke aku tentang ini.. kenapa sih dia tidak jujur saja..”
“Hmm.. kamu nggak akan ngerti Ran, cowok mau cewek yang disayanginya selalu bahagia meskipun itu membuat dirinya sendiri sedih.” Terang Rian.
“Gitu ya Mas.. terus aku harus gimana ? Andi udah nggak disini sekarang..”
“kamu pikirkan aja apa yang kamu inginkan sekarang, ya itu yang terbaik buat kamu..”
Rani diam mencerna setiap perkataan dari kakaknya, dia masih memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang, bagaimana perasaannya pada Andi , serta untuk kedepannya.
Keesokan harinya disekolah Irma menghampiri Rani menanyakan kabar Andi,
“Gimana Ran udah ketemu Andi ?” tanya Irma
“Nggak ma, Andi udah berangkat kemarin..”
“Cepet banget sih.. nggak bilang juga anak itu.. awas aja kalau nanti ketemu..”
“Tapi dia juga nggak ngomong kapan baliknya Ma..” tambah Rani.
“Iya juga sih, sabar ya Ran.. pasti pulang kok anak itu hehe..”
“Iya Ma.. gemes aku awas aja kalau nanti pulang, mau kuliah di luar negeri nggak bilang-bilang juga..”
Irma teringat sesuatu, di berpikir ini saat yang tepat memberitahu Rani tentang suatu hal.
“Ran kamu masih inget waktu kamu sakit di UKS dulu ?” tanya Irma.
“Iya kenapa Ma ?”
“Kamu ingat aku bawa satu kantung kresek berisi makanan dan minuamn ? itu dari Andi..”
Rani spontan kaget, dia mendengar jelas jika Irma yang bawa itu untuknya, bagaimana bisa itu dari Andi, sedangkan Andi tidak pernah menjenguknya di UKS.
“Kok bisa ? Kata kamu itu kamu yang bawa Ma..”
“Iya waktu aku berjalan ke UKS, Andi manggil aku tanya keadaan kamu dan suruh aku bawa itu dan nggak bilang kalau itu dari dia..” jelas Irma.
“Kok kamu nggak bilang sih Ma selama ini..”
__ADS_1
Rani tampak kaget dan menyesal karena haru tau hal ini, jadi selama ini Andi sangat memperhatikannya, yang dikira sebelumnya Andi tidak memperhatikannya. Rani langsung menutup wajahnya, tidak tau lagi apa yang harus dilakukan setelah mengetahui semuanya sekarang. Dia semakin bertekad jika nanti ketemu Andi langsung memberinya pelajaran karena selama ini berbohong padanya.
Setelah mendengar penjelasan dari Rian dan Irma, tidak bisa di pungkiri jika perasaan Rani pada Andi semakin bertambah, dia bertekad untuk menunggu Andi sampai pulang dan menjaga hatinya meskipun dia harus menunggu beberapa tahun ke depan.
Lima tahun kemudian Rani lulus kuliah dan sudah bekerja selama satu tahun di salah satu perusahaan telekomunikasi yang cabangnya di Surabaya. Hari-hari dia lewati seperti biasa, Rian sendiri sudah bekerja di perusahaan IT ternama menjabat sebagai Tim Leader proyek. Dia sering keluar kota bahkan keluar negeri untuk proyek yang sedang dikerjakannya.
Sejak hari pengumuman kelulusan Rani sudah tidak pernah bertemu Andi, entah dimana dia sekarang, Andi juga tidak pernah pulang ke rumah. Rian sendiri ketika ditanya mengenai kabar Andi juga tidak tau karena dia tidak pernah berkomunikasi dengan Andi.
Suatu hari saat pulang kerja Rani sampai rumah habis Maghrib, dia memarkirkan motornya di garasi dan berniat menutup pintu gerbang, saat tangannya meraih pintu gerbang, matanya teralihkan dengan suara langkah sepatu yang didekatnya, perlahan dilihatnya dari bawah seorang memakai celana jeans, baju kemeja, jantung Rani tiba-tiba berdetak kencang sambil perlahan menatap sampai atas, wajah yang selama ini ingin dia aniaya, orang yang selama ini dia rindukan dan ingin bertemu sekarang ada di depannya dengan senyum khasnya yang tidak berubah.
Rani masih diam mematung, perlahan cowok itu mendekat ke arah Rani dan berdiri di hadapannya dengan gagah, cowok itu adalah Andi. Dia tampak lebih tampan dan pakaiannya juga rapi, tinggi badannya sepertinya juga bertambah, Andi terlihat sangat dewasa sekarang.
Melihat Rani yang tidak merespon dengan gemas di pencet hidung Rani dan berhasil membuat Rani sadar dari lamunannya.
“Dasar, kemana aja selama ini ?” tanya Rani sambil memukul dada bidang Andi.
Andi hanya diam dan tersenyum, sementara Rani berusaha untuk menahan air matanya yang mau keluar, dia tidak ingin Andi melihatnya menangis.
“Maaf Ran…”
“Cuman itu yang bisa kamu katakan ? kamu udah bohongin aku!” tekan Rani.
“Maaf Ran, aku tau aku salah..” kata Andi lagi.
Rani masih diam, tak lama dia mengajak Andi masuk ke rumah tidak enak juga dilihat oleh tetangga jika mereka tetap di depan rumah. Sampai di dalam ayah Rani dan Rian sudah pulang kerja. Begitu melihat Andi datang mereka terlihat terkejut dan langsung menghampirinya.
“Iya nih, sampe Rani kangen tuh!” goda Rian.
Spontan Rani langsung memukul bahu kakaknya itu karena asal ngomong aja, sementara pak Hari dan Andi hanya tertawa, mereka mempersilahkan Andi duduk di shofa dan berbincang-bincang. Rani ke dapur untuk menyiapkan snack dan minuman untuk Andi.
“Gimana kabarnya nih ?” tanya pak Hari.
“Alhamdulillah sehat Om.. kalau Om Hari sendiri gimana kabarnya ?”
“Om sehat juga.. syukur deh kalau kamu udah pulang.. udah puas ya di singapura ?”
“Hehe iya Om, ayah minta aku kembali..”
“Senang nih akhirnya pulang juga, nanti kita keluar bareng lagi kayak dulu ya DI..” ajak Rian.
“Siap Mas Rian!”
Mereka bertiga sibuk berbincang, tak lama Rani datang membawa minumannya dan bergabung disana. Mereka menayai Andi seputar kuliahnya disana dan pekerjaanya sekarang. Andi mengatakan jika dia sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Setelah dirasa sudah malam Andi pamit pulang dan Rani mengantar sampai gerbang rumahnya.
__ADS_1
“Sampai jumpa besok Ran, oh iya nomor hp kamu berapa ?” tanya Andi lagi.
“Nomor ku masih sama kok..” jawab Rani.
“Oh yaudah nanti aku WA kamu..”
“Beneran ya kamu itu, sampai ganti nomor segala..”
“Ya namanya juga di luar negeri Ran, nomor sini nggak bisa dipakai.. udah dulu, sana masuk istirahat besok kerja kan..”
“Iya.. makasih Andi..”
Andi tersenyum dan berjalan menuju rumahnya, Rani juga mengunci gerbang dan masuk ke rumah. Rian yang melihat tingkah adiknya tersenyum senang, adiknya sudah ceria lagi, sebelumnya Rani terlihat ceria tapi dalam hatinya ada yang membuatnya sedih dan itu terlihat oleh Rian.
“Ehm seneng banget ada yang pulang..” goda Rian.
“Apaan sih mas!” Rani tersipu malu dan bergegas ke kamarnya untuk istirahat.
Rani begitu senang melihat Andi lagi apalagi sekarang Andi tampak berbeda, tambah lebih dewasa dan tampan.
Sementara itu di di tempat lain Andi sudah kembali ke rumanya, ketika akan ke kamar mamanya langsung menanyainya,
“Gimana tadi ketemu Rani ?” tanya tante Rika.
“Hehe aku kira bakalan di pukul habis-habisan Ma..”
“Tuh kan, syukur deh.. sekarang baik-baik aja.. terus tentang rencana kamu itu kapan ?”
“Bentar lagi Ma.. Andi mau persiapan dulu..”
“Oke deh, nanti kalau udah siap bilang ke Mama sama Ayah..”
“Iya Ma pasti, Andi istirahat dulu..”
Andi beranjak ke kamarnya untuk istirahat, wajah senang tidak bisa dihilangkan dari wajahnya karena senang bisa bertemu Rani lagi, meskipun dia sudah bersiap jika Rani akan memukulnya dan memarahinya ternyata hal itu tidak terjadi.
*****
Halo Readers semua, terimakasih sudah mau baca karya Author sampai chapter ini..
mengenai ada peraturan baru dari NovelToon Author masih mempertimbangkan lagi ya mau Up kelanjutan dari Novel Author satunya yaitu 'Fira & Rian', kasih saran ya enaknya Author Up apa tidak kelanjutannya.. ^^
Oh iya jangan lupa tinggalkan jejak kalian ^^
__ADS_1
Terimakasih
*****