
Setelah kejadian itu, Rani segera pulang dan sepanjang jalan dia memikirkan kejadian yang dilihatnya tadi. Dia tidak menyangka jika Ari orang yang seperti itu apalagi dengan Selvi, dan bisa-bisanya juga mereka melakukannya di tempat umum seperti sekolah dalam keadaan sepi.
‘Dasar, anak jaman sekarang gitu ya.. semoga aku nggak sampai kayak gitu!’ batin Rani.
Sampai dirumah benar ternyata Rian sudah bersantai sambil main game di laptopnya.
‘santai banget nih punya kakak!’
“Mas pulang jam berapa tadi ?” tanya Rani.
“Habis makan tadi aku pulang.. kenapa ?” tanya Rian balik.
“Nggak apa-apa, enak aja sekarang udah free mau pulang jam berapapun boleh..” kata Rani
yang merasa iri.
“Enak dong.. haha..”
Rani segera ke kamarnya untuk mengganti baju setelah itu bersantai sambil nonton tv. Dia yang masih kepikiran tentang Ari dan Selvi ingin bertanya pada Rian, tapi pastinya Rian tidak tau mengingat belum terlalu akrab juga dengan Ari.
“Mas ayah pulang jam berapa nanti ?” tanya Rani
“Sore mungkin, oh iya nanti katanya makan malam diluar jadi nggak perlu masak..” kata Rian setelah ingat pesan ayahnya.
“Oh, oke siap!”
Malam harinya ayah mereka mengajak makan malam diluar, Rani memberi usul untuk makan di restoran jepang yang halal karena dia sedang ingin makanan-makanan itu. Ayah mereka setuju sekaligus ingin merayakan Rian yang sudah selesai ujian. Sampai di tempat mereka segera memesan makanan, Rani langsung memesan katsu-don, soba, nasi goreng ala jepang. Rian sampai geleng-geleng melihat adiknya yang makan sangat banyak.
“Banyak banget Ran.. kamu kuat habisinnya ?” tanya Rian.
“Tenang Mas, aku lagi lapar banget jadi pasti bisa habisinnya hehe..”
“Nggak apa-apa, makan yang banyak…” lerai ayah mereka.
Mendengar perkataan ayahnya Rani langsung tersenyum meledek ke arah Rian, Rian gemas dibuatnya. Tidak lama pesanan mereka datang dan dengan senang hati Rani memakannya. Sambil makan mereka membahas tentang sekolah dan rencana kuliah Rian.
“Gimana Ran di sekolah ada yang jahili kamu lagi nggak ?” tanya pak Hari.
“Alhamdulillah udah nggak Yah.. aman-aman aja hehe..” jawab Rani sambil menikmati katsu-donnya.
“Syukur deh.. terus kalau sama Andi ?” tanya pak Hari yang sengaja menggoda.
__ADS_1
“Eh, kenapa dengan Andi Yah ?” tanya Rani balik karena belum faham maksud ayahnya.
“Aduh putri ayah satu ini nggak pekanya kebangetan yaa..”
Rian cengengesan melihat tingkah Adinya yang sangat tidak peka itu.
“Rian ajari dikit dong adek kamu ini.. jangan terlalu nggak peka..” canda pak Hari.
Rani yang merasa tidak faham apa yang dikatakan oleh ayah dan kakaknya jadi bingung sendiri, dia kemudian menanyakan maksud ayahnya lagi.
“Apa sih Yah ? jadi kepo kan..” tanya Rani yang mulai sebal.
“Maksud ayah kamu dekat sama Andi kan, sejauh mana hubungan kalian ?”
Rani yang baru faham jadi malu sendiri, dia sebenarnya tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu tapi ketika ditanya oleh orang tuanya jadi bingung sendiri.
“Kita temenan aja kok Yah..” jawab Rani kemudian.
“Masak nggak ada perasaan special gitu ?” sekarang ganti Rian yang bertanya.
Rani tampak berfikir
“Wah kamu ini.. ayah setuju kok kalau kamu sama Andi.. anaknya baik, sopan sama orang tua, pintar lagi..” kata pak Hari yang seolah memberi sinyal pada Rani.
“Aduh yah.. nanti dulu deh kalau udah selesai sekolahnya.. aku masih pengen belajar..” jawab Rani dengan tegas.
“Iya iya.. ayah cuman mau bilang gitu aja, ayah nggak membatasi kamu yang penting bisa jaga diri, kalau kamu mau pacaran ya silahkan.. namanya juga masih muda..” terang pak Hari pada anak-anaknya.
Rani dan Rian meresapi perkataan ayah mereka dan mengangguk faham, bagi mereka sosok Ayah sangat berarti karena satu-satunya orang tua mereka, dan untuk keputusan apapun mereka pasti membicarakan dan mendiskusikan dengan ayah mereka.
Seperti saat itu juga ketika membicarakan tentang kuliah Rian, Rian sebelumnya sudah meminta izin pada ayahnya untuk melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di kota itu dan ayahnya menyetujui jika itu memang keinginan dan pilihan yang terbaik untuk dirinya.
Keesokan harinya di sekolah saat istirahat Rani, Irma dan Andi pergi ke kantin untuk makan siang, saat makan lagi-lagi Rian datang bergabung kali ini bersama Ari dan Randi. Ari yang melihat Rani langsung antusias dan memilih duduk di depan Rani.
“Hai Ran!” sapa Ari.
“Hai Mas Ari..” jawab Rani dengan ramah.
“Keliatannya kamu suka sama Bakso ya, perasaan tiap ketemua kamu pasti makan bakso..”
“Iya Mas..” jawab Rani singkat.
__ADS_1
Melihat Ari dia jadi keingat kejadian kemarin tapi dia mencoba untuk bersikap ramah karena Ari adalah teman dari kakaknya. Andi yang diam-diam memperhatikan ekspresi Rani jadi bertanya-tanya ada apa dengan ekspresi Rani itu. Ari tetap mengajak berbincang-bincang Rani, sementara yang lainnya sibuk berbincang-bincang sendiri. Rian sendiri sibuk berbincang dengan Randi tentang pengumuman masuk Universitas yang sebentar lagi diumumkan.
Hari-hari berikutnya juga sama, ketika Rani tidak sengaja bertemu dengan Ari dia langsung menjawab seperlunya dan berlalu, dia tidak mau dekat-dekat dengan Ari karena merasa takut juga. Dia tidak pernah punya teman yang seperti itu juga. Andi yang selalu penasaran langsung bertanya pada Rani ketika perjalanan pulang sekolah.
“Ran kamu ada apa sama Ari ?” tanya Andi langsung.
“Eh ? nggak ada apa-apa kok Di.. emang kenapa ?” tanya Rani.
“Kok keliatannya kamu nggak nyaman gitu kalau ngomong sama dia..”
Rani terdiam, ‘duh ada lagi nih yang kayak mas Rian, peka banget..’
“Nggak apa-apa kok Di beneran..” jawab Rani yang tidak mau memberitahukan alasan sebenarnya.
“Oke deh kalau gitu..”
Beberapa hari kemudian hari pengumuman tiba, daftar calon mahasiswa yang lolos diumumkan di website Universitas yang dituju. Siang hari saat hari minggu dengan cepat Rian mengecek web tapi masih belum juga di posting. Andi yang sedang ada dirumah mereka ikut deg-degan menunggu pengumuman sambil main game dengan Rani.
“Bolak balik di liat, jadi refresher halaman web ya sekarang Mas..” canda Rani.
“Kamu ini Ran.. lagi deg-degan ini malah dicandain..”
“Santai Mas.. yakin aja kalau pasti diterima..” kata Andi.
“Tuh baru adek yang baik.. contoh itu Ran..”
“Hmm.. iya iya Mas Rian yang ganteng…” canda Rani.
Tepat pukul 13:00 siang Rian mengecek lagi dan sudah ada halaman pengumumannya, dengan cepat Rian mendownload file daftar calon mahasiswa yang diterima disana dan langsung membuka. Rani dan Andi langsung menghentikan permainannya dan ikut melihat laptop karena penasaran dengan hasilnya.
Rian meng scroll halaman terus sambil memperhatina nama-nama yang lolos, urutan nama untungnya berdasarkan abjad mulai dari A sampai Z. saat sampai di huruf awal R dia langsung fokus dan akhirnya dia menemukan namanya. Spontan dia berdiri dan bersujud syukur karena akhirnya dia diterima kuliah disana dengan jalur beasiswa. Andi dan Rani ikut senang melihatnya, akhirnya sang kakak lanjut ke tingkat perkuliahan.
“Selamat ya Mas Rian udah diterima…” ucap Andi memberikan selamat pada Rian.
“Oke makasih Di..”
“Selamat Mas.. jangan lupa traktirannya…” ucap Rani juga,
“Huh kamu ini Ran makan aja.. tapi makasih deh..”
Mereka tertawa bersama, Rian merasa lega dan tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan kuliahnya, untung juga tempatnya dekat jadi dia tidak perlu kos. Tidak hanya Rian ternyata Randi dan Ari juga diterima disana, tapi mereka ada di jurusan yang berbeda, hanya Rian dan Randi yang sama.
__ADS_1