
Rian dengan wajah marah melihat Rani yang diikat dan mulutnya ditutupi langsung murka, dia langsung menarik kerah Brian yang ada disana,
“Brengsek! Kamu mau apain adikku hah ?” geram Rian.
Brian masih gelagapan, dia tidak menyangka jika ada orang yang datang dan itu adalah kakak Rani dan Andi. Sementara Andi langsung melepas ikatan dan lakban di mulut Rani, dipapahnya bahu Rani karena terlihat lemas. Seketika Selvi langsung panik, dia mau kabur tapi ada satpam yang ikut ada disana.
“Sel kamu apain Rani ?” tanya Andi dengan nada tinggi.
“A..aku nggak ngapa-ngapain kok.. aku mau nyelamatin dia tadi..” kilah Selvi beralasan.
“Alah nggak percaya aku, pasti ini ulang kamu.. ngapain juga kamu repot-repot perhatian sama Rani!” kata Andi yang masih geram.
Rian murka, dia ingin memberi pelajaran pada Brian tapi dihentikan oleh Rani, dia sekarang ingin pulang karena badannya sudah lemas, dan meminta kakaknya untuk melaporkan ke guru besok, toh ada saksinya yaitu bapak satpam yang saat itu bertugas.
“Mas kita pulang aja yuk.. aku capek..” kata Rani pelan.
“Tapi Ran, mereka harus dikasih pelajaran, keterlaluan banget perbuatan mereka itu!” Rian masih ngotot.
“Sudah kalian pulang saya, besok dibahas lagi ini sudah jam berapa!” lerai bapak satpam.
Akhirnya Rian menurut dan berjalan keluar dari lab, sesaat dia memandang Selvi dan Brian satu per satu dengan tatapan yang mengerikan membuat Selvi dan Brian takut. Rian mengambil alih dan merangkul adiknya dan Andi mengikutinya dibelakang.
“Awas kalian besok!” ancam Rian.
Bapak satpam juga meminta Brian dan Selvi pulang karena hari sudah gelap. Tak lupa sebelum itu beliau memarahi keduanya karena berani bertindak seperti itu padahal masih berstatus pelajar. Brian mendengarkan dengan santai karena dia sudah biasa, sementara Selvi masih takut dan sebal juga karena rencananya gagal total.
Sampai di rumah Ayah Rani yang sudah datang melihat kedua anaknya tidak ada dirumah heran, biasanya keduanya sudah ada dirumah. Beberapa saat kemudian Rian dan Rani datang bersama Andi. Pak Hari yang melihat Rani dengan wajah pucat langsung cemas dan bertanya apa yang terjadi,
“Ada apa ini ?” tanya pak Hari.
Rian menggandeng Rani duduk di shofa, seketika pak Hari menghampiri mereka.
“Ini yah.. ada yang iseng sama Rani!” jawab Rian.
“Apa? siapa orangnya?” tanya pak Hari yang seketika marah.
“Teman sekelas kami Om, cewek..” kini Andi yang menjawab, dia ikut merasa bersalah juga karena hal yang menimpa Rani disebabkan oleh dirinya.
__ADS_1
Pak hari menghembuskan nafas dengan kesal, bisa-bisanya ada orang yang mau menyakiti putrinya, beliau sendiri aja tidak pernah main tangan pada anak-anaknya. Beliau langsung meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan Rian langsung menceritakan kejadiannya. Setelah Rian bercerita pak Hari sedikit faham permasalahannya.
“Maaf Om ini gara-gara aku…” kata Andi yang merasa bersalah.
“Nggak apa-apa Di, ini bukan salah kamu.. itu sifatnya dia aja yang kayak gitu..”
Pak Hari tidak menyalahkan Andi, beliau bisa berpendapat seperti itu karena itu memang dari Selvinya sendiri. Beliau kemudian menanyakan langkah selanjutnya bagaimana, Rian menjelaskan jika besok mereka akan melaporkan kelakuan Selvi dan satu temannya ke guru BK supaya mendapatkan konsekuensi akan perbuatannya.
Rani hanya diam, dia hanya pasrah akan keputusan kakaknya, dia tidak bisa mengelak lagi tentang apa yang terjadi tadi.
“Yaudah sekarang kamu istirahat nak.. bersihin diri dulu terus makan…” perintah ayah Rani.
“Iya Yah..” Rani beranjak ke kamarnya meninggalkan ayahnya, Rian dan Andi yang masih duduk di shofa.
“Di makasih ya udah ikut bantuin nyari Rani tadi..” ucap Rian yang berterimakasih pada Andi.
“Sama-sama Mas.. kalau ada apa-apa bilang aja ke aku, pasti aku bantu..” balas Andi.
“Makasih banyak Andi..” ucap pak Hari juga, beliau senang anaknya mempunyai teman dan tetangga yang baik seperti Andi.
Di kamar Rani masih kepikiran kejadian saat dia dikunci di lab komputer dan ancaman dari Selvi, dia takut Selvi nanti akan berbuat lebih dari itu yang bisa membahayakan dirinya.
**--Rani --**
Aku tidak habis pikir Selvi bisa berbuat seperti itu padaku, hanya karena aku dekat dengan Andi. Dia berkata jika aku harus menjauhi Andi, tapi apa hubungannya dia sendiri aja tidak pernah dianggap oleh Andi. Sebagai tetangga dan teman sekelas wajar aja jika aku dekat dengan Andi.
Jadi bingung sendiri apa yang harus aku lakukan supaya Selvi tidak melakukan hal yang sama lagi padanya, semoga besok dia menyesal akan perbuatannya yang hanya merugikan diri sendiri dan tidak mengulanginya lagi. Selain itu siapa cowok yang bersamanya kemarin, aku belum pernah bertemu dengannya, apakah dia juga
siswa di sekolah.
**----**
Keesokan harinya Selvi, Brian, Rani, Andi dan Rian dipanggil ke ruang BK terkait kejadian kemarin. Irma yang baru saja tau apa yang sedang terjadi ikut kesana, tapi dia tidak boleh masuk hanya bisa menunggu di depan ruang BK. Teman satu kelas Rani yang juga baru tau kejadiannya ikut bergosip terutama Ira dan Dian yang tidak menyangka jika Selvi sampai nekat melakukan itu.
Ari yang tau dari cerita Rian ikut menunggu di depan ruang BK, dia tidak menyangka jika Selvi melakukan hal senekat itu, apalagi meminta bantuan Brian yang terkenal dengan julukan siswa bermasalah. ‘apa yang kamu pikirkan Sel sampai melakukan hal seperti itu!’ gumam Ari.
Di dalam ruang BK, Selvi dimintai keterangan apa yang sebenarnya terjadi, dengan sedikit takut Selvi menjelaskan yang sebenarnya mulai dari rasa bencinya pada Rani hanya karena dekat dengan Andi sampai ada niatan untuk mencelakai Rani dengan menguncinya di lab sebagai bentuk pelajaran supaya Rani tidak mendekati Andi lagi.
__ADS_1
Guru BK sampai geleng-geleng sendiri mendengar penjelasan Selvi, hanya karena alasan itu sampai dia mencelakai temannya sendiri.
“Lalu apa untungnya kamu melakukan itu ?” tanya guru BK.
Selvi diam, dia tidak bisa menjawabnya, lalu guru BK juga menanyakan hal yang sama pada Brian tentang motif dia membantu Selvi. Brian menjawab jika dia melakukan itu karena Selvi adalah temannya. Alasan klasik memang, tapi memang Brian turut andil dalam kejadian kemarin sehingga dia juga kena konsekuensinya.
“Baiklah, dari hasil musyawarah semua guru Brian dan Selvi kamu skors selama 1 minggu, kalian dilarang masuk kesekolah dan silakan introspeksi diri, jangan sampai kalian mengulangi perbuatan seperti ini..” terang guru BK.
Untuk Brian dia malah merasa senang tapi tidak bagi Selvi, bagaimana jadinya jika kedua orang tuanya tau jika dia di skors sedangkan kedua orang tuanya termasuk orang yang terpandang. Rian yang masih belum puas dengan keputusan BK mencoba bertanya,
“Pak boleh saya bertanya ?”
“Iya Rian, silahkan..”
“Adik saya sudah dua kali seperti ini, dan yang pertama tidak ketemu siapa pelaku sebenarnya, aku mau mereka berjanji tidak akan mengganggu adik saya lagi, boleh kah ?”
“Pastinya Yan.. kalian dengar kan ?” tanya guru BK pada Selvi dengan tegas.
Selvi hanya sewot dan mengangguk dengan tidak ikhlas. Sebenarnya dia masih ingin memberi pelajaran pada Rani, tapi dengan kondisi sekarang tidak akan mungkin. Rian yang merasa belum ada respon yang memuaskan dari Selvi mencoba menegaskan lagi,
“Kalau hal seperti ini terjadi lagi, maka ayah saya tidak akan segan-segan untuk membawa kasus ini ke pihak yang berwajib!” kata Rian dengan penekanan.
Seketika semua orang yang ada disana tegang dan memandan Rian dengan tatapan kaget, terutama Selvi wajahnya langsung pucat, bagaimana jika dia benar-benar dilaporkan, nama keluarganya akan tercemar, dia memutuskan untuk diam.
“Rian, menurut bapak itu keputuan yang terlalu terburu-buru, kita bisa selesaikan dengan musyawarah disini..” kata guru BK.
“Tidak pak, saya hanya menyampaikan pesan dari Ayah saya jika hal yang sama terjadi lagi menimpa adik saya..”
Setelah pertemuan selesai, semua dipersilahkan keluar dari ruang BK. Di depan mereka bertemu Irma dan Ari. Irma langsung menemui Rani dan bertanya bagaimana hasilnya. Andi menjelaskan apa yang terjadi disana dan Irma bersyukur Rani baik-baik saja dan lega akhirnya Selvi diberi sanksi.
Ari ingin menemui Rani tapi melihat Selvi dia merasa kasihan dan menyusul Selvi yang berjalan menuju halaman sekolah untuk pulang. Rani yang melihat Ari menyusul Selvi bertanya sendiri apakah memang keduanya saling mengenal baik. Rian yang melihat itu mencoba menjelaskan jika Ari dan Selvi memang saling kenal. Rani tidak mau ambil pusing lagi dan berjalan ke kelas, dan Rian juga kembali ke kelasnya.
Sampai di kelas, teman-teman satu kelas Rani langsung menghampirinya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dengan Selvi. Andi langsung mengambil alih dan menjelaskan semuanya. Dari penjelasan Andi banyak yang geram pada tingkah Selvi, mereka menyayangkan sifat Selvi yang seperti itu.
Ira dan Dian yang tidak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini sangat menyayangkan Selvi yang bersikap berlebihan. Mereka langsung menghubungi Selvi tapi tidak ada respon. Setelah mendengar penjelasan dari Andi tentang perkataan Rian tadi, mereka tidak mau berbuat apa-apa lagi pada Rani, entah sebenarnya mereka tidak tau
siapa ayah Rani dan apa pekerjaannya, tapi bagi mereka jika sampai diseret ke kantor polisi bisa mencoreng nama keluarga mereka, mengingat mereka berasal dari keluarga yang terpandang.
__ADS_1