
Ujian kenaikan kelas berlangsung selama satu minggu, tiap hari ada 2 matapelajaran yang diujikan. Semua siswa mengerjakan dengan serius, ada juga yang berusaha mencontek tapi pastinya ketahuan oleh gurunya. Rani bisa mengerjakan dengan lancar, dia beruntung bisa belajar dengan Andi, kisi-kisi yang diberikan oleh Andi ternayata banyak yang keluar di ujian. Irma yang tidak terlalu pandai bisa mengerjakannya berdasar materi yang diberikan oleh Andi.
Setelah ujian selesai tidak ada pelajaran lagi, mereka pergi kesekolah dengan santai dan pulang pun bisa lebih awal. Tapi untuk siswa yang mengikuti ekstrakulikuler mereka menghabiskan waktu disekolah dengan latihan, seperti contohnya Andi, dia disekolah menghabiskan waktu dengan berlatih basket. Rani dan Irma yang tidak ada kegiatan menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang dengan teman kelasnya seperti membahas hasil ujian, atau persiapan untuk liburan semester.
Satu minggu setelah ujian adalah hari untuk remidial bagi siswa yang nilai ujiannya kurang. Untungnya Rani dan irma tidak ada matapelajaran yang remidi. Suatu ketika mereka bersama teman kelasnya berbincang mengenai liburan semester, kebanyakan mereka akan liburan ke luar kota, bahkan ada yang sampai keluar negeri, yang bisa seperti itu hanya orang-orang yang benar-benar kaya. Rani senyum-senyum sendiri mendengarkan.
“Kalian kemana liburan nanti ?” tanya salah satu siswa pada Rani dan Irma.
“Aku dirumah aja mungkin nggak kemana-mana..” jawab Rani.
“Aku kayaknya ke rumah nenek di kampung, orang tuaku ngajak kesana..” jawab Irma.
“Yaah kita nggak bisa ketemu dong..” kata Rani.
“Hehe nanti kita keluar bareng Ran..”
“Kalau kalian kemana rencananya ?” tanya Rani.
“Aku sih mau kerumah saudaraku di jakarta..” jawab salah seorang siswi.
Begitulah mereka, kebanyakan menyombongkan diri dengan mengenalkan seperti apa keluarga mereka, mereka yang mampu jalan-jalan bahkan sampai keluar negeri. Rian hanya diam dan menjawab seperlunya, dia berusaha untuk tidak membicarakan seperti apa keluarganya karena menurut dia itu tidak perlu.
Saat pulang Andi biasanya bareng bersama Rani jalan kaki, selama dijalan mereka kadang mampir di penjual es tebu di pinggir jalan karena haus mengingat cuaca di kota itu sangat panas. Bahkan penjual es tebu tersebut jadi hafal pada mereka karena hampir tiap hari Rani dan Andi mampir disana. Beberapa kali Rian juga ikutan ketika mereka bersama.
“Pak Es tebu 2 ya seperti biasa..” Andi memesan minuman.
“Oke Siap Mas..” jawab bapak penjual
Rani dan Rian segera duduk di tempat yang duduh sambil menunggu Es tebu mereka datang, beberapa saat kemudian minuman datang. Sambil minum mereka membicarakan banyak hal, Rani tidak sungkan lagi bertanya tentang orang tua Andi.
__ADS_1
“Tante Rika ada di rumah ?” tanya Rani.
“Ada, Mama pengen ketemu lagi kayaknya..” jawab Andi.
“Hehe kapan-kapan deh…”
“Ayah kamu Ran masih sering keluar kota ?” tanya Andi ganti.
“Iya, tapi sekarang udah nggak terlalu sih..”
“Bakalan sepi dong Mas Rian kan bentar lagi kuliah pasti jarang dirumah..”
“Oh iya juga ya..” jawab Rani yang baru sadar.
“Kalau kamu butuh teman bilang aja Ran, nanti aku main ke rumah..” kata Andi memberi perhatian.
“Hehe siap Di.. makasih banyak..”
“Oh iya gimana ujian kamu Ran ? nggak ada yang remidi kan ?” tanya Andi mengalihkan perhatian.
“Alhamdulillah nggak ada Di.. berkat kamu juga makasih banyak.. hehe..”
“Bagus deh..”
Tidak terasa es mereka habis, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sampai di depan rumah Rani melihat ada motor yang belum pernah dia lihat, sepertinya tamu di rumahnya. Ketika masuk ke dalam rumah ternyata ada Randi disana. Rani sedikit lega karena Ari tidak ikut, dia sedikit malas jika harus bertemu Ari.
“Eh mas Randi, sendirian ?” tanya Rani.
“Iya Ran, ada sedikit perlu sama Rian..” jawab Randi dengan ramah.
__ADS_1
“Yaudah lanjutin mas, aku ke kamar dulu..” pamit Rani
Randi tersenyum dan mengangguk, dia sedang berbincang-bincang dengan Rian membahas persiapan kuliah mereka dan kebetulan juga mereka ada di jurusan yang sama. Sebentar lagi pengumuman kelulusan mereka diumumkan, meskipun begitu mereka sudah yakin akan lulus yang terpenting bagi mereka adalah sudah diterima di
universitas dengan jalur beasiswa.
“Yan nanti kalau ada kabari aku ya..” terang Randi.
“Oke, kamu juga Ran, kamu kan up to date kalau soal berita gini..”
Tiba-tiba Randi keingat sesuatu, dan mencoba memberanikan diri bertanya pada Rian.
“Yan aku boleh tanya ?” tanya Rian.
“Boleh, tanya apa Ran ?” Rian sambil fokus dengan hp nya.
“Em, Rani udah punya pacar ?’
Mendapat pertanyaan itu seketika Rani memalingkan wajahnya dari HP dan memandang kearah Randi dengan tatapan heran.
“Kenapa Ran ? jangan bilang kamu….” Rian tidak meneruskan pertanyaannya.
“Hm, pengen tau aja Yan.. gimana ?” tanya Randi lagi.
Rian menghela nafas panjang, dia berpikir adiknya perasaan biasa saja kenapa begitu banyak yang tertarik padanya, tidak Ari, Andi sekarang Randi. ‘Ini anak ngelakuin apa sih di sekolah..’ batin Rian pada Adiknya.
“Nggak sih Ran untuk sekarang.. kamu mau daftar ?” pancing Rian.
Randi tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak menjawab dan hanya tertawa, tanpa menjawab Rian tau maksud Randi.
__ADS_1
“Semangat deh, aku nggak mau ikut campur kalau masalah perasaan..” terang Rian kemudian.
“Hehehe.. iya Yan…"