
Rian sedang makan di kantin, mendengar nama adiknya dipanggil lewat pengeras suara, dia bergegas ke ruang BK. Sesampainya disana dia melihat Andi yang sudah duluan sampai.
“Mas Rian..” sapa Andi melihat Rian datang.
“Ada apa ini ? Kenapa Rani disuruh datang ke ruangan BK ?” tanya Rian dengan cemas.
Andi lalu menjelaskan semuanya mulai dari awal sampai Rani dituduh mencuri jam tangan milik Dian. Rian mendengarkan dengan serius dan raut wajahnya berubah marah.
“Nggak mungkin Rani ngelakuin itu.. aku tau dia bagaimana ! “ kata Rian dengan nada tinggi.
“Tenang mas.. di dalam lagi dilihatkan hasil cctvnya..” Andi berusaha menenangkan Rian.
Irma, Selvi dan Ira bertanya-tanya tentang hubungan Rian dan Rani karena melihat Rian yang marah-marah. Irma mencoba bertanya pada Rian,
“Em, mas ini apa hubungannya ya sama Rani kalau boleh tau ?” tanya Irma.
“Oh, aku kakaknya Rani” Jawab Rian singkat.
Mereka kaget, ternyata siswa baru yang katanya jadi idola itu kakaknya Rani. Tak heran jika dia sampai marah begitu. Rian mencoba untuk ikut masuk, secara dia saudaranya Rani pastinya diperbolehkan. Setelah meminta izin dia diperbolehkan masuk. Melihat Mas nya masuk Rani kaget tetapi dia bisa menduga akan terjadi karena pengumuman lewat pengeras suara tadi.
Sesampainya di dalam, Rian menghela nafas dan duduk di samping Rani. Dilihatnya wajah adiknya yang terlihat sedih membuatnya tidak tega. Saat Rian melirik kearah Dian, Dian merasa takut ketika ditatap oleh Rian.
‘Duh siapa lagi ini..’
“Mas nya ini siapa ?” tanya guru BK.
“Saya kakaknya Rani bu..” jawab Rian.
“Oh begitu..”
Dian kaget, ternyata Rani punya kakak disekolah itu dan dilihat dari badge nya bertuliskan angka romawi ‘XII’. ‘Kakak Kelas..’
Guru BK kemudian melihatkan rekaman cctv yang ada di kelas Rani saat kejadian. Di rekaman tersebut memperlihatkan dari pagi ketika Rani datang yang langsung duduk di tempat duduknya, kemudian berbincang dengan Andi, lalu Selvi yang menghampirinya. Saat olahraga Rani yang masih di tempat duduknya tidak terlihat ke bangku Dian, seperti pengakuan Rani, dia tertidur sampai teman-temannya kembali. Dari semua rekaman tersebut sama sekali tidak terlihat Rani mengambil sesuatu ataupun berjalan menuju bangku Dian.
Setelah melihat rekaman cctv tersebut Rani bisa bernafas lega, rekaman tersebut membuktikan bahwa Rani tidak bersalah. Dian masih tidak terima, dia berfikir bagaimana mungkin jam tangannya ada di bangku Rani kalau bukan dia orangnya.
“Nah Dian, menurut rekaman cctv ini Rani tidak pernah ke bangku kamu..” ucap guru BK.
“Tapi bu.. bagaimana mungkin jam tangan aku bisa di bangkunya Rani kalau bukan Rani sendiri yang nyuri ?”
“Bisa jadi orang lain yang berusaha untuk menjelekkan adik aku..” sanggah Rian.
Guru BK mengangguk setuju dengan ucapan Rian, beliau masih kepikiran rekaman cctv hari sebelumnya yang tiba-tiba tidak ada, padahal itu bisa menjadi bukti utama siapa orang yang mengambil jam tangan Dian untuk ditaruh di loker Rani.
Dian masih diam, dia penasaran siapa yang berniat mencuri jam tangannya itu, akhirnya guru BK meminta Dian untuk meminta maaf pada Rani atas tuduhannya. Dian sebenarnya enggan, dia masih mencurigai Rani, tapi dengan adanya bukti tersebut dia tidak bisa berbicara apapun lagi, terlebih ada kakaknya Rani.
Setelah selesai, mereka bertiga dipersilahkan keluar ruangan. Diluar sudah ada Andi dan yang lainnya sedang menunggu hasilnya.
“Bagaimana Ran ?” tanya Irma yang penasaran.
Rani tersenyum, “Bukan aku Ma..”
Irma tampak lega begitu juga dengan Andi.
“Jadi siapa yang nyuri jam tangannya Dian dan ditaruh di loker kamu ?” tanya Andi.
“Aku nggak tau, nggak terlihat orang yang mengambil jam tangannya Dian dari lokernya..” jawab Rani sambil menggeleng.
Rian masih sedikit penasaran, siapa sebenarnya yang mau memfitnah adiknya itu, di tatap lah Dian, Ira dan Selvi mereka masih terlihat kecewa. Rian lalu menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
“Kalian bertiga mau menjebak adikku ?” tanya Rian dengan tatapan dingain.
Melihat tatapan itu mereka bertiga terkejut, terutama Selvi.
“Enggak mas.. aku juga nggak tau siapa orangnya ? aku beneran kemarin mencari jam tanganku, nggak ada maksud buat menjebak Rani..” ucap Dian.
Rian yang pintar membaca ekspresi orang, melihat Dian yang kelihatannya jujur sedikit melunak,
“Oke, kali ini aku percaya.. tapi jangan sampai aku dengar lagi ada apa-apa sama adikku gara-gara kalian..”
Rian kemudian berlalu mengajak Rani kembali ke kelas. Irma dan Andi mengikuti mereka. Lega rasanya bagi Rani karena terbebas dari tuduhan, tapi karena itu juga namanya mulai dikenal oleh satu sekolah. Sesampainya di kelas Rani, Rian langsung menuju ke kelasnya sementara Rani dan yang lainnya masuk ke kelas. Semuanya menanyakan bagaimana hasilnya, apakah benar Rani yang mencuri jam tangan milik Dian.
“Tenang teman-teman, jadi di cctv tidak ada rekaman Rani yang mengambil jam tangannya Dian di loker.. entah siapa pelaku sebenarnya..” terang Andi.
Semuanya ber ‘Oh ‘ ria setelah mengetahui sebenarnya. Irma sedikit sebal karena teman-temannya yang sebelumnya mencurigai Rani tidak meminta maaf. Rani hanya diam dan membiarkannya, baginya tuduhan terhadap dirinya sudah hilang membuatnya senang.
“Alhamdulillah ya Ran, kebenarnya udah terungkap..” kata Rian.
“Iya Di.. makasih sudah bantuin..”
“Tenang Ran, sama aku santai aja..”
Dilain tempat, Selvi, Dian dan Ira masih duduk di taman sekolah. Dian masih penasaran siapa sebenarnya yang berniat mencuri jam tangannya kalau bukan Rani. Ternyata bukan rencana mereka untuk menjebak Rani, banyak yang menyangka juga jika mereka sengaja untuk menjebak Rani.
“Yan, untung ya jam tangan kamu udah ketemu.. itu kan hadiah ulang tahun dari orang tua kamu..” kata Ira.
“Iya Ra.. tapi aku masih penasaran siapa dalangnya..”
“Kalau menurut kamu siapa Sel ?” lanjut Dian.
“Hm.. siapa ya Yan, aku kira beneran Rani yang mau nyuri jam tangan kamu, dia kan misterius..” jawab Selvi.
Setelah pulang sekolah, ada seorang siswa kelas XII dan siswi kelas XI duduk berdua di taman sekolah, sekolah sudah sepi hanya ada beberapa siswa yang ikut ekstrakulikuler.
“Makasih ya udah bantuin aku..” ucap siswi kelas XI tersebut.
“Bukan masalah.. apa sih yang nggak buat kamu..” jawab siswa kelas XII.
“Berkat kamu, nggak ada yang curiga sama aku..” kata siswi tersebut yang ternyata adalah Selvi.
Siswi tersebut terlihat senang dan tersenyum dengan manis, tangannya di pegang oleh siswa laki-laki tersebut.
“Mau main ke rumah ?” ajak siswa laki-laki tersebut
Selvi mengangguk setuju. Mereka berdua jalan bersama dan pergi ke rumah siswa laki-laki tersebut. Sesampainya dirumah,rupanya tidak ada siapa-siapa. Mereka duduk di shofa depan tv.
“Mau minum apa Sel ?”
“Jus aja Ri..” jawab Selvi.
“Oke, tunggu bentar..” kata siswa laki-laki tersebut yang ternyata Ari.
Ari kembali membawa 2 gelas jus dan beberapa camilan ke meja depan shofa, kemudian duduk berdekatan dengan Selvi.
“Emangnya ada apa sih sampai tiba-tiba kamu minta aku ngambil rekaman cctv di kelas kamu lusa kemarin ?” tanya Ari.
“Ada sesuatu sih.. tapi sekarang udah beres kok..” jawab Selvi.
Rupanya, Ari diminta selvi untuk mengambil rekaman cctv di kelasnya dan Ari mau saja tanpa berfikir panjang, karena dia anak dari kepala sekolah jadi urusan mengambil rekaman cctv bisa dia lakukan. Mereka berpegangan tangan, sesekali Ari mengelus rambut Selvi yang lurus itu. Dengan senang hati Selvi membiarkan perlakuan dari Ari.
__ADS_1
“Orang tua kamu kapan pulang ?” tanya Selvi lirih
“Kenapa ?” tanya Ari dengan senyum misteriusnya.
“Em, nggak apa-apa, takutnya cepat pulang.. aku nggak enak..” jawab Selvi.
“Mereka pulang malam, nggak ada siapa-siapa sekarang..”
Selvi dan Ari sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa, mereka sudah lama berteman dan saling memanfaatkan. Ari yang cukup playboy dan Selvi suka bermain-main dengan perasaan orang lain, mereka saling melengkapi dan cocok. Selvi teringat sesuatu, dia menanyakan tentang Rian ke Ari.
“Kamu kenal yang namanya Rian kelas XII ?” tanya Selvi
“Oh Rian, dia satu kelas sama aku.. murid baru kan ?”
“Iya.. oh jadi sekelas sama kamu..”
“Kenapa ? kamu tertarik ?” tanya Ari penasaran.
“Enggak, galak gitu orangnya.. bukan tipe aku..” jawab Selvi dengan acuh.
Ari mengangguk faham, dia tahu Selvi tidak suka dengan tipe orang yang acuh padanya. Mereka mengobrol lama menghabiskan waktu berdua sambil menonton tv. Membicarakan Ari yang suka berganti-ganti pacar, mungkin bisa dibilang disemua kelas dia punya mantan. Berbekal wajahnya yang tampan dan juga anak dari kepala sekolah membuat semua perempuan di sekolah tertarik padanya.
Di tempat lain seperti biasa Rani pulang bersama Rian, Andi kali ini tidak ikut bersama karena ada kegiatan ekstrakulikuler basket dan sebentar lagi ada pertandingan. Selama di jalan Rian meminta Rani menjelaskan apa yang sedang terjadi selengkapnya, akhirnya Rani bercerita karena Rian tetap memaksa. Rian mendengarkan cerita Rani dari sejak hari pertama sekolah, kejadian waktu di kantin sampai tuduhan pencurian yang terjadi. Mendengar hal itu Rian jadi emosi dan ingin memarahi Selvi beserta kedua temannya, tapi dicegah oleh Rani karena dia sudah memaafkan yang terjadi.
“Oke lain kali kamu harus cerita ke Mas kalau ada apa-apa.. nggak boleh ada yang ditutup-tutupi, ingat itu Ran !” ucap Rian yang memperingatkan adiknya.
“Siap Bos !” jawab Rani.
Mereka sama-sama tertawa, memang begitu mereka selau menceritakan masalah masing-masing sehingga bisa mencari solusi bersama. Rani senang mempunyai kakak seperti Rian yang selalu perhatian pada adiknya.
Suatu sore Andi sedang dirumah sendirian, dia merasa bosan dan berniat setelah maghrib pergi ke rumah Rani. Sambil menunggu dia mengerjakan tugas-tugasnya terlebih dahulu kemudian berangkat. Sampai di depan rumah Rani, dia sedikit ragu tapi akhirnya mengetuk bel pagar rumah. Dari dalam rumah Rian datang dan mempersilahkan Andi masuk.
“Yuk masuk Di.. kebetulan kita lagi habis masak nih, yuk makan bareng..” ajak Rian.
“Eh nggak apa-apa nih mas ? jadi nggak enak aku..”
“Nggak apa-apa, lagian kita senang ada temannya.. Ayah kita lagi keluar kota soalnya..”
Rian kemudian mengajak Andi ke ruang makan sambil dia menata piring dan membawa makanan dari dapur, sementara Rani masih masak di dapur. Andi melihat Rani yang masak merasa takjub, masih SMA udah pintar masak.
“Ran ada Andi nih..” seru Rian.
“Wah, makan bareng kita ya Di.. kebetulan masak agak banyak nih..” kata Rani.
“Nggak apa-apa nih Ran ?” tanya Andi.
“Iya Di.. santai aja..”
Andi tidak tinggal diam, dia membantu Rian menata makanan di meja, tidak enak juga jika dia hanya makan aja disana tanpa membantu. Setelah makanan siap mereka makan bersama, sambil makan mereka saling bercerita dan bertukar pengalaman.
Dari pembicaraan tersebut, Rian dan Rani baru mengetahui jika Andi anak tunggal dan orang tuanya sibuk dengan pekerjaan dan sering keluar kota dan membuatnya kesepian.
“Kamu boleh kok Di main kesini kalau lagi nggak ada teman..” ucap Rian.
“Makasih mas.. hehe..”
“Eh masak sih kamu kesepian, nggak ada pacar apa ?” tanya Rian.
Rani yang mendengar pertanyaan kakaknya ikut penasaran dan memperhatikan Andi. Andi tertawa melihat tingkah kedua orang di depannya.
__ADS_1