M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)

M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)
Chapter 3


__ADS_3

Selvi dan kedua temannya sedang makan siang di kantin, tidak sengaja mereka melihat Andi berjalan menuju tempat duduk Rani dan Irma.


“Eh liat tuh Andi kok duduk sama mereka ya ?” tanya Ira.


Selvi dan Dian menengok ke arah yang ditunjuk Ira. Terlihat wajah tidak senang di ekspresi mereka.


“Apaan sih murid pindahan itu, Andi kok ngedeketin dia..” gumam Dian.


“Iya, padahal dia kan biasa aja, lagian masih cantik Selvi.. iya kan vi ?”


“Eh, kalian bisa aja..” kata Selvi dengan percaya diri.


Selvi memiliki wajah yang cantik dan pakaiannya terlihat modis, banyak yang mengatakan jika orang tua selvi merupakan pengusaha yang sangat kaya raya, tetapi teman-temannya sendiri tidak pernah melihatnya. Selvi hanya mengatakan jika kedua orang tuanya sibuk dan sering perjalanan bisnis ke luar negeri.


“Liat tuh mereka keliatan akrab banget..” seru Dian.


“Kayaknya kita harus bertindak Vi..” kata Ira dengan senyum sinisnya.


Selvi mendengar itu kelihatan senang dan mereka kemudian merencakan sesuatu untuk Rani.


Jam istirahat selesai, Rani dan Irma kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Selama pelajaran berlangsung Rani bisa mengikutinya dengan baik dan tidak ada masalah karena Irma membantunya.


Ketika waktu pulang sekolah, Rian sudah menunggu adiknya di gerbang.


“Ma, aku pulang duluan ya.. sampai ketemu besok..” pamit Rani yang beranjak dari bangkunya.


“Iya Ran.. sampai ketemu besok ya..” jawab Irma dengan ramah.


“Kamu naik apa Ran ?” tanya Andi


“Jalan kaki Di..”


“Oke aku barengan deh, kebetulan lagi nggak bawa sepeda juga..” jawab Andi


Rani sempat ragu tapi akhirnya dia mengiyakan. Dia berjalan keluar kelas bersama Andi menuju gerbang sekolah, dimana Rian sudah menunggunya. Dari dalam kelas Selvi dan kedua temannya menatap kepergian Rani dan Andi dengan sinis.


“Gimana hari pertama masuk disini Ran ?” tanya Andi sambil berjalan.


“Alhamdulillah bisa ngikutin Di..”


“Bagus deh.. kalau ada yang nggak kamu tau tanya aja ke aku, kita kan satu kelas..”


“Iya makasih Di...”


Tidak terasa mereka sampai di gerbang, Rani melihat Rian sudah ada disana, akhirnya mereka pulang bersama dengan berjalan kaki karena memang dekat dan ada di satu kompleks perumahan.


“Oh jadi kalian satu kelas ?” tanya Rian.


“Iya mas.. kebetulan banget..” jawab Andi.


“Untung deh, Rani jadi ada temennya.. iya nggak Ran ?”


Rani hanya mengangguk setuju, tidak terasa mereka sudah sampai di rumah dan istirahat.


Malamnya Rani sedang mengerjakan tugas di ruang tamu, Rian datang dari kamarnya dan duduk di sebelah Rani


“Gimana tadi di kelas ? Udah punya teman ?” tanya Rian


“Alhamdulillah teman sebangku mas, namanya Irma..”


“Syukur deh.. gitu dong buat teman yang banyak..”


Rani hanya tersenyum dan mengangguk, dia setuju dengan perkataan kakaknya dan bertekad untuk berbaur dengan teman-temannya.

__ADS_1


“Kalau mas Rian gimana tadi ?” tanya Rani balik.


“Ehm, seperti biasa..”


“Pasti banyak yang suka kan ke kamu...” goda Rani


“Apaan sih kamu dek, udah lanjutin ngerjain PR nya..”


“Hehe iya iya...”


Keesokan harinya Rani sampai di kelas lebih awal, masih sedikit siswa yang datang. Tiba-tiba ada seorang siswi yang menghampirinya,


“Hai Rani.. salam kenal aku Selvi, kemarin kita belum sempat kenalan ya..” sapa selvi.


“Oh iya selvi, salam kenal yaa...” jawab Rani dengan ramah.


“Semoga kita bisa akrab ya..”


“Iya...”


Selvi kembali ke bangkunya, sementara Rani merasa senang karena temannya bertambah lagi di kelas. Irma yang baru datang melihat selvi menemui Rani terlihat aneh, tapi dia tidak ingin berperasangka buruk.


“Pagi Ra..” sapa Irma


“Pagi Ma..”


“Ngapain selvi tadi ?” tanya Irma.


“Oh cuman kenalan aja kok.. emangnya ada apa ?”


“Oh nggak apa-apa kok..” irma merasa ragu akan sesuatu, tapi dia tidak ingin terlalu cepat mengambil keputusan.


Teman sekelas Rani mulai berdatangan begitu juga dengan Andi. Pelajaran pun di mulai, hari itu cukup berat bagi Rani, karena ada pelajaran IPA yang tidak begitu dia fahami untungnya ada Irma yang membantunya.


“Ran ke kantin yuk sama kita ?” ajak Selvi


“Em, tapi aku sama Irma..”


“Nggak apa-apa Ran, kamu duluan aja nanti aku nyusul..” jawab Rani.


Rani yang polos akhirnya ikut saja ke ke kantin bersama Selvi dan kedua temannya. Sebenarnya Irma sedikit curiga dengan sikap Selvi yang kelihatan baik.


Sesampainya di kantin selvi menawarkan membawakan bakso milik Rani ke tempat duduk, dia pun menurut dan duduk duluan. Tidak berapa lama Selvi datang dengan semangkuk bakso dengan kuah yang berwarna merah pedas, Rani yang melihatnya sempat terkejut, tapi karena dia tidak enak pada Selvi sudah dibawakan akhirnya memakannya.


“Enak Ran ?” tanya Selvi


Rani hanya mengangguk dan tersenyum masam, dia tidak punya minum padahal sedang kepedesan. Sedangkan Selvi dan kedua temannya terus makan dan tidak menghiraukan Rani.


Rani ingin segera pergi, dia tidak kuat menahan pedasnya bakso tersebut.


“Aku udahan dulu ya..” kata Rani sambil beranjak mau pergi.


“Lho Ran udahan ?” tanya selvi yang merasa tidak bersalah.


“Iya.. makasih ya baksonya..”


Rani pergi dari kantin, dia tidak enak jika harus mengatakan kalau dia kepedesan karena bakso tersebut, soalnya bakso tersebut diambilkan oleh Selvi, yang mungkin dia tidak tahu jika Rani tidak kuat jika makan pedas.


Rani langsung membeli es di salah satu kedai dan kembali ke kelas. Sementara di kantin Selvi dan kedua temannya tertawa puas karena salah satu rencana mereka sukses.


Rani memang anak yang tidak kuat makan makanan pedas karena dia punya sakit Maag dari kecil, sehingga dia selalu menghindarinya. Tapi kali ini dia terpaksa karena tidak enak juga jika menolak dari orang lain yang baru dia kenal.


Saat berjalan ke kelas dia bertemu Rian yang akan ke kantin,

__ADS_1


“lho dek udah makan siang ?” tanya Rian.


“Udah Mas.. aku balik dulu ya..” jawab Rani yang masih sedikit kepedesan.


“Eh tunggu dulu.. kamu habis makan apa ?” tanya Rian curiga.


“Nggak makan apa-apa kok Mas.. udah ya..”


Rani segera pergi, dia tidak mau kakaknya tahu. Dia mengakui insting kakaknya sangat kuat dan pasti sekarang Rian mulai curiga melihat ekspresi Rani.


“Hmm.. anak itu, pasti makan pedas lagi..” gumam Rian.


Sementara Ari yang dari tadi disamping Rian jadi bertanya-tanya


“Itu siapa kamu Yan ?”


“Oh adik aku..” jawab Rian.


“Wah kamu punya adik cewek ternyata.. keliatannya pendiam dia..”


“Ya gitu deh dari dulu gitu dia..”


Sesampainya di kelas tidak ada orang, Irma mungkin ke koperasi, itu yang difikirkan oleh Rani. Perut Rani mulai terasa sakit, untungnya dia selalu siaga obat dan langsung meminumnya. Sambil menunggu Irma dia duduk dan merebahkan kepalanya di bangku sambil memejamkan mata, berharap sakit nya reda sebelum istirahat selesai.


Beberapa saat kemudian Irma datang, melihat Rani yang sudah di kelas, dia jadi tambah curiga takut Selvi berulah lagi.


“Ran kamu nggak apa-apa ?” tanya Irma sambil menepuk pundak Rani.


Rani bangun


“Iya nggak apa-apa kok Ma..”


“Gimana tadi makan apa ? Kok kamu balik duluan ?”


“Tadi aku makan bakso, terus aku balik duluan karena udah selesai..”


“Oh gitu..”


Rani masih belum ingin cerita, dia baru dua hari mengenal Irma dan masih belum nyaman untuk cerita masalah ini.


Malam harinya di rumah, Rian yang masih curiga tetap bertanya pada Adiknya,


“Ran kamu tadi makan pedas ya ?” selidik Rian


“Em.. iya mas.. lagi pengen..” jawab Rani.


“Hmm.. kamu ini, udah dibilangin jangan makan pedas, sakit kan ?” Rian tampak marah.


“Iya deh, lain kali nggak lagi..”


“Awas aja kalau ketauan makan pedas lagi..” ancam Rian.


“Iya iya Mas..”


Rian sangat posesif ketika mengenai kesehatan adiknya, dia tidak ingin adiknya sakit parah, karena dulu Rani pernah masuk rumah sakit.


Di tempat lain, Andi sedang sibuk mengerjakan tugas di kamar, dirumah tidak ada siapa-siapa karena kedua orang tuanya sibuk bekerja sampai pulang larut malam. Dia menghabiskan waktunya dengan belajar sambil mendengarkan musik. Orang tuanya meminta dirinya melanjutkan kuliah di luar negeri dan harus berprestasi di sekolah. Terdengar seperti paksaan untuk Andi, tapi dia mencoba untuk tidak mengeluh dan tetap berusaha.


Tiba-tiba dia teringat kejadian tadi siang di kantin, dia melihat Rani makan bersama Selvi dkk dan terlihat tidak nyaman sambil memegang perut.


‘Apa jangan-jangan dia sakit perut karena makan bakso..’ itu yang dipikirkan Andi.


Andi sebenarnya tau seperti apa selvi dan kedua temannya, setiap ada yang mendekati Andi, selvi selalu berbuat sesuatu dan Andi berusaha menghindar supaya tidak ada yang mendekatinya, takut terjadi apa-apa pada orang tersebut.

__ADS_1


Berkali-kali dia juga memperingatkan Selvi dan kedua temannya tetapi selalu dihiraukan. Kali ini Andi berharap semoga Rani baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2