M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)

M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)
Chapter 29


__ADS_3

Hari ujian nasional tiba, semua kelas XII sibuk dengan belajar dan setiap hari selama 4 hari mereka menguras tenaga dan otak mereka untuk menjawab soal-soal yang diujikan, berharap nilainya nanti sangat memuaskan.


Selama ujian Rani belajar dirumah dengan serius, dia sudah tidak pernah belajar kelompok lagi dengan Andi karena jarang bertemu, bertemu pun ketika melintas di sekolah saja dan sikap mereka pun sangat biasa. Sampai hari terakhir ujian semua siswa tetap serius mengerjakan dan bel tanda berakhirnya ujian berbunyi. Semua siswa tampak merasa lega dan keluar dari kelas lalu pulang. Rani dan Irma masih disana dan duduk-duduk di bangku depan kelas. Kebetulan Andi dan Raka lewat dan menyapa mereka,


“Wah gimana nih ujiannya bisa ?” tanya Raka.


“Bisa dong.. kalian gimana ?” tanya Irma balik.


“Wah jangan remehin Andi, dia pasti top deh..” jawab Raka.


Andi hanya tersenyum dan terlihat Rani memandang kearahnya, Andi lalu bertanya pada Rani tentang hasilnya,


“Gimana Ran kamu ?” tanya Andi.


“Lancar Di..” jawab Rani dengan tersenyum.


“Syukur deh..”


Hening, semua terdiam dan suasana jadi canggung. Raka mencoba mencairkan suasana dengan mengajak makan siang bersama,


“Eh iya buat ngerayain habis ujian kita makan siang bareng yuk..” ajak Raka.


“Wah boleh tuh, dimana ?” tanya Irma antusias


“Di Mie Ayam deket sekolah itu.. mau ya ?”


“Aku mau, kamu ikut juga ya Ran ?” ajak Irma.


“Kamu juga ikut Di..” ajak Raka pada Andi.


Andi dan Rani tampak saling berpandangan, akhirnya mereka mengangguk setuju dan berangkat bersama ke kedai yang jual Mie Ayam. Sampai disana mereka dengan lahap makan karena sangat lapar habis ujian. Meskipun begitu Andi dan Rani masih tampak diam, mereka hanya menimpali pertanyaan dan Raka dan Irma.


Irma dan Raka saling memberi kode, mereka ingin mendekatkan lagi hubungan Andi dan Rani seperti dulu. Tapi sepertinya Rani dan Andi tampak acuh dan biasa saja.


“Oh iya kalian habis ini gimana sambil nunggu pengumuman ?” tanya Raka.


“Aku sih persiapan buat masuk kulaih sambil nunggu pengumuman juga..” jawab Irma.


“Kalau kamu Ran ?”


“Sama sih.. aku masih persiapan juga..” jawab Rani.


“Kamu Di ?” tanya Raka.


Rani tampak tertarik mendengar jawaban dari Andi, dia sama sekali tidak tau kemana Andi akan melanjutkan kuliahnya, Andi sendiri juga tidak pernah bercerita tentang persiapan kuliahnya.


“Aku.. masih persiapan juga..” jawab Andi.

__ADS_1


“Yah habis ini kita bakalan jarang ketemu nih.. enak sih kalau Andi sama Rani masih bisa ketemu kan tetanggaan..” kata Raka.


“Iya nih bikin iri aja..” timpal Irma.


Andi dan Rani tampak tersenyum,


“Makannya tetanggan dong biar bisa ketemu terus..” timpal Andi kemudian.


Mereka semua tertawa, setelah selesai makan mereka pulang ke rumah masing-masing, kali ini mau tidak mau Andi dan Rani pulang bersama dengan berjalan kaki. Selama dijalan mereka banyak diamnya, Rani mencoba untuk mencairkan suasana, bagaimana pun sebelum lulus dia ingin berhubungan baik lagi dengan Andi.


“Andi kamu udah daftar kuliah dimana ?” tanya Rani.


Andi tampak berpikir, dia tidak ingin menceritakan kemana dia akan kuliah, dan mencoba untuk memberi jawaban lain.


“Nggak jauh kok Ran.. kamu gimana ? jadi di Universitas itu ?” tanya Andi mengalihkan pembicaraan.


“Iya Di.. doakan ya semoga diterima..”


“Iya Ran, pasti..”


“Di kita masih bisa seperti dulu kan ? semenjak kejadian dulu kita jarang sekali ngobrol..” Rani yang sudah tidak tahan mencoba untuk berhubungan baik dengan Andi.


“Iya Ran, kamu kira kita nggak temenan apa..” jawab Andi dengan santai.


“Iya kita udah jarang ketemu dan ngobrol seperti dulu lagi..”


Rani menurut dan mengikuti langkah Andi, dia tidak membahas lagi baginya sudah bisa mengobrol lagi dengan Andi sudah membuatnya senang. Tidak bisa dipungkiri jika mereka berdua masih saling suka tapi mereka sama-sama tidak bisa mengatakannya.


Hari pengumuman kelulusan tiba, semua siswa dikumpulkan di Hall dan pihak sekolah memberikan pengumuman kalau kelas XII di kelas Rani dinyatakan lulus. Rani dan Irma juga diterima di Universitas pilihannya, sementara Andi juga sudah diterima di salah satu universitas di singapura. Saat pengumuman kelulusan itu pihak sekolah memberikan pengumuman jika ada salah satu dari siswa kelas XII yang diterima di Universitas yang ada diluar negeri yang tak lain adalah Andi. Semuanya kaget termasuk Rani, dia tidak menyangka jika Andi akan kuliah disana, padahal dulu Andi pernah bilang jika dia akan kuliah di surabaya.


Setelah semua siswa bubar dan Rani segera mencari Andi yang tadi juga ada di Hall tapi sekarang sudah pergi entah kemana, Irma juga menemaninya mencari Andi tapi setelah mencari di semua sudut sekolah tidak juga menjumpainya. Rani langsung terlihat lemas dan duduk di bangku depan kelas.


“Ma, Andi mau pergi ke singapura..”


“Iya Ran, aku juga baru tau ini tadi..”


“Kok dia nggak pernah ngomong sih!” Rani jadi marah sendiri.


“Tenang Ran, habis ini kita cari lagi, mungkin dia masih di sekitar sekolah..”


“Aku pulang duluan deh Ma, aku mau coba ke rumahnya..” Rani tergesa-gesa mengambil tasnya dan beranjak pergi.


“Hati-hati di jalan Ran!” kata Irma yang melihat Rani pergi dengan tampak gelisah.


Rani bergegas ke parkiran mengambil motornya dan pulang, sampai dirumah masih belum ada siapa-siapa, setelah memarkirkan motornya di garasi dia beranjak ke rumah Andi. Untung gerbangnya buka, mungkin orang tua Andi masih ada dirumah. Rani segera mengetok pintu rumah dan tidak lama ada yang membuka pintu, yaitu tante Rika.


“Tante Andinya ada ?” tanya Rani langsung.

__ADS_1


Tante Rika tampak diam tidak menjawab, dia tau Rani pasti datang dan meminta Rani duduk dulu di ruang tamu.


“Yuk duduk sini..” ajak tante Rika.


Rani menurut dan duduk di shofa ruang tamu, rumah Andi tampak sepi tidak ada orang. Atau mungkin Andi belum pulang, itu yang dipikirkan oleh Rani.


“Gini Ran, sebenarnya Andi udah berangkat ke singapura tadi habis dari sekolah..” jelas tante Rika.


Rani bertambah kaget, dia tidak menyangka jika Andi secepat itu berangkat, dia masih diam dan menanti penjelasan lebih dari tante Rika.


“Rani belum pernah dikasih tau ya..” tanya tante Rika lagi


“Nggak pernah tante..”


“Dasar anak itu, udah beberapa kali tante bilangin tapi nggak pernah mau.. jadi barusan Andi pergi diantar ayahnya ke bandara Ran..”


“Kok cepat banget tante..”


“Iya Ran, disana masuk kuliahnya sebentar lagi jadi Andi harus menyesuaikan dulu..”


“Kok bisa Andi mau kuliah disana tante ?” tanya Rani lagi.


“Iya Ran, Ayahnya yang minta karena Andi nanti yang meneruskan perusahaan..” jawab tante Rika.


“Oh gitu ternyata.. yaudah tante Rani balik pulang dulu ya..”


“Lho kenapa buru-buru, main dulu sini sama tante..”


“Nggak tante, ada yang harus kerjain dirumah, nanti kapan-kapan Rani main kesini..”


“Baiklah.. janji ya.. dirumah tambah sepi nih tinggal om sama tante aja..”


Rani tersenyum dan beranjak pamit pulang. Sampai di rumah tanpa terasa air matanya keluar, dia sedih sekaligus marah pada Andi karena tidak pamit dengannya, yah meskipun hanya teman tapi seenggaknya dia harus bercerita padanya, tapi sekarang Andi pergi begitu saja tanpa berbicara apapun padanya.


Malamnya Rian pulang dan melihat Rani sedang nonton tv tapi sorot matanya entah kemana.


“Kenapa kamu Ran ?” tanya Rian.


“Andi kuliah di luar negeri Mas, kamu tau ?” tanya Rani.


Rian tidak menjawab dan berlalu ke kamarnya,’ternyata Rani udah tau.. atau jangan-jangan diumumin di sekolah’ batin Rian. Rani heran melihat sikap kakaknya, dia curiga jika Rian sudah tau semuanya dan tidak bercerita apapun


padanya.


Setelah mandi Rian ikut bergabung dengan Rani menonton tv, dia menanyakan bagaimana pengumuman kelulusannya, meskipun dia tau jika adiknya lulus, dapi dia hanya ingin basa-basi saja.


“Alhamdulillah lulus semua mas.. gimana pertanyaanku tadi ?” tanya Rani kembali.

__ADS_1


Rian tampak berfikir, mungkin sudah waktunya dia bercerita pada Rani tentang semuanya, dan tidak perlu ada yang di tutupi lagi.


__ADS_2