M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)

M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)
Chapter 24


__ADS_3

Sejak Andi mengungkapkan perasaannya pada Rani, kehidupan mereka sedikit berubah, mereka jadi sering komunikasi meskipun tidak intens dan mereka juga membatasi diri agar tidak berlebihan seperti orang pacaran.


Di sekolah mereka juga tidak berubah tetap seperti biasanya, Andi yang sibuk dengan basketnya dan Rani yang tetap tidak menonjol sering belajar bareng Irma di perpustakaan atau di tempat yang nyaman buat mereka belajar. Saat mereka sedang belajar di perpustakaan tiba-tiba Irma yang selalu penasaran tentang hubungan Rani dan Andi mencoba bertanya,


“Ran hubungan kamu sama Andi bagaimana sekarang ?” tanya Irma.


“Eh kenapa tanya gitu Ma ? biasa aja kok nggak ada apa-apa..” jawab Rani.


Rani masih berusaha menyembunyikan hubungannya sekarang dengan Andi karena masih malu mengakuinya dan takut nantinya banyak orang yang mengetahui dan Rani jadi pusat perhatian, secara Andi orang yang sangat populer di sekolah.


“Hmm masak sih.. kamu nggak nyoba ngomong sama dia tentang perasaan kamu ?” tanya Irma.


“Nanti aja deh, sekarang fokus ke persiapan ujian kita Ma..”


“Iya deh..”


Irma berhenti mengintrogasinya dan melanjutkan belajar tanpa terasa hari sudah mulai sore lalu mereka memutuskan untuk pulang. Hari itu juga Andi dan Rani pulang bersama seperti biasa. Sampai dirumah ternyata ada Randi yang sedang bersama Rian.


“Eh baru pulang Ran, tumben sore ?” tanya Randi.


“Iya Mas, belajar dulu..” jawab Rani.


“Oh iya udah kelas XII ya harus banyak belajar.. semangat Ran..” kata Randi memberi semangat.


“Makasih mas..”


Rani menuju ke kamarnya untuk ganti baju, Randi dan Rian masih diruang tamu entah apa yang mereka bicarakan. Beberapa saat kemudian Rani keluar dari kamar dengan setelan kaos lengan panjang dan celana training serta jilbabnya dan menghampiri kakaknya,


“Mas Rian kok nggak diambilin camilan sih buat mas Randi..” kata Rani yang memarahi kakaknya karena tidak menyediakan camilan untuk tamu.


“Oh iya ambilin Ran..”


Rani langsung mencari camilan di dapur dan menghidangkan di depan Randi dan kakaknya,


“Ini Mas.. maaf ya..”


“Iya nggak apa-apa Ran.. gimana pelajarannya ?” tanya Randi.


“Udah mulai susah Mas..” keluh Rani.

__ADS_1


“Kalau kesusahan sini aku ajari, aku siap..” kata Randi.


“Makasih Mas Randi..”


Randi tersenyum memperhatikan Rani yang bersantai sambil nonton tv. Rian yang mengamatinya langsung menepuk pundak Randi supaya kembali fokus pada pembicaraan mereka. Randi jadi salah tingkah sendiri karena ketahuan oleh Rian.


Randi memang baik hati pada semuanya, dia sering membantu adik kelasnya untuk belajar. Kadang ketika dia dirumah Rian dan Rani sedang belajar dia akan senang hati mengajari, seperti suatu hari saat Rani mengerjakan tugasnya, Randi membantu memberikan penjelasan untuk penyelesaian soalnya sehingga Rani bisa mengerjakan


sendiri.


Bahkan beberapa hari setelah hari itu Randi yang kebetulan lagi ada dirumah Rian melihat Rani yang sedang mengerjakan tugas sambil nonton tv menawari untuk membantu, dengan senang hati Rani menerima tawaran itu. Keduanya asik membahas tugas yang dikerjakan oleh Rani, sedangkan Rian duduk diruang tamu sambil mengerjakan tugasnya sendiri.


“Randi kamu kesini ngerjain tugas kita apa bantuin Rani sih ?” tanya Rian yang heran dengan Randi.


“Hehe bentar Yan kurang dikit nih..” jawab Randi.


“Bentar mas Rian, mumpung mas Randi ada disini nih..” protes Rani.


“Huh yaudah deh..”


Akhirnya Rian membiarkan mereka bersama, hal yang tidak terduga terjadi, Andi datang kerumah mereka. Terdengar ketukan pintu rumah,


“Eh Andi, masuk Di..” ajak Rian.


Mendengar suara Andi, Rani sedikit kaget dan langsung berusaha mengontrol diri supaya tidak gugup. Randi yang mengamati Rani jadi bingung dengan perubahan wajahnya. Andi melangkah masuk menghampiri Rian yang sedang berkutat dengan laptopnya.


“Wah ngerjain tugas Mas ?” tanya Andi.


“Iya nih mulai sibuk.. gimana belajar kamu ?” tanya Rian.


“Lancar mas.. hehe.. oh iya Rani mana ?” tanya Andi yang mulai celingukan mencari Rani.


“Tuh di depan tv lagi belajar..” jawab Rian.


Tanpa basa basi Andi mulai berjalan ke dalam dan memanggil nama Rani,


“Ran….”  Panggil Andi.


Andi sedikit terkejut ternyata ada Randi disana terlihat sedang mengajari Rani, dengan santai Andi menghampiri mereka, sedangkan Rani sedikit gugup karena ada Andi disana.

__ADS_1


“Eh ada mas Randi, udah lama mas ?” tanya Andi basa basi.


“Eh Andi, enggak kebetulan aja ada urusan sama Rian..” jawab Randi dengan ramah.


“Oh kebetulan ya..” kata Andi dengan sedikit nada datar.


Andi memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka dan duduk disamping Rani, sementara Randi ada di depan mereka, untungnya Randi tidak terlalu peka atau sadar dengan tingkah Andi yang terlihat cemburu. Begitu juga dengan Rani yang memang dia sangat tidak peka jadi dia bersikap baisa.


Randi tetap menerangkan materi yang tadi ditanyakan Rani dengan santai, Andi juga memperhatikan yang dijelaskan oleh Randi, tak lama Rian memanggil Randi untuk mendatanginya. Mau tidak mau Randi menurut dan pergi meninggalkan Rani dan Andi. Setelah ditinggal Randi, otomatis mereka berdua diam, Andi yang terlihat masih cemburu meletakkan kedua tangannya di meja dan meletakkan kepalanya sambil memandang kearah Rani, dilihatnya dengan intens dan tatapan datar, Rani dari tadi diam dan salah tingkah sendiri. Dia memberanikan menatap Andi yang sedang memasang wajah datarnya. ‘ini anak ngapain ya ekspresinya gitu..’ batin Rani.


“Ke.. kenapa Di ?” Rani mencoba memberanikan diri bertanya.


“Nggak apa-apa, udah selesai belajarnya ?” tanya Andi mengalihkan pembicaraan.


“Udah, berkat bantuan ams Randi cepat selesainya..” jawab Rani dengan polosnya.


Andi hanya tersenyum kecil mendengarnya,


“lain kali belajar sama aku aja Ran.. mas Randi kan ada urusan sama mas Rian..” kata Andi kemudian.


“Em, iya deh.. kasian juga kalau ngajari terus..” kata Rani kemudian.


Sepertinya dia belum faham maksud Andi yanng secara atidak langsung mengatakan jangan minta diajari cowok lain, kalau ada apa-apa minta diajari Andi saja, seperti itu. Andi hanya mencoba sabar, meskipun begitu sifat Rani yang begitu polos adalah salah satu alasan dia menyukainya.


Beberapa hari setelah itu Andi mulai bersikap biasa lagi dengan Rani. Mereka seperti biasa kadang berangkat dan pulang bersama, seperti saat ini mereka janjian untuk pulang bersama tapi karena Andi masih ada kegiatan basket, Rani terpaksa menunggu dikelas sambil belajar. Irma sudah pulang duluan, karena lama-lama dia bosan, Rani memutuskan untuk menghampiri ke Hall.


Sampai di Hall, Rani memutuskan untuk duduk dipinggir dekat tembok, dia berusaha untuk tidak terlihat oleh Andi tapi percuma dengan cepak Andi mengetahuinya. Andi memandang sebentar kearah Rani dan lanjut latihan, di pinggir garis lapangan untuk bermain basket ada seorang cewek yang sibuk mencatat sesuatu dan membawa stopwatch. Rani memandang kearahnya dan baru tau jika cewek itu adalah manajer tim basket. Setelah latihan selesai Andi menghampiri cewek itu, dan hal tidak terduga sisil memberikan handuk kecil ke Andi, dengan senang hati Andi menerimanya, itu memang hal biasa bagi tim basket, tapi tidak bagi Rani. Rani terlihat tidak suka melihatnya tapi dia hanya diam, dia tau itu memang tugas dari manajer tim tapi dia tidak bisa menghindari perasaan tidak sukanya.


Sambil menunggu Andi beberes, Rani menyempatkan diri untuk membaca buku yang dibawanya, tidak lama Andi datang dengan seragamnya, dia sudah mandi dan masih terlihat rambutnya yang basah.


“Ran, yuk pulang..” ajak Andi,


Rani tersenyum dan mengikuti Andi keluar dari Hall, banyak mata yang mengamati mereka terutama Sisil, mereka bertanya-tanya apa hubungan mereka yang sebenarnya, ada yang berasumsi jika mereka pacaran, tapi ketika mereka bertanya pada Andi, Andi menjawab tidak.


Selama dijalan Rani tampak diam, dia masih memikirkan kedekatan Andi dengan manajer tim itu, dia ingin bertanya tapi malu, nanti dikiranya dia cewek yang cemburuan. Andi yang memperhatikan jadi bingung karena dari tadi Rani diam.


“Kenapa Ran ?” tanya Andi membuka suara.


“Nggak ada apa-apa Di..” jawab Rani dengan datar.

__ADS_1


‘pasti ada apa-apanya ini, nggak mungkin diem gitu..’ batin Andi.


__ADS_2