
Andi yang berniat main ke rumah Rian dan Rani diajak makan malam bersama karena mereka baru selesai masak. Sambil makan mereka berbincang-bincang, dan Rian menanyakan sesuatu pada Andi.
“Eh masak sih kamu kesepian, nggak ada pacar apa ?” tanya Rian.
Andi tersenyum mendengar pertanyaan dari Rian. Rani ikut penasaran karena Rian menanyakan itu pada Andi.
“Aku aja fokus ke belajar sama basket mas, bagaimana mau pacaran..” jawab Andi dengan santai.
Rian dan rani tidak percaya karena Andi disekolah mempunyai banyak fans dan populer pastilah punya pacar itu anggapan mereka. Heran juga setelah mendengar pengakuan dair Andi sendiri.
“Kamu kan populer Di.. masak nggak ada yang kamu sukai ?” tanya Rian.
“Ehm, nggak kepikiran sama sekali mas buat pacaran, lagian aku lebih fokus belajarnya pacaran mah belakangan hehe..”
“wah bener juga tuh patut di contoh.. tuh dengerin Ran..” ejek Rian.
“Ih siapa juga yang pacaran Mas..” jawab Rani dengan sewot.
Mereka tertawa bersama,setelah makan mereka duduk-duduk di lantai depan tv sambil mengobrol banyak hal. Tentang sekolah mereka, lingkungan di kompleks perumahan dan lain-lain. Rani juga sudah mulai terbuka pada Rian dan banyak bicara.
“Oh iya Di aku ada kesulitan nih di pelajaran matematika, bisa bantuin nggak ?” tanya Rani.
“Boleh, coba lihat Ran..”
“Oke bentar..”
Rani beranjak ke kamar mengambil buku matematika nya dan membawa ke Andi. Rian senang Rani punya teman dekat, dia juga menilai Andi anak yang biak. Tidak lama Rani kembali dan melihatkan bab yang dia tidak dimengerti ke Andi untuk dijelaskan. Andi yang sudah faham tentang bab yang di tanyakan Rani menjelaskan dengan senang hati. Rian juga mengikuti dan memperhatikan penjelasan Andi.
Cukup lama mereka belajar bersama sampai pukul 8 malam, Andi pamit pulang. Sesampainya di rumah kedua orang tuanya ternyata sudah pulang.
“Dari mana Di ?” tanya ayah Andi.
“Dari rumah depan yah.. belajar bareng..” jawab Andi dengan sopan.
“Oh tetangga baru ya.. gimana orangnya ?” tanya Mama Andi.
“Baik semua Ma, yang bungsu satu kelas sama aku..” jawab Andi
“Oh baik-baik sama mereka kalau gitu.. kita kan tetangga..” kata Ayah Andi.
“Pasti Yah..”
Setelah mengobrol sebentar dengan kedua orang tuanya, Andi ke kamar untuk beristirahat, dia heran kedua orang tuanya sudah pulang, biasanya mereka akan sampai rumah larut malam. Kedua orang tua Andi sebenarnya baik dan perhatian, tetapi karena kesibukan mereka Andi jarang ngobrol bersama.
__ADS_1
Hari-hari berlalu Andi semakin dekat dengan Rian dan Rani, mereka sering pergi bersama ketika liburan entah itu hari minggu pagi ke car free day ataupun sekedar berolah raga di sekitar kompleks. Kaki Rani juga sudah sembuh. Suatu hari minggu pagi Andi sedang bermain basket dengan Rian di halaman rumah Rian, mereka berlomba mendapatkan banyak poin.
Rani hanya mengamati mereka sambil duduk di teras. Melihat kakaknya dan Andi bersemangat, dia berinisiatif mengambilkan beberapa camilan untuk mereka. Setelah puas bermain, Rian mengajak Andi istirahat dengan duduk-duduk di teras.
“Minum dulu nih aku buatin jus buat kalian...”
“Wah makasih Ran.. ini buatan kamu sendiri ?” tanya Andi
“Enggak, aku tuangin dari minuman yang ada di kulkas hehehe...”
“Yaah kirain..” kata Andi dengan wajah berlagak kecewa.
Rani tertawa melihat tingkah Andi, dia tahu Andi suka bercanda padanya. Mereka berdua seperti sahabat sendiri. Mereka berbincang-bincang tentang sekolah yang sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas dan Rian akan segera lulus. Rian sekarang sedang fokus mempersiapkan ujian masuk Universitas. Dia berencana mengambil beasiswa di salah satu universitas di sana, dia anak yang pintar, mengambil program beasiswa bukanlah hal tidak mungkin baginya.
Setelah beberapa saat Rian pamit masuk untuk mandi dan belajar, sementara Rani dan Andi masih sibuk bercengkrama di teras rumah.
“Mas Rian rencananya mau masuk universitas mana Ran ?” tanya Andi.
“Katanya sih kampus I Di.. semangat banget dia belajarnya akhir-akhir ini.. katanya temennya ada yang mau dateng nanti buat belajar bareng..” jawab Rani.
“Oh gitu.. rame dong rumah kamu..”
“Iya, untungnya aku udah ada persiapan beberapa camilan tinggal buat makanan aja nanti..”
“Mau aku bantuin ?” Andi menawarkan bantuan.
“Enggak, aku lagi free hari ini.. hehe..” memang kebetulan Andi sedang nggak ada kegiatan hari itu, jadi dia bebas mau ngapai aja..
Rani terlihat senang Andi mau membantu, dengan begitu masaknya akan cepat selesai. Andi pamit pulang dulu untuk mandi dan nanti kembali lagi ke rumah Rani. Rani juga segera membersihkan diri dan mempersiapkan beberapa camilan dan makanan untuk teman-teman Rian. Sekitar pukul 10 pagi terdengar suara bel rumah dibunyikan. Rani segera memanggil kakaknya dan beranjak ke depan membukakan gerbang.
Ketika sampai di teras, Rani melihat ada 2 orang cowok yaitu Ari dan Randi. Rani mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
“Sebentar ya Mas, aku panggilin Mas Rian dulu..” kata Rani dengan ramah.
Kedua cowok itu mengangguk dan tersenyum. Rani berlari ke kamar kakaknya dan mengetuk pintu.
“Mas Rian.. temen kamu udah datang tuh..”
“Iya bentar..” jawab Rian dari dalam kamar.
Rani beranjak ke dapur dan melanjutkan aktivitasnya, Rian keluar dari kamar dan menghampiri kedua temannya.
“Hai teman-teman !” sapa Rian.
__ADS_1
“Yan.. tadi itu adik kamu ?” tanya Ari.
“Iya.. yang dulu aku ceritain waktu di kantin..” jawab Rian dengan santai.
Ari manggut-manggut, Randi melihat gelagat temannya langsung menyenggol bahunya seperti memberi sinyal. ‘awas kalau kamu mau mulai lagi!’ kata Randi dengan isyarat. Ari langsung salah tingkah dan menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Rian yang tidak faham dengan tingkah kedua temannya menjadi bertanya-tanya.
“Kalian kenapa ?” tanya Rian.
“Enggak apa-apa kok Yan..”
Mereka berbincang-bincang tentang ujian yang akan mereka hadapi, tujuan mereka hari ini adalah belajar bersama, kebetulan mereka mempunyai tujuan di universitas yang sama tetapi beda fakultas sehingga mereka tidak saling bersaing.
Rani datang dari dapur membawa beberapa camilan, dan minuman untuk kakak dan kedua temannya. Ari tidak berhenti menatap Rani yang datang.
“Silahkan Mas.. maaf adanya cuman ini..” kata Rani.
“Makasih ya dek.. nggak perlu repot-repot..” kata Rani dengan tersenyum ramah.
Rani tersenyum sekilas dan beranjak pergi ke halaman belakang yang ada meja dan kursi, dia sibuk mengerjakan tugasnya di laptop.
Sementara itu Rian dan kedua temannya mulai belajar bersama, mereka membahas soal-soal yang mungkin akan keluar. Ari dan Randi termasuk siswa yang berprestasi di sekolah. Ari yang merupakan anak dari kepala sekolah meskipun dia playboy, prestasinya di bidang akademik tidak bisa diragukan lagi. Randi merupakan anak dari pengusaha di kota tersebut juga pintar, dia sering ikut olympiade mewakili sekolah, orangnya ramah dan sangat
baik. Ari dan Randi sudah berteman sejak kecil jadi dia sangat tahu sifat Ari seperti apa.
Dari depan rumah terlihat seseorang mengetuk pintu rumah dan memanggil nama Rian. Rian yang hafal suara itu
mempersilahkannya masuk.
“Masuk langsung Di..” seru Rian.
Andi kemudian masuk dan melihat ada beberapa orang yang dia kenal disana, ya mereka adalah kakak kelasnya di sekolah. Andi terdiam dan menyalami mereka.
“Rumah kamu deket sini Di ? Kok bisa disini..” tanya Randi.
“Iya Mas.. depan situ rumah aku..” jawab Andi.
Sementara Ari masih diam dan tidak bersuara. Andi menatap Ari sekilas dan bertanya pada Rian.
“Oh iya Rani mana Mas ?” tanya Andi.
“Tuh di belakang.. langsung aja kesana..”
__ADS_1
kata Rian.
Tanpa menunggu lagi Andi segera ke tempat Rani, diikuti Ari yang tetap memandang ke arah Rian. Randi yang melihat Ari langsung memanggilnya untuk tetap fokus pada belajar. ‘Itu anak ngapain disini ?’ tanya Ari dalam hati.