
Hari-hari berlalu, Rani sudah mulai biasa dengan sekolahnya yang baru,
dia dan Irma juga semakin dekat begitu juga Andi yang sering membantunya. Selvi
dan kedua temannya juga kadang mengajak ngobrol Rani dan makan bersama, Irma
yang takut terjadi apa-apa pada Rani juga sering ikut.
Suatu ketika saat pulang sekolah Rani pulang sendirian karena Rian
sedang bimbingan di sekolah, saat sedang berjalan tiba-tiba ada mobil yang
melaju kencang dari belakang dan menyerempet Rani sehingga dia terjatuh. Mobil
itu tetap melaju pergi tanpa berhenti menolong Rani.
Rani tampak kesakitan karena kakinya menghantam aspal sehingga memar.
Rani mencoba bangun tapi masih tidak bisa, akhirnya dia duduk di pinggir
trotoar.
“Ya Allah kok ya ada aja.. sabar Ran..” kata Rani dalam hati.
Sebenarnya dia kesakitan karena jatuh tadi, dia ingin menghubungi
kakaknya tapi tidak bisa karena takut mengganggu.
Dari arah sekolah Andi sedang perjalanan pulang dengan naik sepeda
motor, tidak sengaja dia melihat Rani duduk di pinggir trotoar sambil memegang
lututnya.
“Kamu kenapa Ran ?” tanya Andi yang khawatir.
“Aku jatuh Di..tadi ada mobil lewat trus aku kena..”
“Ha ? Kok bisa Ran ?” tanya Andi lagi yang khawatir..
“Udah nggak apa-apa kok.. tapi aku sekarang nggak bisa jalan, kakiku
masih sakit..”
“Yaudah yuk aku bonceng, aku anter kamu ke klinik trus pulang..” kata
Andi.
Rani mengangguk dan menurut dengan Andi. Andi membawa Rani ke klinik
untuk diobati, untung lukanya tidak terlalu parah tetapi kakinya terkilir
sehingga harus diberi pelindung supaya tidak sakit ketika dibuat bergerak.
Sampai dirumah, Rani mengucapkan terimakasih pada Andi sudah
membantunya.
“Makasih ya Di udah bantuin..”
“Sama-sama Ran, kalau kamu belum sembuh beneran, besok nggak usah
masuk dulu..” kata Andi
“Iya.. maaf udah ngerepotin kamu..”
“Santai aja kalau sama aku..”
Rani masuk ke rumah, begitu juga dengan Andi yang langsung masuk ke
rumahnya.
Pulang dari sekolah Rian kaget melihat kaki adiknya yang di perban,
“Ya Allah Ran, kamu kenapa kok bisa gini ?” tanya Rian yang khawatir.
“Tadi jatuh Mas.. kesrempet mobil waktu pulang..” jawab Rani.
“Hmm kok bisa, gimana ceritanya ?”
“Tadi aku lagi jalan pulang trus ada mobil dari belakang yang
__ADS_1
melajunya mepet sama aku, trus aku jatuh..”
“Haduh, lain kali hati-hati deh, kalau pulang jangan sendirian lain
kali..”
“Iya mas.. aku udah nggak apa-apa kok..” kata Rani mencoba menenangkan
kakaknya.
Ketika ayah mereka pulang, beliau juga kaget atas kejadian yang
menimpa anak perempuannya, ayah Rani memintanya untuk mengingat-ingat plat
mobil yang menyerempetnya. Rani sedikit ingat nomor plat mobilnya dan
memberitahu ayahnya. Ayah Rani berniat melaporkannya ke polisi, tapi dicegah
oleh Rani karena tidak ada bukti dan saksi mata yang melihat saat itu. Akhirnya
ayah Rani memintanya untuk berhati-hati lain kali.
Keesokan harinya berangkat sekolah Rani dan Rian diantar ayah mereka
naik mobil. Sampai di kelas, Irma kaget melihat Rani yang berjalan sedikit
terpincang-pincang.
“Kamu kenapa Ran ?” tanya Irma
“Kemarin habis kesrempet mobil Ma waktu pulang..”
“Lho kok bisa sih.. terus keadaan kamu gimana sekarang ?” tanya Irma
yang khawatir
“ini kaki ku kesleo dan luka.. tapi nggak apa-apa kok...” jawab Rani.
“haduh.. hati-hati ya Ran.. kalau kamu butuh apa-apa bilang ke aku..”
kata Irma yang perhatian.
Rani tersenyum, dia berfikir Irma sangat baik padanya, sifat dan
“Makasih banyak Ma..”
Banyak teman Rani yang prihatin dengan keadaannya, mereka memberi
support pada Rani supaya lekas sembuh, tak terkecuali Selvi dan kedua temannya.
Entah kenapa dimata Rani ketika melihat ekspresi mereka tidak tampak adanya
ketulusan, tapi Rani hanya diam saja. Pelajaran hari itu berlangsung seperti
biasanya. Beberapa hari kaki Rani mulai membaik meskipun jalannya masih agak
susah, suatu hari dia berangkat pagi sehingga di kelas masih dia saja yang
sudah datang. Tidak lama kemudian Andi datang,
“Hai Ran.. cepat banget kamu udah di kelas..”
“Iya, pengen berangkat pagi aja.. kamu juga tumben Di ?” tanya Rani
balik.
“Iya, barusan ada urusan sama tim basket, biasa mau ada lomba..”
“Oh gitu.. kapan lombanya ?”
“Masih bulan depan sih, tapi mulai dari sekarang harus dipersiapkan..”
jawab Andi.
“Bagus tuh, kalau persiapannya matang pasti hasilnya maksimal..”
“Aamiin, doain ya.. oh iya gimana kaki kamu ?”
“Udah lumayan sih, tapi masih kerasa sakitnya..”
“Semoga lekas baikan ya Ran..”
__ADS_1
Rani mengangguk dan tersenyum. Andi segera duduk di tempat tidurnya
dan sibuk mendengarkan musik lewat earphone saambil beristirahat karena sedikit
lelah. Sementara Rani sibuk dengan buku catatannya, memastikan PR nya sudah
selesai dikerjakan.
Tiba-tiba Selvi datang menghampiri Rani dan melihatnya yang sedang
sibuk dengan bukunya.
“Ran, kamu lagi ngapain ?” tanya selvi sambil membungkuk di samping
Rani.
“Oh ini lagi mastiin jawaban PRku..” jawab Rani.
“Ooh, kamu udah selesai ?”
“Udah, kalau kamu Sel ?” tanya Rani balik.
“Aku udah.. yaudah lanjutin aku balik ke tempat dudukkku..”
Selvi kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum misterius, tak lupa
dia menyapa Andi.
“Pagi Andi..”
“Oh, pagi Selvi..” jawab Andi santai.
Selvi sudah kembali ke tempat duduknya, beberapa siswa juga mulai berdatangan dan
pelajaran pun di mulai. Siang hari setelah istirahat adalah waktunya olahraga.
Siswa di kelas Rani ada di lapangan semua kecuali dirinya karena kakinya sedang
sakit.
Selama menunggu jam olahraga selesai, Rani menghabiskan waktu dengan
membaca buku sampai ketiduran, karena memang suasananya sangat sepi sehingga
membuatnya mengantuk.
Setengah jam kemudian olahraga selesai dan para siswa kembali ke
kelas. Setelah olahraga sudah tidak ada pelajaran lagi sehingga bisa langsung
pulang. Ada beberapa orang yang masih di kelas, diantaranya Rani, Irma, Selvi
dan kedua temannya.
Tiba-tiba Dian sibuk dengan tasnya, Ira mencoba bertanya padanya,
“Ada apa Yan ?”
“Jam tanganku kok nggak ada ya, kemarin aku tinggal disini..” jawab
Dian yang terlihat bingung.
“Coba di cari lagi.. aku bantuin..” kata Selvi
Mereka bertiga sibuk mencari jam tangan milik Dian, dan tidak
menemukannya.
“Gimana coba kita cari di loker-loker di meja dulu Yan ?” usul Selvi.
“Oke, awas aja kalau ketauan siapa yang ambil..”
“Rek, minta izin ya kita mau periksa loker kalian, jam tangan aku
hilang..” kata Dian.
Teman-teman di kelas mengangguk setuju untuk di periksa satu persatu.
Mereka bertiga mulai mengecek satu persatu loker, Rani dan Irma santai karena
mereka tidak merasa mengambilnya. Tiba saat sampai di loker Rani, mereka
__ADS_1
menemukan apa yang sedang mereka cari.
“Ran ini kok bisa di loker kamu ?”