
Saat mencari jam tangannya, ketika sampai di bangku Rani, mereka menemukan jam tangan milik Dian,
“Ran ini kok bisa ada disini ?” tanya Dian yang penuh curiga.
Rani kaget melihatnya, dia berfikir bagaimana bisa jam tangan Dian bisa ada di lokernya, sementara dia tidak pernah tau jam tangan Dian seperti apa. Semua yang ada di kelas memperhatikan Rani dengan ekspresi kaget, melihat dirinya tersudutkan Rani mencoba berbicara jujur.
“Aku nggak tau Yan kalau buku kamu di lokerku, aku nggak tau jam tangan kamu kayak gimana dan bagaimana bisa di loker aku..” jelas Rani.
“Kamu mencuri jam tangan aku ?” tanya Dian dengan nada tinggi.
“Enggak Yan.. aku nggak tau kalau jam tangan kamu di lokerku..”
“Alah.. bilang aja kalau kamu nyuri.. kamu pasti iri kan sama jam tangan aku ini ?” tuduh Dian.
“Eh Dian, kamu jangan asal nuduh dong, belum tentukan Rani yang ngelakuin..”
“Ma, bagaimana mungkin kalau bukan dia, buktinya ini di lokernya..” tambah Ira.
“Iya, lagian dia dikelaskan waktu kita olahraga tadi !” Kata Dian.
“Beneran aku nggak nyuri.. tolong percaya sama aku..” kata Rani mencoba membela diri.
“Alah mana ada sih maling yang ngaku ! Keterlaluan kamu Ran..” Dian tampak marah.
“Rani bingung sendiri, dia merasa tidak pernah mencurinya dan bingung untuk menjelaskannya, sementara barang yang dicari ada di lokernya, dan dia tidak tahu sama sekali.
“Ma, percaya sama aku, aku nggak pernah mencurinya..” kata Rani yang meyakinkan Irma.
“Tenang Ran, aku percaya sama kamu..”
“Kita laporin aja ke guru Yan..” usul Ira.
“Oke aku setuju..”
“Yan, tolong percaya sama aku, aku nggak tau kalau jam tangan kamu ada di lokerku..” cegah Rani.
Dian tidak menanggapinya dan berjalan keluar kelas bersama Iran dan Selvi. Sementara siswa yang lainnya sibuk berbisik-bisik, mereka beranggapan jika Rani benar-benar mencuri jam tangan milik Dian.
Rani bingung harus bagaimana, apakah dia harus diam atau berusaha membela diri. Sekarang dia ada di posisi sulit karena tidak ada yang bisa dia gunakan untuk meyakinkan jika dia tidak bersalah.
“Ran kamu tenang ya.. aku percaya kok sama kamu.. aku tau mereka kayak gimana pasti ini ulah dari mereka sendiri..” kata Irma.
Rani sedikit tenang, dia senang masih ada yang percaya padanya. Selang beberapa menit guru BK datang bersama Dian dan kedua temannya.
“Rani apa benar kamu mencuri jam tangan milik teman kamu ?” Tanya guru tersebut.
“Tidak bu.. saya tidak melakukannya.. saya tidak tahu jika jam tangan itu di loker saya..” jawab Rani..
“Tapi menurut penjelasan teman kamu, jam tangan itu ditemukan di loker kamu..”
“Sungguh bu, saya tidak melakukannya..”
Rani merasa ingin menangis tapi dia tahan, dia tidak mau dianggap cengeng oleh teman-temannya dan berusaha tegar.
“Dia pasti nyurinya waktu jam olahraga tadi bu, dia kan di kelas tidak ikut olahraga karena kakinya sakit..” kata Dian.
“Hmm.. kamu punya alibi waktu di kelas tadi Ran ?” tanya guru BK
__ADS_1
“Saya tadi sambil nunggu teman-teman olahraga membaca buku ini lalu ketiduran sampai teman-teman kembali ke kelas bu..” jawab Rani sambil menunjukkan buku yang tadi di bacanya.
“Hmm.. tetap aja nggak ada yang bersama kamu, dan kamu tidak bisa membuktikan benar atau tidak apa yang kamu katakan tadi..”
“Beneran bu.. saya tidak berbohong..”
“Iya bu, nggak mungkin Rani mencuri..” bela Irma.
“Ma, kamu cepat banget sih percaya, kita kan baru kenal dia.. kita belum tau karakter dia seperti apa aslinya...” kata Selvi.
“Seenggaknya aku lebih percaya Rani daripada kalian !” Kata Irma.
“Sudah-sudah, nanti saya akan periksa cctv kelas ini.. sekarang kalian semua pulang.. sudah waktunya pulang ini..” kata guru BK.
“Baik bu..” jawab para siswa.
“Rani, besok tunggu panggilan dari Ibu..” kata guru BK pada Rani.
Rani menggangguk, setidaknya dia bisa sedikit lega karena akan dilihat cctv di ruang kelasnya, yang bisa membuktikan jika dia tidak bersalah.
Andi tiba-tiba datang ke kelas setelah mendengar dari salah satu temannya tentang Rani yang dituduh mencuri jam tangan Dian.
“ada apa ini ?” tanya Andi memastikan.
“Ini Di.. Rani nyuri jam tangan aku..” jawab Dian sambil berjalan mendekat ke Andi.
“Hmm.. benarkah ?” tanya Andi dengan ekspresi tidak percaya.
Dian sedikit kaget dan jadi sedikit takut,
“Ehm, benar Di.. aku yang meriksa sendiri di lokernya Rani, dan semua orang disini tau kok..”
“Enggak Di.. aku tidak tau kalau jam tangan itu di lokerku, dan aku tadi waktu kalian olahraga ketiduran disini..” jawab Rani.
“Baiklah, kita masih belum tau siapa yang salah, aku harap kita semua tidak saling menuduh sampai kita tau yang sebenarnya..” kata Andi kemudian.
Selvi tampak tidak senang, dia merasa Andi membela Rani, begitu pula dengan Dian dan Ira. Mereka berfikir kenapa Andi membela Rani, sedangkan dia lebih lama kenal dengan mereka dibandingkan dengan Rani.
Selvi dan kedua temannya pergi dari kelas dan pulang, tinggal Rani, Irma dan Andi. Rani masih sedikit gelisah, takut teman-teman di kelasnya akan menjauhinya dan dia tidak akan punya teman lagi.
“Ran tenang aku ada di pihak mu... aku tau mereka seperti apa, nggak nyangka kalau mereka bisa melakukan hal yang seperti ini..” kata Irma dengan geram.
“Makasih banyak Ma.. kamu sangat baik.. padahal kita baru berteman..”
“Tenang aja Ran..”
“Kita tunggu besok ya Ran.. semoga guru BK bisa tahu dari rekaman cctv di kelas kita..” kata Andi.
“Iya, makasih Andi udah bantuin..”
Mereka bertiga akhirnya pulang, Rian sudah menunggu di depan gerbang. Rani memutuskan untuk tidak bercerita hal ini ke kakaknya, dia tau kakaknya pasti akan bertindak. Sebelumnya dia juga berpesan pada Andi.
“Andi nanti kalau ketemu kakakku jangan kasih tau ya masalah tadi..” pinta Rani
“Lho kenapa Ran ?” tanya Andi.
“Jangan, nanti dia pasti nggak akan tinggal diam..”
__ADS_1
“Bagus dong, biar masalahnya cepat selesai..”
“Jangan deh, makin rumit nanti..” Rani tetap kekeuh dengan keputusannya.
“Hm.. baiklah aku nggak akan cerita..”
“Makasih Di..”
Sesampainya di gerbang, Rani dan Andi melihat Rian sedang menunggu dengan memainkan hp nya. Seperti yang dikatakan Rani, Andi tidak bercerita tentang kejadian di kelas tadi pada Rian.
“Kalian lama sekali, ada apa ?” selidik Rian.
“Nggak ada apa-apa mas, ada pengumuman sebentar tadi di kelas..” jawab Rani.
“Oh gitu, yaudah kita pulang..”
Mereka pulang bersama dengan jalan kaki, Rani yang memintanya supaya kondisi kakinya cepat pulih. Semakin sering dibuat bergerak akan semakin cepat sembuhnya. Selama di jalan mereka membicarakan tentang ujian tengah semester yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Rian tidak ada masalah dengan ujiannya karena dia bisa mengikuti pelajarannya, sedangkan Rani masih harus berusaha lagi untuk menyusul ketertinggalan. Andi menawarkan diri untuk membantunya belajar, awalnya Rani ragu karena tidak enak jika merepotkan temannya, tetapi Rian meminta Rani menerima tawaran Andi, supaya Rani bisa cepat menyusul dan bisa mengerjakan ujian nanti.
“Baiklah.. aku setuju.. minta tolong bantuannya ya Di..” kata Rani.
“Oke siap, gimana kalau mulai sekarang kita belajar bareng di rumah kamu tiap habis maghrib ?” usul Andi dengan semangat.
“Em, kalau tiap hari kasian kamunya, kalau satu minggu 3x bagaimana ? jadwalnya ngikut kamu senggangnya kapan gitu..”
“Baiklah.. gimana kalau hari Senin, Rabu dan Jum’at ?”
“Oke, aku setuju..”
Akhirnya mereka sepakat untuk belajar bersama satu minggu 3x, Rian juga antusias, dia ikut bergabung dan dia juga bisa membantu jika Andi dan Rani mengalami kesulitan tentang pelajaran. Tidak terasa mereka sampai di depan rumah dan masuk ke rumah masing-masing. Andi merasa senang, dia tidak lagi menghabiskan waktunya di rumah sendirian, dia bisa berkunjung ke rumah Rani dan Rian untuk belajar bersama ataupun sekedar main.
Keesokan harinya, suasana kelas sangat tidak nyaman, banyak mata memandang ke arah Rani dengan tatapan tidak suka. Sepertinya semua orang sudah mengetahui kejadian kemarin dan mempercayai jika Rani yang mencuri jam tangan milik Dian.
“Ran kamu beneran yang nyuri jam tangannya Dian ?” tanya salah satu siswi.
“Enggak, aku nggak tau kalau jam tangan itu ada di loker aku..”, jawab Rani dengan jujur.
“Ah masak sih.. buktinya ada di loker kamu waktu di temuin.. kamu gitu ya ternyata orangnya..”
“Teman-teman percaya deh, bukan aku yang nyuri, aku berani sumpah kalau aku nggak pernah nyuri jam tangannya Dian..”
Rani berusaha tegar, teman-teman satu kelasnya mulai tidak percaya lagi padanya. Hal yang selalu dia takuti terjadi, yaitu dijauhi oleh teman-temannya. Dulu dia pernah dijauhi oleh teman-temannya hanya karena pertemanan yang berkelompok. Oleh harena itu dia sangat tertutup dan pendiam sampai pindah di sekolah itu, dia mulai membuka diri.
“Tenang Ran, aku percaya kok sama kamu.. kamu jangan khawatir, ‘cepat atau lambat kebenarannya pasti terungkap!’ ” kata Irma dengan nada sedikit tinggi sambil melirik kearah Dian, Selvi dan Ira.
Mereka yang merasa tersinggung jadi angkat suara,
“Eh maksud kamu apa Ma ? kamu kira aku mengada-ada gitu ?” tanya Dian yang mulai emosi.
“Siapa yang bilang kamu mengada-ada ? aku cuman bilang kebenaran pasti terungkap..” jawab Irma dengan santai.
“Kita liat aja nanti setelah guru BK memberitahu hasil rekaman cctvnya..” kata Dian.
Saat istirahat pertama, ada pengumuman dari guru memanggil Rani dan Dian untuk datang ke ruang BK sekolah. Mendengar hal itu Rani segera menuju kesana ditemani Irma, begitu juga dengan Dian dan kedua temannya. Andi yang ada di kantin langsung menyelesaikan makannya dan bergegas ke ruang BK. Sayangnya yang diizinkan masuk hanya Rani dan Dian, yang lainnya menunggu di luar. Hal yang tidak terduga Rian datang setelah mendengar panggilan untuk adiknya.
“Mas Rian...” sapa Andi.
__ADS_1
“Ada apa ini, kenapa Rani di panggil ke ruang BK ?”