
Dilain sisi Selvi menemui ‘temannya’ yang termasuk siswa yang sedikit berandal di sekolah. Cowok itu sama-sama kelas XI tetapi beda kelas dengan Selvi. Mereka bertemu di kantin di tempat duduk paling pojok sehingga tidak banyak yang mengawasi mereka.
“Ada apa nih tumben sayang ?” tanya cowok itu basa basi.
“Aku lagi butuh kamu nih..” jawab Selvi dengan sedikit mendekatkan badannya ke cowok itu yang bernama Brian.
“Bilang aja.. apa sih yang nggak buat kamu..” rayu Brian sambil membelai pipi Selvi.
Selvi tersenyum, dia tidak segan-segan ketika bersama orang yang bisa dia manfaatkan. Tanpa sadar tangan Brian mulai nakal dan masuk meraba ke dada Selvi lewat baju Selvi. Tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka lakukan.
“Ehmmmmm….” Desah Selvi pelan.
Brian sedikit bersemangat,tangannya bermain di dalam baju seragam Selvi dan membuat orangnya menikmati setiap sentuhan dari Brian.
“Ayo dong kamu mau bilang apa ? hm ?” tanya Brian di dekat telinga Selvi sambil tetap bermain.
“Lepasin dulu dong, gimana aku mau jelasin.. emmm…”
“Habis kamu bikin aku kegoda sih…”
Selvi yang tidak tahan lagi langsung mengajak Brian pergi dari situ dan pindah di tempat yang sepi, dengan senang hati Brian menurutinya. Mereka menemukan tempat sepi yaitu di dekat parkiran. Brian melanjutkan aksinya dan Selvi yang sudah tidak tahan langsung menamkup kedua pipi Brian dan mendekatkan wajahnya sehingga bibir mereka saling bertemu, cukup lama mereka menikmati kegiatan mereka.
Setelah puas, Selvi menceritakan rencananya pada Brian. Brian dengan senang hati melakukannya demi Selvi. Sama seperti dengan Ari, hubungan Selvi dan Brian adalah hubungan yang saling menguntungkan. Dengan reputasi dan sifat Brian yang bisa dibilang siswa yang bermasalah, tidak masalah baginya melakukan sesuatu
yang melanggar peraturan sekolah.
Setelah selesai membahas rencana mereka, Selvi kembali ke kelasnya setelah sebelumnya merapikan seragamnya yang sedikit acak-acakan. Sementara Brian kembali membolos jam pelajaran entah kemana. Selvi kembali dengan senyum kepuasan karena rencananya akan segera dilakukan.
Dikelas seperti biasa Rani ngobrol dengan Irma sambil menunggu guru masuk. Rani sudah menganggap Irma sebagai sahabatnya sendiri, meskipun belum ada satu tahun mereka berteman, tapi sifat Irma yang sangat ramah dan aktif membuatnya nyaman ketika bertukar pendapat maupun curhat. Tidak hanya Rani, Irma juga merasakan hal yang sama. Seperti saat itu ketika Rani terlihat sangat bingung dan sedih, Irma berusaha menghiburnya meskipun dia tidak memaksa Rani untuk bercerita, dia tahu ada hal yang bisa diceritakan dan tidak. Sebagai teman dan sahabat dia berusaha memberikan ruang sendiri pada Rani.
Waktu pulang sekolah Rani hari itu akan pulang sendirian karena Rian masih ada Bimbel. Dia sedikit menikmati waktunya di sekolah dengan pulang saat banyak siswa yang sudah pulang. Irma juga pulang duluan karena ada urusan, Andi ada kegiatan basket juga. Rani meninggalkan kelas terakhir, dia keluar dari kelas dan berjalan menuju gerbang depan. Selama jalan dia melewati ruang lab komputer yang biasanya digunakan saat pelajaran TIK.
__ADS_1
Ruangannya sebenarnya dekat kantor guru, tapi tanpa sadar mulut Rani dibungkam dari belakang dan langsung tercium obat yang membuatnya hilang kesadaran. ‘Ya Allah apa yang terjadi ini !’
Beberapa saat Rani hilang kesadaran, ketika dia sadar, dia melihat sekitar ada banyak komputer, dia mengasumsikan jika sekarang ada di lab komputer, tapi bagaimana bisa dia ada disana dan siapa yang membuatnya hilang kesadaran, pintu juga terkunci sehingga dia tidak bisa membukanya. Banyak pertanyaan yang membuatnya bingung. Dia belum tau sekarang jam berapa, tetapi suasana udah mulai sepi dan hari mulai gelap.
Rani tidka habis fikir siapa yang tega memasukkannya di lab komputer, dia jadi takut jika sendirian dan terkunci disana sampai besok. Tanpa terasa air matanya jatuh, dia bingung harus bagaimana.
“Mas Rian.. tolong aku Mas…hiks hiks..” rani duduk sambil memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, Rani membelalakkan matanya melihat Selvi yang datang. Dengans senyum liciknya Selvi menghampiri Rani. Rani yang dari tadi menahan emosinya langsung meledak,
“Sel maksud kamu apa ngunci aku di sini ?” tanya Rani dengan nada tinggi.
“Hee.. gimana rasanya Ran ?” tanya Selvi dengan santainya sambil melipat tangannya di dada.
“Kamu gila ya, bisa-bisa nya ngunci aku disini.. aku salah apa ?”
“Kamu tanya salah kamu.. kamu harusnya tau kan Ran ?”
“Sel, kamu kebangetan ya.. kamu nggak mikirin apa akibatnya nanti kalau ngelakuin ini ha ?”
“Sttt… tenang Ran, tidak ada yang akan tahu.. ini peringatan terakhir ya buat kamu.. kalau sampai aku liat kamu dekat lagi dengan Andi, awas aja!” ancam Selvi.
Rani yang geram langsung berdiri dan berusaha pergi dari ruangan itu, seketika Selvi mencegahnya,
“Eit mau kemana kamu ?”
“Minggir aku mau pulang..” tepis Rani.
“Siapa bilang kamu boleh pulang ?”
Rani langsung terdiam, bagaimana mungkin Selvi punya niatan menyekapnya disini semalaman. Rani langsung panik dan berusaha teriak, Brian yang dari tadi berjaga diluar langsung datang dan menutupi mulut Rani. Tanpa aba-aba Selvi Brian langsung mengikat tangan Rani di kursi dengan mulut di tutup lakban.
__ADS_1
BRAKK!!
Selvi dan Brian seketika menoleh ke pintu, ada Rian dan Andi disana, Rani yang mulutnya di tutupi melihat kedatangan Rian langsung menangis.
*--Flasback On --*
Sore hari Rian sampai rumah tidak menemukan adiknya, rumah juga masih terkunci. Dia heran tumben adiknya belum sampai rumah. ‘ mungkin lagi main sama temannya..’ itu yang di fikirkan oleh Rian. Ayah nya juga belum pulang, biasanya beliau sampai rumah malam hari setelah maghrib.
Sampai pukul 17:00 belum ada tanda-tanda kedatangan Rani, Rian mulai panik karena tidak biasanya Rani pulang telat tanpa memberi kabar. Dia mencoba menghubungi HP Rani tapi tidak tersambung. Tanpa berpikir panjang Rani segera ke rumah Andi berniat menanyakan keberadaan Rani.
Andi yang baru saja mandi melihat kedatangan Rian langsung bertanya karena Rian terlihat gelisah,
“Ada apa Mas ?” tanya Andi.
“Kelas kamu udah pulang semua kan ?”
“Iya, memang kenapa ?”
“Rani belum pulang Di…” jawab Rian gelisah.
Andi langsung kaget,
“Lho kok bisa Mas ? kemana dia ?” tanya Andi yang mulai khawatir.
“Aku nggak tau Di.. hpnya juga nonaktif..aku takut terjadi apa-apa sama itu anak..”
Andi langsung beriniatif mencari Rani, dia mencoba menghubungi Irma dengan menanyakan keberadaannya dan bersama siapa saat itu. Andi tidak membahas soal Rani yang hilang. Setelah memastikan jika Rani tidak bersama dengan Irma, dia berinisiatif ke sekolah lagi. Rian langsung setuju dan mereka kesana bersama.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, mereka meminta izin pada satpam yang menjaga untuk masuk dan menceritakan semuanya, pak satpam kemudian mengizinkan mereka masuk dan mengikutinya. Tak butuh waktu lama sampai di lobby sayup-sayup Rian mendengar seperti suara Rani yang berteriak, dia langsung mengikuti arah suara dan sampailah di lab komputer.
*--Flashback Off --*
__ADS_1