M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)

M.A.A.P (Masa Abu Abu Putih)
Chapter 2


__ADS_3

*--- Andi ---*


Saat itu hari sabtu, sekolah libur dan aku memutuskan untuk bermain basket di halaman rumah untuk berolahraga. Kedua orang tuaku jarang dirumah, mereka sibuk bekerja di kantor sehingga aku sendirian dirumah. Saat keluar rumah, kulihat ada orang di rumah depan rumahku, sepertinya orang baru pindahan, fikirku. Aku mulai bermain basket dengan semangat, itu karena aku juga ikut ekstrakulikuler basket di sekolah.


Saat sibuk menggiring bola, aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari luar gerbang. Aku segera menghentikan permainanku dan menghampirinya


“Mas ini siapa ya ? Aku baru lihat mas disekitar sini..” tanya Andi.


“Hai kenalin aku Rian yang tinggal di rumah itu..” jawab Rian dengan ramah.


Kami berbincang sebentar, aku bisa menilai jika mas Rian baik dan ramah dilihat dari cara dia ngomong, tiba-tiba mata ku melihat ke arah rumahnya dan melihat seorang gadis berkerudung yang sedikit bersembunyi sambil memperhatikanku, siapa gadis ini ?


Mas Rian yang sepertinya tau kalau aku sedang memperhatikan gadis itu, langsung memanggilnya,


“Sini Ran..”


Saat gadis itu sampai, mas Rian memperkenalkannya padaku, ternyata dia adiknya mas Rian, namanya Rani.


“Hmm.. nama yang bagus, nama mereka hampir sama” batin Andi


Aku lihat adik mas Rian sangat pendiam dan dia hanya diam dan tersenyum kecil.


“Maaf ya adikku orang nya pemalu kalau orang baru.. oh iya kita mau kembali ke rumah dulu ya.. yuk kapan-kapan mampir ke rumah..” kata mas Rian


“Iya mas makasih lain kali aku main ke rumah kamu..”


Mas Rian dan Rani kembali ke rumah, sepertinya mereka mau melanjutkan menata rumahnya, dan aku kembali bermain basket.


“Hm, tetangga baru yang ramah.. semoga bisa akrab deh..”


*--- --*


Rian dan Rani kembali ke rumah dan melanjutkan bersih-bersih. Rian terlihat senang dia mendapatkan teman baru di lingkungannya, dia memang sangat pandai mencari teman. Sedangkan Rani masih merasa asing dengan Andi dan belum terlalu memperdulikannya, tapi meskipun begitu dia juga senang karena ada teman seumurannya disana.


Rani dan Rian selesai beberes di sore hari dan istirahat sebentar, malam harinya pak Hari mengajak kedua anaknya berbelanja kebutuhan di supermarket karena mereka belum mempunyai kebutuhan sehari-hari.


Selama berbelanja Rani terlihat sangat senang, ini pertama kalinya dia keluar di malam hari dan berbelanja di kota besar.


“Ih senangnya yang diajak belanja..” goda Rian pada adiknya.


“Iya dong mas.. kapan lagi coba hehe..”


“Hmm.. kalau nggak gini, nggak keluar malam hari kamu..”


“Hehe iya mas..”


Setelah selesai berbelanja, mereka makan malam bersama di luar dan kembali ke rumah pukul 20.00. Sambil menunggu waktu tidur, Rian dan Rani menonton tv bersaama, sedangkan ayah mereka ada urusan sebentar ke ketua RT di kompleks tersebut.


“Oh iya Ran, Andi seumuran lho sama kamu.. dia kelas XI juga..” kata Rian tiba-tiba.


“Oh iya kah mas ? Aku kira seumuran kamu..”


“Kamu harus membiasakan diri cepat bergaul dengan orang yang baru di kenal Ran.. kalau nggak gitu kapan kamu punya teman..” kata Rian menasehati adiknya.


Rani tampak berfikir, benar juga apa yang dikatakan Kakaknya,


“Iya Mas.. aku akan berusaha..”


Rian tersenyum,


“Andi keliatannya anak baik-baik kok..”


“Iya mas.. tapi..”


“Coba deh mulai berteman, dia kan tetangga kita juga, nggak enak juga kalau diam gitu sama tetangga sendiri..”


“Iya Mas..”


Hari senin, Rian dan Rani berangkat ke sekolah diantar mereka. Sebenarnya sekolah mereka dekat dan masih dilingkungan kompleks tempat mereka tinggal, tapi ayah mereka ingin mengantar mereka ke sekolah.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, pak Hari memberi pesan pada kedua anaknya.


“Kalian yang rajin ya belajarnya, jangan nakal..”


“Siap yah..” jawab Rian


“Rian jaga adik kamu di sekolah..”


“Iya yah siap..”


Rian dan Rani turun dari mobil dan masuk ke halaman sekolah. Tidak lama Rian menjadi pusat perhatian, wajahnya yang tampan membuat banyak perempuan yang memperhatikan, sedangkan Rian sendiri cuek dan tidak memperdulikannya. Rani sedikit tidak nyaman karena dia di dekat Rian dan mau tidak mau dia tidak luput dari pandangan banyak orang.


Dari lantai 2 ada seseorang yang memperhatikan Rian dan Rani yang sedang berjalan ke ruang guru, dia tersenyum.


Di Ruang guru Rian dan Rani bertemu dengan guru mereka untuk konfirmasi kepindahan mereka. Setelah selesai mereka di bawa ke kelas masing-masing. Rian yang kelas 3 ruang kelasnya ada di lantai 3 sedangkan Rani ada di lantai 2.


“Ran.. kamu baik-baik aja kan ?” tanya Rian memastikan.


“Em, sedikit gugup sih mas, tapi aku akan berusaha..” jawab Rani dengan sedikit gugup.


Rian tersenyum dan menepuk kepala Rani pelan kemudian mengikuti wali kelasnya ke lantai 3. Sementara Rani ikut wali kelasnya dan mereka sampai di kelas tepat saat suara bel masuk berbunyi.


“Bismillah..” Rani berusaha menghilangkan kegugupannya.


“Rani tunggu disini dulu ya.. nanti saya panggil..” kata bapak guru wali kelas Rani yang bernama pak Wawan.


“Iya pak..”


Pak wawan masuk ke kelas memberi salam sebentar,


“Hari ini kelas kita akan ada teman baru.. silahkan masuk..” kata pak Wawan.


Rani melangkah ke dalam kelas sambil sedikit menunduk, semua siswa memperhatikkannya, dari bangku belakang ada yang tersenyum melihat Rani.


Setelah sampai di samping pak wawan, Rani memberanikan diri mengangkat wajahnya dan memandang calon teman sekelasnya. Dia merasa semuanya menatap dengan tatapan penasaran pada Rani.


Rani mengambil nafas panjang dan menghembuskan perlahan,


“hai semuanya salam kenal, namaku Rani asal dari kota K dan baru pindah ke kota ini..” kata Rani memperkenalkan dirinya..


Beberapa siswa tampak menyambut dengan ramah dan ada juga yang biasa-biasa saja. Saat Rani mengitarkan pandangannya dia melihat seseorang yang tidak asing di bangku belakang, dia tampak tersenyum sambil memandang Rani. Rani terkejut tidak menyangka jika mereka satu kelas, ternyata itu adalah Andi, tetangga depan rumahnya.


“baiklah, ada pertanyaan buat Rani ?” tanya pak wawan pada murid-muridnya


Salah satu siswa mengacungkan tangan dan bertanya,


“Asalnya dari mana ?”


“Aku dari kota K..”


Beberapa siswa mengangguk-angguk, setelah tidak ada yang bertanya, pak wawan mempersilahkan Rani duduk, kebetulan ada bangku nomor dua dari belakang, tepatnya di depan Andi. Rani segera melangkah ke bangkunya. Beruntung teman sebangkunya perempuan, sehingga dia merasa sedikit lega.


Teman sebangku Rani terlihat ramah, dia memperkenalkan diri pada Rani.


“Hai Rani, aku Irma.. salam kenal ya..” sapa Irma sambil mengulurkan tangannya.


Rani tersenyum dan menyambut tangan Irma,


“Hai, aku Rani, salam kenal juga ya...”


Beberapa saat kemudian pelajaran dimulai, pelajaran pertama saat itu adalah Matematika, kebetulan matematika adalah salah satu pelajaran yang disukai oleh Rani, sehingga dia bisa mengikuti dengan lancar.


Dikelas lain, Rian masuk ke kelasnya bersama wali kelas, dia memperkenalkan dirinya, dan beberapa siswi terlihat senang, karena teman barunya itu anak yang ganteng. Saat sesi pertanyaan ada salah satu pertanyaan lucu yang dilontarkan oleh seorang siswi,


“Mas nya udah punya pacar ?”


Spontan semua orang menengok ke arah sumber suara, sementara siswi yang bertanya terlihat santai.


“Em, untuk saat ini nggak kepikiran buat pacaran duu..” jawab Rian santai.

__ADS_1


Para siswi tampak senang mendengarnya, guru wali kelas menyudahinya dan meminta Rian duduk di bangku yang kosong.


Rian mendapatkan teman baru, yaitu teman sebangkunya yang bernama Ari.


“Hai Rian salam kenal, aku Ari..”


“Salam kenal juga ya.. aku Rian..”


Rian tersenyum ramah, dia senang bisa langsung mendapatkan teman, dan berharap di sekolah barunya ini mendapatkan banyak teman yang baik.


Jam istirahat tiba, beberapa anak keluar kelas, ada yang pergi ke kantin, koperasi dan lain-lain.


“Ran, ke kantin yuk..” ajak Irma


“Boleh, kantin nya dimana ?”


“Ayo kita barengan sekalian biar kamu hafal juga..”


Rani mengangguk setuju, setelah selesai membereskan buku, dia pergi ke kantin bersama irma. Selama perjalanan ke kantin, Irma memberitahu pada Rani seluk beluk sekolahan mulai dari ruang guru, perpustakaan, lab sampai akhirnya mereka sampai di kantin. Di kantin ternyata sudah ramai, disana ada beberapa stand makanan mulai dari bakso, mie ayam, jajanan, dan masih banyak lagi.


“Kamu mau makan apa Ran ?” tanya Irma.


“Aku ngikut aja deh..”


“Oke kalau gitu kita makan bakso yuk, enak lho baksonya disini..”


Rani mengangguk setuju dan mengikuti Irma. Setelah membeli bakso mereka mencari tempat duduk, dan ada tempat duduk kosong. Rani dan Irma duduk berhadapan yang kebetulan mejanya panjang sehingga bisa dipakai banyak orang.


“Oh iya Ran, kamu bisa pindah kesini gimana ceritanya ?” tanya irma


“Ayahku dipindah tugaskan disini Ma, jadi aku ngikut...”


“Emang ayah kamu kerja dimana ?”


“kerja di salah satu bank disini kok...”


“Oh gitu..”


Rani dan Irma asik mengobrol, meskipun Rani masih agak canggung, dia memberanikan diri untuk bertanya-tanya dan berusaha mengakrabkan diri, dia teringat nasehat kakaknya kalau dia harus berusaha untuk membuka diri.


Tiba-tiba ada yang datang dan bergabung makan dengan mereka, Rani dan Irma refleks menengok, ternyata itu Andi. Dia duduk di samping Irma.


“Ada apa Di ?” tanya Irma


“Nggak apa-apa, pengen makan aja disini..”


Irma kembali melanjutkan makan, dia sudah kenal Andi sejak sekolah dasar karena mereka satu sekolah dulu. Rani melihat Andi dan tersenyum sebentar.


“Rani ternyata kamu sekolah disini..” kata Andi.


“Iya Di..” jawab Rani.


“Lho Di, kamu udah kenal sama Rani ?” tanya Irma yang kaget.


“Iya, dia tetangga baru aku..”


“Oh gitu ternyata...”


Mereka kembali berbincang-bincang sambil makan, Rani mencoba mengakrabkan diri dengan Irma teman sebangkunya dan Andi. Dari kejauhan ada beberapa orang yang mengamati mereka, diantaranya Rian. Dia sedang makan bersama teman barunya yang bernama Ari, dan kebetulan melihat adiknya makan siang juga di kantin bersama temannya.


“Syukurlah kalau udah bisa adaptasi..” gumam Rian.


Teman disebelahnya mendengar ucapan Rian jadi bertanya,


“Ngomong apa kamu Yan ?” tanya Ari.


“Oh nggak ada apa-apa kok..”


Dilain sisi beberapa orang juga mengamati Rani, Irma dan Andi sedang makan dari kejauhan dengan tatapan kurang suka. Mereka teman satu kelas Rani, namanya Selvi, Dian dan Ira. Mereka termasuk dalam satu geng (kelompok) fans Andi. Ternyata Andi sangat terkenal di sekolahnya, tidak hanya karena prestasinya di bidang akademik, tetapi juga olahraga. Dia beberapa kali memenangkan perlombaan dan kejuaraan untuk sekolah, tak heran banyak perempuan yang suka dengan Andi. Oleh karena itu dibentuklah fansclub untuk penggemar Andi.

__ADS_1


__ADS_2